
"Apa?" Max nampak terkejut. "Benarkah ucapanmu itu, Ly?" Lalu diintipnya lubang pintu untuk memastikan ucapan Lyra barusan. Dan diluar sana Max memang melihat seorang wanita cantik dengan penampilan bak model seperti yang dibilang Lyra.
Dan tanpa ragu Max langsung membuka pintu villa itu lalu menghardik Melody dengan kasar.
"APA MAUMU?" tanya Max begitu saja sesaat setelah ia membuka pintu. Membuat Lyra yang berdiri di belakang Max kaget mendengar suara pria itu yang kasar dan menggelegar seakan penuh kebencian.
Melody yang juga tak kalah kaget langsung mundur selangkah dari pintu yang sedari tadi digedornya seperti orang gila.
"Max sayang! Tidakkah kau ingat aku? Tidakkah kau rindu padaku?" tanya Melody dengan suaranya yang dibuat semanis mungkin.
Tapi begitu gadis itu melihat Lyra yang berdiri dibelakang Max hanya dengan mengenakan jubah mandi, seketika Melody menjadi marah.
Melody langsung bisa menebak apa yang telah Lyra dan Max lakukan semalam hanya dengan melihat sekilas penampilan keduanya pagi ini.
"HEI KAU WANITA SIALAN!" bentak Melody pada Lyra. "Sahabat macam apa yang memanfaatkan amnesia kekasih orang lain untuk kepentinganmu sendiri, Hah?" Melody yang emosi menunjuk-nunjuk ke arah Lyra.
"Hei, jaga ucapanmu pada Lyra!" bela Max sambil balik menunjuk ke arah Melody.
Melody terkesiap. Gadis itu tak menyangka Max malah membela Lyra—wanita yang ia duga telah memanfaatkan amnesia pria itu.
"Tapi sayang, wanita di belakangmu itu adalah ular betina. Dia sudah memanfaatkan amnesiamu untuk memisahkan kita! Seharusnya kau tahu betapa dia sudah membenciku sejak dulu, sejak pertama kali kita berkencan. Wanita itu, yang kau anggap sahabatmu itu, selalu menjahatiku di belakangmu," Melody memulai aktingnya di depan Max demi menarik simpati pria itu.
Max bergeming. Seolah menantikan akting Melody yang berikutnya. Sementara Lyra masih terus merasa ketakutan, takut jika Max akhirnya akan terpengaruh oleh akting Melody dan lebih memilih kembali pada Melody ketimbang bersamanya.
"Seandainya kemarin aku tidak datang ke apartemenmu, pasti aku tidak akan menemukan tanda terima Rumah Sakit tempatmu dirawat hingga akhirnya aku tahu bahwa kau mengalami amnesia setelah kecelakaan dengan wanita jallang itu," lagi-lagi Melody menunjuk-nunjuk ke arah Lyra.
"Dari mana kau tahu tempat ini?" tanya Max datar dan dingin.
"Saat aku tahu kau kecelakaan bersama Lyra, dan kalian berdua sama-sama cuti dari pekerjaan kalian. Aku langsung tahu bahwa kau sedang bersamanya. Lebih tepatnya dia menyembunyikanmu dariku. Untuk merampasmu. Untungnya aku tahu jika ayah Lyra adalah aktor terkenal di era delapan puluhan, jadi aku mencari tahu semua aset ayahnya dan menemukan alamat villa ini." jelas Melody panjang lebar.
Lyra tak habis pikir mendengarnya. Sebegitu gigihnya Melody mencari Max hanya demi egonya untuk tetap memegang kendali atas Max, meski dirinya tidak benar-benar mencintai Max.
Karena Lyra yakin, jika Melody memang mencintai Max. Gadis itu tidak akan dengan mudahnya berselingkuh hingga melakukan hal yang menjijikkan dengan Dylan.
"Sayangku, Max. Jangan percaya pada semua kebohongan wanita sialan itu! Jika kau tidak ingat padaku, aku adalah kekasihmu, aku Melody Lynn," Melody kembali melembutkan suaranya untuk merayu Max.
Takut Max akan terpengaruh oleh omongan manis Melody, Lyra segera merangsak maju keluar dari persembunyiannya di belakang Max. Namun, dengan cepat Max kembali menarik pinggang Lyra lalu memeluk pinggang Lyra erat-erat.
Melihat hal itu, Melody makin geram. Matanya melotot seolah sanggup mengeluarkan api. "Apa maksudnya ini Max? Tidakkah kau ingat padaku?" tanya Melody dengan suara memelas.
Max tersenyum sinis, sangat sinis. "Jangan khawatir! Aku ingat siapa kau, Melody Lynn. Dan asal kau tahu, aku juga ingat perbuatanmu yang menjijikkan dengan Dylan Lennox di balkon hotel saat pesta Dylan malam itu," beber Max.
Ucapan Max barusan tidak hanya ampuh untuk membuat rahang Melody terjatuh, tapi juga membuat Lyra sangat terkejut.
"Tapi Max, kau kan—" belum sempat Lyra mengutarakan keheranannya, Max buru-buru mengunci mulut Lyra dengan menempelkan telunjuknya dibibir wanita itu.
__ADS_1
"Ssstttt... diamlah sayang, biar aku yang menyelesaikan ini!" bisik Max di telinga Lyra.
Lyra terpaku namun ia mencoba percaya dengan apa yang direncanakan Max. Percaya bahwa pria itu akan berpihak padanya.
"Max sayang, apa maksudmu?" Melody masih mencoba untuk berpura-pura tidak mengerti dengan ucapan Max sebelumnya. "Bukankah kau mengalami amnesia?" tanya Melody heran.
"Oh, memang. Tapi untungnya amnesiaku hanya satu hari, setelahnya aku langsung mengingat semuanya. Apa kau ingin aku menjelaskan secara rinci semua hal menjijikkan yang kau lakukan dengan Dylan saat pesta ulang tahun pernikahannya?" ancam Max dengan tatapan merendahkan pada Melody.
"Tapi, bagaimana mungkin kau tahu itu?" tanya Melody bingung.
"Saat kau tak juga kembali ketika aku menyuruhmu untuk mengambilkanku minuman, aku mencarimu hingga ke balkon. Lalu aku melihatmu ke luar balkon bersama Dylan dan aku berpikir untuk mengikuti kalian. Saat itulah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri perbuatan kalian." Sekali lagi Max sanggup membuat dua orang wanita di dekatnya itu melongo.
"Malam itu aku langsung memutuskan untuk pergi dari pesta dan memilih pulang bersama Lyra karena muak dengan kalian berdua," tambah Max.
"Tapi kenapa kau tidak segera menemuiku untuk memutuskan hubungan kita secara terus terang?" tanya Melody bingung.
"Untuk apa jika sejak saat itu aku sudah tidak menganggapmu siapa-siapa lagi dalam hidupku?" Max berujar dengan sinisnya.
"Teganya kau, Max! Tidakkah kau memikirkan perasaanku?" tanya Melody memelas.
"Lalu apakah kau memikirkan perasaanku saat berselingkuh dengan Dylan?" pertanyaan Max bagaikan belati tajam yang menghujam dada Melody dari dekat.
Melody seketika terdiam. Gadis itu akhirnya menyadari bahwa tidak lagi memiliki kesempatan untuk merebut Max kembali. Sama sekali.
"Sekarang pergilah dan jangan lagi mengganggu hubunganku dengan Lyra jika kau tidak ingin aku menghancurkan karirmu sebagai model," usir Max dengan tegas.
"Kau pikir aku tidak cukup pintar untuk bisa merekam semua adegan mesummu dengan Dylan saat itu? Hmm..." Max balas menantang Melody.
"Ap-pa?" seketika Melody tergagap.
"Tenang saja. Aku tidak akan memviralkannya asal kau menjauh pergi dan tidak menggangguku serta Lyra lagi. SELAMANYA!" tegas Max.
Melody tertunduk. Merasa kalah telak. Perlahan gadis itu berlalu pergi tentunya dengan rasa malu yang luar biasa hebat yang pernah dirasakannya sepanjang hidupnya.
Max langsung menutup pintu villa saat Melody berbalik badan untuk pergi. Dan saat itu pula Max menghadapi ekspresi Lyra yang campur aduk. Antara malu, bingung, dan juga marah.
"Baiklah Max, sepertinya bukan hanya aku yang menyembunyikan sesuatu darimu. Tapi kau juga menyembunyikan sesuatu dariku, iya kan?" tanya Lyra dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
Max terdiam sesaat, lalu kembali tersenyum. Dipegangnya kedua bahu Lyra lalu dibimbingnya wanita itu menuju dapur.
"Kita akan bicarakan ini sambil sarapan. Entah bagaimana denganmu, tapi aku kelaparan setelah apa yang kita lakukan semalaman tanpa makan malam," ujar Max enteng sambil mengisi teko dengan air dan menyalakan kompor untuk mulai membuat sarapan.
Lyra menarik pintu lemari es sambil tersipu. Seolah diingatkan kembali akan adegan demi adegan panas yang mereka lakukan semalam.
"Apa yang kita butuhkan untuk sarapan?" tanya Lyra pada Max.
__ADS_1
"Tidak-tidak, sayang. Biarkan aku yang melakukan semuanya dan kau duduk saja di sini," perintah Max sambil menarik tubuh Lyra dari depan lemari es lalu mendudukkan wanita itu pada sebuah kursi yang baru saja ditariknya dari bawah meja dapur.
Dengan patuh Lyra menduduki kursi itu, bertopang dagu di atas meja dapur dan dengan santai memperhatikan Max yang mulai hilir mudik karena kesibukannya.
"Jadi, Max. Sejak kapan kau mengingat semuanya kembali?" tanya Lyra penasaran. "Jangan bilang kau berpura-pura amnesia sejak awal?" Lyra mendelik.
Max tertawa melihat Lyra memelototinya. "Hahaha, aku memang amnesia, Ly. Sampai malam di mana kita tidur bersama di depan perapian. Saat lampu villa mati total. Aku melihat semua masa lalu itu di dalam mimpiku. Dan aku terbangun di tengah malam saking kagetnya. Tapi saat itu aku langsung berusaha mencerna semuanya." jawab Max sambil menyeduh kopi terlebih dahulu.
"Lalu apa yang terpikirkan olehmu?" tanya Lyra.
"Saat itu aku berpikir kenapa kau repot-repot mengaku-ngaku sebagai kekasihku? Padahal kau bisa saja langsung mengatakan yang sebenarnya saat itu juga," Max menyodorkan secangkir kopi pada Lyra.
Lyra terdiam sambil menerima cangkir kopinya. Tak tahu harus berkata apa. Sementara Max meneruskan ucapannya sambil terus sibuk merebus sepanci air untuk membuat pasta.
"Akhirnya aku tiba pada satu kesimpulan. Bahwa kau juga mencintaiku sama seperti aku yang sudah lama mencintaimu. Dan kau mungkin berharap amnesiaku itu akan dapat menyatukan perasaan kita. Iya kan?" tebakan Max tepat pada sasaran.
Membuat Lyra menyesap kopinya dengan tersipu malu. "Lalu kenapa kau tak langsung mengatakannya sebelum kita berangkat ke pasar pagi itu?" Lyra merasa telah dikerjai Max.
"Karena aku ingin mendengar pengakuan cinta itu langsung dari bibirmu, Ly," jawab Max sambil memasukkan sebungkus pasta ke dalam rebusan air yang sudah mendidih. "Dan aku beruntung karena akhirnya aku berhasil membuatmu mengakuinya Lyra. Terima kasih," ucap Max dengan tatapan tulus.
"Tapi Max, apakah semua ancamanmu pada Melody tadi itu benar?" tanya Lyra penasaran.
"Yang mana?" Max balik bertanya. Tangannya masih sibuk menyiapkan saus untuk pastanya.
"Tentang merekam adegan porno mereka?" tanya Lyra tak percaya.
"Ah, kalau yang itu hanya gertakan. Untuk apa aku melakukan itu jika aku bisa membuat adegan yang lebih seru denganmu," sahut Max enteng.
Lyra seketika memukul lengan Max yang sedang berdiri di depannya mencampur pasta dengan saus. "Tutup mulutmu itu," bentak Lyra malu.
Max terkekeh melihat reaksi Lyra. "Apa kau akan marah jika aku memang berpura-pura amnesia?" tanya Max sambil memegang kedua tangan Lyra.
Max sudah menyelesaikan pastanya jadi tangannya kini bebas dari kesibukan.
"Jelas aku akan marah, sangat marah!" sahut Lyra tegas.
"Apa kau akan meninggalkanku jika seandainya itu benar-benar kulakukan untuk mendapatkanmu?" tanya Max lagi.
"Dan membuatku menanggung sendirian segala resiko yang mungkin akan muncul akibat perbuatan kita semalam? Tidak, Max. Aku tidak se-Naif tokoh utama wanita dari novel sebelah. Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu dan akan membuatmu tetap bertanggung jawab kepadaku," jawab Lyra panjang.
Max terkekeh mendengar jawaban panjang Lyra itu. Lyra mungkin tidak berpengalaman dan pemalu dalam hal hubungan fisik antara pria dan wanita dewasa, tapi Max tahu bahwa Lyra adalah wanita dewasa dengan pikirannya yang realistis.
"Tentu saja, Ly. Tentu aku akan bertanggung jawab, aku bahkan sudah memikirkan sesi lamaran sekaligus pernikahan yang paling indah yang pernah kau bayangkan. Karena kau mewakili segala hal yang kuinginkan di dunia ini. Kau adalah mimpiku yang kini jadi nyata, Lyra," ujar Max tulus sambil memegang dagu Lyra dengan manis.
Pengakuan romantis Max itu membuat mata Lyra langsung berkaca-kaca. Perlahan Lyra menyisipkan kedua tangannya di sela-sela antara lengan Max dan tubuhnya, menyatukan jari-jarinya di punggung Max lalu merengkuh tubuh pria itu erat-erat.
__ADS_1
"Dan kau adalah jawaban dari semua rasa takut dan kesepianku, Max. Hanya kau," balas Lyra tak kalah tulusnya. Dan tak lama, mereka berdua pun hanyut dalam pelukan yang hangat dan menenangkan.
AMNESIA MENDADAK~TAMAT