
"Selamat datang di villa pribadi milikku." Max mendengar dengan jelas saat Lyra—wanita yang sudah sejak lama menjadi sahabatnya, tetapi kini tiba-tiba berubah menjadi kekasihnya itu—menyatakan bahwa wanita itulah pemilik villa ini.
Max masih melongo saat Lyra lalu menarik tangannya untuk segera masuk ke dalam villa. "Tutup pintunya, Max. Sebentar lagi gelap dan udara akan semakin dingin," perintah Lyra yg sibuk memasukkan barang-barang Max ke dalam kamar di lantai bawah.
"Kau boleh gunakan kamar ini," kata Lyra seraya membiarkan pintu kamar itu terbuka lebar. Memperlihatkan sebagian isinya yang tampak rapi dan nyaman.
"Aku akan memakai kamarku sendiri di lantai dua," ucapnya lagi lalu masuk ke ruangan lain tanpa pintu di sayap kiri villa, yang terlihat seperti dapur yang cukup lengkap.
Max melihat perapian dengan permadani berkualitas baik terhampar di hadapannya, membuat pria itu tergelitik untuk duduk di atas permadani sambil menyalakan perapian ketimbang duduk di sofa.
"Tidak ada yang bisa dibeli di jalan tadi," kata Lyra sambil memasukkan beberapa bahan makanan darurat ke dalam lemari es. "Malam ini kita terpaksa makan seadanya, tapi besok pagi aku akan turun ke bawah bukit untuk berbelanja di pasar tradisional di sana," terang Lyra.
"Terserah kau saja, Ly. Aku pasiennya di sini, kau ingat?" jawab Max sambil mengedikkan bahunya. Pria itu nampak sudah menyalakan perapian yang berbahan bakar gas, melepas jaketnya lalu menggulung lengan kaos panjangnya sebatas siku.
Sementara Lyra terlihat sibuk membuat makan malam untuk mereka berdua. Perjalanan menuju villa tadi memakan waktu lebih lama dari pada biasanya karena kemacetan di beberapa titik.
Akibatnya mereka baru tiba di villa sesaat sebelum jam makan malam, karena itulah Lyra langsung membuat beberapa potong sandwich panggang dengan bahan seadanya.
Lyra menumpuk beberapa keju mozzarella di dalam sandwich ham itu. Lyra ingat jika Max sangat menyukai keju mozza, karena itulah Lyra juga menyetok cukup banyak keju yang akan lumer jika dipanaskan itu di dalam lemari esnya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Max sambil bersandar di kusen tak berpintu, yang menjadi akses keluar masuk antara ruang dapur dan ruang perapian.
Kehadirannya yang tiba-tiba sedikit mengejutkan Lyra. Wanita berambut panjang dengan ujung yang ikal itu melirik sekilas pada Max yang sedang memperhatikannya sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
Membuat otot lengan Max yang terbentuk sempurna menyembul memamerkan aura lelaki maskulin.
Lyra menelan salivanya. Mendadak gugup karena kehadiran pria seksi yang kini menjadi kekasih dadakannya itu.
"Tidak, tidak perlu," jawab Lyra cepat. "Aku hanya tinggal memanggang sandwichnya saja. Kau mau apa? kopi atau teh?" tanya Lyra pada Max tanpa menoleh ke arah pria tampan di belakangnya.
"Aku mau kopi saja," jawab Max yang lagi-lagi secara tiba-tiba sudah berada di samping Lyra, lalu meraih spatula dari tangan wanita itu dan mengambil alih tugas memanggang sandwich ham penuh keju.
Debaran jantung Lyra menjadi semakin cepat tak berirama. Untuk mengalihkan perhatiannya akan keberadaan Max, Lyra akhirnya menyibukkan diri dengan menyeduh dua cangkir kopi untuknya sendiri dan untuk Max.
Setelah semuanya siap, Max menyusun piring saji besar penuh sandwich panggang dan dua cangkir kopi itu ke atas nampan lalu membawanya keluar dari dapur.
"Kita tidak akan makan disini? di meja makan?" tanya Lyra pada Max.
Max bergeming, malah terus saja melangkah menuju ruang perapian. Meski keheranan namun Lyra akhirnya memilih mengikuti Max yang akhirnya duduk di atas permadani tepat di depan perapian.
"Apa ini semacam piknik di dalam ruangan?" tanya Lyra.
"Anggap saja begitu. Aku tak ingat kencan pertama kita setelah menjadi sepasang kekasih, jadi seperti katamu kemarin di Rumah Sakit, kita akan mulai membuat memori yang baru dalam hubungan kita, jadi— nikmati saja!" kata Max sambil mengedipkan sebelah matanya.
