SEJUTA CINTA

SEJUTA CINTA
AMNESIA MENDADAK (3)


__ADS_3

 


Esok paginya, Lyra terkejut setengah mati saat sosok Max tiba-tiba sudah berdiri di balik pintu apartemennya ketika Lyra baru saja membuka pintu itu.


"Demi Tuhan, Max. Niat sekali kau ingin membuatku jantungan sepagi ini," pekik Lyra.


"Maafkan aku, Ly. Aku tidak bermaksud mengangetkanmu. Sungguh," balas Max penuh penyesalan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.


"Lalu apa maksudmu?" bentak Lyra masih kesal.


"Aku bermaksud mengantarmu ke tempat ibumu," jawab Max pelan.


Lyra mengernyit, "Kenapa?"


"Karena aku sedang libur sama sepertimu— dan aku tidak tahu harus melakukan apa— dan aku ingat kau akan pergi— jadi kuputuskan untuk mengantarmu." Kalimat-kalimat Max yang terseret-seret itu terdengar sangat mencurigakan di telinga Lyra.


"Kenapa kau korbankan waktu liburmu yang berharga hanya untuk mengantarku menemui ibuku?" Lyra memiringkan kepalanya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Waktu berharga apa? Omong kosong! Waktu liburku biasa-biasa saja." Max mencoba berdalih.


"Bagaimana dengan resep barumu?" sanggah Lyra.


"Sudah sempurna, tinggal memasukkan ke dalam buku menu terbaru bulan depan," balas Max cepat.


"Bagaimana dengan si Nona Model Go Internasional?" Lyra lagi-lagi berusaha memberikan Max alasan untuk tidak ikut.


"Melody? Entahlah, aku tak tahu. Dia belum menghubungiku sejak semalam." Max menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum aneh.


Lyra menyipitkan matanya yang nampak sedang memindai sesuatu dari sahabatnya itu. Membuat Max memundurkan tubuh bagian atasnya sedikit kebelakang.


Sial!!! pikir Max. Kenapa di saat seperti ini kepekaan Lyra jadi sensitif sekali, rutuknya dalam hati.


"Oh, ayolah, Ly. Kumohon ijinkan aku mengantarmu! Aku benar-benar bosan dan tak tahu harus melakukan apa," paksa Max. "Aku janji tidak akan menyulitkanmu. Aku janji akan jadi anak baik," rengek pria itu lagi sambil mengangkat sebelah tangan sebagai tanda sumpahnya.


Akhirnya Lyra mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, "Baiklah, baiklah, kau boleh mengantarku ke tempat ibuku."


Dan Max pun menyeringai saangaaattt lebar menerima kepasrahan Lyra.


***


Tapi pada akhirnya, Lyra teramat menyesali keputusannya kala itu. Karena beberapa jam kemudian, mereka berdua bukannya tiba di rumah ibu Lyra yang menjadi tujuan awal perjalanan mereka, melainkan malah berakhir di Unit Gawat Darurat sebuah Rumah Sakit Umum.


Rumah Sakit Umum yang terdekat dari tempat lokasi kecelakaan yang mereka berdua alami dalam perjalanan menuju ke rumah ibu Lyra.


Entah di jalan tol kilometer keberapa, Lyra tak begitu mengingatnya, ketika sebuah truk tiba-tiba muncul dari arah depan, mengambil jalur yang salah dari yang seharusnya dilalui truk itu, hingga mengejutkan Max yang sedang tampak mengemudi tetapi sepertinya pikirannya sedang entah kemana.


Max terkesiap melihat kedatangan truk itu yang secara tiba-tiba, dan refleks berusaha menghindari truk itu dengan membanting stir ke kiri, hingga akhirnya membuat mobil Max menabrak salah satu pohon di pinggir jalan.


Beruntung Lyra hanya terbentur pada dashboard di depannya, meski keras namun tak ada luka terbuka di kepalanya. Hanya luka memar yang langsung terlihat membiru dan menonjol. Namun, tidak demikian dengan Max.


Kaca mobil di depan kursi pengemudi tempat Max duduk pecah akibat benturan keras pada batang pohon. Dan sebagian besar pecahan kacanya masuk ke dalam mobil dan mengenai Max di kursi kemudi.


Lyra ingat saat dirinya mencoba mengembalikan kesadarannya setelah benturan keras itu. Hal pertama yang dilihatnya adalah posisi kepala Max yang bersandar pada stir kemudi, dengan darah yang merembes dari bagian depan kepalanya, dan mata yang tertutup rapat.


"Tidak, tidak, tidak— MAX!!! Kumohon, bangunlah! MAX!!! panggil Lyra pada pria yang tak sadarkan diri itu.


Dan semuanya terjadi begitu cepat. Entah siapa yang menelpon Ambulance hingga mobil itu datang tak lama setelah orang-orang membantu mengeluarkan Max dari mobil nahasnya.


Dengan berlinang air mata, Lyra ikut naik ke dalam Ambulance yang membawa mereka ke Rumah Sakit terdekat.

__ADS_1


Sambil terus menyesali keputusannya yang telah mengizinkan Max untuk mengantarnya hari ini, Lyra terus saja mencoba berbicara pada Max dalam ketidaksadaran pria itu.


"Kumohon, Max! Bangunlah! Aku tak mau kehilanganmu! Sadarlah, Max! Jangan tinggalkan aku seperti ini, ini tidak adil untukku." Lyra memohon-mohon disamping tubuh Max yang terbaring di dalam Ambulance.


Dan kini, setelah mereka memasukkan Max ke dalam ruang Unit Gawat Darurat, Lyra hanya diperbolehkan menunggu di depan ruang UGD itu setelah dirinya mendapatkan perawatan atas memar di dahinya.


Detik berlari, menit berlalu, dan jam pun mulai berganti. Tapi Lyra masih belum mendapatkan kabar terbaru mengenai kondisi Max. Bahkan para dokter dan suster yang menangani Max belum ada satu pun yang keluar dari pintu UGD itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Max?" Lyra bertanya-tanya dalam kekhawatiran yang menusuk-nusuk relung hatinya.


Ketika Lyra hampir putus asa menunggu, seorang suster tiba-tiba keluar dari pintu yang rasanya ingin sekali Lyra dobrak sejak tadi.


"Permisi, apakah anda kekasih pasien?" tanya suster itu kepada Lyra yang malah melongo mendengarnya. "Beliau menanyakan kekasihnya sebagai orang yang akan mengurus segala administrasinya di Rumah Sakit ini."


What the...???? Setelah dirinya yang telah cukup lama menahan nyeri di dada karena rasa khawatir yang berlebihan, ternyata si Max Sialan itu malah menanyakan si Rubah Pelakor—kekasihnya, dari pada sahabatnya ini, yang mengalami kecelakaan bersama pria itu? Apa-apaan ini? pikir Lyra tidak terima.


"Memangnya si Tuan Korban itu tidak bisa menyebutkan nama kekasihnya sendiri hingga suster yang harus menanyakannya pada saya?" Lyra malah balik bertanya dengan ketus, membuat si suster jadi tak enak hati.


"Benar, Nona. Korban tidak dapat menyebutkan nama kekasihnya karena beliau mengalami gejala amnesia," jawab suster itu takut-takut.


Dan seketika mulut Lyra ternganga dengan mata yang melotot seakan bola matanya hampir keluar dari kelopaknya.


"Apa? Benarkah?" Lyra begitu shock hingga tubuhnya jatuh terduduk di kursi yang sedari tadi ditempatinya selama menunggu di depan pintu UGD.


"Jika anda tidak yakin, anda bisa memastikannya langsung dengan dokter di dalam. Anda juga sudah boleh masuk kedalam untuk melihat langsung keadaan pasien, Nona," tawar si suster.


Mendengar tawaran itu, Lyra langsung berdiri lagi, dan melangkah untuk memasuki ruang UGD yang pintunya sudah dibukakan oleh si suster.


Di dalam sana Lyra melihat Max dengan kepala berbalut perban putih sedang duduk di atas ranjang pasien dengan kaki diselonjorkan.


"Max," panggil Lyra lirih.


Max yang awalnya sedikit menundukkan kepala entah sedang memikirkan apa, jadi mendongak melihat ke arah Lyra yang baru muncul di ruangan itu.


Lyra tak segera menjawab pertanyaan absurd Max, tapi Lyra malah bertanya pada dokter yang menangani Max. "Dia kenapa, Dok?" tanya Lyra pada dokter yang berdiri tak jauh dari ranjang pasien Max.


"Sepertinya korban mengalami Amnesia Disosiatif. Amnesia ini hanya menghilangkan sebagian ingatan korban, tidak seluruhnya, dan ini jenis amnesia yang biasanya muncul dari para korban kecelakaan dengan cidera kepala yang mengakibatkan trauma," jelas Dokter.


"Apa Max hanya lupa pada kekasihnya saja?" tanya Lyra lebih lanjut.


"Dalam kasus ini sepertinya memang begitu. Kami sudah berusaha mengkonfirmasi informasi pribadi korban secara detil. Dan hampir semuanya terjawab dengan benar. Tapi hanya nama dan informasi tentang kekasihnya saja yang korban tidak ingat." beber Dokter.


"Kau benar-benar tidak ingat siapa kekasihmu Max?" tanya Lyra dengan menatap lurus pada pria tampan yang sedang terluka itu.


"Apa kau tahu, Ly?" Max malah balik bertanya.


"Kau bilang akan menikahi wanita itu meski kau belum melamarnya. Apa kau sungguh-sungguh tidak ingat?" Lyra bertanya sekali lagi.


"Tidak. Siapa wanita itu, Ly? Katakanlah!" tanya Max frustasi.


Lyra diam sejenak. Terlihat memikirkan sesuatu yang sangat serius. Sesuatu yang mungkin dapat merubah segalanya. Termasuk sesuatu yang bisa menyelamatkan Max dari Rubah Pelakor itu.


"Aku," jawab Lyra kemudian.


"Hah? Apa?" Max seolah tak mendengar.


"Kubilang aku kekasihmu, Max. Apa kau tidak dengar?" Lyra berkata dengan lebih lantang.


"Kau? kekasihku?" tanya Max.

__ADS_1


Lyra mengangguk perlahan tapi penuh keyakinan.


"Kau? Adalah wanita yang akan kunikahi?" Max bertanya lagi masih dengan ekspresi penuh keraguan.


"Iya, Max. Aku. Lyra Rampal. Apa kau sudah ingat?" tanya Lyra tegas.


"Aku ingat siapa kau, Ly. Tapi aku sama sekali tidak ingat bahwa kita berkencan." Max berkata pelan.


"Tidak apa-apa. Kita bisa buat memori yang baru untukmu," jawab Lyra enteng sambil tersenyum.


Max hanya melongo mendengar pengakuan Lyra yang nampak begitu meyakinkan. Tapi apakah dirinya tidak sedang bermimpi, tanya Max dalam hati.


Baru saja terbangun dari pingsan dengan kepala yang luar biasa sakit lalu mengetahui bahwa wanita yang selama ini dia cintai mendadak menjadi kekasihnya.


Max tersenyum sendiri sambil membayangkan masa depannya yang sepertinya bakal menarik.


***


Keesokan harinya.....


Setelah diharuskan menginap semalam di Rumah Sakit, esoknya Max sudah diizinkan pulang.


Dokter berpesan agar Max istirahat total dan demi mengembalikan ingatannya dengan cepat, Max harus berada dalam lingkungan yang sangat tenang dan nyaman.


Sepulang dari Rumah Sakit, Lyra buru-buru mengantar Max ke rumahnya, mengepak sebagian baju-bajunya dan mengurus keperluan lain pria itu layaknya seorang kekasih yang sesungguhnya.


"Ponselmu hilang entah kemana saat kecelakaan itu, mungkin terjatuh di mobilmu yang rusak berat. Entahlah," lapor Lyra pada Max.


Dalam hal ini Lyra bersyukur atas hilangnya ponsel Max, karena dengan begitu Melody tidak akan dapat menjangkau Max selama beberapa hari.


"Kalau kau butuh menghubungi seseorang, kau bisa pakai ponselku," tawar Lyra.


"Tidak. Tidak perlu. Seseorang yang membutuhkanku masih bisa meninggalkan pesan di telepon apartemen ini. Aku akan mengeceknya setelah kita pulang dari liburan bedrestku nanti," jawab Max santai.


"Baiklah, aku sudah menghubungi semua bistromu dan mengatakan jika kau akan libur untuk beberapa hari, jadi tenang saja. Semua sudah kuselesaikan," ucap Lyra.


"Kau benar-benar melakukan semua tugas seorang kekasih dengan benar, Ly," puji Max yang membuat jantung Lyra berdegup karena rasa bersalahnya akibat telah membohongi sahabatnya itu.


Namun yang diperlihatkan oleh Lyra didepan Max adalah sebuah senyuman yang menenangkan untuk seorang Max Fherem.


"Kau tidak apa-apa berlibur denganku, Ly? Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Max.


"Tenang saja, Max. Semalam saat kita harus menginap di Rumah Sakit, aku sudah menelpon HRD untuk mengambil cuti tahunanku selama tiga hari. Jadi semuanya sudah beres." jawab Lyra santai.


"Lalu kemana kau akan membawaku?" tanya Max sambil masuk ke sebuah taksi online yang sudah terparkir di depan lobi apartemennya.


"Kau akan tahu sendiri nanti," jawab Lyra penuh rahasia sambil mengedipkan sebelah matanya.


Dan di sinilah mereka berdua sekarang. Di sebuah Villa pribadi milik Lyra yang diwariskan oleh mendiang ayahnya yang seorang aktor dan model kenamaan di era delapan puluhan.


Villa yang terletak di kaki dan lereng pegunungan dan berada pada ketinggian rata-rata tujuh ratus hingga dua ribu meter di atas permukaan laut, membuat suhu udara di lingkungan sekitar villa mencapai sebelas hingga sembilan belas derajat celcius.


Lyra masih mengingat dengan jelas ketika dokter mengatakan bahwa ingatan Max akan kekasihnya yang hilang saat ini bisa saja muncul lagi secara tiba-tiba.


Jadi Lyra berpikir untuk menyembunyikan Max sementara waktu dari gangguan si Rubah Pelakor—Melody Lynn, hingga dirinya mempunyai kesempatan untuk membeberkan bukti perselingkuhan Melody dengan Dylan.


"Ini dimana, Ly?" Max memutar kepalanya yang masih terbalut perban untuk memindai keseluruhan area yang asing baginya itu.


Lyra nampak sedang memasukkan kunci pintu ke dalam lubang, lalu dengan ceria menyambut Max yang baru pertama kali mengunjungi Villanya itu.

__ADS_1


"Selamat datang di villa pribadi milikku," sambut Lyra sambil membuka pintu dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


***


__ADS_2