
Rencana Terselubung Roxanne
.
.
.
"Silahkan masuk, Pak Alex! Mulai saat ini, ruangan ini adalah ruangan anda," ucap Ambrosia sembari memperlihatkan sebuah ruangan yang tak kalah mewah dari ruangan Roxanne tadi.
Bedanya, ruangan kerja President Direktur Roxanne Levine memiliki konsep desain yang klasik serta elegan, sedangkan ruangan milik Alex ini memiliki konsep kombinasi antara kontemporer dan modern yang cocok untuk seorang pebisnis muda.
Alex melangkah masuk ke dalam ruangannya sambil memindai sekeliling. Sang putra mahkota memperhatikan dengan seksama isi kantor itu sambil memegangi dagunya dengan sebelah tangan, yang sikunya bertumpu pada tangan yang satunya.
"Hmm, menarik," gumamnya. "Kalau boleh aku tahu, siapa yang mendesain semua ini? Apakah ibuku menyewa seorang desain interior khusus untuk mengurus ruangan ini?" Alex menoleh pada Ambrosia sambil memainkan janggut tipis yang mulai tumbuh di rahangnya.
"Maaf jika membuat anda kecewa, tapi Nyonya Roxanne menyuruh saya sendiri yang mendesain ruangan ini untuk anda, Pak," jawab Ambrosia dengan posisi berdirinya yang tetap tegap dan terlihat profesional.
Alex membelalakkan matanya sedikit, "Benarkah itu?" tanyanya tidak percaya.
Hmm, ternyata seleranya dalam mendekor ruangan kantor boleh juga. Alex bergumam dalam hati. Tapi jika dia bisa mendekor semodern ini, kenapa dia tidak bisa melakukan hal yang sama pada penampilannya? Aneh! Pikiran Alex bertanya-tanya sendiri.
"Seperti yang anda dengar tadi, anda boleh mengatakan pada saya mana saja yang anda tidak suka dan ingin anda rubah, termasuk jika anda tidak suka dengan keseluruhan desain interior yang sekarang, saya bisa mengubah semuanya sesuai permintaan anda, Pak."
Ambrosia masih memasang wajah poker facenya sembari menjaga jaraknya dengan posisi Alex berdiri. Wanita itu tidak beranjak lagi dari dekat pintu sejak mereka berdua masuk ke ruangan itu.
Alex menatap lurus ke arah wajah Ambrosia, berusaha menembus lensa kacamata tebal yang sedang dipakai sang sekretaris dengan sorot matanya yang tajam.
Saat ini, satu-satunya hal yang ingin Alex minta untuk dirubah adalah sikap dan cara bicara sekretaris itu padanya. Entah sejak kapan Alex ingin Ambrosia juga memperlakukannya selembut wanita itu memperlakukan ibunya. Jadi Alex mencoba melangkah maju, mendekat perlahan ke arah posisi berdiri Ambrosia yang tak jauh dari pintu.
Melihat Alex yang melangkah mendekati dirinya dengan tatapan yang lurus dan menusuk, Ambrosia segera memasang sikap waspada. Ia mundur selangkah ketika Alex sudah memasuki radius satu meter di hadapannya.
Dan Alex yang mengetahui perubahan sikap serta langkah mundur yang dilakukan Ambrosia, diam-diam merasa geli karenanya. Ia malah semakin tertarik untuk melihat reaksi tak terduga lainnya dari si sekretaris ketus itu.
"A-apa a-da hal yang ingin anda rubah, Pak Alex?" tanya Ambrosia dengan sedikit gugup melihat Alex yang tiba-tiba berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya.
"Ada satu, Miss Heart!"
Alex tersenyum penuh arti sebelum menjawabnya, dan itu terang saja membuat Ambrosia ketar ketir dibuatnya. Pasalnya, firasat gadis itu tiba-tiba menjadi sangat buruk tentang hal ini. Ia yakin seyakin-yakinnya, jika Alex Levine, putra mahkota dari Levine Enterprises, sama seperti bos-bos prianya terdahulu.
"Silahkan anda katakan, Pak, dan saya akan segera menggantinya," jawab Ambrosia sedikit ragu-ragu.
