
***
Setelah majikannya kembali masuk ke kamarnya sambil setengah berlari, Mbak Tiya dengan tanggap mengambil alis tugas penyambutan terhadap si tamu.
"Silahkan duduk dulu! Saya bikinkan teh!" ujar Mbak Tiya mempersilahkan Taki duduk di salah satu kursi ruang tamu.
"Terima kasih, Mbak. Jangan repot-repot!" balas Taki sambil duduk.
"Enggak repot kok, cuman sebentar!" sahut Mbak Tiya lalu masuk ke dalam.
Setelah kepergian Mbak Tiya, Taki lalu melihat dua anak laki-laki yang memiliki rupa yang sangat mirip satu sama lain yang tiba-tiba saja sudah sama-sama berdiri di hadapannya.
"Siapa?" tanya anak yang sebelah kiri.
Taki tersenyum lalu menjawab, "Om ini temannya mama kalian!" jawabnya.
"Teman, mami?" tanya anak yang sebelah kanan.
Taki mengangguk, "Iya!" jawabnya lagi. "Kalian suka coklat?" giliran Taki yang bertanya.
Mendengar kata coklat mereka kompak mengangguk. "Sosis juga!" tambah anak yang sebelah kiri.
"Tapi hari ini Om cuma bawa coklat!" ujar Taki lalu mengeluarkan dua batang coklat besar dari dalam tas selempangnya. "Kalian mau?" tanyanya sambil menyodorkan coklat itu pada anak-anak Malika.
Keduanya lalu mengangguk cepat dengan mata berbinar-binar. Membuat Taki jadi tertawa kecil melihatnya. Ia lalu menyerahkan coklat-coklat itu ke tangan mereka satu per satu.
"Makasi!" ujar si kembar kompak lalu meringis memperlihatkan gigi-gigi susu mereka yang baru muncul.
Lucu sekali! Pikir Taki. Persis mamanya. Batinnya lagi.
"Ini tehnya, silahkan diminum!" ujar Mbak Tiya setelah meletakkan secangkir teh hangat di hadapan Taki.
Taki mengangguk pelan dan langsung menyeruput teh hangatnya hingga berkurang separuhnya.
"Lhoo, kalian berdua dapat itu darimana?" tanya Mbak Tiya saat melihat si kembar memegang masing-masing satu batang coklat besar di tangan mereka.
Mereka berdua tidak menjawab, hanya menatap lekat ke arah Taki. Membuat Mbak Tiya jadi bingung sendiri.
"Saya yang berikan, tidak apa-apa kan?" tanya Taki pada Mbak Tiya.
"Ooh, begitu. Enggak apa-apa kok!" balas Mbak Tiya cepat. "Anak-anak, tapi makan coklatnya nanti ya setelah sarapannya habis!" kata Mbak Tiya pada si kembar yang langsung di balas anggukan dari keduanya.
"Anda, sepupunya Malika?" tanya Taki pada Mbak Tiya yang sudah duduk lagi di atas karpet di tengah-tengah ruang tamu itu.
"Oh bukan, saya asisten rumah tangganya Mbak Malika. Saya disini membantu mengurus rumah sekaligus menjaga si kembar selama Mbak Malika kerja. Tapi nanti ada Mbak Rima, sepupunya Mbak Malika, yang ikut jagain si kembar di sini sama saya!" jawab Mbak Tiya.
Lalu Malika pun muncul lagi dari dalam kamarnya dan kini ia sudah siap dengan seragam lengkapnya untuk bekerja. Dan di saat yang bersamaan, Rima pun ikutan muncul dari pintu depan.
"Pagiii..." sapa Rima ceria. "Loh belum berangkat? Tumbeeennn!" ujarnya saat melihat Malika yang masih ada di rumahnya di jam segini.
Malika tak menjawab sapaan sepupunya itu, namun bola matanya lalu melirik ke arah Taki yang duduk di kursi ruang tamu.
Rima mengikuti kemana arah kornea mata Malika tertuju dan seketika ia terkejut melihat seorang pria tampan yang sedang duduk di sana.
"Anda siapa?" tanya Rima spontan.
Taki berdiri untuk memberi salam pada Rima, "Perkenalkan, saya Taki Sahara. Salah satu Chef di tempat kerja Malika!" jawab Taki sambil menyodorkan tangannya.
Dan Rima tentu saja menyambutnya dengan hangat, "Oh, Ya Ampuunn, anda datang pagi-pagi begini mau jemput sodara saya? Berarti mobil bagus yang parkir di depan itu milik anda dong?" tanyanya terus terang.
