SEJUTA CINTA

SEJUTA CINTA
SEKRETARIS BURUK RUPA (10)


__ADS_3

Sekretaris yang Jatuh Cinta


.


.


.


Dua jam sebelum acara lelang dimulai, Ambrosia yang baru bangun dari tidur siangnya tiba-tiba mendapat telepon dari Jake Cipher—sahabat Alex.


📱JAKE CIPHER


Hai, Ann. Kamarmu nomor berapa?


📱AMBROSIA HEART


Kenapa? Ada apa, Jake?


📱JAKE CIPHER


Akan kukirimkan Make Up Artist-ku ke kamarmu sekarang. Agar mereka bisa membantumu berdandan. Kau ingin tampil beda kan untuk acara malam nanti?


📱AMBROSIA HEART


Ooh, Iya. Baiklah. Kamarku nomor 707, tepat di sebelah kamar Pak Alex.


📱JAKE CIPHER


Baiklah, akan kusuruh mereka ke tempatmu sekarang juga.


📱AMBROSIA HEART


Terima kasih atas bantuanmu, Jake!


📱JAKE CIPHER


Sama-sama, sampai ketemu nanti!


Ambrosia menutup teleponnya dengan mata berbinar dan hati yang dipenuhi antusiasme yang membuncah. Diluar dugaannya, Jake membantunya lebih dari yang ia kira.


Sahabat Bosnya itu bukannya hanya merekomendasikan Make Up Artist untuk membantunya berdandan tapi malah mengirimkan orang-orang itu kepadanya secara langsung.


Ambrosia tidak bisa tidak menunggu kedatangan para ahli itu dengan harap-harap cemas. Hatinya bertanya-tanya, bisakah ia merubah penampilannya agar tampak memukau dan pantas mendampingi seorang Alex Levine di acara semewah ini? tanya batin Ambrosia.


Aahh, sudahlah! Kita lihat saja hasilnya nanti, yang jelas saat ini aku harus mandi secepat kilat!


Dan Ambrosia pun langsung melesat ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya secepat yang ia bisa.


***


Beberapa menit sebelum acara lelang di mulai, para tamu undangan sudah banyak yang hadir di convention hall Crown Towers Hotel untuk sekedar saling menyapa dan menjalin koneksi.


Alex yang saat itu baru memasuki ruangan acara dan ingin mencari Ambrosia atau Jake malah dikejutkan oleh kehadiran wanita yang sempat membuatnya terpuruk karena tercampakkan lebih dari sepekan yang lalu.


Ya, wanita itu adalah Luna Gross yang langsung menghampiri Alex dengan penuh percaya diri begitu dirinya melihat sosok Alex yang baru masuk. "Oh, Ya Ampun! Lihat siapa ini! Tuan Alex Levine, si model terkenal yang ternyata tidak bisa move on dariku hingga nekat mengejarku kemari," seloroh Luna sambil tertawa.


"Apa?" Alex keheranan dengan kemunculan tiba-tiba Luna di Australia ditambah lagi dengan tuduhan Luna yang tidak mendasar itu. "Maaf, Nona Gross! Tapi sepertinya anda sudah salah paham," balas Alex dengan tenang.


"Ayolah, Lex! Tidak perlu pura-pura denganku! Aku tahu kau sangat mencintaiku hingga tak sanggup berpisah denganku, tapi maaf saja, karena hubungan kita sudah berakhir dan aku akan menikah dengan pria yang lebih baik darimu," ucapnya angkuh.


Alex menggeleng sambil memegangi keningnya. Wanita ini benar-benar gila! pikir Alex.


"Seperti yang anda katakan, hubungan kita memang sudah berakhir, dan saya sangat bersyukur karena itu, jadi sekarang tolong biarkan saya sendiri karena saya sedang mencari pasangan saya. Saya sungguh-sungguh tidak ada waktu untuk menanggapi kekonyolan anda, Nona Gross."


Bukannya percaya dengan alibi Alex, Luna malah tertawa terbahak mendengarnya. "Hahaahahaa. Lucu sekali, Lex! Sejak kapan kau bisa berpaling dariku? Lagipula ini adalah acara untuk orang-orang kalangan atas, bagaimana mungkin hanya seorang model sepertimu bisa diundang kecuali kau memang menerobos masuk untuk mengejarku?"


Luna masih teguh pada pendiriannya yang terlalu percaya diri itu. Sedangkan Alex makin dibuat kesal dan muak karena ocehan Luna yang menurutnya sangat menginjak-nginjak harga dirinya.


Kita lihat saja, siapa yang akan tertawa paling akhir. Batin Alex geram.

__ADS_1


Di sisi lain, Ambrosia baru akan memasuki ruangan acara ketika tanpa sengaja ia bertemu Jake di pintu masuk.


"Waahh, aku sudah tahu kau memang cantik, Ann, tapi aku tidak menyangka kau akan jadi secantik ini! Benar-benar luar biasa," kelakar Jake sambil meraih tangan Ambrosia lalu mencium punggung tangannya layaknya seorang gentlement.


"Terima kasih atas bantuan dan pujianmu, Jake, kau baik sekali. Tapi ngomong-ngomong di mana Pak Alex?" Ambrosia celingukan mencari Bosnya itu.


"Oh, Alex... itu, dia sedang ditawan oleh si penyihir Luna Gross." Jake menunjuk ke arah Alex yang tampak menahan kekesalannya menghadapi seorang wanita berambut pirang.


"Luna siapa?" Ambrosia bertanya dengan tampang polos ke arah Jake.


"Luna Gross, Ann. Dia itu mantan tunangan Alex yang dengan jahatnya telah mencampakkan Alex setelah hamil oleh orang lain, yang menurutnya lebih kaya daripada Alex, padahal Luna tidak tahu saja siapa Alex sebenarnya." Jake terbahak di akhir ceritanya.


Ambrosia seketika terbelalak, "Benarkah? Jadi begitu?" tanyanya tak percaya. "Pasti menyakitkan bertemu lagi dengan orang yang telah mengkhianatinya," ujar Ambrosia dengan nada khawatir.


Jake tersenyum smirk melihat kekhawatiran Ambrosia yang ditujukan untuk sahabatnya itu. "Apakah kau mengkhawatirkan perasaannya, Ann?" tanya Jake mencoba memancing kejujuran Ambrosia.


"Tentu saja! Dia sudah menolongku dan sekarang aku ingin membalas jasanya. Tapi apa yang bisa kulakukan?" Ambrosia nampak bingung.


"Aku tahu caranya agar kau bisa menolong Alex terlepas dari Luna, dan bahkan membantunya memanas-manasi rubah betina itu," ungkap Jake dengan senyum jahilnya.


Ambrosia menggeleng tak mengerti. Dan dengan cepat Jake membisikkan rencananya ke telinga wanita cantik bergaun merah menyala itu.


"Dengar, Nona Gross! Maafkan aku jika sudah merusak imajinasimu yang konyol itu. Tapi saat ini, aku sudah benar-benar tidak ada perasaan apapun padamu, Oke! Jadi tinggalkan aku sendiri!" pinta Alex dengan gemas setelah perdebatan panjangnya dengan Luna yang sia-sia saja.


"Berhenti berkilah, Lex! Dan mengaku sajalah! Atau tunjukkan siapa pasanganmu padaku jika orang itu memang benar-benar ada," tantang Luna dengan angkuhnya.


Alex memutar bola matanya dengan jengah, "Aku memang bersama seseorang, dan akan kukenalkan padamu jika kau berhenti menahanku di sini agar aku bisa mencarinya," jawab Alex dengan kesal.


"Tak perlu susah payah mencariku karena aku sudah di sini, Lex," tiba-tiba saja Ambrosia muncul dengan anggunnya di sisi Alex lalu dengan luwes mengamit lengan pria yang tampak melongo itu sambil menebar senyumnya yang menawan.