"Sikapmu." Alex menyeringai.
"Apa?" kening Ambrosia otomatis berkerut mendengar jawaban anak bosnya itu.
"Aku minta kau merubah sikapmu padaku! Aku lihat tadi kau bisa tersenyum pada ibuku dan sikapmu padanya juga lebih lembut. Tapi kenapa sikapmu padaku begitu ketus?" Alex memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil tetap menatap lurus ke arah Ambrosia.
Ambrosia tercengang mendengarnya, namun sejurus kemudian tatapannya kembali ke mode sekretaris yang kaku dan profesional. Ia menegakkan kembali punggungnya yang sempat lesu karena merasa sedikit terintimidasi oleh pendekatan yang dilakukan Alex tadi.
"Saya rasa itu tidak mungkin, Pak! Meski sikap saya ketus tapi saya merasa tidak pernah berbuat hal yang tidak sopan kepada anda. Malah... justru, sepertinya anda yang sudah tidak sopan pada saya!" Ambrosia menyentuh bingkai kacamatanya begitu saja. Seolah menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak takut pada pria dihadapannya itu.
Mendengar penolakan tegas sekretaris ibunya itu, ekspresi Alex langsung mengeras. "Jadi kamu pikir, aku sudah tidak sopan padamu begitu? Dan kau tetap tidak akan merubah sikapmu padaku bahkan jika aku menggunakan jabatanku sebagai atasanmu?"
__ADS_1
"Betul sekali,"jawab Ambrosia cepat. "Atas dasar apa saya harus berlemah lembut pada orang yang telah mencela penampilan saya, dibelakang saya? Bukankah itu tidak sopan?" Ambrosia menggeleng pelan melihat sikap arogan Alex.
Kau bahkan belum resmi bekerja sebagai Direktur trainee tapi sudah berani mengancamku dengan menggunakan jabatan? Konyol sekali! rutuk Ambrosia dalam hatinya.
Seketika Alex merasa tidak enak ketika Ambrosia mengungkit ucapannya yang memang tidak sopan tadi kepada wanita itu.
Sial! Ternyata wanita ini memang mendengar ucapanku tentangnya tadi, pikir batin Alex.
Meski merasa bersalah dan diam-diam mengakui ketidak sopanannya, tapi egonya melarang Alex untuk minta maaf pada Ambrosia. Gengsinya terlalu tinggi untuk itu.
"Dan satu lagi, Pak Alex! Saat ini anda belum menjadi atasan saya. Atasan saya sekarang adalah Nyonya Roxanne Levine, bukan anda," imbuh Ambrosia sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Sekali lagi, emosi Alex terpancing. Rahangnya menegang. Sikap Ambrosia lagi-lagi telah membuat Alex kesal. Dengan cepat Alex langsung memojokkan tubuh Ambrosia pada daun pintu dan menguncinya dengan kedua lengannya.
Ambrosia merasa tersudut dan sedikit panik karenanya. Namun sekuat tenaga ia mencoba menutupi kepanikannya dari Alex. Ia mencoba memberanikan diri untuk membalas tatapan mata Alex yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.
"Dengar, Nona Sekretaris yang sok pintar! Mungkin sekarang aku belum menjadi atasanmu, tapi akan kupastikan, hal pertama yang akan kulakukan ketika sudah menjadi bosmu adalah memecatmu dari Levine Enterprises. Ingat itu!" ancam Alex pada Ambrosia.
Ketika memojokkan Ambrosia itulah, Alex menyadari bahwa tubuh wanita itu diluar dugaan sangat proporsional menurutnya. Tingginya yang sedikit lebih tinggi diantara wanita kebanyakan, membuat Ambrosia tampak semampai di balik setelan kunonya.
Diam-diam Alex terus memperhatikan dengan seksama. Lingkar pinggul Ambrosia begitu pas dan ukuran dadanya juga sesuai dengan lekuk tubuhnya. Bahkan sampai bentuk bibir Ambrosia yang memikat pun tak luput dari pengamatan Alex.
Berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Ambrosia membuat Alex dapat mencium aroma tubuh Ambrosia yang segar dan entah kenapa membuatnya merasa ketagihan untuk terus menghirupnya.
Namun lamunan Alex akan tubuh Ambrosia seketika buyar saat Alex menyadari wanita yang tengah berada dalam kungkungannya itu nyata-nyata sedang memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Dan perlu anda ketahui juga, Pak Alex! Bahwa hal pertama yang akan saya lakukan ketika anda telah menjadi atasan saya adalah menyerahkan surat pengunduran diri saya," balas Ambrosia dengan tegas.
Ketegasan Ambrosia membuat Alex memundurkan tubuhnya selangkah kebelakang. Alex pun lagi-lagi mengernyit. Ia tercengang dengan keberanian Ambrosia sekaligus tanpa sadar tertarik dengan wanita itu. Kekesalan Alex tiba-tiba menguap, berganti dengan rasa penasaran yang mendadak muncul di benaknya.
"Tolong jangan tersinggung! Saya hanya tidak bisa bekerja di bawah bos pria. Siapapun orangnya," balas Ambrosia sambil membusungkan kembali dadanya demi menunjukkan sikap tidak takutnya terhadap Alex.
"Apa kau membenci pria?" tanya Alex lagi.
"Tidak, saya tidak membenci semua pria. Saya hanya alergi pada pria yang menjadi atasan saya," Ambrosia berterus terang dengan ekspresi tenang. Luar biasa tenang sampai-sampai Alex terheran-heran melihatnya.
"Absurd! Tingkahmu konyol sekali untuk ukuran sekretaris yang mendapat predikat kompeten," rutuk Alex.
"Menurut saya, justru para Bos pria itulah yang absurd. Mereka selalu merasa Superior dan paling berkuasa seolah-olah setiap wanita, siapapun itu, entah wanita-wanita yang memang terang-terangan mengejar mereka atau sekedar karyawan mereka yang memang bekerja demi masa depan, hanyalah alat atau mainan yang bisa mereka mainkan sesuka hati tanpa mempertimbangkan perasaan wanita-wanita itu." Ambrosia berterus terang menumpahkan uneg-unegnya.
Alex terdiam, tapi pikirannya menangkap makna di balik ucapan Ambrosia yang nampak kesal. Apa dia pernah memiliki pengalaman buruk dengan atasan bergender laki-laki? pikir Alex.
"Tapi terserah bagaimana pendapat anda terhadap saya, saya tidak peduli karena bos saya saat ini masih Roxanne Levine dan bukan anda."
Setelah ucapan terakhirnya itu, Ambrosia pun berlalu menuju pintu untuk keluar dari ruangan, dan ketika tubuhnya melewati Alex yang masih berdiri di tempatnya, aroma tubuh Ambrosia yang menyegarkan indra penciuman Alex pun kembali menyebar dan menggelitik hidung sang putra mahkota.
Ah, sial! Bagaimana mungkin wanita angkuh itu bisa memiliki aroma se-adiktif itu? Alex menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil tersipu malu dengan pemikirannya sendiri.
***
Beberapa hari kemudian...
Baru sepekan pertama Alex bekerja sebagai Direktur trainee di perusahaan, tapi sudah cukup membuat seorang Ambrosia Heart kewalahan. Wanita itu seakan telah kehilangan arti kedamaian saat bekerja di kantornya sendiri.
__ADS_1
Dihadapkan dengan bos tampan yang setiap hari mampu memikat banyak sekali staff wanita di Levine Enterprises. Membuat Ambrosia susah payah menanggapi pertanyaan-pertanyaan mereka seputar sang putra mahkota, ketika Ambrosia berpapasan dengan mereka.
Parahnya, para staff wanita itu seringkali nekat mengunjungi dan menanyakan Alex di depan ruang kantornya atau di depan meja sekretaris Direktur, membuat Ambrosia menjadi lebih sering uring-uringan demi mengusir mereka semua, hal yang dulu sangat jarang sekali terjadi. Mengingat sikap Ambrosia yang selalu nampak profesional, tegas namun kalem.
