SEJUTA CINTA

SEJUTA CINTA
SEKRETARIS BURUK RUPA (End)


__ADS_3

Putra Mahkota Mengejar Sang Sekretaris


.


.


.


Malam itu, Ambrosia lagi-lagi tidak dapat tidur seperti malam sebelum ia berangkat ke Perth bersama Alex. Namun kali ini lebih parah karena pikirannya lebih kalut dari pada kemarin. Merasa butuh waktu untuk berpikir dengan jernih, Ambrosia memilih menghindar dari Alex untuk beberapa saat, ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya pagi-pagi sekali. Tanpa menemui atau menunggu Alex.


Menjelang siang, Alex terbangun dengan ingatan yang sangat jelas bahwa ia telah mencium Ambrosia semalam. Alex merasa ciumannya dengan Ambrosia itu begitu luar biasa. Ia tidak bisa menghentikan pikirannya untuk menginginkan ciuman itu lagi.


Dengan perasaan luar biasa segar setelah membersihkan dirinya, Alex bergegas menemui Ambrosia yang ia pikir masih berada di kamar sebelah. Namun setelah beberapa kali ketukan yang ia lakukan pada pintu kamar itu, Alex tak kunjung mendapat jawaban, hingga seorang petugas house keeping yang kebetulan lewat memberitahunya bahwa kamar itu telah kosong karena penghuninya sudah check out pagi-pagi sekali.


Alex seketika dilanda kepanikan. Ia takut Ambrosia marah padanya karena ciumannya semalam. Alex segera mencari Jake yang ia ingat telah menyimpan nomor ponsel Ambrosia.


"Berikan ponselmu!" perintah Alex setelah dirinya berhasil menerobos masuk ke kamar Jake yang ternyata masih tertidur saat Alex menggedor pintu kamar hotelnya.


"Sialan kau! Berani mengganggu tidurku hanya untuk menanyakan nomor ponsel sekretarismu sendiri. Dasar Bos gila!" Jake bersungut-sungut setelah membukakan pintu kamar hotelnya untuk Alex.


Namun Alex tak perduli. Ia langsung meraih ponsel Jake yang disodorkan padanya lalu mencari kontak Ambrosia yang tersimpan di sana. Sedangkan Jake memilih meneruskan tidurnya tanpa menghiraukan reaksi Alex yang kelabakan.


Setelah nomor kontak Ambrosia ketemu, Alex segera menelepon dengan ponselnya sendiri namun gagal. Alex mencoba beberapa kali namun hasilnya tetap sama, sia-sia saja.


Apakah dia benar-benar marah padaku hingga menon-aktifkan ponselnya agar tidak bisa kuhubungi? tanya Alex pada dirinya sendiri. Tapi bagaimana dengan pekerjaannya? Oia... kantor! Seseorang di kantor pasti tahu di mana Ambrosia! tebak Alex.


Alex bermaksud menelpon ke kantor untuk menanyakan keberadaan Ambrosia, tetapi ternyata kontak sang ibu lebih dulu menelponnya saat itu.


📱ALEX LEVINE


Halo Bu, apakah ibu bersama Ambrosia?


📱ROXANNE LEVINE


Harusnya aku yang bertanya begitu? Apa kau sedang bersama Ambrosia, Lex?


Pertanyaan sang ibu meyakinkan Alex bahwa Ambrosia juga tidak ada di kantor seperti yang sempat ia duga. Dengan menahan emosi, Alex memejamkan matanya sambil menjawab pertanyaan sang ibu.


📱ALEX LEVINE


Tidak, Bu! Aku tidak bersama Ambrosia. Dia check out dari hotel lebih dulu pagi ini jadi kupikir dia langsung ke kantor.


📱ROXANNE LEVINE


Kalau begitu apa yang terjadi, Lex? Kenapa tiba-tiba Ambrosia mengirimiku email pengajuan cuti pagi ini?


📱ALEX LEVINE


Apa? Ambrosia mengajukan cuti? Sejak kapan?


📱ROXANNE LEVINE


Terhitung sejak hari ini. Dia mengajukan cuti tahunannya lebih awal karena urusan keluarga. Demi Tuhan, Lex! Sebenarnya apa yang terjadi? Kemana Ambrosia?


📱ALEX LEVINE

__ADS_1


Akan kuceritakan saat aku kembali, Bu.


Setelah berjanji pada ibunya, Alex langsung berkemas dan pulang ke Sydney dengan harapan dapat segera menemukan Ambrosia dan bicara empat mata dengan wanita itu.


Sekembalinya Alex ke Sydney, Roxanne yang curiga telah terjadi sesuatu lantas menginterogasi Alex dan marah pada Alex begitu ia mengetahui alasan sebenarnya kenapa Ambrosia cuti mendadak.


