
***
Pada jam pulang kerja, mulut Malika ternganga mendapati motornya yang lenyap dari tempat parkir khusus karyawan.
"Hlooohh, motor gue kemana nih? Waduh, GAWAT! Motor gue ilang nih jangan-jangan!" Malika ngedumel sendiri di tempatnya berdiri.
Saat ia membalikkan badannya untuk menemui satpam demi menanyakan perihal motornya, tanpa sengaja Malika menabrak seseorang.
"Aaawww...!!!" pekiknya sambil menutupi hidungnya yang menubruk sebuah dada bidang yang keras.
"Kamu mau kemana?" tanya Taki yang muncul tiba-tiba itu.
"Aku mau pulang, Chef! Tapi motorku enggak ada, padahal tadi pagi pas kita datang, aku lihat masih ada. Aku mau lapor ke satpam dulu!" ujar Malika saat akan mengambil langkah pertamanya ke arah ruang kantor satpam di PANKEKI BAKERY.
Namun Taki dengan cepat menahan langkah wanita itu dengan membentangkan sebelah tangan kekarnya tepat di hadapan Malika.
"Tidak perlu! Motormu sudah kukirim pulang duluan ke rumahmu tadi siang, jadi sekarang kamu pulang bareng aku lagi. Ayo!!!" serunya sambil melangkah menuju tempat parkir mobilnya.
Malika auto melongo mendengar penuturan Taki yang semau gue itu. "Lho, Chef! Kok gitu sih??? Kenapa enggak bilang saya dulu sih???" tanya Malika sambil mengejar langkah Taki yang mendekati mobilnya.
"Emangnya kalau aku bilang dulu, kamunya bakalan ngizinin?" balas Taki lalu membuka pintu mobilnya untuk Malika.
"Ya enggak laahh!" jawab Malika cepat.
"Naah makanya itu aku diem-dieman aja ngirim pulang motor kamu! Udah buruan masuk! Nanti anak-anak nungguin lho" perintah Taki pada Malika.
Malika jadi bersungut-sungut dibuatnya. Nih orang nekat banget sih tingkahnya! Sampe amazing gue! batin Malika. Tapi akhirnya ia menurut dan masuk ke dalam mobil mewah itu.
Sesampainya di rumah, Rima yang mengetahui Taki lagi-lagi mengantar Malika pulang jadi tidak bisa menahan senyum lebarnya.
"Gigi lo kering tuh nyengir mulu!" ujar Malika sewot sambil masuk ke dalam melewati Rima yang baru membukakan pintu pagar untuknya.
"Gak appa-appaaah yang penting bisa ngeliat lo berduaan mulu sama Chef ganteng!" balas Rima masa bodoh.
Sebenarnya Rima sudah bisa menebak kejadian ini ketika tadi siang ia tiba-tiba dikejutkan oleh kurir dari PANKEKI BAKERY yang mengirimkan motor milik Malika.
Apalagi kurir itu juga menyampaikan pesan bahwa Taki lah yang menyuruh mereka dan meminta Rima untuk tidak menelepon Malika dan memberi tahu tentang hal itu.
Rima jadi senyam senyum sendiri menyadari niat Taki yang dengan gencar melakukan pendekatan pada sepupu jandanya itu. Ia pun akan dengan senang hati mendukung pria yang diketahuinya sebagai pimpinan PANKEKI BAKERY dari para kurir tadi.
Asyiiikkk, rejekinya Malika lepas dari si Kutu Kupret, sekarang malah ditaksir cowok macem Chef Taki. Udah ganteng, kaya, bujang pula! Oh My God!!! Rima jadi sumringah sendiri.
Melihat Rima yang masih berdiri di depan pintu pagar rumah Malika, Taki segera menghampiri sepupu Malika itu untuk berpamitan. Namun dengan lancang Rima malah mengundang Chef Taki untuk makan malam di rumah Malika.
"Oh boleh aja kalau Malika mengizinkan, toh di rumah nanti, saya juga biasanya makan sendiri." balas Taki senang.
"Ah kalo Malika mah, apa kata saya, Chef! Dari pada makan sendirian di rumah, mending makan rame-rame di sini. Sebentar lagi suami saya juga bakalan ke sini buat makan malam bareng." sahut Rima sambil tertawa.
Rima memang sudah menyiapkan semuanya dengan Mbak Tiya selama di rumah tadi. Sejak ia tahu Taki akan mengantar Malika pulang hari ini, ia langsung memikirkan cara untuk membantu Taki agar lebih dekat dengan sepupunya itu.
Makanya ia juga menghubungi Satria agar pulang kerja nanti mampir ke rumah Malika dulu untuk makan malam.
Dan kini, saat Malika, Rima dan Mbak Tiya sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Taki dan Satria yang baru datang jadi punya tugas untuk menjaga si kembar di ruang tamu.
