SEJUTA CINTA

SEJUTA CINTA
AHJUSSI RASA OPPA (2)


__ADS_3

Hiburan untuk Nathan


Setelah tinggal bersama dengan gadis secuek dan seketus Sheryn Faradita. Setiap harinya Nathan merasa mendapatkan hiburan baru di rumahnya. Ada saja tingkahnya untuk menggoda Sheryn, tujuannya adalah agar gadis itu menampakkan ekspresi wajah yang berbeda ketimbang biasanya.


Meski Sheryn sering sekali mengabaikannya, tetapi sikap gadis itu malah semakin membuat Nathan tertantang untuk terus menggoda si cewek kulkas. Walaupun pada awalnya ada saat dimana dirinya merasa kesal ketika menyadari sikap Sheryn yang menganggapnya tak ubahnya wabah penyakit yang wajib untuk dihindari.


Namun, lama-lama kekesalan Nathan berubah menjadi rasa geli akan sikap Sheryn yang terang-terangan menghindarinya sekuat tenaga. Dan jika sekali waktu dirinya berhasil membuat Sheryn menunjukkan raut wajah baru, raut wajah yang lain daripada biasanya. Nathan seolah telah mencapai satu level dalam sebuah permainan. Membuatnya ketagihan juga termotivasi untuk menentukan target yang berikutnya.


Suatu hari ketika Nathan pulang lebih cepat daripada biasanya, ia bergegas menuju dapur untuk mengambil stok es krim yang selalu disediakan asisten rumah tangga untuknya. Karena satu-satunya anggota keluarga Sagara yang paling doyan dengan dessert itu hanyalah Nathan. Panas-panas begini enaknya makan es krim sambil duduk-duduk di taman belakang. Kesana ah .... Pikir Nathan dengan ceria.


Barusaja hendak keluar dari pintu belakang, langkah kaki Nathan terhenti saat dirinya melihat punggung Sheryn yang tengah duduk di bangku taman sambil menatap ke layar laptopnya. Beberapa tumpuk buku terlihat di sisi lengan gadis itu yang ia tumpukan pada pinggiran meja taman. Lalu ada gelas kosong seperti bekas minuman dingin yang isinya sudah tandas terlihat di sisi lengan Sheryn yang satunya lagi.


Tiba-tiba di atas kepala Nathan seperti ada bola lampu melayang yang menyala terang. Tanda ketika sebuah ide terbesit di benaknya. Salah satu sudut bibir Nathan terangkat hingga mengulas senyum miring yang tampak jahil. Ia pun memutar tubuh untuk kembali ke dapur dan mengambil sebuah es krim lainnya sebagai alat untuk melancarkan rencananya.


Dengan langkah yang lebih ringan daripada sebelumnya, Nathan segera menghampiri Sheryn dengan diam-diam. Ia bergerak sangat perlahan agar kehadirannya tidak terdeteksi oleh gadis itu. Ketika sudah benar-benar berada di belakang punggung Sheryn, Nathan dengan hati-hati mengulurkan es krim ke sisi wajah Sheryn lalu menempelkannya ke pipi gadis itu dengan sengaja.


Seperti yang ia duga—lebih tepatnya ia harapkan, Sheryn terkaget-kaget hingga memekik. Untungnya Nathan dengan sigap menjauhkan lagi es krim tadi dari pipi Sheryn hingga benda itu tidak tertampik lengan Sheryn yang refleks melayang ke arahnya.


"Apaan sih? Ganggu aja! Rese' banget!" semprot Sheryn kesal.


Bukannya menyesali perbuatannya, Nathan malah cekikikan melihat Sheryn yang begitu kaget hingga napasnya naik turun. "Kaget ya?" ledek Nathan sengaja ingin menggoda gadis itu lebih lanjut. "Cewek sedingin kamu bisa kedinginan juga ternyata, baru tau aku," lanjutnya.


Bener-bener deh nih makhluk satu, nggak habis pikir gue, childishnya ... AMPUN! Gerutu Sheryn dalam hati sambil melotot dengan geram.


"Maaf deh kalo aku nyebelin ... Nih, buat kamu! Sebagai tanda permintaan maafku," bujuk pria jangkung berambut coklat gelap itu. Disodorkannya salah satu es krim yang diambilnya dari dapur tadi ke hadapan Sheryn yang menatapnya tak percaya.

__ADS_1


Sheryn ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya ia mengambil es krim itu tanpa berkata apa-apa. Bener-bener bocah banget seleranya. Tapi lumayanlah, kebetulan gue juga butuh sesuatu buat ngademin otak gue yang udah kepanasan habis ngerjain tugas. Batinnya.


"Sebagai gantinya, aku boleh ikutan duduk di sini nggak?" tanya Nathan sambil menunjuk pada bangku kosong di sebelah Sheryn.


Tanpa bersuara dan tanpa melihat ke arah lelaki itu, Sheryn menjawab pertanyaan Nathan hanya dengan anggukan kepala. Nathan kemudian duduk di sebelah Sheryn dengan berseri-seri. Ia menggigit es krimnya sedikit demi sedikit sambil terus menatap ke arah gadis tomboi itu. Sheryn yang risih dengan tingkah Nathan, sesekali melirik ke arah lelaki itu dengan ragu-ragu.


Melihat ada jejak es krim tertinggal di sudut bibir Sheryn, Nathan tanpa ragu mengulurkan tangan, dan mengejutkan Sheryn dengan menyapu ujung bibirnya sejenak. "Ada jejak es krim tadi di situ," jelas Nathan ringan.


Secara refleks Sheryn menyentuh ujung bibir yang Nathan sentuh dengan tersipu malu. Ia terkesiap dengan sikap santai Nathan. Belum pernah ada lelaki yang bersikap sedekat itu dengan Sheryn. Ia menunduk lagi, berpura-pura kembali fokus pada sisa es krim di hadapannya, berpura-pura yang barusan itu bukanlah apa-apa. Sesaat ia terpikir untuk mengucapkan terima kasih, namun Sheryn malah melipat bibirnya kuat-kuat.


Sudut bibir Nathan terangkat tinggi melihat reaksi malu-malu gadis itu. Yess, ternyata bisa juga do'i malu-malu sampe merona gitu, dan semua itu gara-gara gue. Batin Nathan senang. Dengan santai ia menyandarkan punggungnya sambil berkata, "Terima kasih kembali."


Sheryn tersentak, matanya melebar menatap lurus ke arah Nathan, lalu merengut gelisah sambil membatin, kenapa ini orang selalu tahu apa yang gue pikirin sih? Nyebelin!


Ini cewek ternyata sikapnya aja yang kasar, tapi casingnya tetep lembut. Kaya' marshmallow. Empuk-empuk, kenyal ... Ish, apaan sih gue kok malah mikir kemana-mana. Gerutu Nathan karena pikirannya sendiri.


***


Di bagian lain rumah itu, Alan dan Sarah juga baru pulang kerja. Sarah masuk lebih dulu karena Alan langsung menemui kakeknya untuk membicarakan sesuatu.


Ketika pada akhirnya Alan menyusul Sarah masuk ke dalam kamarnya, ia sempat heran karena tidak menemukan sang istri di dalam sana. Lalu ia melihat pintu balkon yang terbuka dan senyumnya mengembang begitu saja. Alan melintasi kamarnya dan melihat sosok mungil dan langsing sang istri berdiri di tepi balkon.


Sarah bersandar di pagar balkon dengan kepala menunduk, entah apa yang dilihat istrinya di bawah sana. Secara perlahan Alan berdiri di belakang Sarah, menopangkan lengannya ke pagar di sisi kanan dan kiri tubuh sang istri. Sarah terperanjat, "Ya ampun...kaget aku!"


"Maaf." bisik Alan sambil mengecup bagian belakang kepala istrinya dengan mesra.

__ADS_1


Sarah kembali rileks dan merasa aman dalam lingkup lengan suaminya. "Tell me...apa yang sedang kamu lakukan disini." tanya Alan.


Sarah sudah semakin terbiasa dengan bahasa bilingual yang digunakan suaminya. Sejak ia mengetahui lingkungan kerja Alan yang bertaraf Internasional, membuatnya memaklumi kata-kata Alan yang baku dan sesuai EYD, seolah setiap kalimat yang terlontar dari mulut sang suami baru saja keluar dari buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).


"Lihat deh tuh!" Sarah menunjuk ke bawah balkon. Tepat di meja taman dimana ia memperhatikan Nathan dan Sheryn sejak beberapa saat tadi. "Aku lagi merhatiin mereka," imbuhnya.


"Memangnya mereka kenapa?" tanya Alan ikutan melongok ke bawah balkon.


"Nggak kenapa-kenapa sih, lucu aja ngeliat mereka ngobrol begitu. Manisnya," sahut Sarah sambil menutup mulutnya yang nyengir.


"Really? But Nathan is adult. (Tapi Nathan itu pria dewasa.) Dia tidak ada manis-manisnya menurutku," balas Alan.


"Ya ampun, sayang, sedewasa apapun orang pasti bisa bersikap manis. Dan sekarang ini tuh Nathan yang lagi godain adikku itu keliatan manis. Sheryn yang jadi baper juga manis," terang Sarah.


"Tapi aku pikir yang bisa bersikap manis itu hanya anak kecil." Alan masih tidak mengerti.


"Dasar, cowok kaku!" Sarah memutar bola matanya dengan malas.


.


.


.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2