"Mungkin sekarang dia membenciku, Bu. Makanya dia tidak ingin bertemu denganku." Alex nampak murung.


"Mungkin saat ini ia memang membencimu, Lex!" Roxanne berujar kecewa. "Sebab kau telah melanggar apa yang selama ini membuat Ambrosia trauma," imbuh Roxy sambil memijit-mijit kepalanya yang mulai pening.


"Apa maksudmu, Bu? Ambrosia trauma karena apa?" tanya Alex dengan memelas.


Roxanne yang marah sekaligus kasihan pada Alex akhirnya menjelaskan kepada putranya itu alasan kenapa Ambrosia jadi alergi pada Bos pria.


"Kau harus menemukannya, Lex! Dan minta maaflah!" pinta Roxanne pada Alex.


Alex termangu setelah mengetahui alasan Ambrosia menjadi trauma pada Bos pria. Pantas saja dia begitu dingin terhadapku sejak awal. Ternyata masa lalunya dengan para bajingan itu yang membuatnya bersikap begitu. Kurang ajar!


Alex pun berjanji pada ibunya bahwa ia akan menemukan Ambrosia bagaimana pun caranya.


"Tapi apa yg akan kau lakukan padanya setelah kau menemukannya?" tanya Roxanne pada Alex dengan tatapan serius.


"Aku akan menyatakan perasaanku padanya, akan kujadikan dia kekasihku dan jika ibu mengizinkan aku akan melamar Ambrosia," jawab Alex tegas.


"Bagus, Nak! Karena satu-satunya wanita yang ibu ingin untuk kau nikahi hanyalah Ambrosia Heart," jawab Roxanne dengan senyum penuh harap.


Dengan restu dari sang ibu, Alex memulai pencariannya. Di mulai dari mencari Ambrosia di apartemennya di Sydney hingga bertanya ke beberapa kolega wanita itu. Hingga tibalah Alex di depan rumah orang tua Ambrosia di Desa Central Tilba. Sebuah desa terpencil yang terletak di sekitar Gunung Dromadery, di pantai selatan New South Wales.


Ambrosia yang saat itu baru selesai memasak untuk makan malam tiba-tiba mendengar bel pintu rumahnya berbunyi. Ia yang mengira itu adalah salah satu sepupunya yang berniat mampir, tanpa ragu dan curiga langsung membukakan pintu.


"Kau benar-benar mengira bisa melarikan diri dariku, Nona Ambrosia Heart?" Pria itu kemudian melangkah masuk dan tidak ada lagi tempat bagi Ambrosia untuk bersembunyi.


"Ba-bagaimana anda bisa tahu bahwa saya ada di sini?" tanya Ambrosia takut-takut.


Alex mendorong daun pintu bagian dalam hingga tertutup dengan kakinya. Ia tetap berdiri tegap di bawah cahaya lampu rumah mungil Ambrosia yang sedikit redup. Dengan kondisi seperti itu, Alex nampak begitu besar dan gagah, bersikap selayaknya seorang putra mahkota sejati yang sedang berusaha menjemput sang putri.


"Berkatmu, aku berkeliaran kesana kemari seperti orang gila mencari tahu tentang keberadaanmu. Hingga akhirnya aku beruntung dan menemukan alamat ini. Jadi, apa yang kau lakukan disini, Ann?" tanya Alex to the point.


Ambrosia yang sempat merasa terintimidasi dengan kehadiran Alex yang tiba-tiba lalu mengangkat dagunya dengan berani.


"Saya hanya butuh waktu untuk menyendiri, untuk menata perasaan saya," jawabnya lirih.


"Perasaan apa yang kau maksud? Katakan lah... Siapa tahu kita memiliki perasaan yang sama," pancing Alex dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Tidak mungkin!" balas Ambrosia dengan lugas. "Saya tahu sejak awal jika anda membenci saya... saya tahu...!"


"Salah!" potong Alex. "Kau tidak tahu. Kau hanya sok tahu!" ujar Alex geram.


Ambrosia tersentak dengan sikap Alex yang mendominasi. Alex maju lebih dalam ke rumah mungil itu lalu menghempaskan dirinya di atas sofa yang ada di ruang tamu. Alex tampak begitu lelah. Ambrosia terdiam dengan melipat bibirnya dalam-dalam.


"Aku memang tidak langsung menyukaimu saat pertama kita bertemu karena aku merasa baru pertama kali diperlakukan wanita seperti aku bukan siapa-siapa. Aku model terkenal, Ann. Dan aku biasa dipuja. Tapi denganmu, aku tidak mendapatkan yang kuharapkan. Kau selalu membuatku berada dalam kesulitan. Kau selalu membuatku bertanya-tanya. Kau selalu membuatku penasaran. Tapi anehnya akhir-akhir ini aku merasa aku tidak lagi sekesal sebelumnya dan tanpa sadar... begitu banyak alasan tak masuk akal yang kubuat hanya untuk melihat perubahan ekspresi di wajahmu. Untuk lebih mengenalmu."


Alex mengungkapkan perasaannya panjang lebar. Mencoba membuat wanita yang telah mencuri hatinya itu mengerti sedalam apa perasaannya.


"Tidak! Anda salah... ini tidak benar! Ini salah, tidak seharusnya kita seperti ini!" tolak Ambrosia dengan cepat.

__ADS_1


"Lalu menurutmu, kita seharusnya seperti apa?" tanya Alex dengan lirih. Ia menatap lurus ke arah Ambrosia.


"Kita seharusnya seperti layaknya atasan dan bawahan pada umumnya, karena faktanya anda adalah calon pengganti Presiden Direktur, Nyonya Roxanne. Dan aku sudah berjanji untuk mengundurkan diri saat anda..."


"Hentikan itu, Ann!" bentak Alex. Hentikan ocehanmu yang tidak perlu itu! Karena aku sudah tahu alasanmu kenapa kau jadi alergi dengan bos pria." Lagi-lagi Alex memotong ucapan Ambrosia. "Maafkan aku karena selama ini aku bertindak begitu menyebalkan, tapi bisakah kita bersikap apa adanya?" Alex nampak memohon.


"Apa maksud anda?" Ambrosia menatap mata Alex dengan tatapan tak mengerti.


"Bisakah kita bersikap jujur satu sama lain? Aku tahu kau mengerti apa yang kumaksud. Aku ingat ciuman kita malam itu, Ann, dan aku menyukainya, aku ingin melakukannya lagi, terus menerus karena aku jatuh cinta padamu! Ketika kau tak ada di sampingku, aku merasa seperti kehilangan duniaku. Aku adalah pria yang menginginkanmu dengan tulus, Ann. Kumohon mengertilah!" kini kedua mata Alex nampak berkaca-kaca.


Pernyataan cinta Alex membuat Ambrosia seakan terbakar, terbakar api gairah yang telah mengisi seluruh tubuh dan jiwanya. Ia terkesima ketika mengetahui bahwa ternyata Alex juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.


"Sejak kapan anda jatuh cinta pada saya?" tanya Ambrosia seakan masih tidak bisa mempercayai kenyataan ini.


"Sejak kau balik mengancamku saat aku mengancammu di kantor baruku. Responmu atas ancamanku waktu itu membuatku mabuk kepayang, Ann," ungkap Alex dengan jujur.


"Benarkah?" kini suara Ambrosia mulai tercekat.


"Apakah kau masih tidak akan percaya pada perasaanku jika aku melakukan ini?" Sekonyong-konyong Alex lalu berlutut di depan Ambrosia sambil menyodorkan sebuah kotak beludru yang perlahan dibukanya.


Ambrosia memekik kala melihat isinya, sebuah cincin berlian berbentuk hati berwarna merah muda.


"Oh ya ampun, dari mana anda mendapatkan cincin seindah itu?" Ambrosia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Dari acara lelang di Perth kemarin." Alex tersenyum simpul.


"Bagaimana saya bisa tidak tahu?"


"Itu karena kau sedang menerima telepon dari asistenmu! Bagaimana? Apakah kau mau menerimaku, Nona Ambrosia Heart?" tanya Alex sekali lagi.


"Tapi bagaimana dengan Roxanne? Apakah dia akan merestui kita?" suara Ambrosia bernada khawatir.


"Dia adalah orang yang paling tidak akan memaafkanku jika aku tidak bisa membuatmu menerima lamaranku, dan membawamu kembali ke perusahaan. Percayalah, Ibuku sangat menyukaimu. Katanya, kau adalah salah satu orang favoritnya di muka bumi ini selain aku dan ayahku," ungkap Alex tanpa ragu.


"Kalau begitu tidak ada lagi yang bisa membuatku menolak lamaranmu, Tuan Alex Levine!"


Ambrosia tidak ingat kakinya menyentuh tanah ketika kedua lengan kokoh Alex akhirnya merengkuhnya dan merapatkan bibir serta tubuh mereka satu sama lain.


Ambrosia sama sekali tidak mengira bahwa mencintai dan dicintai dalam waktu yang sama dan meleburkan perasaan menjadi satu merupakan kenikmatan yang tiada tara...


***


Levine Enterprises, Sydney.


Di dalam kantornya, Roxanne memekik kegirangan kala menerima sebuah pesan bergambar dari Alex.



Pesan yang berisi foto jari tangan Ambrosia yang telah memakai cincin berlian yang Alex persembahkan. Sebagai tanda bahwa putranya dan sekretaris kesayangannya itu telah bertunangan.


.


.


.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2