Perubahan itulah yang akhirnya membuat Ambrosia semakin tidak bisa bersikap ramah terhadap Alex. Namun anehnya, Alex justru tak lagi kesal dibuatnya. Ia malah lebih lunak dan terkesan menurut dengan Ambrosia ketimbang hari pertama mereka bertemu.
Ambrosia sedang mengajari Alex cara membaca sistem database dari divisi finansial perusahaan di dalam kantornya ketika telepon di atas meja kerja Alex berbunyi.
"Halo!" ucap Alex setelah mengangkat gagang teleponnya.
📞ROXANNE LEVINE
Apa Ann ada bersamamu, Lex?
Alex langsung melirik ke arah Ambrosia yang sedang berdiri membungkuk di sebelahnya, dan masih fokus menatap ke layar komputer di meja Alex. Alex tersenyum saat dirinya menyadari bulumata Ambrosia yang panjang dan lentik dari sisi wajah sekretaris itu, yang tidak terhalang bingkai kacamata.
"Iya, Bu. Dia di sini bersamaku, ada apa?" jawab Alex.
Merasa dirinya yang sedang dibicarakan, Ambrosia langsung menoleh ke arah Alex. Dan tanpa diduga, hal itu membuat mereka saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Alex langsung salah tingkah dan refleks melempar pandangan ke arah tombol-tombol angka yang ada pada mesin teleponnya.
📞ROXANNE LEVINE
Kalau begitu ajak dia ke ruanganku! Ada yang harus aku katakan pada kalian berdua.
"Baik, Bu. Kami akan kesana sekarang," jawab Alex lugas dan langsung meletakkan kembali gagang teleponnya.
"Ada apa?" Ambrosia langsung bertanya.
"Presdir menyuruh kita berdua ke ruangannya, sekarang," jawab Alex sambil berdiri.
Ambrosia mengangguk cepat, lantas keduanya segera menuju ke ruangan di mana Roxanne Levine berada.
"Kami di sini, Bu, ada apa?" tanya Alex to the point.
"Aku mau, besok, kalian berdua menggantikanku hadir di acara pelelangan yang dikhususkan bagi para pengusaha kelas atas Australia. Karena seorang sahabatku besok akan mampir ke sini untuk mengunjungiku setelah sekian lama, jadi aku tidak ingin melewatkan waktu untuk bertemu dengannya. Lagipula, ini akan menjadi pelajaran berharga bagi Alex untuk bersosialisasi dengan para pengusaha kelas atas itu," perintah Roxy secara tiba-tiba.
"Memang di mana acaranya?" tanya Alex sambil duduk dengan santai di salah satu sofa di ruangan itu.
"Acaranya akan digelar di convention hall hotel Crown Towers di Perth. Jadi aku sudah menyuruh Belle untuk membookingkan dua kamar untuk kalian berdua di hotel yang sama," jawab Roxy dengan sumringah.
"Tapi saya tidak punya gaun malam formal untuk menghadiri acara semacam itu, Roxy!" Ambrosia nampak keberatan. "Mungkin sebaiknya Elsa yang pergi mendampingi Pak Alex, saya rasa dia cocok," tambahnya mencoba mengubah pendirian sang nyonya besar.
"Tidak-tidak, aku rasa Elsa belum siap ke acara-acara seperti itu, apalagi untuk mendampingi Alex. Kau yang paling cocok, Ann, dan jangan khawatir tentang gaunmu. Sekarang juga pergilah ke House of Carla Zampatti untuk memilih gaun yang akan kau kenakan besok," titah Roxanne Levine dengan lugas.
Mendengar titah atasannya, mau tidak mau Ambrosia hanya bisa menurut dengan berat hati. Tapi berbeda dengan Ambrosia, Alex nampaknya cukup senang dengan rencana ini. Terlihat dari senyum yang tiba-tiba terkembang di bibirnya yang tipis namun seksi.
"Biar aku mengantarmu, Ann," tiba-tiba Alex menawarkan dirinya. Membuat Ambrosia otomatis melongo dari tempatnya berdiri.
Sementara itu, Roxanne justru nampak senang mendengarnya. Matanya berbinar-binar layaknya seorang anak kecil yang sedang melihat acara kartun kegemarannya.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue...