
***
Setelah Taki berpamitan pada seluruh panitia dan pihak sponsor, laki-laki itu nampak berjalan ke arah Malika. Malika yang melihatnya semakin dekat jadi makin berdebar.
Naahh loohh, kumat deh jantung gue. Ya ampuunnn. Gerutunya dalam hati.
"Pulang sekarang?" tanya Taki dengan santai.
"Oh, Eh, iya, Pak!" balas Malika gugup.
Tuuhh kan, mulai deehh mulaaiiii.... Malika melipat bibirnya demi menahan gugup.
Ia sengaja berjalan di belakang Taki agar orang-orang tak menyangka ia dekat dengan pria itu. Tapi Taki malah mendorong punggungnya perlahan demi mensejajarkan langkah mereka.
"Jangan jauh-jauh jalannya, di sini masih ramai orang, nanti kamu ilang!" ujar pria itu sambil menyunggingkan senyumnya dan masih menempelkan tangannya di punggung Malika.
Seketika sebuah anak panah yang memiliki ujung berbentuk hati melesat masuk menembus dada Malika. Ya Tuhaaannnn... pekik batin Malika.
Ketika keduanya sudah ada di basement hotel tempat parkiran mobil berada, Malika yang tidak fokus akan keadaan sekitar, hampir saja terserempet sebuah mobil yang hendak keluar area parkir.
Beruntung Taki dengan sigap menarik mundur pundak Malika hingga tubuh Malika berhasil menghindar dari laju mobil itu.
"Kalau jalan di parkiran mobil itu hati-hati! Kamu enggak apa-apa?" Taki menggeser posisinya ke hadapan Malika lalu mengecek tubuh wanita itu.
"Iy-iya, Pak! Saya enggak apa-apa!" jawab Malika masih gugup.
Taki membimbing Malika perlahan menuju mobilnya. Ia lalu membukakan pintu penumpang di sebelah kiri kemudi untuk Malika.
Setelah menutup pintu di sisi Malika duduk dengan hagi-hati, Taki segera berlari kecil melintasi bagian depan mobilnya menuju kursi kemudi.
Taki memasang sabuk pengamannya lebih dulu sebelum menyalakan mesin mobilnya. Malika mencoba mengikuti Taki memasang sabuk pengaman, namun ia merasa kesulitan menarik benda berbentuk tipis dan panjang itu.
Taki tersenyum geli melihat tingkah Malika yang kesusahan sendiri. Dan tanpa diminta, Taki lalu mendekatkan badannya ke arah Malika untuk membantu wanita itu memasang sabuk pengaman.
Malika kaget setengah mati saat tanpa sadar badan Taki sudah begitu dekat dengannya. Hanya beberapa senti jarak yang tersisa di antara mereka. Ia sampai refleks menahan nafasnya. Namun Malika kembali lega ketika akhirnya Taki mundur lagi dan kembali pada posisinya semula, duduk tegak di depan stir kemudi.
"Rumahmu dimana?" tanya Taki sesaat setelah ia menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan mobil sedan itu.
"Di jalan merbabu nomor dua, Pak!" jawab Malika dengan lugas.
Taki menaikkan sebelah alisnya, jujur ia sedikit terganggu saat mendengar Malika memanggilnya Pak-Pak terus. Entah kenapa ia tidak suka. Ia risih.
"Itu rumah kamu sendiri atau ngontrak?" tanya Taki ketika mobilnya sudah melaju.
"Rumah sendiri, Pak! Warisan mendiang orang tua saya!"
"Orang tuamu sudah meninggal semua?"
"Iya Pak!"
"Anak kamu kembar dua?"
"Iya Pak!"
"Laki-laki semua?"
"Iya Pak?"
"Kamu benci saya?"
"Iya Pak!"
"..."
Dan ketika Malika menyadari jawabannya yang keliru, ia segera mengklarifikasinya.
"Eh maksud saya, tidak Pak!" imbuhnya.
"Lalu kenapa kamu menghindari saya?" tanya Taki to the point.
DEG!!! Seketika jantung Malika bagai dihujam palu. Malika diam saja. Kepalanya menunduk.
"Kenapa kamu menghindari saya?" Taki mengulang pertanyaannya.
Malika masih diam. Ia menggigit bibir bawahnya. Taki melirik pada Malika. Masih bersabar menunggu jawaban dari bibir wanita itu.
"Enggak bisa jawab atau enggak mau jawab?" Taki mengubah pertanyaannya setelah merasa pertanyaan sebelumnya terabaikan.
Malika menggeleng, tapi bibirnya tetap terkunci rapat.
__ADS_1
Ketika melintas di jalanan yang nampak sepi, Taki menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Ia mematikan mesin mobilnya lalu memutar badan hingga menghadap ke arah Malika.
"Maksudnya apa menggeleng begitu? Saya enggak ngerti! Tolong kamu jelaskan!" pinta Taki dengan nada dan ekspresi serius.
Matanya yang menatap lekat ke arah Malika membuat Malika salah tingkah.
Ya Ampuunn, gimana ini??? Gue mesti jawab apa, Tuhaaannn??? Malika panik. Kaki dan tangannya mulai gemetaran. Lagian ini laki orang kenapa kepo banget sih ama perasaan gue??? rutuknya.
"Oke, kalo kamu enggak jawab, saya enggak akan nyalakan mobilnya!" ancam Taki sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lhoo kok gitu??!! Terus saya gimana pulangnya???" protes Malika.
"Makanya buruan jawab! Kenapa kamu menghindari saya? Setelah itu baru saya antar kamu pulang."
Taki mendorong wajahnya mendekat ke arah Malika, terus mendekat dan semakin dekat seolah ia akan mencium wanita itu.
Malika yang terus memundurkan wajahnya mulai panik. Lalu saat belakang kepalanya sudah tersudut pada pintu mobil, Malika akhirnya membuka suaranya sambil memejamkan mata erat-erat.
"Saya menghindari Bapak karena saya enggak tahan melihat wajah Bapak lama-lama. Saya bukannya benci sama Bapak tapi justru saya takut naksir Bapak. Saya enggak mau naksir sama suami orang, saya enggak mau jadi pelakor!" jawab Malika cepat dan lantang.
Setelah pengakuan Malika itu, tiba-tiba suasana menjadi hening. Kriik..kriik...kriikk...
Taki yang sempat bengong beberapa menit pun akhirnya terbahak-bahak di hadapan Malika yang masih bengong setelah pengakuannya.
"Saya suaminya siapa memangnya?" tanya Taki kemudian sambil menyeka air matanya yang keluar akibat tertawa terlalu keras.
"Bapak kan suaminya Mbak Niky?" Malika menjawab dengan polosnya.
Dan lagi-lagi tawa Taki pecah semakin keras. Ia sampai memegangi perutnya yang mulai kram. Ia lalu geleng-geleng kepala. Malika yang melihatnya jadi bingung sendiri.
"Niky itu sepupu saya. Dan suaminya Niky itu si Zacky bukannya saya!" jawab Taki sambil mencoba meredam tawanya.
"Haaahh, serius?!" Malika melongo.
"Seribu rius, Malika! Saya dan Niky cuman sepupuan. Ibunya Niky adalah adik kandung ayah saya. Kami sama-sama keturunan Jepang-Jawa!" beber Taki.
Di saat Malika masih berusaha mencerna setiap omongan Taki, tiba-tiba kaca jendela mobil di sisi Taki di ketuk dari luar.
Keduanya bisa melihat seorang polisi berseragam lengkap sedang berdiri di luar sana dan meminta Taki membukakan jendelanya.
Ketika Taki telah membuka jendelanya sampai penuh, Pak Polisi nampak memberi hormat kepada keduanya.
Taki dan Malika saling pandang dalam kebisuan. Lalu akhirnya Taki yang buka suara untuk menjawab pertanyaan polisi tersebut.
"Sore juga, Pak. Tapi sebenarnya kami tidak ada masalah!" jawab Taki.
"Bisa saya lihat surat-suratnya, Pak?" pinta polisi itu.
Taki mengangguk lalu mengambil surat-surat penting yang diminta Pak Polisi dari dalam tas kecilnya.
"Silahkan, Pak!" Taki menyodorkan surat-surat itu pada Pak Polisi.
"Kalu tidak ada masalah, kenapa berhenti lama-lama di pinggir jalan. Nanti saya tilang lho!" kata Pak Polisi sambil terus memeriksa kelengkapan surat-surat milik Taki.
Taki dan Malika kembali saling pandang, hingga kemudian di bibir Taki tampak tersungging senyum yang misterius.
"Saya sengaja berhenti di sini lama-lama memang biar disamperin Bapak. Soalnya istri saya ini lagi ngidam pengen di tilang, Pak! Maklum hamil muda!" Taki malah memberikan alasan yang konyol pada pak polisi.
Malika spontan mendelik tidak terima dijadikan alasan. Tapi diluar dugaan mereka, polisi itu percaya dan malah curhat...
"Orang ngidam emang aneh-aneh Pak, yang sabar aja! Ini masih mending ngidamnya enggak beresiko, lha istri saya dulu ngidamnya malah pengen liat saya maen Tong Setan*! Apa enggak edyan itu namanya!"
Dan mereka akhirnya tertawa bersama. Pak Polisi itu pun hanya memberi peringatan tanpa menilang Taki mengingat surat-surat yang dimiliki Taki sudah lengkap dan tidak ada yang mencurigakan.
Setelahnya Taki benar-benar mengantar Malika pulang hingga ke depan pagar rumahnya.
Sebelum Malika turun, Taki lebih dulu turun untuk membukakan pintu mobilnya untuk Malika. Setelah Malika turun, Taki kembali memastikan jawaban Malika tadi.
"Satu hal yang ingin saya pastikan sama kamu, Malika! Kamu beneran enggak benci saya?" tanyanya.
Malika menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu apa saya boleh minta satu hal lagi dari kamu?" tanya Taki lagi.
"Asal jangan minta disuruh pura-pura jadi istri Bapak lagi aja!" balas Malika sambil merengut.
"Kalo jadi istri beneran berarti mau?" sahut Taki cepat.
"Haahh???!!!" Malika shock.
__ADS_1
"Hehee, untuk sekarang saya cuma minta kamu untuk tidak memanggil saya 'Bapak' karena saya bukan Bapak kamu dan umur saya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak sama kamu." Taki berkata dengan senyum manisnya.
Membuat Malika meleleh melihatnya dan tanpa sadar, bagai terhipnotis langsung menjawab, "Iya!"
"Bagus, mulai sekarang panggil saya Taki kalau kita hanya berdua, dan kamu boleh memanggil saya Chef Taki ketika di toko." jelas Taki.
Malika kembali hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Taki mengizinkannya masuk ke dalam rumah, pria itu lalu melaju pergi membawa mobil sedannya.
Sesampainya Malika di dalam rumah, ia langsung mencari dan memeluk anak-anaknya yang sudah tertidur sambil mengkhawatirkan apa yang akan terjadi padanya besok jika ia bertemu dengan Taki lagi.
***
Esoknya, suasana pagi di rumah Malika berjalan seramai biasanya, penuh dengan suara lari-larian si kembar yang saling berkejaran dan teriakan dari Mbak Tiya---asisten rumah tangga Malika yang sedang rempong menyuapi si kembar sarapan.
Namun ada satu hal yang berbeda dari biasanya yaitu sikap Malika sendiri. Ia yang kebanyakan bengong jadi serba lelet melakukan aktivitas paginya.
Padahal jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Tapi ia sendiri bahkan belum bersiap-siap berangkat kerja.
Malah masih menyisir rambutnya dengan gerakan slow motion dan lagi-lagi sambil bengong. Padahal biasanya jam segitu ia sudah berangkat dari rumah hingga tepat jam delapan teng Malika sudah sampai di toko.
Pikiran Malika memang sedang tidak sinkron karena sejak semalam hatinya terus saja galau memikirkan cara bagaimana harus bersikap di depan Taki lagi hari ini. Setelah semua yang terjadi kemarin sore dalam perjalanan menuju rumahnya.
Bagai sengaja menggoda pemiliknya, otak Malika tiba-tiba berinisiatif sendiri memutar kembali sepenggal kejadian saat Malika akhirnya berterus terang kepada Taki tentang alasannya menghindari pria itu.
#Flashback On#
Taki mendorong wajahnya mendekat ke arah Malika, terus mendekat dan semakin dekat seolah pria itu ingin mencium Malika.