"Lo ngapain sih Tanteee pake ngajak-ngajak Chef Taki makan malam di sini! Lo dah gila ya???" Malika tampak bersungut sambil menguleg sambal di dapurnya.
__ADS_1
"Elo tuh yang gila, cowok kaya gitu cuman disuruh nganter jemput doang. Suruh lamar giihh buruan biar dia enggak disamber orang." balas Rima tak mau kalah.
"Samber-samber, emang Taki jemuran maen samber aja!" Malika menggerutu.
"Ceileeehhh, yang segitunya enggak terima babang tamvannya dibilang begitu! Lo naksir dia kan lo, ngaku deh lo!!!" Rima menuding-nuding Malika dengan pisau kecil yang sedang dipegangnya untuk mengupas timun sebagai lalap-an.
"Apaan sih, serem amat sih lo!" Malika mundur-mundur.
Tak berapa lama, makan malam pun siap. Malika memanggil para pria untuk segera duduk di meja makan. Dan Malika tampak heran ketika melihat kedua anak lelakinya yang sudah begitu lengket dengan Taki.
Bahkan saat di meja makan, kedua balita yang sama-sama berumur tiga tahun itu rebutan untuk duduk di sebelah Taki. Alhasil Taki jadi harus duduk di tengah-tengah antara Leo dan Reo agar mereka tidak saling berebut lagi.
"Yang sabar ya, Chef! Namanya juga anak-anak!" ujar Rima.
"Biar punya pengalaman dibuat rebutan anak kecil, enggak cuman dibuat rebutan cewek-cewek aja!" goda Satria pada Taki.
Mendengar hal itu Malika otomatis memasang tampang juteknya. Entah kenapa dia jadi kesal mendengar Taki diperebutkan para wanita meski hal itu sebenarnya lumrah-lumrah saja mengingat visual Taki yang mirip aktor Jepang Takeshi Kaneshiro itu.
Taki yang melihat ekspresi kesal di wajah Malika pun jadi terbawa perasaan dan berharap Malika cemburu padanya. Karena cemburu tandanya cinta. Taki berharap Malika mempunyai perasaan yang sama dengannya.
Sejak saat itu, Taki selalu menjemput Malika setiap pagi dan mengantar Malika pulang di sore harinya. Dan setiap hari pula, selalu saja ada buah tangan yang dibawakan Taki untuk anggota keluarga Malika, tidak terkecuali Mbak Tiya.
Ketika Malika memutuskan berangkat lebih pagi untuk menghindari Taki menjemputnya, esoknya Taki akan menjemput wanita itu lebih pagi dari pada sebelumnya.
Karena merasa kasihan pada Taki yang nekat menjemputnya pagi-pagi sekali, Malika akhirnya menyerah dan mau untuk diantar jemput oleh bosnya itu.
Dan hal itu terus berlangsung cukup lama hingga dalam sebuah perjalanan pulang, Malika mulai protes tentang niat Taki untuk mengantar jemput Malika kerja setiap hari.
"Aku enggak enak diomongin temen-temen di toko. Dikira aku ngerayu kamu lah. Lagian kaya aku enggak punya kendaraan sendiri aja sampai harus nebeng kamu?" protes Malika.
Sebenarnya dia tahu desas desus itu, dan Zacky juga sudah memperingatkannya akan imbas dari gunjingan itu terhadap Malika. Tapi Taki tetap tidak akan melepaskan Malika hanya karena gosip yang tidak jelas juntrungannya.
"Ya enggak bisa gitu dong! Emang, hubungan kita apa sampai harus pulang pergi bareng?" Malika masih tidak terima.
"Kamu amnesia ya? Kita kan satu tempat kerja! Berarti kita temen kerja." sahut Taki santai.
"Ya tapikan enggak sedekat itu sampai harus pulang pergi bareng!" Malika kembali menyahut.
Dan Taki pun langsung tersenyum lebar mendengar omongan Malika barusan. Malika yang tersadar akan kesalahannya buru-buru menutup mulutnya.
****** gue! rutuk Malika. Nih orang pinter banget ngambil celah dari omongan gue, bisa-bisa entar gue kalah omong lagi. Aarrgghhh, sialan!!!
"Ya kalo kamu pengen hubungan kita jadi deket sih, aku enggak masalah!" balas Taki dengan menaik turunkan alisnya beberapa kali.
Naahhh, kaannnnn!!!! Malika seakan ingin menjambak-jambak rambutnya sendiri setelah menyadari kebodohannya.
"Maksud aku enggak harus gitu juga!" Malika jadi bingung sendiri menghadapi bosnya yang satu ini.
Taki tiba-tiba membelokkan mobilnya di sebuah taman kota yang kebetulan mereka lewati.
"Loh kok kita ke sini?" tanya Malika heran saat tahu Taki memarkirkan mobilnya di lahan parkir sebuah taman.
Taki diam saja, tak menjawab pertanyaan Malika barusan. Kali ini ia ingin bicara serius berdua saja dengan Malika, dan untuk itu ia harus fokus dan tenang ketika melakukannya. Bukan sambil menyetir.
"Kenapa? Kamu enggak mau deket sama aku?" tanya Taki setelah mematikan mesin mobilnya.
__ADS_1
"Kalo deket cuma sebatas temen aja sih enggak masalah!" jawab Malika.
"Kalau lebih dari itu?"
"Kalau lebih dari itu aku enggak bisa."
"Kenapa?" Taki mengangkat sebelah alisnya.
"Karena aku udah janji sama diri aku sendiri untuk mengutamakan anak-anak aku."
"Berarti kalo aku bisa buat kamu tetap memprioritaskan anak-anak meskipun hubungan kita lebih deket dari sekedar pertemanan, aku punya kesempatan kan?"
"Ya Ampun, udah deh. Jangan bikin ge er terus kenapa sih?"
"Ya bagus kalau kamu ge er berarti perhatian aku nyampe ke kamu!"
"Maksudnya apa ngomong gitu?"
"Maksudnya itu, aku suka sama kamu, Malika! Dan aku maunya kita bisa deket dalam hubungan yang lebih serius!"
Malika melongo seketika. "Kamu jangan becanda deh, masa kamu suka sama aku yang janda beranak dua ini? Kamu tuh pria sempurna, sementara aku bukan siapa-siapa, Taki!
Taki mendengus. "Aku enggak se-sempurna yang kamu kira, Malika! Aku manusia biasa, aku ini enggak sempurna!"
"Walaupun kamu ngomong gitu, tetep aja di mata orang lain kamu itu sempurna. Dan aku, cuman janda cerai beranak dua. Seorang single parent yang membanting tulang demi anak. Dilihat dari sudut pandang manapun, aku tuh enggak pantas buat kamu, Ki!" Malika meng-under estimate-kan dirinya sendiri di hadapan Taki.
Taki mendengus lebih keras. Dan dengan terpaksa Taki lalu menceritakan perihal apa yang selama ini dideritanya kepada Malika.
Tentang kecelakaan yang pernah dialaminya hingga ia sempat koma dan menjalani pengobatan di Jepang selama berbulan-bulan. Dan efek dari pengobatan itu adalah ketidak mampuannya memiliki anak.
"Aku mungkin tidak akan bisa punya anak! Makanya aku juga sempet kepikiran untuk tidak menikah selamanya.Tapi setelah aku ketemu kamu, aku sadar kalau cinta enggak pandang bulu, sekalipun aku udah janji untuk tidak menikah, tapi yang namanya cinta akan tetap hadir pada waktunya."
Malika terdiam. Pikirannya campur aduk. Tapi yang mendominasi di antara macam-macam perasaan dalam benaknya adalah rasa trenyuh setelah mendengar ketidak sempurnaan Taki.
"Awalnya aku cuman penasaran sama kamu, tapi setelah mengenal kamu lebih dalam, mengenal anak-anakmu, aku jadi ingin memiliki kalian. Aku ingin jadi bagian dari kalian." ungkap Taki.
Malika merasa sesak di dadanya melihat wajah pria di hadapannya itu berubah sendu, seolah ia ingin memeluk tubuh pria itu dalam dekapannya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja meski pria itu tidak sempurna.
Entah kenapa meski baru saja Taki mengungkapkan ketidak sempurnaannya, justru di mata Malika, pria itu nampak lebih menawan lebih dari pada sebelumnya.
"Tapi aku juga takut setelah kamu tahu tentang ketidak sempurnaanku, kamu malah langsung menolak aku. Makanya aku mikir-mikir sampai sekarang." Taki menunduk.
Seketika hati Malika bagai diremas-remas, ia tak menyangka sedalam itu perasaan Taki padanya.
"Setelah bercerai, aku juga berjanji pada diri sendiri untuk tidak menikah lagi dan hidup hanya untuk anak-anakku. Tapi sama sepertimu, aku juga enggak bisa mencegah perasaan tertarikku ke kamu. Dan sekarang, setelah tahu keadaan kamu begini, dan perasaan kamu yang sampai seperti ini, enggak tahu kenapa aku malah semakin merasa kamu itu pria yang baik, Taki. Trus aku mesti gimana?" suara Malika bergetar menahan sesak di dadanya.
Taki meraih kedua tangan Malika lalu menggenggamnya erat. "Kalau gitu terima aku, Malika. Jadikan aku suamimu, jadikan aku ayah dari anak-anakmu dan menikahlah denganku!" Taki berkata dengan sungguh-sungguh.
.
.
.
To Be Continue....
__ADS_1