Lyra hanya bisa meringis mendengar penuturan Max, tetapi dalam hatinya sedikit menyesal telah membohongi pria yang bisa dibilang sedang sakit itu.
Tak bisa dipungkiri jika hati Lyra pun teriris harus berpura-pura menjadi kekasih dari pria yang diam-diam dicintainya. Tapi semua ini dilakukannya demi menyelamatkan Max dari si Rubah Pelakor—Melody Lynn.
Max menepuk pelan permukaan permadani tepat disampingnya, mengisyaratkan Lyra untuk segera duduk disana. Lyra menurut saja. Dirinya hanya bisa pasrah pada keadaan mengingat kini dirinya sedang berpura-pura menjadi kekasih Max.
Sebenarnya Lyra enggan, karena debaran jantungnya selalu saja tak terkontrol saat tubuhnya berdekatan dengan Max. Namun, jika ia menolak hal sekecil itu, Max bisa saja curiga dan rencananya akan gagal bahkan sebelum ia bisa mengungkap bukti perselingkuhan Melody dengan Dylan.
Keduanya lalu duduk dengan nyaman mengambil posisinya masing-masing dan mulai menyantap sandwich panggang yang nampak menggiurkan.
__ADS_1
"Aku tidak melihat barang bawaanmu, Ly? Apa kau tidak membawa apapun ke sini?" tanya Max.
"Memang tidak. Aku hanya membawa tas kecilku saja. Ini kan villaku, kau ingat? Jadi sebagian barangku sudah ada di sini, di dalam kamar itu," tunjuk Lyra pada sebuah pintu di lantai atas yang terlihat dari tempat mereka duduk.
Max nampak manggut-manggut sambil mendongak ke atas. Bagian atap ruang perapian yang terbuka membuatnya bisa melihat ke lantai dua yang dibatasi pagar kayu yang melingkar dan terhubung dengan tepian tangga.
Dari sela-sela pagar kayu itu, Max juga dapat melihat sebuah pintu kamar yang ditunjuk oleh Lyra dan sebuah pintu kamar lain di sebelah kamar Lyra itu.
"Aku lihat ada dua pintu, apa ada dua kamar di diatas sana, Ly?" tanya Max sambil memasukkan potongan terakhir sandwich pertamanya ke dalam mulutnya.
Lyra mengangguk cepat, "Iya, memang di atas sana ada dua kamar tidur, yang satunya kamarku, yang satunya lagi kamar ayahku," jawab Lyra.
Setelah sandwich pertamanya habis. Max menyesap sedikit kopinya lalu mulai mengambil satu potong sandwich lagi.
"Villa ini dulunya milik Ayahku. Beliau akan menginap di sini selama dua sampai tiga malam jika tidak ada jadwal syuting untuk melepaskan penat dan stres selama bekerja. Namun, saat Ayahku meninggal, ia mewariskan villa ini padaku karena memang akulah satu-satunya ahli warisnya," terang Lyra dengan mata menerawang.
Max menyimak cerita Lyra dengan seksama sambil menikmati wajah cantik wanita di sampingnya itu.
"Ada sepasang suami istri yang sudah menjaga villa ini puluhan tahun, mereka selalu membersihkan villa ini termasuk kamar ayahku meski sudah tidak digunakan lagi," terang Lyra sambil terus menyuapkan sepotong sandwich ke dalam mulutnya.
Tangan Max mendadak terulur saat dilihatnya ada secuil sisa lumeran keju di ujung bibir Lyra. Max mengusap bekas keju itu dengan ibu jarinya sambil tersenyum, menatap lekat pada kedua bola mata Lyra yang melongo setelah mendapat perlakuan tak terduga dari Max.
Dan yang lebih tak terduga lagi, Max yang akhirnya terbawa perasaannya sendiri, kemudian memajukan wajahnya mendekat ke wajah Lyra. Perlahan namun pasti, Max menempelkan bibirnya pada bibir Lyra.
Lyra yang masih melongo tak dapat berkutik kala itu. Merasa tidak mendapat penolakan dari Lyra, Max makin merapatkan bibirnya pada bibir Lyra. Memberikan beberapa ******* yang lembut namun dalam. Saat tubuh Lyra mulai menegang, Max melepaskan ciumannya.
"Kau tahu, Ly? Sudah lama aku ingin melakukan ini," ucap Max lembut.
Ibu jarinya yang masih menempel di wajah Lyra kini mengusap-usap bibir Lyra yang ternyata selembut dan semanis marsmallow menurut Max.
