
Si Itik Buruk Rupa di mata Alex
.
.
.
Selama perjalanan, Alex bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan wanita ini? pikirnya, dan kenapa Ibunya bisa mempunyai sekretaris semacam ini? Se-tidak fashionable ini? Alex benar-benar tak mengerti. Apakah selera ibuku sudah berubah hingga bisa menyukai makhluk seperti itu?
Alex menatap lekat pada sosok Ambrosia yang sedang fokus menyetir. Meski dari kursi penumpang yang di dudukinya, ia hanya bisa melihat bagian samping dari sekretaris itu, tetapi Alex tetap menatap tajam ke arah Ambrosia.
Diam-diam Ambrosia menyadari jika Alex terus memperhatikannya. Bagaimana mungkin tidak menyadari jika tatapan tajam dari pria yang duduk di kursi penumpang di belakangnya itu membuatnya merasakan hawa dingin yang menusuk tengkuknya. Meski begitu, Ann memilih untuk mengabaikannya dan tetap fokus menyetir.
Lebih cepat sampai di kantor, akan lebih baik! Begitu pikir Ambrosia.
***
Ambrosia langsung mengantar Alex ke ruangan ibunya—Roxanne Levine, begitu mereka tiba di kantor Levine Enterprises.
"Aleexx, putrakuu!" Roxy menghampiri Alex dengan sumringah begitu melihat kehadiran putra kesayangannya di dalam ruang kerjanya. "Apa kabarmu, Nak?" tanya Roxy sembari memberikan pelukan erat serta ciuman pada kening Alex.
"Saya akan ambilkan teh dan cemilan," pamit Ambrosia pada atasannya itu.
"Terima kasih, Ann Kau baik sekali," balas Roxy sambil menoleh ke arah Ambrosia berdiri.
Di luar dugaan Alex, ia melihat dengan jelas bahwa Ambrosia tersenyum lebih dulu sebelum membalas pujian dari sang ibu.
"Sudah tugasku, Roxy!" jawab Ambrosia masih dengan senyum.
Namun senyum itu langsung menghilang kala manik mata Ambrosia, di balik kacamata tebalnya, tanpa sengaja bertemu pandang dengan mata Alex. Tatapan gadis itu tiba-tiba kembali tajam sebelum akhirnya ia berbalik untuk keluar dari ruangan Presiden Direktur.
Alex terperangah melihatnya. Bagaimana mungkin? pekik otak Alex. Bagaimana mungkin sikapnya begitu berbeda ketika ia bicara dengan ibu dan ketika ia melihatku? Waahhh, wanita itu benar-benar bermuka dua. Gerutu Alex dalam hati.
"Duduklah, Nak! Bagaimana perjalananmu kemari?" tanya Roxy ketika ia sudah duduk berdampingan di sofa yang sama dengan putranya.
"Awalnya baik-baik saja hingga aku turun dari pesawat dan menemui orang yang menjemputku di bandara tadi. Tiba-tiba saja semuanya jadi menjengkelkan," gerutu Alex terus terang.
Ia tak ingin lagi menunda waktu untuk segera mengadukan kekesalannya atas sikap Ambrosia—sang sekretaris andalan—pada ibunya.
Roxanne mengerutkan keningnya yang masih nampak mulus meski di usianya yang sudah kepala lima. Semua itu karena perawatan tubuh dan wajah yang mahal dan rutin ia lakukan tentu saja.
"Memangnya apa yang membuatmu kesal, Lex?" Roxy seakan tak mengerti sumber kekesalan putranya.
"Siapa lagi jika bukan sekretaris andalanmu itu, Bu. Dia yang telah membuatku kesal," jawab Alex jujur. "Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan jika dia itu wanita yang cantik?" tanya Alex tak habis pikir.
__ADS_1
"Tapi di mataku Ann memang gadis yang cantik, Lex. Selain itu dia juga cerdas dan kompeten. Apa yang tidak kau sukai darinya?" Roxy masih tidak mengerti.
"Semuanya. Semuanya, Bu Aku tidak menyukai penampilannya, sikapnya, dan... dan..., tatapan matanya yang tajam ke arahku," protes Alex cepat.
"Apa yang salah dengan tatapan Ambrosia? Dia itu gadis yang lembut," bela Roxy.
"Lembut apanya? Sejak awal pertemuanku tadi dengannya, tatapannya tak pernah lembut padaku, dan lagi... bagaimana mungkin ibu memperkerjakan wanita seperti itu, dia sama sekali tidak cantik! Dia itu bagaikan seorang itik buruk rupa di antara kumpulan angsa jika dibandingkan dengan para staf wanita lainnya di Levine enterprises." Alex bicara dengan berapi-api.
Roxanne sangat tidak suka mendengar ucapan Alex barusan. Di telinganya, ucapan Alex itu terdengar seperti ejekan bagi Ambrosia. Roxanne baru akan memprotes cara bicara Alex tentang Ambrosia, ketika sekretarisnya itu tiba-tiba masuk setelah mengetuk dua kali seperti biasa.
Ambrosia terlihat muncul dengan membawa troli berisi teh dan beberapa camilan. "Maaf menunggu lama," ujar Ann dengan sopan.
Alex dan ibunya seketika terkesiap. Mereka terdiam dengan canggung. Keduanya hanya saling lirik saat Ambrosia memindahkan cangkir-cangkir teh itu dari atas troli ke atas meja di hadapan kedua bosnya. Ibu dan anak itu sama-sama khawatir kalau-kalau Ambrosia mendengar ucapan Alex barusan. Tapi jika memang demikian, kenapa ekspresi wajah Ann begitu tenang?
Setelah memindahkan seluruh isi troli yang di bawanya ke atas meja, Ambrosia kembali pamit undur diri dengan wajar untuk melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan Roxanne dan Alex di dalam sana dengan kekhawatiran mereka masing-masing.
"Alex Levine!" bentak Roxanne pada putranya. "Beraninya kau mengejek seorang gadis baik-baik seperti itu! Bagaimana jika Ann mendengarnya tadi dan dia sakit hari karena ucapanmu?" Roxy memarahi Alex atas komentarnya yang tidak sopan itu.
Alex sedikit menyesal. Ia pun menyadari jika ucapannya tadi itu keterlaluan. Dan ia cukup was-was jikalau Ambrosia ternyata mendengar ejekannya tadi. Bagaimana ia akan menghadapi wanita itu dikemudian hari? Bagaimana ia akan meminta maaf kepada wanita itu?
"Tapi, dia memang menjengkelkanku, Bu?" Alex berusaha membela diri.
"Lalu? Apakah karena alasan itu kau jadi punya hak untuk mengejeknya? Tidak sopan sekali!" Roxy kini menatap tajam ke arah Alex.
Alex hanya menunduk mendengar ucapan ibunya itu. Ibunya benar, meski ia kesal, meski ia tidak terima atas perlakuan Ambrosia padanya.
Roxy melembutkan kembali tatapannya saat menyadari raut wajah penyesalan pada wajah tampan putra tunggalnya. "Dengar, Lex! Ibu minta kau bisa akur dengan Ambrosia. Karena selain dirimu dan mendiang ayahmu, gadis itu adalah salah satu orang favoritku di muka bumi ini," tegas Roxy.
Alex mendengus keras, namun akhirnya menjawab, "Akan kucoba, Bu!"
"Baiklah, Ibu percaya padamu! Jadi untuk selanjutnya, ibu akan percayakan Ann untuk menjadi tutormu dalam misi belajar memimpin perusahaan," ucap Roxanne dengan tegas.
"Apaaa?" pekik Alex terkejut.
***
Di meja khusus sekretaris Presiden Direktur, dua orang asisten Ambrosia sedang asyik mengagumi sosok putra mahkota Levine Enterprises yang tampan lagi gagah.
"Ini kali pertamaku melihat pria setampan dan se-seksi itu! Pria paling tampan yang pernah kutemui sepanjang hidupku," gumam Elsa yang duduk di sisi kanan Ambrosia.
"Tuan Alex Levine adalah definisi visual dari pria impian setiap wanita. Dia nyaris sempurna," sahut Belle yang duduk di sisi kiri Ambrosia.
Sementara Ambrosia yang duduk tepat di tengah-tengah mereka berdua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan jengah. "Kalian ini... bagaimana bisa hanya memikirkan ketampanan saja. Bisa-bisa kalian akan tertipu nanti," Ann mendesah pelan.
"Ohh, ayolah, Ann! Masa kau sama sekali tidak berdebar berada dalam radius kurang dari dua meter dengan makhluk setampan Alex Levine?" tanya Belle penasaran.
__ADS_1
"Iya, Ann, cepat ceritakan pada kami! Bagaimana perasaanmu saat pertama kali melihatnya tadi?" Elsa menambahkan.
Jari-jari Ambrosia yang sedang mengetik mendadak mengambang di atas keyboard komputernya setelah mendengar pertanyaan dari dua asistennya itu. Namun tanpa berniat untuk menghentikan kegiatannya, Ambrosia lalu menoleh secara bergantian ke arah Elsa dan Belle sambil menjawab,
"TIDAK! Aku tidak berdebar dekat dengan pria itu, dan perasaanku pun biasa-biasa saja saat pertama melihatnya. Kalian puas? Sekarang kembali bekerja atau akan kutambah tugas-tugas kalian untuk hari ini," ancam Ambrosia pada keduanya.
Seketika kedua asistennya itu kembali fokus pada layar komputer masing-masing untuk melanjutkan tugas-tugas mereka karena takut akan ancaman Ambrosia yang tidak pernah main-main.
Dan ketika Ambrosia sudah merasa mendapatkan kembali ketenangannya untuk bekerja, tiba-tiba interkom di hadapannya berbunyi,
"Ann, aku membutuhkanmu segera. Kemarilah!" panggil Roxy via interkom.
"Baik, Mam," jawab Ambrosia cepat.
Ambrosia langsung beranjak berdiri dan masuk ke dalam ruangan bosnya itu dengan cepat. "Ada yang bisa saya bantu, Roxy?" tanya Ambrosia begitu ia menghadap bosnya dengan sikap yang profesional.
Ambrosia sama sekali tidak melihat ke arah Alex Levine yang masih duduk di sofa ruang tamu di kantor bosnya itu, ia hanya fokus pada Roxanne yang sedang bersandar pada tepian bagian luar meja kerjanya.
Di luar dugaan Ambrosia, ternyata bos besarnya—Roxanne, memberinya tugas untuk menjadi mentor sekaligus pendamping Alex selama satu bulan masa percobaannya menjadi pemimpin perusahaan.
"Karena Alex hanya mendapat masa libur dari agensi modellingnya selama satu bulan, jadi aku minta kau untuk mendampinginya belajar menjadi bos di perusahaan ini," perintah Roxanne dengan tegas.
Ambrosia tampak menahan sekuat tenaga ekspresi kesalnya, "Hanya satu bulan saja, Roxy?" tanya Ann.
"Sayangnya begitu, Dear! Setelah itu, bagaimanapun hasilnya, Alex masih harus kembali ke California untuk menyelesaikan kontrak kerjanya yang masih satu setengah bulan lagi." jelas Roxy.
"Baiklah, saya mengerti," jawab Ambrosia pada akhirnya.
"Bagus! Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu, Sayangku," ujar Roxy sambil menepuk-nepuk sebelah pundak Ambrosia.
Ambrosia selalu merasa senang ketika Roxy memujinya. Mengingatkan ia pada pujian dari mendiang ibunya sendiri akan prestasi-prestasinya dulu. Karena itu, Ambrosia otomatis tersenyum lembut pada Roxanne.
Lagi-lagi Alex melihat senyuman itu dengan keheranan. Namun Alex juga terkejut bahwa ternyata, si sekretaris yang dingin itu nyatanya sanggup mengulas senyum selembut itu di wajahnya yang selalu nampak kaku di mata Alex.
"Kalau begitu, sekarang tolong kau antarkan Alex ke ruangan yang akan ditempatinya selama satu bulan ini, Ann," pinta Roxy lagi.
"Baik," jawab Ambrosia dengan lugas.
"Alex sayang! Lihatlah dulu ruangan yang sudah kusiapkan untukmu. Katakan mana yang harus dirubah dan mana yang tidak pada Ambrosia, biar nanti dia yang akan mengurus semuanya. Setelah itu kita akan pulang bersama-sama ke rumah. Ibu akan pulang cepat, dan memasakkan makan siang untukmu di rumah, bagaimana?" tanya Roxy dengan penuh harap pada putranya.
"Baiklah, Bu. Apapun maumu," jawab Alex lalu berdiri dari sofa dan berjalan menyusul Ann yang sudah siap membukakan pintu untuknya.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue...