
💗SINOPSIS💗
Entah karma apa? Atau lebih tepatnya takdir apa yang membuat Sheryn seolah-olah harus terus menerus bertemu dengan pria itu. Pria yang di mata Sheryn sangat berbahaya untuk didekati—Nathan Sagara. Karena tak hanya berwajah tampan dengan tubuh yang menggoda, Nathan seakan-akan juga memiliki indera keenam untuk dapat membaca pikirannya.
Entah bagaimana, pria itu selalu dapat menebak apa yang sedang ia rasakan dengan sangat tepat. Membuat Sheryn merasa harus menyingkir jauh-jauh dari hadapan pria itu. Tapi mampukah ia menjauhi Nathan? Jika senyuman pria itu sendiri lambat laun menjadi candu dalam diri Sheryn.
🔸⚜️🔸
Sejak pertemuan pertamanya dengan seorang gadis tomboi berwajah cantik—Sheryn Faradita, Nathan tak pernah bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Terlebih lagi ketika ia menyadari gadis itu memperlakukannya seperti wabah penyakit menular yang harus selalu dijauhi. Membuat Nathan kesal tetapi juga geli.
Hingga sebuah peristiwa tergila sepanjang hidupnya terjadi di suatu malam, dan itu melibatkan Sheryn. Sejak saat itulah, Nathan bersumpah. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah melepaskan gadis itu, dan ia pasti akan melakukan apapun untuk dapat memiliki seorang Sheryn Faradita.
Pindah Rumah
"Aku ingin mengajak ibu mertua dan adik iparku untuk pindah ke rumah ini!"
Begitulah tepatnya yang didengar Nathan dari kakak lelakinya—Alan Sagara, setelah makan malam keluarga. Sehari setelah sang kakak pulang dari bulan madunya, pria itu tiba-tiba meminta izin sang kakek dan juga pendapatnya tentang niat itu.
Adik ipar? Hmm ... Ingatan Nathan seketika merujuk pada sosok gadis berparas cantik nan tomboi—Sheryn Faradita. Saudara perempuan kandung satu-satunya dari kakak iparnya—Sarah Kiranna.
Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kakak perempuannya yang selalu tampak lembut dan manis, Sheryn terlihat begitu tangguh, tegar, dan kuat. Seolah gadis itu sanggup bertahan hidup bahkan di alam liar sekalipun.
Bibir tipis Nathan melengkung mengulas sebuah senyuman. Tiba-tiba saja ia merasa ide kakaknya itu sangat menarik. Rasa penasaran Nathan seketika tergelitik saat membayangkan kehadiran Sheryn di rumah keluarga Sagara. Rumah yang biasanya hanya di huni tiga orang keluarga inti yang kesemuanya pria, mungkinkah akan terasa lebih hangat jika mendapat sentuhan anggota keluarga wanita?
Bila dengan kehadiran seorang Sarah saja sudah mampu memberikan nuansa berbeda pada rumah itu, bagaimana bila ditambah dengan kehadiran Sheryn beserta ibunya. Nathan bertaruh pada dirinya sendiri ini pasti akan sangat menyenangkan.
Beruntung sang kakek tidak keberatan dengan usulan Alan, sehingga Nathan pun langsung mengangguk untuk mendukung ide sang kakak tersebut sambil sekuat tenaga menyembunyikan seringainya.
Diam-diam, Alan menangkap ekspresi yang tidak familiar dari wajah adik lelakinya. Alan yang baru kali ini melihat raut wajah Nathan seperti itu menjadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang Nathan pikirkan?
***
Pertemuan terakhir Sheryn dengan pria bernama Nathan Sagara yang notabene adalah adik ipar kakak perempuannya—di pesta pernikahan Sarah dan Alan dulu—nyatanya bukanlah pertemuan yang benar-benar terakhir bagi mereka berdua.
Pria itu secara tidak langsung sudah menjadi keluarganya sejak satu-satunya kakak perempuan yang ia miliki—Sarah, menikahi satu-satunya kakak lelaki Nathan—Alan, beberapa bulan lalu.
__ADS_1
Dalam ingatan Sheryn, tidak ada hal istimewa yang dapat ia ingat sejauh menyangkut interaksi sambil lalunya dengan Nathan. Merasa tidak akan sering-sering bertemu dengan pria yang menurutnya cenderung menyebalkan itu, makanya sejak awal Sheryn tidak berniat mencoba mengakrabkan diri dengan Nathan.