"Sejak dulu aku sangat penasaran ingin merasakan bibirmu. Dan ternyata rasanya melebihi ekspektasiku," beber Max senang. "Aku pasti sangat sering menciummu setelah kita berkencan. Karena aku sangat menyukai bibirmu itu," tambah Max.
Apa? Sejak dulu? Lyra bingung sendiri. Kenapa Max penasaran dengan rasa bibirku sejak dulu? Apa sejak dulu Max menyukaiku? tanya Lyra dalam hati.
"Katakan padaku, Ly! Sejak kapan kita berkencan? Apakah aku yang lebih dulu menyatakan perasaanku? Ahh, sudah pasti begitu sebab kau mungkin belum terlalu suka padaku saat itu. Dan apa saja yang sudah kita lakukan bersama?" tanya Max beruntun.
"Woow, wow, sabar Max. Satu-satu pertanyaannya," balas Lyra cepat sambil berusaha menetralkan debaran di dadanya sendiri, akibat ciuman Max yang tak terduga tadi.
"Tapi aku sudah tak sabar lagi, Ly. Kau tahu, aku sudah suka padamu sejak lama. Oh, mungkin kau sudah tahu karena aku pasti sudah pernah mengatakannya padamu sejak kita berkencan," Max seperti salah tingkah sendiri.
Pria tampan itu nampak kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Max lalu mengambil cangkir kopinya dan menenggak minuman hitam itu hingga hampir tersisa setengahnya demi mengobati rasa kikuknya.
Lyra terdiam mendengar pengakuan Max barusan. Apakah dirinya tidak salah dengar? pikir Lyra. Jika Max benar-benar menyukainya sejak lama lalu kenapa Max menjalin hubungan dengan Melody Lynn bahkan berencana untuk menikahinya? pikir Lyra lagi.
Mendadak rasa kesal bertengger di dadanya. Antara percaya dan tak percaya Lyra menerima pernyataan cinta Max yang tanpa sengaja ini.
Seandainya aja, jika Max tidak amnesia, apakah pria itu tetap tidak akan mengakui perasaannya pada Lyra secara terang-terangan begini? Lyra bertanya-tanya dalam hatinya.
Kenapa Max lebih memilih mengencani Melody daripada mengakui perasaannya pada Lyra? Sebegitu tak percaya dirikah Max atas respon Lyra padanya? Lyra bimbang, galau dan gelisah.
"Entah apa yang merasukiku hingga akhirnya aku bertekad menyatakan perasaanku padamu saat itu. Aahhh, aku kesal sekali karena telah melupakan momen penting kita, Ly." Max menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Lyra dengan manja.
Lyra tersentak ketika merasakan gerakan lembut kepala Max di atas pangkuannya. Lyra bahkan refleks mengangkat kedua tangannya karena terkejut. Untung saja Max sedang berbunga-bunga dengan wajah menghadap ke arah perapian, hingga tak menyadari kecanggungan Lyra itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ly. Maafkan aku karena melupakan kenangan indah kita. Dan terima kasih karena telah menerimaku menjadi kekasihmu! Aku sangat, sangaaattt bahagia."
Max tersenyum lebar saat mengatakannya. Membuat Lyra semakin merasa bersalah pada pria itu. Dan juga membuat Lyra semakin yakin perasaan Max yang memang nyata untuknya.
Bagaimana ini? Lyra panik sendiri. Apakah dirinya harus menghentikan kebohongan ini saat ini juga dan langsung membeberkan semuanya, termasuk menunjukkan bukti perselingkuhan Melody pada Max.
Tapi melihat kebahagiaan yang begitu terpancar dari raut wajah Max membuat Lyra tak tega untuk merusaknya. Merusak kebahagiaan yang baru pertama kali Lyra lihat dan rasakan dari sahabatnya itu.
Lyra semakin galau. Dan jika boleh jujur, sebenarnya dia cukup menikmati kebersamaan mereka ini. Kebersamaan yang mungkin akan langsung berubah seketika saat ingatan Max kembali, ingatan tentang kenyataan yang sebenarnya. Bahwa mereka sama sekali tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Bahkan ingatan tentang keberadaan seorang Melody Lynn dalam hidup Max.
Akhirnya, setelah pertimbangan sengit di dalam kepalanya. Lyra memutuskan untuk melanjutkan sandiwaranya hingga besok. Besok, ia akan langsung mengatakan yang sebenarnya kepada Max saat sarapan. Lyra berjanji pada dirinya sendiri.