Luna terperangah melihat kemunculan tiba-tiba seorang wanita cantik yang mempesona di sisi mantan tunangannya. Sedangkan Alex yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu hanya terdiam memandangi Ambrosia dari dekat.


Ambrosia membalas tatapan Alex dengan mata lebarnya yang saat ini tak terbingkai kaca mata. Yang baru Alex sadari dengan sangat jelas betapa indahnya mata itu.


Dari mata, tatapan Alex turun ke bibir Ambrosia yang penuh dan merah merekah. Membuatnya menelan salivanya dengan susah payah demi menahan hasratnya yang mendadak ingin mengecup bibir itu.


"Ooh, jadi ini pasanganmu, Lexi?" tanya Luna dengan ketus sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Alex seketika tersadar dari lamunannya akan bibir Ambrosia yang nampak menggiurkan. Rasa kesalnya kembali muncul saat mendengar Luna memanggilnya dengan panggilan kesayangan untuknya.


"Benar, dan tolong berhentilah memanggilku seperti itu karena kita sudah tidak sedekat dulu lagi," pinta Alex dengan tegas.


"Dan siapa wanita ini, Lexi?" Ambrosia menirukan cara panggilan Luna ke Alex untuk berpura-pura bahwa dirinyalah yang kini mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan pria itu.


Alex yang tak siap mendengar suara lembut Ambrosia memanggilnya dengan sebutan itu pun mendadak tergagap, "Oh... Eh... dia..."


"Perkenalkan, saya Luna Gross, saya man...."


"Dia seseorang dari masa laluku. Tapi sekarang kami sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Sudah selesai!" potong Alex dengan tegas sebelum Luna memperkenalkan dirinya dengan seenaknya.


"Oh, Halo, Nona Gross! Dan saya Ambrosia Heart! Senang berkenalan dengan anda! Tapi maaf, karena saya dan Alex harus segera mencari kursi tempat duduk kami!"


Luna yang merasa kesal karena ucapannya dipotong begitu saja oleh Alex mencoba untuk kembali mempermalukan Alex di depan pasangan barunya.


"Jadi kau memang diundang secara resmi di acara ini?" tanya Luna yang masih tidak percaya. "Lalu di barisan mana kursi kalian? Kalau kursiku dan calon suamiku ada di barisan ke empat dari depan. Luar biasa kan bagaimana mereka menempatkan seseorang sesuai dengan posisi mereka?" beber Luna dengan sombongnya.


"Tentu saja Alex mendapat undangan secara resmi, Miss Gross. Dia kan salah satu pemegang saham terbesar di Levine Enterprises. Kami bahkan selalu mendapat undangan setiap tahunnya."


Ambrosia mengeluarkan undangan acara malam itu dari clucth bag yang dibawanya untuk ia tunjukkan kepada si rubah betina.


"Aah, ternyata menurut undangan yang kami terima, kami harus duduk di kursi VVIP di barisan pertama. Ternyata memang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ya Lex?" Ambrosia mengeluarkan jurus senyuman bisnisnya yang tak terelakkan.


"Kalau begitu kami permisi dulu, Nona Gross! Selamat menikmati kursi di barisan ke-empatmu," pamit Alex sambil menggandeng Ambrosia untuk menyingkir dari hadapan si penyihir.


Alex tersenyum geli melihat tingkah Ambrosia yang diam-diam membalas kesombongan Luna dengan caranya sendiri. Dan Alex juga merasa puas saat melihat ekspresi kekalahan dari wajah Luna yang juga nampak luar biasa terkejut.


"Jadi, apa yang membuatmu berubah pikiran hingga memutuskan untuk berdandan secantik ini?" bisik Alex sambil melangkah menuju kursi VVIP mereka.


Ambrosia tersipu mendengar pujian Alex yang terdengar tulus. "Sebagai rasa terima kasih saya pada anda yang telah menyelamatkan saya dari Hans Trigger, saya berusaha semaksimal mungkin memantaskan diri saya sebagai pasangan anda malam ini, Pak," jawab Ambrosia terus terang.

__ADS_1


"Well... Aku suka ucapan terima kasihmu ini!" balas Alex sambil menatap mata Ambrosia dengan penuh arti setelah keduanya telah duduk di kursi yang disediakan untuk mereka.


Melihat tatapan Alex yang begitu dalam serta senyumnya yang menawan, Ambrosia tidak bisa tidak merasakan hawa panas yang mulai menjalar pada tubuhnya dan membuat rona merah muda pada kedua pipinya.


Ada apa denganmu Ambrosia? Kenapa pria ini sekarang jadi terlihat begitu begitu mempesona... Ya Tuhaannn, aku sudah gila! pekik Ambrosia dalam hati.


Acara lelang berlangsung seru, satu per satu barang-barang yang terdiri dari barang antik hingga perhiasan mewah yang unik bahkan langka di tawarkan untuk diberikan penilaian tertinggi. Namun tiba-tiba, saat acara hampir berakhir dan tinggal satu barang lagi yang akan di lelang, Ambrosia mendadak menerima telepon dari Belle.


"Permisi, Pak Alex! Belle menelpon saya, sepertinya dia membutuhkan bantuan saya. Saya permisi keluar sebentar karena di sini terlalu berisik." Ambrosia pamit keluar ruangan.


"Apa perlu kutemani?" tanya Alex khawatir kalau-kalau Ambrosia diganggu pria maniak lainnya jika ia keluar ruangan sendirian dengan penampilan semempesona itu.


"Jangan, Pak! Tidak perlu! Acaranya sudah hampir selesai, sebaiknya anda tunggu di sini, saya usahakan tidak akan lama," sergah Ambrosia.


"Baiklah, hati-hati!" Meski berat hati, namun akhirnya Alex mengizinkan Ambrosia untuk keluar ruangan demi menerima telepon dari rekan sekantornya.


Ternyata masalah yang sedang di hadapi Belle di kantor cukup rumit hingga Ambrosia terpaksa harus memberikan arahan secara mendetil via telepon. Membuat wanita itu tertahan di luar ruangan cukup lama.


Sekembalinya Ambrosia ke dalam ruang lelang, suasana menjadi riuh oleh tepuk tangan untuk Alex. Ambrosia yang kebingungan akhirnya bertanya, "Apa yang telah anda lakukan?" tanya Ambrosia penasaran.


"Tidak ada! Mereka hanya berlebihan saja menyambutku di acara ini," kilah Alex dengan seringainya yang misterius.


Ambrosia yang langsung percaya pada jawaban Alex saat itu hanya bisa mengangkat kedua bahunya begitu saja tanpa mencari tahu lebih lanjut.


Karena suasana hatinya sedang senang, Alex memutuskan pergi minum-minum bersama Jake dan Ambrosia setelah acara lelang berakhir. Mereka bertiga duduk di bar hotel dan memesan sebotol Jacob's Creek—salah satu anggur merah terbaik dari Australia.


Ambrosia memutuskan hanya minum satu gelas karena dirinya tidak ingin mabuk malam itu, namun tidak demikian dengan Alex. Perasaannya yang benar-benar bahagia atas penampilan Ambrosia yang dipersembahkan khusus untuknya, serta rasa puas setelah membuat seorang Luna Gross kalah telak darinya membuat Alex ingin merayakan malam ini dengan sebotol anggur.


Dan seperti yang sudah bisa diduga, Alex mabuk berat. Dengan terpaksa Ambrosia dan Jake membantunya kembali ke kamar pria itu.


Setelah keduanya membaringkan Alex ke atas tempat tidur, Jake tiba-tiba mendapat telepon dari seorang temannya yang ingin mengajaknya bertemu.


Jake pun langsung pamit pada Ambrosia yang masih berdiri mematung di sisi tempat tidur Alex. "Maaf, Ann. Tapi aku harus pergi! Tolong kau buka sepatu dan jasnya lalu tinggalkan saja dia dan pergilah istirahat, oke!" ujar Jake sambil berlalu.


Ambrosia melongo dibuatnya. Namun ia tetap menuruti Jake untuk membuka kedua sepatu Alex yang sudah tak sadarkan diri. Saat Ambrosia mulai membuka jas yang masih menempel pada tubuh Alex, pria itu tanpa sadar menggumamkan tentang betapa menakjubkannya Ambrosia malam itu.


Ambrosia langsung tersipu mendengar hal itu. Melihat Alex yang masih menggumamkan sesuatu, di dorong rasa penasaran, Ambrosia mendekatkan telinganya pada wajah Alex demi mendengarkan lebih jelas apa yang pria itu gumamkan.


"Kau adalah yang tercantik diantara semua wanita tadi, Ann. Hanya kau!" gumam Alex masih dengan mata terpejam.


Sungguh senang hati Ambrosia mendengar hal itu, baru kali ini ia merasa sebahagia ini ketika seseorang memujinya. Wajahnya yang putih langsung memerah tak terkendali.


Merasa harus segera keluar dari kamar Alex sebelum pria mabuk itu bangun dan menyadari ekspresi malunya, Ambrosia langsung menarik kembali telinganya dari wajah Alex.


Tapi Ambrosia kalah cepat, sebab Alex sudah lebih dulu menarik tubuhnya hingga terjatuh tepat di atas tubuh Alex dengan posisi wajah mereka yang saling berhadapan. Ambrosia terpaku. Tubuhnya menegang. Alex membuka matanya sedikit, dan tatapannya tampak fokus pada bibir Ambrosia yang mengundang.


"Kau tidak tahu betapa inginnya aku melakukan ini sejak tadi," bisik Alex dan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Ambrosia begitu saja.


Saat itu, entah kenapa Ambrosia tidak bisa menolak dan melepaskan diri dari ciuman Alex meski ia ingin melakukannya. Seluruh otot tubuhnya tiba-tiba melemah. Meski logikanya ingin berontak, tetapi bibirnya malah membalas ciuman itu. Hasrat yang tumbuh dalam diri Ambrosia memaksanya untuk menikmatinya saja ketimbang menolaknya.


Untuk beberapa saat keduanya saling memagut, hingga bibir Alex yang lebih dulu melepaskan Ambrosia lalu pria itu tertidur begitu saja. Saat itulah, logika Ambrosia kembali merasuk dalam pikirannya.


Ia melompat seketika dari atas tubuh Alex Levine yang telah pulas. Ambrosia menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil melangkah mundur dengan gemetar.


Ya Tuhaann... apa yang sudah kulakukan? Aku membalas ciumannya. Mungkinkah aku jatuh cinta pada pria ini? Alex Levine? Yang benar saja? Tidak mungkin!


Ambrosia berlari menuju kamarnya sendiri dengan pikiran kacau. Ia membersihkan dirinya dengan tergesa dan serampangan. Kepanikan menyerangnya tiba-tiba.


Tidak... tidak... Aku tidak jatuh cinta pada Alex Levine! Tidak boleh! Kau bodoh Ann, kau sangat bodoh jika sampai mencintai pria itu. Karena dia tidak menyukaimu. Dan lagi, dia anak dari bosmu, bos yang sangat kau hormati. Mau ditaruh di mana mukamu jika Roxy tahu kau mencintai putra tunggal kesayangannya.


Tubuh Ambrosia melorot jatuh di pinggir tempat tidur. Air mata kepanikan mengalir begitu saat ia benar-benar menyadari perasaannya pada Alex Levine. Mampukah ia menahannya? Mampukah ia menghapus rasa yang telah hadir itu?


.


.


.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2