
***
Taki baru saja keluar dari gate kedatangan saat seseorang memanggil namanya dari kejauhan.
"TAKI!!!" teriak seseorang itu.
Pria berdarah campuran Indonesia-Jepang itu pun lalu menoleh ke arah suara. Ketika dilihatnya seseorang yang ia kenali sedang melambai-lambaikan tangan dengan begitu semangat, ia pun segera membelokkan langkahnya menuju pria itu.
Saat jarak mereka sudah semakin dekat, Taki melepas kacamata hitamnya dan tersenyum. "Zacky!" Taki memeluk suami dari sepupunya itu erat-erat sambil menyebut namanya.
"Dah sehat lo, Bro?" tanya Zacky sambil menepuk-nepuk punggung pria blasteran yang sedang memeluknya itu.
"Emang gue yang lo lihat sekarang gimana? Kaya zombie gitu tampang gue?" Taki malah balik bertanya pada Zacky sambil memukul punggung pria keturunan Jawa tulen itu dengan keras satu kali.
"Yang gue lihat sih elo tambah ganteng aja. Gue jadi kepo nih, lo tuh di Jepang habis berobat apa habis operasi plastik sih?" tanya Zacky sambil meringis kesakitan setelah punggungnya di pukul oleh Taki.
"Gue habis berobat, Njiirr!" rutuknya pada Zacky sambil melangkah bersama menuju pintu keluar bandara.
Beberapa bulan lalu, Taki baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas terparah sepanjang hidupnya hingga membuatnya sempat koma selama tiga hari.
Namun kemudian keluarganya membawanya berobat ke Jepang dan syukurlah setelah kurang lebih dua bulan dirawat di sebuah Rumah Sakit terkemuka di Jepang, pengobatan itu membuahkan hasil yang memuaskan.
Kini, setelah ia diperbolehkan pulang, Taki langsung terbang kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan tanggung jawabnya sebagai penerus ke tiga toko Bakery legendaris, Pankeki Bakery.
Taki adalah seorang koki khusus roti dan kue atau biasa disebut Baker. Bakatnya dalam meracik adonan roti dan kue didapatnya secara turun temurun dari keluarga ayahnya yang asli keturunan Jepang.
Ayah Taki adalah generasi kedua penerus Pankeki Bakery. Setelah Perang Dunia ke dua berakhir, kakek nenek serta ayah Taki hijrah ke Indonesia guna meneruskan usaha bakery mereka di tempat yang lebih aman dari pada Jepang saat itu.
Dan usaha Bakery itupun berlanjut secara turun temurun hingga kini tiba giliran Taki untuk meneruskannya.
"Gimana kabar Niky?" tanya Taki pada suami sepupunya itu setelah mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil.
"Niky baik. Kehamilannya sudah masuk trimester kedua. Sekarang lagi asyik-asyiknya ngidam dia." jawab Zacky sambil memasang sabuk pengaman di tubuhnya.
__ADS_1
"Wah seru tuh, emang ngidam apa aja si Niky?" Taki juga sedang memasang sabuk pengamannya sendiri ketika menanyakan itu.
"Wah serem-serem ngidamnya!" jawab Zacky sambil mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Apa aja sih kok serem?" Taki nampak semakin penasaran. "Jangan bilang si Niky ngidam uji nyali di kuburan?" ujarnya ngaco.
"Ahh ngaco kalo itu mah. Ngidamnya makanan aja sih dia. Kaya minta rujak petis madura, mangga muda, martabak telor, gitu-gitu deh!" jawab Zacky.
"Laahh, itu kan makanan biasa semua, Zack! Masa gitu doang lo enggak bisa nyariin sih?!" tanya Taki heran.
"Kalo rujaknya biasa-biasa aja mah gampang dapetinnya, Ki! Lah ini rujaknya luar biasa, bikin ngilu nyarinya!" ungkap Zacky sambil geleng-gelang kepala.
"Apaan yang ngilu, Zack?"
"Kepala gue, Ki, yang ngilu! Habis kena getok uleg-an tukang rujaknya."
"Emang kenapa sampe lo bisa kena getok gitu?"
Taki yang mendengar penjabaran Zacky itu seketika terpingkal-pingkal dibuatnya.
"Trus, yang jual rujak ngamuk dan elo dilempar uleg-an, gitu?" tebak Taki sambil memegangi perutnya yang kram.
"Bener bangeett! Mana uleg-an yang dari batu pula yang dilemparin ke gue." sahut Zacky.
"Ya iyalah, panteess kalo gitu mah."
"Makanya serem kaann???" Zacky meminta persetujuan.
"Kalo gitu mah jelas aja, tapi masa' nyari mangga muda juga jadi horor sih endingnya?"
"Hmmm, justru yang itu lebih horor!" aku Zacky.
"Horornya kenapa lagi nih?"
__ADS_1
"Ya dia maunya mangga muda yang masih nangkring di pohon, mana pohonnya orang lagi. Untungnya pas gue minta baik-baik ke yang punya, dibolehin sih, malah disuruh ambil sendiri sepuasnya. Cuman yang bikin ngeri, itu pohon ada sarang tawonnya. Mana gedhe pula, uji nyali jadinya gue, njiirrr. Gilaakk, triller banget deh pokoknya!"
Taki pun kembali ngakak dibuatnya. Ia sampai meneteskan air mata saking serunya tertawa.
"Nah kalo yang martabak telor? Tetep horor juga?"
"Kalo yang itu sih bukan horor, lebih tepatnya enggak masuk akal. Masa dia minta martabak telor yang pake telor burung onta. Yang jual siapaaa? Dan gue musti nyari telornya dimanaaa?? Masa iya gue kudu mendaki gunung lewati lembah demi ke Sabana di Afrika sono cuman buat nyari telor burung onta. Gileee aje gue lama-lama!"
Kini Taki tertawa terpingkal sambil memukul-mukul dashboard mobil Zacky yang ditumpanginya. Ia tak habis pikir, benar-benar tak habis pikir jika sepupunya itu bisa segitu gesreknya kala sedang ngidam.
"Udah deh, pokoknya besok-besok kalo lo udah nikah trus istri lo hamil. Buruan di do'ain banyak-banyak di awal bulan biar ngidamnya enggak aneh-aneh kaya istri gue. Tersiksa banget, broo!" ujar Zacky.
Mendengar saran dari Zacky barusan, tawa Taki pun perlahan mulai pudar. Pasalnya ucapan Zacky seakan langsung menohok jantungnya. Ulu hatinya langsung nyer mengingat kenyataan pahit yang kini membayangi hidupnya.
Namun Taki sepenuhnya sadar jika itu bukan salah Zacky. Sepupunya itu tidak mungkin sengaja menyinggungnya sebab Zacky tidak tahu apa-apa. Bahkan seluruh keluarga besarnya pun masih belum ada yang tahu perihal apa yang menimpanya.
Faktanya, setelah pengobatan di Jepang selesai ia jalani. Dokter membeberkan sebuah kenyataan yang menyakitkan bagi Taki.
Efek samping dari beberapa jenis obat yang dipakainya selama masa pengobatan membuat produksi spermanya jadi berkurang. Hal itu mengakibatkan Taki akan sulit mempunyai keturunan bahkan bisa jadi tidak akan pernah bisa memiliki anak sama sekali.
Tentu saja Taki tercengang kala mendengarnya, namun karena tak bisa menolak takdir maka Taki memutuskan untuk menerimanya dengan lapang dada.
Seperti saat ia sempat mengalami kelumpuhan setelah sadar dari koma. Saat itu ia juga menerima dengan ikhlas namun hasilnya kini diluar dugaan. Berkat kerja kerasnya mengikuti pengobatan sekaligus rehabilitasi, kelumpuhan pada tubuhnya pun sirna sudah. Dan tubuhnya sudah dapat digerakkan kembali sesuka hatinya seperti sedia kala.
Namun karena Taki mencoba menerima takdirnya itu, maka iapun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan menikah. Ia tidak mau membuat seorang wanita kecewa karena keegoisannya. Ia tidak mau mengurung seorang wanita dalam pernikahan tanpa anak yang berakhir memilukan
.
.
.
To be Continue....
__ADS_1