"Ly, kenapa kau diam saja? Apa kau mengantuk?" tanya Max dengan menyentuh pipi Lyra. Membuat wanita itu lagi-lagi tersentak kaget dan canggung.
"Eh, iya. Aku sedikit lelah. Mungkin aku harus tidur cepat malam ini, agar besok pagi bisa membuatkan sarapan untukmu lalu pergi ke pasar di bawah bukit." Lyra memberi alasan untuk segera kabur dari sisi Max.
Max tepekur sesaat, lalu akhirnya mengangkat kepalanya dari pangkuan Lyra dan duduk kembali. Diraihnya sebelah tangan Lyra lalu diciumnya telapak tangan Lyra dalam-dalam.
"Sebenarnya aku enggan melepasmu, aku masih ingin bersamamu seperti ini." rengek Max. "Tapi baiklah, tidurlah diatas, Ly. Istirahatlah. Biar aku yang membereskan semua ini," tunjuk Max pada piring dan cangkir kopi bekas makan malam mereka berdua.
"Tapi kau kan pasiennya, biar aku yang membereskan," balas Lyra cepat.
"Tidak apa-apa, membereskan hal sekecil ini tidak akan membuatku pingsan," gurau Max. "Lagipula yang terluka kepalaku, bukan tanganku," tambah pria itu.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit ke kamar duluan ya, selamat malam Max," pamit Lyra sambil berdiri dengan sebelah tangan yang masih tertaut pada Max.
"Selamat Malam, Ly," balas Max lalu melepaskan tangan Lyra dari genggamannya.
Namun belum sempat Lyra berjalan menuju anak tangga. Tiba-tiba sebuah petir menyambar dan seketika seluruh villa menjadi gelap.
"KYAAAAAA...!!!!" Lyra sontak berteriak histeris. Membuat Max refleks berdiri lalu dipeluknya tubuh Lyra erat-erat.
Max kembali menarik tubuh Lyra yang sudah bergetar hebat untuk duduk kembali di atas permadani. Max tahu jika Lyra mengidap Nyctophobia.
Beberapa kali dirinya menyaksikan sendiri bagaimana paniknya Lyra saat harus menghadapi kegelapan entah secara sengaja maupun secara tak terduga seperti saat ini. Saat lampu villa yang tiba-tiba mati dan membuat seluruh villa jadi gelap total.
Hanya cahaya remang dari perapian yang masih menyala karena berbahan bakar gas. Dari luar jendela kaca yang kordennya masih terbuka, nampak hujan langsung turun dengan derasnya.
"Tenanglah, Ly. Tenang, ada aku disini. Kau akan baik-baik saja, Oke," bisik Max pada Lyra tanpa mengendurkan pelukannya.
Lyra tidak menangis, namun tubuhnya masih bergetar. Lyra mengeratkan pelukannya, mencengkeram kaos Max di bagian punggung pria itu, berharap Max tidak akan meninggalkannya dalam kegelapan yang sangat dibencinya itu.
Merasa tak mungkin beranjak dari tempatnya bahkan hanya untuk mengambil selimut di kamar tidur, Max mencoba memperbesar perapian agar mereka berdua tetap hangat meski tanpa memakai selimut.
Untung beberapa bantal sofa tergeletak tak jauh dari tempat mereka duduk berpelukan. Dengan sebelah tangan Max menjangkau bantal-bantal itu tanpa melepaskan pelukan Lyra.
Setelah menyusun bantal sofa sedemikian rupa, dengan perlahan Max merebahkan dirinya dan Lyra yang masih melekat dalam pelukannya untuk berbaring di atas permadani di depan perapian.
"Sebaiknya kita tidur disini malam ini." ucap Max lirih. " Kau tidak mungkin bisa tidur sendiri di kamar atas dalam keadaan gelap gulita begini," tambah Max sambil menyelimutkan jaketnya ke atas tubuh Lyra.
Lyra masih tak merespon. Wajahnya masih tenggelam di dalam pelukan Max. Namun, perlahan Max dapat merasakan getaran di tubuh Lyra mulai mereda.
Entah sudah berapa lama, akhirnya napas Lyra nampak teratur karena tertidur. Namun tidak demikian dengan Max. Pria itu melepaskan pelukan Lyra pelan-pelan agar wanita itu dapat tidur dengan lebih nyaman.
__ADS_1
Dilihatnya wajah tidur Lyra dalam keremangan cahaya perapian. Max merasakan perasaannya terhadap Lyra membuncah. Merasa tak mungkin lagi melepaskan wanita yang sedang tertidur disampingnya ini.
***