Taki pun mengangguk, "Kemarin sore saya juga yang antar Malika pulang langsung dari lokasi event, karena motornya masih ada di toko makanya pagi ini saya berniat menjemputnya!" beber Taki.
"Ooohh, begituuuu!" jawab Rima sambil melirik pada Malika yang tampak salah tingakah sendiri.
"Pak Taki, lebih baik kita berangkat sekarang, sebelum terlambat!" ajak Malika pada Taki.
Taki diam sambil mengerutkan alisnya. Ia menatap Malika dengan ekspresi tidak senang. Malika yang bukannya langsung mengerti atas kesalahannya malah balik menatap Taki. Taki lalu memicingkan matanya untuk memberi kode pada wanita itu. Dan Malika tetap tidak mengerti.
Akhirnya Taki menggelengkan kepalanya, "Saya bukan bapak kamu, Malika!" tukasnya mengingatkan.
Dan Malika langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan, "Oh maaf, Pak! Eh, Maaf, Chef! Ayo berangkat sekarang!" ajak Malika sambil berpamitan pada kedua anaknya dan Mbak Tiya, juga pada Rima yang terus menatap Malika dengan tatapan curiga.
Meski kurang puas tapi Taki mau tidak mau menurut juga untuk diajak berangkat oleh Malika. Ia tidak mau Malika terlambat gara-gara dirinya.
Seperti kemarin, Taki kembali membukakan pintu mobilnya untuk Malika. Rima diam-diam mengintip perlakuan gentleman Taki terhadap Malika dari teras rumah sepupunya itu melalui celah pagar yang berongga.
Dan setelah sedan mewah itu melesat pergi, Rima langsung berteriak histeris ke arah si kembar. "Anak-anaaakkkk, calon Papi baru kalian keren bangeeettttt, sumpaahh!!!" pekiknya lebay.
"Papi baru?" tanya Leo.
"Om jadi Papi?" tanya Reo.
"Kalian mau enggak punya Papi baru kaya' Om itu?" tanya Rima ngaco.
Dan ketika si kembar pun mengangguk dengan kompak, kedua mata Rima makin berbinar dengan senyum yang makin lebar.
"Kalian kok langsung mau siihhhh, suka banget ya sama Om itu???" pekiknya senang sambil pura-pura mencubit pipi si kembar saking gemasnya.
"Jelas aja mau, orang habis disogok coklat segedhe gitu!" tunjuk Mbak Tiya pada coklat-coklat yang tergeletak di atas karpet. Dan Rima pun langsung tertawa ngakak melihatnya.
Waahh...waahhh...ternyata tuh koki gercep juga pedekatenya. Pikir Rima.
***
Sementara itu, di dalam mobil Taki menuju ke PANKEKI BAKERY....
"Rumah kamu rame juga ya?" tanya Taki membuka obrolan.
Entah kenapa sejak datang ke rumah Malika tadi hatinya terasa begitu senang. Bahkan sebenarnya, sejak ia berangkat menuju rumah Malika, hatinya sudah riang gembira. Apalagi setelah ia bertemu dengan kedua anak kembar Malika, seolah dunia Taki kian sempurna.
__ADS_1
Taki jadi senyum-senyum sendiri dari tadi. Sejak saat mereka keluar dari pagar rumah Malika hingga saat ini.
Pasti asyik kalau tiap pagi rumah gue serame rumah Malika tadi! ia membayangkan betapa indahnya jika ia bisa menikmati kesempurnaan seperti tadi setiap hari.
Bisa gila gue lama-lama ngebayangin begituan! Taki jadi malu sendiri. Padahal Malika yang ada di sampingnya belum tentu tahu isi pikirannya saat ini.
"Chef Taki salah minum obat ya? Dari tadi cengar cengir mulu, ngeri iihh!" komen Malika dengan mengerutkan keningnya.
Taki lalu melirik Malika dengan tatapan yang tajam, "Aku kan udah bilang, panggil aku Taki kalau kita cuman berdua, atau di luar toko, termasuk pas kita di rumah kamu. Kamu boleh pake embel-embel Chef kalau kita ada di toko aja. Oke!"
"Tapi saya enggak enak, Chef! Anda kan atasan saya! Saya ngerasa enggak sopan!" balas Malika.
"Kalau syarat biar kamu bisa manggil aku dengan nama aja harus melepas jabatanku sebagai atasan kamu, fine, aku akan resign hari ini juga! Aku bisa telepon Zacky sekarang buat bikin surat pengunduran diriku." ucap Taki dengan nada serius.
"Huwaaa, Chef!!! Jangan gini doonngg, serem saya dengernya!" Malika memelas.
"Habisnya kamu yang maksa aku sampe nekat gini!" balas Taki santai.
Ia lalu memasang bluetooth earphone ke sebelah telinganya lalu menekan speed dial ke nomor Zacky pada ponselnya yang tergeletak di dashboard dekat kemudi.
"Chef mau telepon siapa?" tanya Malika panik.
"Zacky." jawab Taki enteng. Nada panggil pertama berdering.
Tuuutttt...
"Cheeeffff!!!" rengek Malika.
"...." Taki bergeming. Ia nampak sama sekali tidak ada niatan untuk menghentikan sambungan teleponnya pada Zacky. Nada dering kedua pun terdengar.
Tuuutttt...
"Ya Ampuunn, Cheefff!!?" Malika semakin panik.
"Kamu masih salah manggil aku" balas Taki tegas. Hingga nada dering ketiga pun berbunyi pula.
Tuuutttt...
Dan akhirnya, Klik! Pertanda sambungan telepon telah diterima di seberang sana.
Seketika Malika menjerit, "Takiiiii, iya, iya, aku nyerah, aku akan panggil kamu sesuai yang kamu minta!!!" pekiknya.
Dan Taki pun tersenyum penuh kemenangan di belakang kemudinya.
📱ZACKY NUGROHO
Woooii, Whats up, Bro! Lo lagi sama siapa tuh barusan, kaya suara cewek?
📱TAKI SAHARA
Gue lagi on the way ke toko bareng Malika.
📱ZACKY NUGROHO
Haahh, Malika??? Kok bisa kalian berangkat bareng?
📱TAKI SAHARA
Bisalah, orang gue yang jemput dia.
Kali ini Malika sampai menepuk jidatnya sendiri mendengar ocehan Taki yang makin sesuka hatinya.
📱ZACKY NUGROHO
Laahh, kok???
📱TAKI SAHARA
Udah ah, males gue ceritanya.
📱ZACKY NUGROHO
Trus lo nelepon gue sekarang fungsinya apa, bro?
📱TAKI SAHARA
Cuman mo mastiin lo masih idup apa enggak.
Malika sampai menganga mendengar ke-absurd-an ucapan Taki barusan.
📱ZACKY NUGROHO
Sialan lo, bini gue lagi hamil ini, Njiirr. Lo ngedoain gue koit dong. Kampreettt!
📱TAKI SAHARA
Hahahahahahaaa!!!
📱ZACKY NUGROHO
Malikaaaa, ati-ati aja kamu ya! Yang di sebelah kamu itu orangnya SADIS abiiss!
"Udah tau, Paakkk! Udah kena juga saya-nya!!!" jawab Malika sedikit berteriak.
"Husshh!!!" Taki tidak terima mereka berdua membicarakannya di depan batang hidungnya sendiri. Hingga tanpa pamit, Taki pun langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Zacky.
"Laah, belum apa-apa kok dimatiin sih?" Malika keheranan.
"Enggak penting!" balas Taki jutek sambil menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Hmmm...bilang aja sakit ati!" gumam Malika lirih sambil menutup mulutnya dengan tiga jari.
Namun Taki yang masih bisa mendengarnya samar-samar jadi langsung menoleh cepat ke arah wanita itu, "Apa kamu bilang tadi???"
"Eehh, enggak-enggak aku enggak bilang apa-apa kok. Kamu salah denger kalii." Malika mencoba ngeles.
Untungnya karena pagi ini suasana hati Taki sedang berbunga-bunga, ia jadi tak begitu peduli dengan hal-hal tidak penting lainnya.
Dan sisa perjalanan mereka menuju ke PANKEKI BAKERY itu akhirnya keduanya isi dengan ber AKU-KAMU dan bukannya dengan ber SAYA-ANDA lagi.
***
@Ruang Pimpinan, PANKEKI BAKERY.
"Haaaaa....Gawat nih guys!"
Taki mendongakkan kepalanya sambil memejamkan mata lalu menggosok-gosok bagian belakang lehernya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya bertengger di pinggangnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada tepian meja pimpinan sambil berdiri.
"Gawat, kenapa?" tanya Zacky dan Nanda bebarengan.
"Gue kayanya udah naksir beneran sama Malika nih!" ujar Taki dengan wajah seriusnya.
"Laahh, emang yang kemaren-kemaren lo naksirnya bo'ongan???" tanya Nanda sambil menyeruput lemon tea-nya.
"Ya enggak gitu juga kali, kemaren-kemaren gue cuma penasaran aja. Tapi setelah tadi pagi gue jemput dia di rumahnya trus ketemu sama anak-anaknya, gue jadi beneran suka sama mereka. Gue pengen jadi bagian dari mereka sepenuhnya!"
Taki berjalan menuju sofa di ruangan itu lalu ikut duduk bersandar bersama kedua rekannya di sana.
"Weiittss, dalem banget niat lo, Bro! Kalau gitu mah buruan lamar aja gih! Mumpung dianya single ini!" Nanda menyarankan.
"Sayangnya dalam kasus gue enggak bisa segampang itu, guys!" balas Taki cepat.
"Kenapa lagi sih emangnya?" kini Zacky yang nampak penasaran.
"Ada hal yang sampe sekarang masih gue simpen sendiri soal hasil pengobatan gue di Jepang kemaren." ungkap Taki.
Zacky dan Nanda seketika menoleh pada Taki dengan raut muka serius.
"Seriusan nih?" tanya Zacky memastikan.
Dan Taki mengangguk mengiyakan.
"Sama sekali belom ada yang tahu? Termasuk keluarga inti lo?" kali ini Nanda yang ingin memastikan.
Taki kembali mengangguk dengan yakin.
"Gue bukannya mau ngerahasiain dari siapapun, cuman gue belom tahu kapan mau ngomongnya ke keluarga gue. Mungkin besok kalau mereka pulang dari Jepang!"
"Tapi menurut gue, kalau Malika juga tulus suka sama lo, gue yakin dia bakal nerima lo apa adanya." Nanda menyuarakan pendapatnya.
"Kalau begitu mah syukur deh, tapi kalau setelah gue jujur dia malah nolak gue gimana? Masalahnya, gue belom tahu dia naksir apa enggak ke gue."
"Nah lo dah tahu belom alasan dia ngehindarin lo terus?" tanya Zacky.
"Kemaren alasannya dia ngehindarin gue terus katanya sih karena dia enggak bisa liat muka gue lama-lama, takut naksir katanya!"
"Kalau gitu mah gampang, Bro. Lo tinggal bikin dia ngeliatin lo terus, lo pepet aja dia terus, biar dia akhirnya naksie beneran kaya' lo sekarang ini!" kata Nanda lagi.
"Gitu ya!" Taki nampak ragu.
"Ya lo coba aja dulu!" sahut Nanda.
Taki manggut-manggut mengerti. Ia pun lalu mulai melancarkan aksi pertamanya untuk mendekati Malika.
"Zack! Suruh bagian pengiriman buat kirim motornya Malika ke rumahnya, biar entar pulangnya gue bisa anterin Malika lagi." pinta Taki tiba-tiba.
"Yakin lo???" Zacky tak menyangka atas rencana Taki itu.
Taki mengangguk mantap. "Kalau motornya udah sampai rumahnya Malika, bilang ke sepupunya yang bernama Rima itu gue yang nyuruh, kasih dia kartu nama gue biar dia percaya, trus jangan bolehin Rima nelepon Malikanya untuk ngasih tahu Malika soal itu!" tambah Taki.
Dan Zacky serta Nanda pun jadi tertawa ngakak mendengar ide Taki itu.
"Gokil banget sih cara lo ngedeketin cewek, gilaaa men! seru Nanda.
"Kalau enggak begini trus gimana? Orang tuh cewek mandiri banget! Apa-apa bisa dia dilakuin sendiri." ujar Taki mengedikkan bahu.
"Ya udah, ya udah, gue teleponin bagian pengiriman sekarang!" balas Zacky menuruti keinginan sepupu iparnya itu.
Kemudian Zacky mulai menelepon bagian pengiriman dari line telepon di ruangan itu untuk melakukan permintaan Taki barusan.
"Oke, DONE!!! Ngomong-ngomong hasil rapat kita kali ini apaan ya guys???" tanya Zacky bingung. Pasalnya sejak tadi tidak ada catatan di agendanya perihal topik rapat yang seharusnya mereka bahas.
"Lhoalaahh iya, kita malah enggak bahas topik utama kita rapat di sini gara-gara si Taki curhat niihh!" Nanda menepok jidatnya sendiri.
"Emangnya kita mau ngerapatin apaan sih???" Dan si Pimpinan malah balik bertanya.
"Yaelah, dasar pimpinan abal-abal lo! Cuman modal nama doang lo mah! Masa kita rapat mau bahas apaan aja enggak tahu!" sungut Nanda.
"Kita ini mau bahas soal event bulan depan enaknya ngapain buat bikin promosi toko, Takiii! Otak lo isinya Malika mulu sih jadi ngeblank deh dia!" balas Zacky sambil terkikik geli.
"Ya udah, Ayo! Di bahas sekarang!" ajak Taki.
Dan akhirnya, ketiga orang itu, kali ini benar-benar membahas tentang topik rapat mereka.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue....