
Kecemburuan Alex
.
.
.
Crown Towers Hotel
Acara pelelangan rutin yang digelar untuk para pengusaha kelas atas di Australia akan dimulai malam ini.
Alex dan ambrosia yang sengaja menggunakan penerbangan pagi pukul delapan tiga puluh dari Sydney, kini sudah tiba di hotel bintang lima di mana mereka akan menginap, sekaligus sebagai tempat berlangsungnya acara tepat saat jam makan siang.
"Kita langsung makan siang dulu, baru setelah itu beristirahat," ujar Alex sambil melihat ke arah jam tangannya.
Ambrosia mengangguk setuju. wanita itu tampak tidak mempunyai tenaga untuk membantah apapun ucapan Alex. Rasa gelisah membuat Ambrosia tidak bisa tidur semalaman, jadi saat ini ia kelelahan.
Ambrosia tidak mengerti kenapa sosok Alex tak bisa lepas dari ingatannya semalaman kemarin, dan kenyataan bahwa ia akan bepergian keluar kota dan menginap bersama pria itu membuat Ambrosia semakin gelisah dibuatnya.
Sementara itu, berbanding terbalik dengan keadaan Ambrosia. Alex nampak sangat segar dan riang. Menyenangkan sekali jika dia penurut seperti ini, pikir Alex.
Seperti kemarin siang, saat mereka berdua makan siang bersama di Mall. Kali ini pun Alex yang memilihkan menunya, dan Ambrosia hanya menerima tanpa protes. Selain karena ia menyukai menu pilihan Alex untuknya kemarin siang, ia juga terlalu letih untuk protes atau berdebat dengan putra tunggal bos besarnya itu.
"Yo, Alex. My buddy," sapa seorang pria berkulit cokelat dengan rambut pirang bergelombang dan bermata abu terang.
"Jake!" pekik Alex kaget. "Apa yang kau lakukan di sini, kawan?" Alex berdiri untuk memeluk sahabat karibnya itu.
"Aku? Aku ada job nanti malam," jawab Jake sambil menepuk-nepuk punggung Alex. "Akan ada acara lelang untuk para konglomerat Australia, dan aku didapuk untuk menjadi co-Hostnya," imbuh Jake dengan bangga.
"Oia? Kami juga diundang di acara itu lho," balas Alex.
"Kami?" Jake merasa heran. "Kau dan...?" Lalu tatapan mata Jake tanpa sadar bertemu dengan tatapan Ambrosia yang duduk di hadapan Alex. "Oh, Ya ampun, aku minta maaf, Nona! Aku tidak sadar jika kalian sedang bersama, maafkan ketidaksopananku!"
Ambrosia tersenyum ramah dan menjawab, "Nevermind. Tidak apa-apa, santai saja," jawab wanita itu dengan bibir yang melengkung indah dan mata yang berbinar cerah.
Alex langsung mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Ambrosia yang seperti itu, WHAATTT???!!! pekiknya dalam hati. Kenapa dia bisa seramah itu pada Jake? Padahal dulu saat pertama bertemu denganku dia begitu dingin. SIAL! rutuk Alex tidak suka.
Dengan luwes, Jake membungkukkan badan layaknya sedang menghadap seorang bangsawan. "Izinkan aku memperkenalkan diri, Nona! Namaku Jake Chiper, seorang model dan juga sahabat karib Alex. Mungkin kau pernah mendengar tentang aku dari Alex," Jake mengulurkan tangannya dengan antusias.
Ambrosia tertawa renyah, memamerkan deretan giginya yang putih dan indah, lalu berdiri dan menyambut tangan Jake yang terulur padanya.
Tanpa sadar, Alex membuka mulutnya sedikit lebar melihat reaksi Ambrosia yang tampak begitu menawan di hadapan Jake. Sungguh sangat kontras dengan ekspresi wanita itu ketika berdua saja dengannya.
"Dan saya, Ambrosia Heart. Sayangnya saya belum pernah mendengar apapun tentang anda dari Pak Alex, Mister Jake, karena hubungan kami tidak sedekat itu untuk bisa menceritakan tentang sahabat masing-masing. Maaf," jawab Ambrosia dengan sopan.
Sebelah alis Alex meninggi dengan sendirinya mendengar penuturan Ambrosia yang terkesan tidak ingin mempunyai hubungan dekat dengannya.
"Panggil saja Jake, Nona Ambrosia!" balas Jake cepat. "Dan tolong jangan bicara dengan gaya formal padaku, santai saja!" imbuhnya.
"Kalau begitu, kau pun boleh memanggilku Ann saja, seperti orang-orang terdekatku biasa memanggilku," ujar Ambrosia dengan menganggukkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong bolehkah aku bergabung dengan kalian?" Jake meminta ijin dengan sopan.
"Oh, silahkan... Kau kan sahabat karibnya Pak Alex, jadi bergabunglah, Jake!" Ambrosia kemudian duduk kembali di kursinya setelah Jake memilih duduk di kursi kosong lainnya di meja itu.
Sementara Alex terpaku di tempatnya. Terbengong-bengong seperti seorang badut yang terabaikan oleh dua orang yang seperti sedang melakukan kencan buta untuk pertama kalinya.
Sialan!!! maki Alex. Mereka berdua membuatku tampak konyol. Bagaimana bisa dia memanggil Jake dengan begitu akrab sementara denganku masih memakai embel-embel 'Pak', Yang Benar Saja!
Alex kesal bukan main, sampai-sampai ia hampir menenggak habis kopi hitam yang baru saja disuguhkan pelayan di atas mejanya.
Jake dan Ambrosia yang melihat tingkah Alex langsung melongo, "Apa kau kehausan, Lex? Tidak biasanya kau meminum kopimu sekaligus begitu?" tanya Jake heran.
"Haah? Apa? Oh, tidak, aku... aku hanya sedikit mengantuk." Alex tergagap menyadari tingkah konyolnya sendiri.
"Jika begitu, seharusnya anda beristirahat di kamar saja, Pak! Atau anda akan kelelahan saat acara nanti." Ambrosia kembali memasang wajah datarnya saat bicara pada Alex. Dan itu membuat Alex jengah.
__ADS_1
"Tapi menurutku kau lebih terlihat kelelahan, Ann. Bukankah seharusnya kau yang beristirahat?" Alex membalas dengan tajam.
"Saya memang berencana langsung beristirahat setelah makan siang," jawab Ambrosia tak kalah tajam sambil menyeruput teh hangatnya.
Jake yang berada di tengah-tengah keduanya tidak bisa tidak merasakan hawa dingin yang saling dipancarkan oleh kedua kubu, kubu Alex dan kubu Ambrosia.
Untuk selanjutnya, acara makan siang itu didominasi oleh percakapan antara Ambrosia dan Jake. Sedangkan Alex, lebih banyak diam jika tidak sedang menjawab pertanyaan yang sengaja Jake lontarkan untuknya.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Ambrosia lantas pamit kepada Jake dan Alex untuk segera menuju kamarnya untuk beristirahat. Namun, ternyata Jake malah mencegahnya lebih dulu...
"Tunggu sebentar, Ann! Karena aku merasa kita cocok dan bisa menjadi teman, jadi bisakah kita bertukar nomor ponsel? Siapa tahu kelak kita akan saling membutuhkan satu sama lain," ujar Jake dengan agresif.
Lagi-lagi kepada Jake, Ambrosia dengan gampang mengumbar senyum ramahnya yang tampak tulus. "Boleh saja, Jake. Ide yang bagus," balas Ambrosia sambil mengeluarkan ponsel pintarnya dari tas ransel mungilnya.
Dan mereka pun bertukar nomor ponsel tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Alex yang masih duduk terdiam di kursinya.
Apa-apaan itu? Dengan mudahnya ia bertukar nomor ponsel dengan Jake yang baru ditemuinya hari ini, padahal meski sudah sepekan lebih bekerja bersama denganku malahan tidak pernah sekalipun ia memberikan nomor ponselnya padaku. Menyebalkan!
Alex nampak tidak tenang dan sama sekali tidak senang melihat kedekatan sahabatnya dengan si Nona Sekretaris.
Sepeninggal Ambrosia menuju kamarnya untuk beristirahat, Jake tak henti-hentinya memuji wanita itu di hadapan Alex. "Benar-benar wanita yang luar biasa! Tak hanya cerdas dan berkarakter tapi dia juga cantik," puji Jake pada Ambrosia. "Benar kan, Lex?" Jake meminta persetujuan Alex terhadap pendapatnya.
"Matamu buta apa? Yang seperti itu kau bilang cantik, Jake? Kacamatanya saja setebal kaca pembesar. Dan bukankah setiap harinya kita banyak bertemu yang jauh lebih cantik dari dia," Alex nampak kesal.
"Heeiii, kasar sekali kau?! Dasar! Kau memang tidak bisa menilai wanita, Bung! Makanya bisa terjebak dengan wanita seperti Luna Gross!" Jake tidak terima Alex menghina Ambrosia.
"Whatever!" Alex yang kesal lantas memilih berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan Jake sendirian di sana.
"Heiii, Lex! Kau mau ke mana? Tidak ingin menemaniku?" teriak Jake.
"Tidak! Aku mau ke kamar, mau tidur," jawab Alex sekenanya. Namun langkah kakinya benar-benar menuju lift untuk naik ke lantai di mana kamarnya berada.
***
Ambrosia baru akan membuka pintu kamar yang telah dipesankan Belle untuknya kemarin ketika tiba-tiba terdengar seseorang bicara...
Ambrosia yang masih mengenali suara itu meski dalam keadaan mata tertutup pun tahu siapa yang sedang bicara padanya, meski dirinya belum menoleh ke arah sumber suara.
"Dunia ini betul-betul sempit ya?" pria itu berkata lagi sambil mulai mendekat ke arah Ambrosia.
Ambrosia menoleh, dan seketika jantungnya berpacu. Rasa takut mulai menjalar dalam dirinya namun Ambrosia berusaha menutupinya dengan bersikap tenang meski tangannya sudah mulai gemetar. "Jangan mendekat! Atau anda akan menyesal!" ancam Ambrosia.
Entah mimpi apa dia semalam hingga takdir mempertemukannya lagi dengan pria sebrengsek Hans Trigger. Direktur dari Trigger Corp dan juga mantan bos ke tujuh Ambrosia.
"Oh, ayolah, Miss Heart! Memangnya apa yang mungkin akan kusesali jika pertemuanku denganmu malam ini bisa berakhir menyenangkan," Hans menyeringai. Seringai yang paling memuakkan di mata Ambrosia.
"Maaf, saya harus pergi," Ambrosia memilih pergi dari tempat itu ketimbang membuka pintu kamarnya yang mungkin malah menjadi keputusan yang buruk jika pria brengsek itu nekat merangsek masuk ke kamarnya. Sangat berbahaya, pikir Ambrosia.
Namun ketika Ambrosia baru membalikkan badannya untuk menghindari Hans, hanya dengan satu gerakan cepat, pria itu mampu menangkap lengan Ambrosia dan mencengkeramnya kuat-kuat.
"Apa yang anda lakukan? Lepaskan saya!" pekik Ambrosia langsung kaget sekaligus panik.
"Kau pikir bisa menolak seorang Hans Trigger dua kali? Benar-benar wanita yang penuh percaya diri," Hans merapatkan tubuhnya sendiri pada tubuh Ambrosia dan berusaha untuk mencium paksa wanita itu.
"TIDAAKK! Toloongg, Dasar pria brengsek! Moralmu sungguh rendah." Ambrosia meronta sekuat tenaga sambil berteriak, membuat Hans kesulitan untuk melancarkan aksinya.
"Wanita berisik! Diam dan nikmati sajalah!" Hans terkekeh dengan ekspresi menjijikkan. Membuat Ambrosia semakin merinding.
"Tidaaakkkk!" teriak Ambrosia lagi. Entah kenapa justru di saat seperti ini, lorong hotel tempat mereka berada malah sangat sepi, seolah nasib baik justru berpihak pada si pria maniak itu.
Ambrosia hampir putus asa melawan cengkeraman tangan kotor Hans. Rasa lelah dan kantuk membuat tenaganya tak banyak tersisa. Namun tiba-tiba, sebuah tangan kekar menarik kerah leher Hans Trigger dari belakang dengan kuat, dan menepis kedua tangan yang mencengkeram lengan Ambrosia.
"Brengsek, siapa kau? Kenapa ikut campur urusanku?" teriak Hans pada pemilik tangan kekar itu setelah tubuhnya oleng menjauh dari Ambrosia.
Namun, belum sempat ia bisa berdiri dengan tegak, tangan kekar itu langsung mencengkeram kembali kerah leher Hans. Kali ini dari arah depan dan terus mendorong tubuh Hans hingga menabrak dinding. Saat itulah Hans bisa melihat dengan jelas wajah orang yang telah mengganggu kesenangannya.
"Kau bilang aku ikut campur urusanmu, hah?! Asal kau tahu, wanita yang kau lecehkan barusan itu sekretarisku! Berani sekali kau, dasar brengsek!" maki Alex dengan emosi yang memuncak.
__ADS_1
Alex bermaksud menenangkan dirinya di kamar setelah merasa kesal melihat keakraban Ambrosia dan Jake di restoran hotel tadi, tetapi saat tiba di lantai tempat kamarnya berada, ia malah melihat Ambrosia diserang oleh pria tak dikenal.
Rasa kesal Alex yang sudah bertumpuk-tumpuk pun langsung meledak seketika melihat ada orang asing yang berusaha melecehkan Ambrosia. Si Sekretaris ketus yang akhir-akhir ini selalu memenuhi ruang pikirannya.
"Oooh, jadi dia sekarang sekretarismu? Rupanya si nona sok suci kini sudah mulai menunjukkan wujud aslinya. Sekarang dia mulai berani pergi ke hotel dengan bosnya, padahal dulu dia mati-matian menolak ajakanku, dasar murahan!" Hans menghina Ambrosia terang-terangan.
Dan...BUGH!!!
Sebuah pukulan dari kepalan tangan Alex yang keras melayang tepat ke arah rahang Hans. Si pria maniak itu mengaduh kesakitan, darah segar menetes dari sudut bibirnya yang sobek akibat benturan keras yang dibuat Alex.
"SIALAN!!! Kau pikir siapa dirimu berani memukulku, hah? Kau tidak kenal siapa aku! Aku Hans Trigger dari Trigger Corp! Akan kubuat kau menyesal telah melakukan ini padaku! Akan kutuntut kau!" Hans mengamuk dalam cengkeraman Alex.
Alex yang mendengar hal itu langsung mengingat-ingat tentang Trigger Corp yang disebut-sebut pria tak bermoral di hadapannya. Dan setelah otaknya dapat mengingat bahwa level Trigger Corp masih berada jauh di bawah Levine Enterprises pun membuat Alex tanpa ragu untuk melawan Hans.
Tanpa peringatan, Alex mengangkat tubuh Hans hingga melayang beberapa inci di atas lantai masih dengan mencekeram kerah lehernya. Membuat Hans tercekik perlahan, namun cukup ampuh untuk membuat pria itu berhenti mengoceh.
"Aku tidak takut pada bajingan sepertimu! Bahkan jika kau anak Presiden sekalipun! Silahkan saja kau tuntut aku, tapi ingatlah bahwa setelah ini, dapat kupastikan namamu dan perusahaanmu akan hancur berkeping-keping. Ingat itu!" Ancam Alex lalu melepas cengkeramannya begitu saja hingga membuat tubuh Hans terjatuh ke lantai.
"Uhhuukk...uhukk...!" Hans terbatuk-batuk setelah saluran pernafasannya kembali dapat dilewati oksigen. "Memangnya siapa kau berani mengancamku?" Hans masih berani berceloteh.
"Kau tanya siapa aku? Dengar baik-baik, kau pria sialan! Aku Alex Levine, pemimpin berikutnya Levine Enterprises. Jika kau masih waras, segera enyah dari hadapanku sebelum aku mematahkan kedua kakimu!"
Alex berdiri tegap sambil memandang dengan tatapan yang tajam dan sinis ke arah Hans yang masih terduduk lemas di atas lantai, bersandar pada dinding dengan napas terengah.
Mendengar nama Levine Enterprises seketika bulu kuduk Hans merinding. Pantas saja pria di hadapannya itu begitu percaya diri dapat menghancurkannya, karena memang ia sangat punya kuasa untuk itu. Dan karena takut, Hans pun seketika itu juga langsung berlari tunggang langgang meninggalkan tempat itu.
Alex menoleh ke arah Ambrosia yang masih berdiri mematung di belakangnya. Ia menyadari tubuh dan tangan Ambrosia yang gemetar ketakutan. "Apa kamu baik-baik saja? Dia tidak melukaimu kan?" tanya Alex dengan nada khawatir.
Ia segera mendekat lalu memindai tubuh Ambrosia. Berusaha memeriksa kalau-kalau ada yang terluka. Ambrosia hanya menggeleng menjawab pertanyaan Alex karena belum mampu bersuara. Tenggorokannya masih tercekat karena shock diperlakukan demikian oleh Hans, sekaligus melihat Alex yang menghajar Hans demi dirinya.
"Masuklah ke kamarmu!" perintah Alex.
Ambrosia mengangguk sambil memgeluarkan kembali kunci kartu kamarnya yang tadi sudah ia masukkan lagi ke dalam tasnya. Dan tiba-tiba, Alex melihat ruam merah pada pergelangan tangan kanan wanita itu saat hendak memasukkan kunci kartu ke dalam lubangnya.
Dengan cepat Alex meraih tangan Ambrosia itu lalu menariknya lebih dekat. Setelah melihatnya dengan lebih jelas, Alex kembali merasa marah. Ia langsung merebut kunci dari tangan Ambrosia dan membukakan pintu kamar wanita itu dengan cepat.
"Duduklah!" Alex membimbing Ambrosia yang masih sedikit gemetaran untuk duduk di tepian tempat tidur di dalam kamar itu.
Setelahnya, Alex mengompres tangan Ambrosia menggunakan air hangat dan handuk kecil yang diambilnya dari dalam kamar mandi. Selama membantu Ambrosia mengompres pergelangan tangannya, baik Alex maupun Ambrosia sama-sama diam membisu.
Alex fokus pada tangan Ambrosia sementara Ambrosia sendiri malah sibuk memandangi wajah Alex yang begitu dekat di sampingnya. Ada perasaan hangat yang kini dirasakan oleh Ambrosia dalam hatinya.
Jujur saja ia bersyukur Alex ada di sana tadi, dan menolongnya dari bajingan itu. Jika tidak, ia tak dapat membayangkan hal buruk apa yang mungkin akan menimpanya. Ambrosia merasa sangat berterima kasih namun bibirnya masih kelu untuk mengungkapkan hal itu pada Alex.
Merasa ruam merah pada pergelangan tangan Ambrosia sudah lebih memudar, Alex memutuskan untuk meninggalkan wanita itu agar dapat beristirahat.
"Aku keluar sekarang, kau istirahatlah. Kulihat kau kelelahan dan kurang tidur. Kunci pintumu dari dalam. Kita bertemu lagi nanti saat acara lelang."
Alex tersenyum saat mengatakan itu dan segera berdiri lalu melangkah menuju pintu setelah menyerahkan handuk hangat kepada Ambrosia. Ambrosia yang masih mematung di tempatnya segera tersadar untuk mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Ambrosia tak langsung kembali ke tempat tidur setelah mengunci kamarnya tapi malah bersandar pada daun pintu sambil memegangi dadanya.
Ya Tuhan... apa yang kurasakan ini? Kenapa jantungku berdetak cepat sekali? Kenapa aku melihat Alex begitu mempesona, padahal biasanya dia terlihat begitu menjengkelkan!
Ambrosia berusaha meredam detak jantungnya yang menggila.
Dan, Ya ampun... aku belum berterima kasih padanya karena telah menolongku! Bagaimana ini? Aah... sudahlah, nanti juga kami akan bertemu lagi. Aku bisa berterima kasih saat di acara lelang nanti. Batin Ambrosia lagi.
Merasa berhutang budi pada Alex, Ambrosia berpikir untuk berpenampilan lebih baik agar pantas sebagai pendamping Alex di acara nanti. Karena itu Ambrosia lantas menelepon Jake dan meminta bantuan untuk mengenalkan padanya, jasa make up artis yang bisa mendandaninya ke acara lelang nanti.
.
.
.
To Be Continue...
__ADS_1