
Kembalinya Sang Putra Mahkota
.
.
.
Setelah menutup telepon dari ibunya, tiba-tiba Alex merasa begitu mengantuk. Apa yang terjadi? pikirnya bingung.
Semalaman bahkan tak setitikpun rasa kantuk hinggap di pelupuk matanya, dan kini, setelah memberikan keputusan cepat dan juga singkat yang Ia janjikan pada sang Ibu, mendadak kelopak matanya bagai digantungi masing-masing sepuluh ton pemberat yang membuatnya sulit untuk menatap layar ponselnya dengan jelas.
Apakah berbicara dengan sang ibu serta memberikan sugesti ala kadarnya pada dirinya sendiri untuk segera move on dari mantan tunangannya yang matrelialistis, membantu meringankan sakit di hatinya dan menenangkan pikirannya, hingga ia kini jadi begitu mengantuk?
Entahlah... Alex sendiri tidak begitu mengerti ilmu psikologi semacam itu. Namun yang jelas, ia harus mampu mempertahankan kesadarannya sebentar untuk menghubungi Manajernya.
"Tahan, Lex! Tahan sebentar lagi!" ujarnya pada diri sendiri. "Tahan sampai kau selesai minta izin off untuk hari ini," imbuhnya.
Namun saking tidak kuatnya Ia memelototi deretan huruf-huruf qwerty pada layar ponselnya, demi mengetikkan sebuah pesan kepada manajer dari agensi modelingnya, Alex memilih untuk langsung menelepon manajernya dan memintanya menunda seluruh pekerjaan hari ini dengan alasan kesehatan yang kurang baik.
📱ALEX LEVINE
Hai, Dale.
📱DALE NEWTON
Alex? Kau kah itu?
📱ALEX LEVINE
Yess, Dale! Ini aku, Alex Levine. Salah satu model kesayanganmu.
📱DALE NEWTON
Oh, Ya Ampun, Lex! Apa yang terjadi pada suaramu? Kau terdengar... mengerikan!
📱ALEX LEVINE
Dan aku yakin, tampangku lebih mengerikan lagi. Aku sampai tidak berani berkaca hari ini.
📱DALE NEWTON
Ya Tuhan, kau kenapa, Lex?
📱ALEX LEVINE
Aku, aku tidak enak badan, Dale. Jadi aku menelpon untuk bertanya apakah kau bisa memberiku libur?
📱DALE NEWTON
Libur? Hari ini?
📱ALEX LEVINE
Tentu saja hari ini, Man! Sakitku kan hari ini! Apa maksudmu aku harus tetap bekerja dengan kondisiku seperti ini?
📱DALE NEWTON
Hahaha. Maaf, Lex! Tapi aku harus tetap mengecek jadwalmu dulu, dan jika ada jadwal yang tidak bisa ditunda, terpaksa kau harus jalani bagaimana pun keadaanmu.
📱ALEX LEVINE
Dasar psikopat kau, Dale!
📱DALE NEWTON
Ya-ya, whatever! Tapi beginilah pekerjaanku.
__ADS_1
📱ALEX LEVINE
Baiklah, cepat periksa! Aku sudah tak kuat bicara.
📱DALE NEWTON
Tunggu sebentar! Mmm... Oh, untunglah tidak ada yang mendesak dari jadwalmu hari ini dan bahkan sampai besok! Jadi aku bisa memberimu libur dua hari, Lex. Apa kau puas?
📱ALEX LEVINE
Sangat puas, Dale. Terima kasih.
Alex tersenyum puas dan tanpa pikir panjang lagi ia langsung meraih gulingnya dan seketika Alex terlelap begitu saja setelah kalimat terakhirnya.
Baterai tubuhnya sudah benar-benar habis dan pria itu pun terlelap tanpa peringatan, bahkan tanpa pamit kepada Manajernya yang masih berbicara dari seberang telepon.
📱DALE NEWTON
Baiklah, sekarang akan kuatur ulang jadwalmu dua hari ini dengan para sponsor. Istirahatlah sepuasnya hari ini dan besok, tapi lusa aku akan menjemputmu pagi-pagi sekali, Okey?!
📱ALEX LEVINE
................
📱DALE NEWTON
Halo, Lex? Apa kau masih disana?
📱ALEX LEVINE
.....Zzzzzz........
📱DALE NEWTON
Oh, sial! Dia sudah tertidur.
***
Selama beberapa hari Alex dan ibunya terus berhubungan via telepon maupun bertukar pesan dengan lebih intens dari pada biasanya. Semua itu mereka lakukan untuk menentukan waktu terbaik bagi Alex pulang ke Sydney.
Dan setelah sekian minggu berlalu, hari kepulangan Alex ke Sydney pun telah ditentukan yaitu hari ini. Tentu saja, Roxanne meminta Ann secara khusus untuk menjemput putra kesayangannya itu dari Bandara.
