SEJUTA CINTA

SEJUTA CINTA
MOVE ON (8)


__ADS_3

***


@Rumah Rima,


Malika bergegas pulang ke rumah sepupunya itu untuk membagi kabar baik yang diterimanya hari ini.


"Rimaaaaa!!!" teriak Malika dari arah teras sesaat setelah ia memarkir motor serta membuka helmnya.


Rima yang tergopoh keluar dengan rasa khawatir setelah mendengar teriakan Malika pun mengira telah terjadi sesuatu pada sepupunya itu.


"Apaan sih lo dateng-dateng teriak-teriak gitu??!! Anak-anak lagi pada tidur siang tauk!" omel Rima sambil menepuk pundak Malika saat ternyata tidak terjadi apa-apa yang mengkhawatirkan pada sepupunya.


" Niiihhh liat!!! Gue udah teken kontrak kerja di PANKEKI BAKERY!!!" seru Malika girang.


"Serius??? Mana-mana coba liat kontraknya???" pinta Rima.


Malika pun lalu menyodorkan salinan kontrak kerja yang telah di tanda tanganinya dengan Taki tadi.


Rima membaca kontrak itu sambil menutup mulutnya yang tak bisa berhenti menganga saking senangnya.


"Gilaaa, keren bangeeett lo, Buk!!! Bangga gue jadi sepupu lo!" pekik Rima.


"Coba liat gajinya deh!" seru Malika sambil membuka lembar rincian gaji yang akan diterimanya.


Dan Rima sampai melongo melihat angka-angka yang tertera di sana, "Emang yaa, kalo kerja di tempat bonafide tuh, gajinya juga enggak maen-maen. Sumpah gue ikutan seneenngg, Buk! Rejeki lo sama anak-anak iniii!" pekiknya senang.


Dan keduanya pun lalu berpelukan sambil melompat-lompat dengan riangnya.


***


Setelah resmi diterima bekerja di PANKEKI BAKERY, Malika merasa perlu membua jadwal khusus untuk open order jualan onlinenya.


Dirinya sadar, ia tidak mungkin bekerja sambil terus berjualan online setiap harinya. Itu sama saja membunuh dirinya pelan-pelan.


Ia harus bisa mengatur waktunya dengan baik. Kapan harus bekerja, kapan harus mengurus anak, kapan harus berjualan, dan kapan waktunya istirahat.


Sebenarnya Malika bukanlah wanita yang serakah hingga merasa harus tetap melanjutkan berjualan online demi uang bahkan setelah dirinya diterima kerja di toko roti terkenal. Apalagi mengingat gajinya di PANKEKI BAKERY yang begitu memuaskan.

__ADS_1


Tapi Malika hanya memikirkan kebutuhan para pelanggannya saja. Sejauh ini, pelanggannya sudah cukup banyak. Dan jika dia tiba-tiba berhenti berjualan untuk seterusnya, seakan ia telah mengecewakan semua pelanggannya itu.


Apalagi Malika ingat bagaimana susahnya ia membangun kepercayaan kepada para pelanggannya, bagaimana napak tilas perjuangannya berjualan online dari nol.


Yang awalnya hanya menerima satu sampai dua pesanan saja dalam sebulan. Hingga akhirnya pelanggannya terus bertambah, dan pesanan yang masuk pun terus naik sampai lima hingga enam pesanan per minggunya.


Oia, gue lupa izin ke Pak Zacky atau Pak Taki, apa gue masih boleh jualan online bahkan setelah gue kerja di PANKEKI ya? Malika bertanya-tanya sendiri. Apa gue open ordernya setelah gue ngomongin ini ke mereka berdua aja ya? Pikir Malika lagi.


Dan setelah mempertimbangkan segala resiko serta konsekuensi, akhirnya ia memutuskan untuk membicarakan hal itu lebih dulu pada bos besarnya.


Sedangkan soal pengasuhan si kembar kepada Rima, ia pun sudah membicarakannya lebih lanjut. Dan setelah melewati perdebatan panjang nan alot di antara kedua saudara sepupu itu.


Mereka akhirnya bertemu pada satu keputusan yaitu, Malika akan memperkerjakan seorang asisten rumah tangga di rumahnya sendiri namun di bawah pengawasan Rima.


Walaupun Rima awalnya menolak keras, tapi karena suatu alasan yang masuk akal yang dibuat Malika, hingga ia akhirnya menyerah pada keputusan sepupunya itu.


"Ngapain sih, Buk! Pake ambil asisten rumah tangga segala. Gue tuh masih bisa jagain anak-anak sendirian." omel Rima.


"Denger ya Tantee...gue tahu gimana rempongnya ngurus anak balita kembar dua, mana anaknya aktif semua lagi, belum lagi elo enggak ada asisten rumah tangga. Kalo lo terus-terusan kecapekan dan stress gara-gara ngurusin anak gue, gimana sama program kehamilan lo? Gue tuh mikirin elo, Tantee!" jelas Malika.


Dan karena Malika sampai meminta dukungan dari Satria—suami Rima atas keputusannya itu, alhasil kali ini mau tidak mau Rima pun menyerah kalah dan menurut atas keputusan yang sudah diambil oleh Malika.


***


Yaah, walaupun tidak semua staff yang sudah bekerja lebih dulu di toko itu menerimanya dengan baik. Contohnya si Indri—asisten Chef Taki, walaupun tidak bekerja di satu divisi yang sama dengan Malika tapi kentara sekali jika wanita itu sangat tidak suka pada Malika.


Terbukti beberapa kali dia sengaja pergi saat Malika ingin nimbrung makan siang bersama di ruang makan karyawan. Seakan-akan Indri tidak ingin Malika dekat-dekat dengannya, tidak ingin menghirup oksigen yang sama dengannya.


"Enggak usah di ambil hati, Malika! si Indri mah emang gitu orangnya, suka sok senior mentang-mentang yang paling lama kerja di sini." ujar Ratna---teman satu divisinya Malika yang sama-sama asistennya Chef Nanda.


"Iyaa, udah...biarin aja dia! Entar kalo ada maunya pasti dia baik-baikin elo sendiri. Indri kan terkenalnya bermuka dua dari dulu!" tambah Sofie---masih teman satu divisinya Malika yang juga asistennya Chef Nanda.


"Gue heran ya ama itu orang, kalo mukanya dua gitu emang biaya perawatannya sebulan enggak mahal apa? Gue yang punya muka cuman satu aja bisa sampe ratusan ribu sebulan!" celetuk Ratna melucu.


Dan ketiganya jadi tertawa ngakak mendengar ocehan Ratna yang absurd itu.


Malika yang tahu diri pun akhirnya memilih mengalah menghadapi orang-orang yang tidak welcome padanya. Ia tetap ramah pada semua orang meski tidak semua orang membalas keramahannya.

__ADS_1


Tujuannya bekerja di PANKEKI BAKERY ini hanya satu. Demi anak-anaknya. Dan alasan itu sudah cukup bagi Malika untuk bertahan dari kesulitan apapun yang akan dihadapinya.


Hal itu membuat Malika begitu menikmati pekerjaannya. Ia pun selalu bekerja dengan sungguh-sungguh. Membuat Chef Nanda dan kedua asisten lainnya merasa beruntung memiliki Malika dalam Tim mereka.


Tak hanya pekerjaan mereka semakin lancar tapi Tim mereka pun semakin solid. Malika belajar dengan baik dari Chef Nanda dan kedua seniornya. Ia pun tidak pernah mengeluh dan selalu ceria. Membuat Timnya selalu ketularan keceriaan Malika.


Namun diam-diam itu justru membuat iri seorang Taki Sahara. Entah kenapa ia juga jadi ingin dekat dengan Malika. Tapi di sisi lain di sudut hatinya, ingatan akan ketidak sempurnaannya sebagai seorang pria kembali menghantui.


Namun Taki makin penasaran saat dirinya menyadari bahwa Malika seperti sengaja menghindarinya. Kecuali saat hari pertama wanita itu mulai bekerja.


Malika yang begitu datang ke toko langsung menghadap dirinya dengan gamblang meminta izin untuk tetap berjualan online walaupun hanya seminggu sekali.


Alasan yang dikemukakan oleh Malika pun lagi-lagi membuat Taki dan Zacky tidak bisa tidak mengizinkan wanita itu untuk terus melayani permintaan pelanggannya sendiri.


"Sebenarnya di surat perjanjian kontrak kerja kemarin memang tidak ada larangan untuk kamu terus berjualan online sih, jadi saya rasa tidak apa-apa. Bagaimana dengan Chef Taki?" Zacky meminta pendapat bosnya itu.


"Dengan syarat, kamu tidak boleh berjualan cake yang memakai resep milik PANKEKI karena semua resep di sini sudah di patenkan!" ujar Taki dengan nada serius.


"Saya mengerti, Pak! Saya tahu konsekuensinya mengkomersilakan secara diam-diam sesuatu yang telah dipatenkan. Lagipula, dari segi harga jual saya, saya hanya mampu memakai bahan-bahan dengan kualitas menengah, tentunya jauh berbeda bila dibandingkan dengan bahan-bahan premium yang dipakai di PANKEKI!" jelas Malika dengan tak kalah tegasnya.


Alasan yang masuk akal itulah yang akhirnya membuat Taki mengizinkan Malika meneruskan jualannya.


Lagi pula dengan tersitanya sebagian besar waktu Malika untuk bekerja di PANKEKI, maka bisa dipastikan wanita itu hanya bisa menerima orderan setidaknya seminggu sekali ketika hari liburnya tiba.


Dan setelah percakapan itulah, Malika tak lagi bicara ataupun bertatap muka dengannya. Taki merasa galau. Ia gelisah setiap kali melihat Malika ber-ramah tamah dengan orang lain sementara dengan dirinya sendiri wanita itu nampak terus saja menghindar.


Padahal yang Taki tidak ketahui adalah fakta bahwa Malika sengaja menghindarinya karena Malika takut akan tertarik lebih dalam pada pria itu.


Karena setiap Malika menatap sosok Taki, seakan sesuatu telah terjadi dalam hatinya. Malika menganggap bahwa Taki adalah orang yang paling sempurna yang pernah dia temui selama hidupnya.


Tegas, Baik, Kaya, dan Tampan. Seolah tidak ada secuil pun cela dalam diri pria itu. Dan Malika justru takut akan perasaan itu. Ia tidak mau mempunyai perasaan apapun lagi pada seorang pria terlebih lagi pada suami orang. Karena selama ini Malika masih menganggap Taki sebagai suami Niky—salah seorang pelanggannya.


Alasan lainnya bagi Malika untuk mencegah dirinya memiliki perasaan khusus terhadap seorang pria adalah karena tekadnya yang hanya mendedikasikan hidup untuk kedua anaknya.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue ....


__ADS_2