Malika yang terus memundurkan wajahnya mulai panik. Lalu saat belakang kepalanya sudah mentok pada jendela pintu mobil Taki, Malika merasa dirinya benar-benar terdesak. Ia pun akhirnya mengungkap alasannya menghindari Taki sambil memejamkan matanya erat-erat.
"Saya menghindari Bapak karena saya enggak tahan melihat wajah Bapak lama-lama. Saya bukannya benci sama Bapak tapi justru saya takut naksir Bapak. Saya enggak mau naksir sama suami orang, saya enggak mau jadi pelakor!" jawab Malika cepat dan lantang.
#Flashback Off#
Dan, "Kyaaaaaaa!!!" seketika Malika menjerit histeris sambil mengacak-ngacak rambutnya yang sudah rapih sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
"Apa? Apa? Ada apa Mbak? Mbak Malika kenapa?" tanya Mbak Tiya dengan tergopoh masuk ke dalam kamar Malika karena kaget mendengar teriakan majikannya itu dari arah ruang tamu.
Malika yang ikutan kaget karena kemunculan Mbak Tiya jadi bengong sendiri. Lalu kemudian ia malah nyengir ke arah asisten rumah tangganya itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Heheheee, enggak apa-apa kok Mbak Tiya. Aku cuman kaget tadi berasa ada laba-laba nempel di kaki ehh ternyata enggak! Mungkin perasaanku aja!" jawab Malika beralasan.
"Oalaahh, tak kirain kenapa, Mbak! Bikin kaget aja Mbak Malika ini." seru Mbak Tiya yang langsung balik lagi ke ruang tamu untuk meneruskan menyuapi si kembar sarapan.
Tiba-tiba suara bel pintu pagar rumah Malika berbunyi, "Iyaaa, sebentaarrr!" jawab Mbak Tiya sambil berlari kecil menuju depan rumah untuk membukakan pintu pagar.
Malika yang mengira bahwa yang datang adalah Rima langsung keluar kamar untuk segera curhat pada sepupunya itu.
Meski Malika sadar waktunya untuk berangkat kerja sudah hampir tiba, tapi yang dibutuhkannya saat ini adalah solusi bagaimana menghadapi Taki. Dan itu hanya bisa didapatnya setelah curhat pada Rima.
"Riimmm, untung lo......" Malika langsung melongo begitu dilihatnya Taki sudah berdiri menjulang di dalam ruang tamunya yang mungil sambil menatap ke arahnya.
Sedetik...dua detik...tiga detik....sampai sepuluh detik berlalu dan keduanya hanya saling berpandangan.
Hingga suara Mbak Tiya mengalihkan perhatian Malika dari sosok Taki yang berada lima meter di depannya itu.
"Mbak Malika, bajunya mbak, bajunya belum dipakai!" ujar Mbak Tiya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Malika.
Malika langsung menunduk ke arah badannya sendiri dan ia baru ingat bahwa ia masih mengenakan jubah mandinya sedari tadi. Seketika kedua matanya membesar.
"Ya ampuunnn, Mbak Tiya kenapa enggak ngomong dari tadi siiihhhhh!!!" pekik Malika sambil lari ke dalam kamarnya untuk memakai bajunya.
Taki yang melihat tingkah konyol Malika langsung terkikik geli. Ternyata ada untungnya juga dia berinisiatif menjemput Malika pagi-pagi begini.
Selain ia nanti bisa berduaan lagi bareng Malika selama berangkat ke toko, Taki juga jadi bisa melihat tingkah lucu Malika seperti barusan. Mana ditambahi bonus bisa melihat Malika berjubah mandi membuat Taki seperti mendapat rejeki di pagi hari.
.
.
.
To Be Continue...
*Tong setan
atau tong stand/roda gila dan dalam bahasa Inggris disebut wall of death adalah sebuah acara sampingan karnival yang menampilkan sebuah silinder kayu berbentuk tabung atau kerucut, yang biasanya memiliki diameter 20 hingga 36 kaki (6,1 hingga 11,0 m) dan terbuat dari papan-papan kayu.
Di bagian dalamnya, para pengemudi sepeda motor atau pengemudi mobil kecil menyetir di sepanjang tembok vertikal dan mementaskan pertunjukan.
__ADS_1
***