📩ROXANNE LEVINE
Alex sayang, ibu sudah mengirim sekretaris andalanku untuk menjemputmu. Namanya Ambrosia, tapi panggil saja Ann seperti caraku dan yang lainnya memanggil gadis itu. Dia sangat baik dan cantik, tapi yang terpenting dia sangat kompeten dalam pekerjaannya. Baik-baiklah padanya, Okey!
Begitulah bunyi pesan yang dikirimkan Roxanne kepada Alex sesaat sebelum putranya itu terbang menuju Sydney. Pesan yang saat ini barusaja sempat dibaca oleh Alex setelah dirinya tiba di Sydney Kingsford Smith Airport.
Alex terus berjalan sambil menyeret koper yang sudah diambilnya dari tempat pengambilan bagasi. Tatapan matanya masih tertuju pada layar ponselnya sambil sesekali melihat ke arah depan untuk memastikan ia tidak akan menabrak orang yang berjalan di depannya.
Namun, ekspresinya yang cool tiba-tiba berubah bingung saat ia melihat seorang wanita sedang berdiri di salah satu deretan penjemput dengan membawa sebuah kertas putih besar bertuliskan 'MR. A LEVINE'.
Alex menghentikan langkahnya lalu mengerutkan kening sambil mengecek ulang layar ponselnya yang tetap menampilkan pesan dari sang Ibu. Jelas-jelas Alex membaca kata 'cantik' tertulis pada pesan itu, tapi apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri justru jauh dari kata cantik menurut Alex.
What the??? rutuk batin Alex bertanya-tanya.
Bagi Alex, wanita yang menjemputnya itu tampak terlalu tua untuk bisa disebut gadis. Dengan kacamata lebar dan juga terlihat tebal, serta setelan kerja bermodel kuno dan berwarna kelabu. Wanita itu jelas-jelas tidak bisa disebut 'cantik'.
Bagaimana mungkin Ibuku yang begitu fashionable menyebut 'yang seperti itu' dengan sebutan 'cantik'? pikir Alex. Dia bahkan tidak modis, entah setelan dari tahun kapan yang saat ini dipakainya itu? nyinyir Alex dalam hati.
Sedangkan Ambrosia Heart—sekretaris andalan Roxanne Levine itu sudah memasang wajah juteknya sejak dirinya berangkat dari kantor untuk menjemput sang putra mahkota menggunakan mobil pribadi milik Roxanne.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tampil profesional memegang kertas bertuliskan nama orang yang sedang dijemputnya meski dengan berat hati. Saking beratnya sampai-sampai Ann rela bertukar tugas dengan salah satu dari asistennya dengan tambahan traktiran makan siang jika bisa, asal tidak harus menghadapi secara langsung pria bernama Alex Levine ini.
Sayangnya, karena sang Nyonya Besarnya sendiri yang menyuruhnya, ia tak punya pilihan selain menurutinya. Padahal Ann lebih senang untuk tidak berurusan dengan pria ini. Pria yang menurut Ann sangat berpotensi merusak kedamaian dalam lingkungan kerja yang begitu dicintainya selama hampir dua tahun belakangan.
"Kau yang bernama Ambrosia? Sekretaris Ibuku?" tanya Alex dengan wajah dan intonasi yang datar, sedatar landasan pacu pesawat yang baru saja dilintasinya saat landing beberapa menit lalu.
__ADS_1
Dilihatnya wanita itu menoleh ke arahnya lalu memindai posturnya dari atas kepala hingga ujung kaki sambil membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot. Alex merasa diabaikan sekaligus tersinggung dengan apa yang dilakukan wanita itu.
"Dengar....." belum sempat Alex meminta wanita itu untuk tidak membuang-buang waktunya, namun mendadak sekretaris itu menyelanya dengan sebuah pertanyaan.
"Anda siapa?" tanya si sekretaris dengan wajah tanpa ekspresi.
JLEB!!! Ulu hati Alex seolah barusaja tertikam belati. Hampir saja Alex menjatuhkan rahangnya jika ia tidak cepat-cepat mengontrol diri dan mengalihkan keterkejutannya dengan berdehem beberapa kali.
"Apakah anda sedang menunggung pria bernama Alex Levine?" tanya Alex masih dengan kepalan tangan yang menempel di bibirnya setelah berdehem.
"Benar? Apakah anda Tuan Levine?" Ann balas bertanya masih dengan ekspresi yang sama.
Alex mengangguk satu kali. Postur luarnya masih terlihat tenang dan cool meski dalam hatinya ia begitu gemas dengan sikap sekretaris ibunya ini.
"Apakah anda punya bukti bahwa anda Tuan Levine?"
"Ap-apa?" kini Alex tak mampu lagi menutupi rasa kagetnya. Dan itu membuatnya tergagap begitu saja. "Kau... meminta bukti... padaku?" tanyanya tak percaya.
