
***
Hari berganti minggu, tapi sikap Malika pada Taki masih tetap sama. Selalu berusaha menghindar bagai mangsa yang akan bertemu dengan pemangsa.
Bahkan ketika mereka berdua tanpa sengaja berpapasan pun, Malika tetap menyapanya dengan ramah. Namun Taki sadar, Malika sengaja tidak melakukan eye contact dengannya. Akhirnya Taki sampai di titik di mana ia merasa putus asa.
Perasaan dan rasa penasarannya sudah tak terbendung lagi. Tapi ia sendiri tak tahu harus apa. Karena itulah akhirnya ia dengan terpaksa memberanikan diri untuk curhat kepada dua rekannya, Zacky dan Nanda.
Siang itu, saat makan siang di sebuah resto Jepang tak jauh dari toko mereka. Taki yang nampak kesal hanya bisa pasrah ditertawakan oleh kedua rekannya.
"Udaahhh, jangan bikin gue nyesel curhat ke kalian dehhh!" gerutunya sambil melengos ke arah jendela restoran itu.
"Hahaaha, iyaa...iya...sorry bos, sorry!" balas Zacky sambil menepuk pundak Taki yang nampak merajuk.
"Gue bilang juga apa, dari awal kalo lo suka ya udah langsung pepet aja! Mumpung beli satu dapet tiga lho ini, brow!" lagi-lagi Nanda mengulang kata-kata promosi yang pernah ia lontarkan dulu.
"Apaan sih lo!!! Emang Malika itu roti yang kalo udah mau expired terus di obral beli satu dapet tiga??!! NGACO lo!!!" rutuk Taki sedikit emosi.
"Jiyaahhh, dia nyolot. Wkwkwkwkwk!!! Bucin banget sih lo, segitu enggak terimanya lo abang, si enengnya disamain ama roti expired. Wkwkwkwkwk!!! Nanda lagi-lagi terkikik.
Dan Taki hanya bisa menghela nafasnya dengan berat kala melihat kedua rekannya itu malah tertawa lebih seru.
"Wooii, inget wooiii!!! Tujuan gue curhat itu minta solusi, bukannya minta diketawain! Kalian nih ya, bener-bener deh!" Taki menepuk keningnya sendiri lalu dilanjutkan dengan geleng-geleng kepala.
"Oke-oke, gue punya ide nih. Syukur-syukur lo mau nerima!" akhirnya Nanda dengan susah payah menghentikan tawanya dan mulai menjabarkan sebuah rencana pada Taki dan Zacky.
Demi ingin membuktikan kebenaran apakah Malika memang menghindarinya atau tidak. Dan demi ingin meminta penjelasan kepada wanita itu, akhirnya Taki menerima iden yang disarankan oleh Nanda.
Dan idenya adalah, ketika Taki harus menggelar acara baking demo membuat roti di sebuah hotel, pihak manajemen sudah menentukan bahwa Malika dan Ronald yang akan menemani Taki sebagai asistennya selama acara demo berlangsung.
Ini adalah rencana yang dicetuskan oleh Nanda tempo hari. Dan tentunya rencana ini sudah ia matangkan bersama Nanda dan Zacky agar dapat terlaksana dengan sempurna.
Untuk menghindarkan kecurigaan Malika, tentu saja penugasan tentang formasi ini disampaikan dan mengatas namakan manajemen yang tidak lain adalah wewenang Zacky.
"Eh, Malika! Lo udah baca pengumuman di mading karyawan enggak?" Ratna menjawil pundak Malika yang tengah sibuk mencuci loyang-loyang bekas produksi cake hari ini.
"Belum tuh, aku belum liat. Emang kenapa?" Malika balik bertanya.
"Waaahh, heboohh pengumumannya. Si Indri sampe kebakaran jenggot. Xixixixi!" Ratna tampak tertawa geli.
"Udaahh, jangan diceritain sekarang, Na. Biar Malika liat sendiri dulu pengumumannya!" sergah Sofie.
Malika yang penasaran pun buru-buru membereskan sisa pekerjaannya lalu bergegas menuju papan mading yang khusus untuk menempelkan pemberitahuan seputar aktivitas karyawan.
Rupanya hanya ada satu buah pengumuman yang tertempel disana yang berbunyi...
~PEMBERITAHUAN PENUGASAN~
Kami selaku pihak Manajemen PANKEKI BAKERY dengan ini memberitahukan perihal penugasan terhadap dua orang karyawan yang namanya di sebutkan di bawah ini ;
RONALD FABIAN
posisi : Asisten Chef divisi ROTI
MALIKA SHARNAZ
posisi : Asisten Chef divisi CAKE
Untuk ditugaskan sebagai asisten Chef TAKI SAHARA pada acara baking demo yang bertajuk "CARA MEMBUAT ROTI TANPA GLUTEN*" yang akan diselenggarakan pada,
__ADS_1
Hari : KAMIS - JUMAT
Tanggal : 06-07 Februari 2020
Waktu : 15.00 - 17.00
Lokasi : Singgasana Hotel by Takhta Grup
Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan. Terima Kasih.
TTD
Manajemen
Dan seketika Malika pun melongo setelah membaca pengumunan itu. Meski ia merasa heran kenapa harus dirinya yang ditugaskan dan bukannya staf lain yang lebih senior ketimbang dirinya tapi lagi-lagi Malika tidak punya pilihan selain menuruti perintah manajemen.
"Ini kesempatan bagus buat kamu belajar gimana caranya jadi asisten di event baking demo, Malika. Jadi nanti kalo pas giliran saya yang demo, kamu udah ngerti harus ngapain aja!" ujar Chef Nanda memberikan pendapatnya.
Sementara itu di sisi lain, Indri dan Sisil yang ditugasi Chef Taki untuk stay di toko dan mengerjakan packaging roti yang dipersiapkan untuk stok toko merasa tidak terima.
"Tapi kenapa harus Ronald dan asisten dari divisi lain sih Chef? Kenapa enggak kita aja yang ikut?" protes Indri tidak terima.
"Terus kalo semua divisi roti keluar untuk demo, siapa yang finishing stok malam untuk di toko? Atau salah satu dari kalian mau ditinggal sendirian ngerjain ratusan packaging, gitu? Boleh aja! Ayo, terserah kalian berdua aja siapa yang sanggup!" tantang Taki dengan geram.
Indri dan Sisil pun saling bertukar pandang. Keduanya tidak ada yang berani menjawab karena tidak ada yang mau bertugas seorang diri di toko sementara yang lain ikut demo bersama Chef Taki dan Ronald.
Ketidak mampuannya dalam mengubah keputusan Manajemen maupun Chef Taki agar tidak mengajak Malika membuat Indri geram. Pasalnya Ia sangat iri dengan Malika. Sejak wanita itu datang, Indri seperti kalah pamor.
Semua orang langsung menyukai Malika. Karena tak hanya masih muda dan juga cantik, Malika juga berhati baik dan juga seorang karyawan yang rajin tanpa embel-embel cari muka.
Bahkan untuk pribadi yang culas sepertinya pun, kesungguhan Malika dalam bekerja dapat pula ia rasakan. Namun bukannya mampu menerima kenyataan bahwa Malika memang seorang pribadi yang baik hati murni, Indri justru malah semakin tidak menyukainya karena hal itu.
"Sialan! Kenapa harus si Malika sih yang ikutan demo! Tuh anak hoki banget nasibnya. Gedeg gue jadinya!" gerutu Indri pada rekannya yang lain.
Aah pasti enggak masalah lah kalo gue ikut, orang cuman dua hari ini. Emang apa sih yang bakal terjadi dalam dua hari. Batin Malika mencoba berpikir positif.
***
Hari pertama diselenggarakannya baking demo, Taki semakin menyadari sikap keukeuh Malika yang terus saja berusaha menghindarinya.
Terbukti selama acara berlangsung, Malika seolah menjaga jarak dan menghindari eye contact dengannya. Wanita itu sebisa mungkin tidak berada dalam radius dua setengah meter yang sama dengannya.
Bahkan Taki dapat melihat dengan jelas bagaimana gadis itu dengan sengaja berdiri sedikit di belakang Ronald untuk menyembunyikan dirinya dari pandangan Taki.
Dan hingga acara demo berakhir di hari pertama itu, sangat sedikit kesempatan Taki untuk bicara pada Malika. Jangankan bicara empat mata, bahkan untuk memberinya instruksi sebagai asisten pun ia tak punya banyak kesempatan.
Itu semua karena Malika memilih mengerjakan tugas-tugas yang jauh dari jangkauan Taki dan membiarkan Ronald yang lebih fokus mengasisteni Taki di panggung selama acara demo berlangsung.
Taki jadi hampir gila rasanya. Ia gemas melihat tingkah Malika. Tapi ia harus bisa bicara empat mata dengan wanita itu. Untuk itu ia harus menciptakan kesempatan berdua saja dengan Malika.
Tapi gimana caranya? Taki berpikir keras. Kalo gue pengen bisa berduaan sama Malika, satu-satunya kesempatan adalah gue harus bisa nganter dia pulang. Pikirnya.
Esoknya, di hari kedua baking demo. Taki tiba-tiba terpikirkan suatu cara untuk membuatnya bisa mengantar Malika pulang.
Ia akan memperlambat sesi foto bersama para peserta demo dan menyuruh Ronald untuk pulang lebih dulu ke toko guna mengembalikan barang-barang. Dan ia akan mengambil kesempatan itu untuk mengajak Malika pulang bersama.
"Maaf Ronald, Malika, sesi fotonya jadi lebih lama dari kemarin karena hari ini banyak sekali yang minta foto." ujar Taki memberi alasan.
"Tidak apa-apa, Chef. Tapi apa kita sudah boleh pulang?" tanya Ronald.
__ADS_1
Taki pura-pura berpikir sejenak. "Gimana kalau Ronald yang mengembalikan barang-barang ke toko lalu langsung pulang. Sedangkan Malika bisa langsung pulang bareng saya dari sini!" tawar Taki.
"Hah??? Tapi motor saya masih ada di toko, Pak!" protes Malika.
"Kamu enggak usah khawatir. Motormu pasti aman di toko. Kan di sana ada satpam yang berjaga selama dua puluh empat jam." Taki memberikan alasan.
"Lha terus besok pagi saya berangkat kerja naik apa?" balas Malika lagi.
"Kan kamu bisa naik taksi atau ojek online. Nanti ongkosnya bisa kamu klaim ke toko sebagai kompensasi karena acara kita hari ini melebihi dari jadwal." Taki masih mencoba berdalih. "Lagipula kalau kamu kembali ke toko dulu demi ngambil motor, bisa-bisa kamu kena macet di jalan. Sebentar lagi kan jam pulang kantor. Kasihan anak-anakmu yang menunggu di rumah." rayu Taki.
Malika nampak merenung kembali ketika sudah mengungkit-ungkit perihal anak-anaknya. Dan setelah ia pikir-pikir, apa yang diucapkan Taki barusan memang masuk akal.
"Baiklah, kalau begitu saya akan pulang bareng, Bapak!" Malika akhirnya menyerah.
"Kalau begitu saya duluan, Chef!" Ronald undur diri.
"Oke, terima kasih ya, Ron! Jangan lupa klaim juga hak kompensasimu ke toko besok atas kelebihan jam kerja hari ini!" titah Taki pada Ronald.
"Baik, Chef! Saya permisi!" balas pemuda itu cepat. Tak lupa Ronald juga berpamitan pada Malika sebelum berlalu pergi.
Sesaat setelah Ronald pulang lebih dulu, tiba-tiba seorang panitia penyelenggara mendekati Taki.
"Permisi, Maaf Chef. Bolehkah minta fotonya sekali lagi, ada pihak sponsor yang belum sempat berfoto dengan anda sekaligus ingin memberikan buah tangan." ujar panitia tersebut pada Taki.
Taki lalu menoleh pada Malika, "Tidak apa-apa kalau saya foto sekali lagi?" tanyanya pada Malika.
Malika hanya mengangguk satu kali untuk menanggapi pertanyaan Taki itu.
"Tolong tunggu sebentar ya!" pinta pria blasteran Jepang itu.
Lagi-lagi Malika hanya bisa mengangguk dibuatnya. Ia lalu melihat Taki yang menerima sebuah keranjang kecil yang nampaknya sebuah souvenir sponsor dari kejauhan.
Dan tak lama setelah itu Taki nampak berfoto dengan deretan ibu-ibu yang berpakaian serba high class di mata Malika.
Di mata Malika saat itu, Taki terlihat begitu bersinar. Tubuhnya yang paling tinggi diantara deretan orang-orang yang mengerumuninya membuat Taki makin terlihat menonjol.
Bahkan bila disandingkan dengan sang presenter pria yang notabene salah satu model ibu kota pun, Taki masih nampak lebih tampan bersinar.
Malika mau tidak mau mengakui kekagumannya pada Taki. Meski demikian ia tidak lupa bahwa pria itu sudah beristri yang tidak lain adalah pelanggannya sendiri—yaitu Niky.
Tapi ketika mengingat dia harus berduaan dengan Taki selama dalam perjalanan pulang, terus terang membuat Malika keder duluan. Sanggupkah ia menahan diri melihat wajah tampan yang menggoda imannya itu.
Semoga enggak apa-apa! Semoga gue enggak salah tingkah! Semoga gue enggak malu-maluin diri sediri, Ya Tuhaannn! Do'a Malika dalam hati.
.
.
.
To Be Continue...
*GLUTEN adalah campuran amorf (bentuk tak beraturan) dari protein yang terkandung bersama pati dalam endosperma (dan juga tepung yang dibuat darinya) beberapa serealia, terutama gandum dan gandum hitam.
Dari ketiganya, gandumlah yang paling tinggi kandungan glutennya. Kandungan gluten dapat mencapai 80% dari total protein dalam tepung, dan terdiri dari protein gliadin dan glutenin. Gluten membuat adonan kenyal dan dapat mengembang karena bersifat kedap udara.
Gluten dapat digunakan untuk membuat daging imitasi (terutama daging bebek) untuk hidangan vegetarian dan vegan. Tepung roti banyak mengandung gluten, sementara tepung kue lebih sedikit.
__ADS_1
Ada sejumlah orang yang tidak dapat mengonsumsi gluten karena reaksi daya tahan tubuh merusak dinding usus halus, dan hanya dapat ditangani bila penderita tidak makan gluten seumur hidup.
***