Namun, rupanya takdir mengkhianati niat Sheryn. Sebab kini, tiba-tiba saja dirinya dan ibunya, diminta Sarah untuk pindah ke rumah keluarga Sagara. Sebagai alasannya, karena sejak Sarah menikah dengan cucu sulung dari keluarga itu, sang Ibu dan dirinya hanya tinggal berdua saja di rumah kontrakan mereka.
"Tapi ibu dan Sheryn masih baik-baik saja kok, Sar, tinggal di sini meskipun kamu sudah ikut suamimu di rumahnya sana," tolak sang ibu secara halus.
Sheryn mengangguk kuat-kuat menyetujui penolakan ibunya. Sebab, dia sendiri tidak pernah membayangkan akan tinggal di rumah lain selain rumah yang telah sekian lama mereka kontrak ini. Ditambah lagi, harus hidup serumah dengan para pria yang tidak pernah Sheryn alami sebelumnya. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Sheryn merinding.
"Sarah tetep khawatir, Bu! Waktu masih hidup bertiga aja kita sering waswas kalau lagi rame maling atau kalau lagi musim hujan yang rawan banjir. Apalagi sekarang, kalian cuman berdua. Belum lagi kalau Sheryn nggak ada di rumah, ibu jadi lebih sering sendirian kan? Kalau di rumah Mas Alan kan banyak pegawai. Walaupun Sarah dan Mas Alan kerja, ibu tetep aman di sana," desak Sarah.
Mendengar nada suara sang istri yang mulai putus asa saat membujuk ibu mertua serta adik iparnya, Alan jadi tidak tega dan mulai memberikan bantuannya.
"Bu, mohon maaf sebelumnya. Tapi apa boleh kalau saya turut mengungkapkan pendapat?" tanya Alan dengan hati-hati.
Mendengar menantunya angkat bicara, ibunda Sarah dan Sheryn pun hanya mengangguk untuk mempersilahkan Alan nimbrung ke dalam pembicaraan mereka.
"Saya pribadi juga bermaksud untuk memohon kepada ibu dan Sheryn untuk tinggal bersama kami, sebab di rumah kami Sarah merupakan satu-satunya anggota keluarga wanita yang tinggal di sana. Dia pasti kesepian karena tidak ada teman, belum lagi harus menghadapi lingkungan yang baru. Jadi kami berpikir dengan adanya ibu dan Sheryn di rumah itu, akan menjadi win-win solution atas kekhawatiran saya dan juga Sarah."
Alan mencoba meyakinkan mertuanya menggunakan gaya bahasa dan gestur serta ekspresi yang biasa ia gunakan saat menghadapi rekan bisnisnya.
Dengan penuh percaya diri Alan berkelakar kepada sang istri jika jurus negosiasinya yang tak pernah gagal, membuat Sarah cekikikan setiap kali Alan mengungkit kehebatannya dalam merayu sang ibu mertua dan adik ipar. Padahal faktanya, mereka bersedia pindah hanya karena mereka tak enak hati untuk terus menolak setelah Alan sendiri yang memohon kepada mereka.
***
Pada hari pindahan ....
Sheryn dan sang ibu begitu tercengang melihat betapa luasnya pekarangan rumah keluarga Sagara yang bisa dijadikan untuk satu komplek perumahan. Namun, akhirnya mereka mengerti mengapa keluarga Sagara bisa memiliki pekarangan seluas itu, karena di balik pagar yang tinggi menjulang itu terdapat lebih dari satu bangunan rumah.
Sayangnya menurut Alan, bangunan yang disebut rumah hanyalah bangunan utama yang paling besar, sementara bangunan lainnya yang berukuran lebih kecil disebut pavilliun. Bangunan-bangunan itu dibuat sebagai tempat menginap para tamu keluarga agar tidak bercampur dengan kediaman keluarga inti. Karena bagi keluarga Sagara, privasi adalah salah satu poin penting dalam kehidupan mereka.
Meski begitu, bagi Sheryn, satu unit pavilliun itu masih lebih besar ketimbang rumah kontrakan mereka yang lama. Jujur saja, Sheryn cukup pesimis dirinya akan mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya ini. Sebab keluarganya sudah terbiasa hidup sederhana. Sedangkan semua yang dimiliki keluarga baru kakaknya itu, terkesan begitu muluk.
Pantesan Kak Alan khawatir banget sama Kak Sarah yang baru tinggal di sini, orang sikonnya kaya' gini. Gue aja bakalan keder kalo disuruh ngadepin yang begini sendirian. Sheryn bermonolog dalam hati.
Ketika Sheryn tengah asyik mengagumi betapa indahnya ukiran pada tepian tangga rumah itu, tiba-tiba tatapan matanya bersiborok dengan senyuman khas seorang Nathan Sagara. Tampaknya lelaki itu sudah cukup lama berdiri di ujung tangga paling atas dan mengamati tingkah laku Sheryn dari sana. Terlihat jelas dari caranya bersandar pada tepian tangga yang indah itu.
__ADS_1
Begitu mengetahui bahwa Sheryn sudah menyadari keberadaannya di sana, Nathan segera beranjak turun. Pria itu melangkahkan kaki-kaki jenjangnya menuruni satu persatu anak tangga yang melengkung itu secara perlahan.
Entah kenapa di mata Sheryn, sosok Nathan yang tengah menuruni tangga terlihat bagai adegan kemunculan seorang pemeran utama dalam sebuah drama korea bertemakan kehidupan glamor bak putra mahkota, pemilik perusahaan besar, atau semacamnya.
Sheryn sampai harus menggelengkan kepalanya demi mengusir khayalannya yang absurd. Gak jelas banget! Ngapain juga gue ngeliatin nih orang ampe segitunya, idiiihh .... Rutuk Sheryn pada diri sendiri.
"Kamu kenapa, Sher? Pusingkah?" tanya Nathan yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat gadis itu.
Sheryn mendongak dengan kaget. Ia tak menyangka akan sedekat itu dengan Nathan. Saat itulah Sheryn menyadari betapa tingginya pria itu. Ini orang apa tangga darurat? Tinggi amat sampe nggak keliatan puncaknya. Batin Sheryn agak keki.
Ketika tengah sibuk membatin itulah, Nathan memperkenalkan dirinya skali lagi sebagai adik Alan kepada ibunda Sheryn. "Siang tante, masih ingat saya? Saya Nathan, adik satu-satunya kak Alan," tutur Nathan sambil mencium tangan ibunda Sheryn dengan santun.
Ibunda Sheryn tersenyum lembut sembari menepuk pelan punggung tangan Nathan yang masih memegangi tangannya, "Ibu ingat kok, Nak Nathan. Terima kasih ya, sudah mengizinkan kami tinggal di sini."
"Sama-sama, Bu. Nathan senang kok kalian jadi pindah kemari, karena dengan begitu kak Sarah nggak akan kesepian lagi. Dan saya akan dengan senang hati menjadi teman ngobrol atau teman main Sheryn jika dia sedang bosan dirumah," seloroh Nathan.
Mendadak Sheryn merasa mual dengan sikap Nathan yang sok kenal sok dekat dengannya. Gak tau diri! Udah om-om gitu masih pede nganggep temen ke gue! Najis tralala ....
Tanpa Sheryn duga, Nathan langsung menoleh ke arahnya tepat setelahnya. Seolah pria itu mampu mendengar apa yang barusaja ia katakan dalam hatinya. Jantung Sheryn mendadak berdebar karena gugup. Ia menatap Nathan dengan sorot mata yang tak mampu menyembunyikan kegugupannya.
Mati gue! Masa' dia tau sih apa yang gue pikirin? Bisiknya masih dalam hati.
Lagi-lagi Nathan tersenyum padanya tepat setelah ia berhenti membatin. Senyum misterius yang seakan berkata 'aku-tahu-apa-yang-kamu-pikirkan'. Tak hanya itu, Nathan pun menatapnya dengan intensitas yang terasa aneh. Membuat bulu kuduk Sheryn meremang tanpa dapat ia cegah.
Sheryn mengalihkan pandangannya dengan spontan, merasa tidak nyaman ditatap oleh mata lembut Nathan yang terasa kosong padahal bibir pria itu sedang tersenyum.
Namun, melalui tatapannya yang nampak kosong itu, Nathan seolah mampu melihat sisi dirinya yang bahkan tak ia sadari. Bagian dari dirinya yang masih menjadi rahasia karena belum ia telusuri. Sheryn merasakan sesuatu bergetar di antara mereka. Kesadaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
.
.
.
To Be Continue...
__ADS_1