"Benar. Bolehkah saya melihat paspor anda?" tanya Ann dengan tegas.
Alex memejamkan matanya sambil menggertakkan giginya diam-diam. Ini benar-benar gila! pikir Alex. Bagaimana mungkin seorang karyawan biasa seperti dia bisa bersikap begitu tidak sopan pada anak atasannya sendiri. Gerutu Alex dalam hatinya.
"Apakah anda belum pernah melihat foto saya di kantor Roxanne Levine? Atau melihat foto saya di laman hiburan di internet?" Alex mulai tersulut emosi.
"Satu-satunya foto yang ada di ruangan Roxanne Levine adalah foto suaminya yang sedang menggendong putra mereka saat masih bayi. Dan untuk apa saya menggunakan internet kantor maupun pribadi demi mencari foto anda di laman hiburan? Tidak, terima kasih!" balas Ann apa adanya.
Cukup sudah!!! Aku menyerah!!! batin Alex. Setelah mendengus keras-keras, ia lalu mengeluarkan paspornya dengan malas, dan menyerahkannya bersamaan dengan ponsel yang masih menampilkan pesan dari sang ibu kepada wanita itu.
"Ini!!! Ini bukti bahwa akulah Alex Levine yang anda tunggu!" ujarnya dengan kesal.
Ann melirik ke arah pria tampan di hadapannya dengan tatapan tidak suka. Tsk, kenapa harus dia yang kesal? Memangnya dia yang akan disalahkan jika aku keliru menjemput orang. Benar-benar konyol! Gerutunya.
Setelah mengecek paspor dan juga isi pesan pria itu yang jelas-jelas dikirim oleh Roxanne Levine, Ann memutuskan bahwa ia telah bertemu dengan orang yang harus dijemputnya. Ann mengembalikan kedua benda itu kepada pemiliknya dengan tenang dan berkata, "Mari ikut saya!"
Apa? Begitu saja reaksinya? Batin Alex kesal. Ia seolah masih tidak terima dengan perlakukan Ann kepadanya. Apanya yang kompenten? Wanita ini jelas-jelas mengacuhkan egoku!
Alex yang seorang model terkenal, yang terbiasa dipandang dengan tatapan kagum oleh para wanita, seakan tidak berharga di hadapan Ambrosia, sekretaris yang begitu disukai ibunya.
Belum selesai Alex merutuki sikap dingin Ann terhadapnya, lagi-lagi ia dibuat menganga ketika dengan santai Ann melipat kertas putih yang ada tulisan namanya tadi menjadi lipatan kecil lalu membuangnya begitu saja ke salah satu tempat sampah yang mereka lewati.
"Heii, apa yang barusan kau lakukan?" tanya Alex dengan nada marah. Ia memotong langkah Ann dengan berjalan cepat menyusul Ann lalu berhenti tepat di hadapan wanita itu.
Ann mengedikkan bahunya seraya menjawab dengan enteng, "Membuang sampah."
"Sampah kau bilang?" Alex setengah berteriak.
"Iya, itu sampah. Sesuatu yang sudah tidak berguna, bukankah itu disebut sampah?" Ann balas bertanya.
"Tapi... tapi... namaku tertulis di situ!" tunjuk Alex tidak terima.
Ann menoleh ke arah tong sampah secepat ia kembali menoleh ke arah Alex. "Jadi maksud anda, kertas yang sudah tidak berguna bukanlah sampah jika di sana tertulis nama anda? Apa itu artinya kotak susu basi juga bukan sampah jika bertuliskan nama anda, begitu?" Ann melipat kedua tangannya di depan dada dengan tenang.
Alex makin salah tingkah melihat sikap tenang Ambrosia yang membuatnya emosi jiwa. "Hei kau! Bisakah kau bersikap sopan sedikit padaku?" teriaknya.
Ann mengernyitkan kedua alisnya, "Bagian mananya dari sikap saya yang tidak sopan menurut anda? Saya diperintah hanya untuk menjemput anda dari sini dan mengantar anda ke Levine Enterprises secepatnya, saya tidak diperintah untuk berhaha-hihi demi menjilat anda atau bersikap berlebihan untuk menyenangkan anda. Jadi, Ayolah! Kita terlalu buang-buang waktu di sini!"
Ann kembali melanjutkan langkahnya dengan tenang setelah menyelesaikan kalimatnya dan melewati Alex begitu saja.
Alex terpaku seketika, emosinya berkecamuk. Namun ia berusaha mengembalikan kewarasannya demi secepatnya bertemu dengan ibunya untuk memprotes perilaku sang sekretaris andalan.
Beberapa menit berikutnya, perjalanan dari Bandara menuju Gedung Aurora Place yang hanya memakan waktu tidak lebih dari delapan belas menit itu, terasa bagai setahun bagi Ambrosia dan Alex yang mengisi perjalanan mereka dengan keheningan yang canggung.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue...