
***
Deheman Zacky membuyarkan lamunan Malika akan pesona Chef tampan itu, "Mbak Malika, sebelumnya saya perkenalkan lebih dulu dua orang yang akan ikut mewawancarai anda. Di sebelah kiri saya ini, Chef Nanda. Beliau adalah Chef khusus cake. Sedangkan yang di sebelah kanan saya ini Chef Taki, beliau ini Chef khusus roti." terang Zacky memperkenalkan kedua rekannya.
"Selamat siang, saya Malika Sharnaz." Malika memperkenalkan dirinya sendiri dengan sedikit membungkukkan badan.
Oohhh, nama suaminya Mbak Niky itu Mas Taki. Kaya' nama orang Jepang. Mungkin emang ada turunan orang Jepang kalik ya makanya ganteng gitu! Lagi-lagi Malika bergumam dalam hati.
Debaran hatinya masih terasa, sehingga Malika harus sekuat tenaga mengabaikannya demi kelancaran interviewnya hari ini.
"Anda membawa Curriculum Vitae?" tanya Chef Taki dengan lugas, sedikit mengejutkan Malika dari lamunannya.
"Bawa Pak! Tapi sebelumnya saya terus terang dulu kalau saya ini tidak pernah kursus atau sekolah kuliner. Saya selama ini cuman belajar secara otodidak. Dan Ijasah saya Manajemen." ucap Malika dengan tegas.
Nampak Chef Nanda langsung menoleh pada kedua pria di sampingnya dengan gestur yang menyiratkan keheranan. Namun reaksinya itu langsung dibalas tepukan ringan di pundak Chef Nanda oleh Zacky.
"Bisa saya lihat CV kamu lebih dulu?" tanya Taki masih dengan intonasi yang tenang.
Malika lalu menyerahkan sebundel map yang ia bawa yang berisi data pribadi dan dokumen pendidikannya kepada Chef Taki. Taki meraihnya lalu mulai membukanya satu persatu.
Dalam hatinya, Taki lagi-lagi dibuat terkejut ketika dilihatnya angka yang tertera di kolom usia Malika yang ternyata memang masih dua puluh empat tahun dan hal itu juga di buktikan oleh penulisan tanggal lahir wanita itu.
Ini cewek beneran masih muda banget untuk ukuran janda. Pikir Taki dengan mengernyitkan keningnya.
"Kamu bisa bikin cake apa saja?" Chef Nanda mulai bertanya.
"Sejauh ini saya sudah berhasil membuat Rollcake, Chiffon Cake, Marmer Cake, Brownies, dan Blackforest Cake." jawab Malika.
Taki memasang telinganya untuk mendengarkan interview yang dilakukan kedua rekannya itu sementara matanya melihat-lihat dokumen pribadi milik Malika.
Dan ia berhenti di halaman yang menunjukkan Kartu Keluarga Malika. Taki cukup lama mengamati isi dari dokumen itu yang hanya terdiri dari tiga nama.
Malika Sharnaz sebagai kepala keluarga dan dua nama anak laki-lakinya yaitu Leo Punggiana dan Reo Punggiana sebagai anggota keluarga. Dan hal itu semakin menegaskan status Malika sebagai single parent.
Entah kenapa Taki sedikit merasakan kegetiran di dalam hatinya dan ia tidak tahu alasannya.
"Anda juga jualan online kan? Apa semua itu adalah jualan anda?" kini Zacky yang bertanya.
"Saya hanya memproduksi sesuai pesanan pelanggan saja. Tapi memang semua jenis cake yang saya sebutkan tadi sudah pernah dipesan sebelumnya oleh beberapa pelanggan saya!" akunya.
"Selain cake-cale tadi, apa kamu pernah nyoba bikin cake lainnya?" Chef Nanda kembali bertanya.
"Pernah Pak! Banyak jenis yang sudah saya uji coba, beberapa sudah berhasil tapi kadang saya masih kurang puas sama hasilnya jadi saya belum berani mempromosikan ke lapak online saya."
"Anda berkeluarga?" Zacky mulai mengorek infomasi pribadi Malika.
"Saya baru saja bercerai, Pak! Dan saya punya dua anak laki-laki kembar yang saat ini berumur tiga tahun."
"Kalau anda bekerja fulltime nanti, bagaimana dengan anak-anak anda?" tiba-tiba Taki mulai nimbrung bertanya.
"Saya punya sepupu yang tinggalnya dekat rumah, Pak! Biasanya kalau saya mengirim pesanan atau interview kerja seperti sekarang ini, anak-anak saya titipkan ke dia. Jadi nanti semisal saya ada rejeki kerja di sini, ya pastinya anak-anak akan saya titipkan juga ke sepupu saya itu." terang Malika panjang lebar.
Mendengar jawaban Malika, ketiga pria di hadapannya itu pun manggut-manggut tanda mengerti.
"Kamu sudah pernah bikin Birthday Cake?" tanya Chef Nanda lagi.
"Pernah, Pak, beberapa kali. Tapi masih pakai buttercream, karena saya belum berani pakai fondant. Belum puas sama hasil kreasi saya kalau pakai fondant."
__ADS_1
"Ada foto hasil cake-cake bikinan kamu?" Chef Nanda penasaran.
"Ada, Pak. Di hape saya." jawab Malika.
Ia lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya. Dan tampak mengutak-atik ponselnya lebih dulu untuk membukakan folder khusus cake buatannya di Gallery lalu menyodorkannya pada Chef Nanda.
Chef Nanda nampak manggut-manggut dengan ekspresi cerah melihat foto-foto hasil kreasi Malika.
"Ini foto pakai kamera profesional?" Chef Nanda bertanya tanpa memalingkan matanya dari layar ponsel Malika.
"Bukan, Pak! Itu saya foto sendiri pakai kamera ponsel yang anda pegang!" jawabnya.
"Serius???" Chef Nanda tampak tak percaya.
"Iya, Pak!" jawab Malika dengan sungguh-sungguh.
"Gue jadi pengen liat dia eksekusi nih!" celetuk Chef Nanda pada dua rekannya.
"Kapan?" tanya Taki.
"Besok, gimana?" jawab Chef Nanda cepat.
"Kamu bisa kesini lagi besok untuk tes kemampuan?" tanya Zacky pada Malika.
Malika mengangguk mantap, "Bisa, Pak!" jawabnya lantang.
"Kalau begitu kami tunggu kedatanganmu besok di jam yang sama, Oke!" ujar Zacky sambil berdiri dari duduknya.
Chef Nanda dan Malika spontan mengikuti Zacky berdiri. Dan hanya Taki yang masih betah duduk sambil meneliti CV milik Malika itu.
Malika mengangguk mengiyakan, "Trus sekarang saya sudah boleh pulang?" tanyanya polos.
Seketika ketiga pria di hadapannya jadi tertawa ringan melihat ekspresi polos Malika.
"Iya, anda sudah boleh pulang. Mari saya antar!" jawab Zacky sambil melangkah ke pintu.
Sebelum mengikuti Zacky, Malika lebih dulu menghampiri Chef Nanda untuk menjabat tangannya dan begitu pula dengan Taki. Tak lupa Malika berterima kasih berkali-kali dengan sedikit membungkukkan badannya.
Setelah itu, Malika mengikuti Zacky yang mengantarnya hingga ke pintu depan toko PANKEKI BAKERY.
"Dia lucu juga ya?" tanya Nanda menyenggol lengan Taki. "Cantik, Manis, Imut, Polos. Komplit!" imbuhnya memanas-manasi.
"Inget istriii di rumah!" jawab Taki cuek sambil ngeloyor pergi.
"Iisshh, dasar GAK PEKA!!!" rutuk Nanda pada rekannya itu. "Mumpung beli satu dapet tiga lho, Brow!" guraunya lagi sambil mengikuti langkah kaki Taki.
***
@Rumah Rima.
"Mamiiii....!!!" teriak si kembar ketika melihat ibunda mereka memasukkan motornya ke halaman rumah Rima.
Si Kembar yang saat itu sedang bermain di teras langsung menyerbu Malika yang baru saja turun dari motornya.
"Hei, heeiii...pelan-pelan, Nak! Mami lepas helm dulu ya?!" pinta Malika pada kedua putranya.
Sang anak pun kompak mengangguk, lalu setelah Malika meletakkan helmnya di kaca spion, Leo dan Reo kembali berebut untuk menggandeng tangan Maminya itu.
__ADS_1
"Kalian berdua sudah makan siang?" tanya Malika yang sedang menuntun mereka ke dalam rumah Rima.
Si Kembar mengangguk cepat menjawab pertanyaan Maminya.
"Pinterrr!!!" seru Malika senang sambil mengacak rambut kedua putranya itu. "Riimmm!!!" panggil Malika pada sepupunya.
"Wooii, iyaa. Gue dibelakang!" teriak Rima. "Udah balik lo?" tanya wanita itu ketika melihat Malika yang sudah duduk selonjoran di atas karpet ruang tamu Rima.
"Iya, ini baru aja nyampe udah digelandotin!" jawabnya pasrah.
"Lo udah makan siang belom?" tanya Rima.
"Belom, belom sempet!" jawab Malika cepat.
"Makan di sini aja gih, tuhh ada nasi sama lauk di meja makan." Rima menunjuk ke meja makan dengan dagunya.
"Gue makan di rumah aja lah, gue juga masak kalik. Ntar kalo enggak habis sayang jadinya!" ujarnya memberi alasan. "Oia nih, gue beliin produknya PANKEKI Bakery!"
Malika menyodorkan goodie bag berbahan kertas daur ulang berlogo PANKEKI Bakery kepada Rima. Rima menerimanya lalu membukanya saat itu juga.
"Wuiiihhh, Terbaaiikkk!!! Keren nih, tapi enggak apa-apa lo beli beginian? Kan mehong ini, Buk?!" Rima nampak sumringah sekaligus prihatin.
"Enggak apa-apa, nyantai aja! Gue tadi dapet diskon VIP lima puluh persen kok!" ujarnya.
"Haahh, kok bisa???"
"Yaa tadi pas beli kan gue ditemenin salah satu orang yang wawancara gue, trus sama dia dikasih kartu VIP kaya gini. Gue pake beli ternyata diskonnya sampe separuh harga, lumayaann!" terang Malika sambil nyengir kala menunjukkan kartu VIP dari PANKEKI BAKERY yang dimilikinya kini.
"Kereennn!!! Kapan-kapan gue pinjem yak kalo gue mau ke PANKEKI BAKERY, bisa kan?"
"Bisaaa, enggak pake ID kok ini. Kalo lo butuh ambil aja!"
"Asyyiikkk!!!" seru Rima girang. "Anak-anak, kalian mau kue enggaaakkk???" tanyanya pada si kembar sambil memperlihatkan isi kotak kemasan PANKEKI BAKERY yang dibeli Malika tadi.
"Mau, mauuu!" jawab si kembar.
Setelah itu, sambil menunggui kedua anak kembarnya menghabiskan kue mereka. Malika mulai bercerita pada Rima tentang wawancara kerjanya hari ini.
Ia juga kembali meminta bantuan Rima untuk menjaga anak-anaknya besok ketika dirinya harus mengikuti tes kemampuan di PANKEKI BAKERY.
Rima pun seperti biasa, selalu dengan senang hati membantu sepupunya itu saat dibutuhkan.
"Gue berharap besar lo bisa kerja di toko itu. Karena menurur gue elo emang pantes sih!" ucap Rima.
"Tapi gue kepikiran anak-anak!" balas Malika. "Gue enggak enak kalo ngerepotin elo tiap hari gini!" imbuhnya.
"Enggak usah ngerasa ngerepotin gitu. Kita ini sodaraan cuman berdua, walaupun kita cuman sepupu tapi gue enggak punya sodara lain selain elo. Kita harus saling tolong menolong!" jawab Rima tulus.
Malika pun hanya bisa terdiam mendengar ketulusan sepupunya itu, dan ia juga bersyukur. Meski dirinya yatim piatu, tapi berkat Rima dan suaminya. Ia masih memiliki keluarga lain selain anak-anaknya.
.
.
.
To Be Continue ....
__ADS_1