SEKUNTUM

SEKUNTUM
BAB. 11. Telepati?


__ADS_3

Telepati?


Pagi hari ini Kia berangkat bersama Kio suasana sekolah seperti biasa tidak ada yang berubah. Kia menatap bosan halaman sekolah yang sedang ramai dengan guru dan murid yang lalu lalang.


"Kio ke kantin dulu yuk" ajak Kia.


"Ngapain?" Tanya Kio heran karena tidak biasanya Kia mengajaknya ke kantin pada pagi hari.


"Mau beli minum haus" ucap Kia sambil memegang tenggorokannya.


"Nih" ucao Kio menyerahkan botol minumannya ke Kia.


"Tapi?"


"Minum aja udah" ucap Kio memaksa.


"Hm makasih Kio" ucap Kia lalu langsung minum.


"Gue ke kelas ya, belajar yang bener sana" ucap Kio lalu pergi menuju kelasnya.


Kia memandang kepergian Kio dengan senyuman, sambil memegang erat botol minum milik Kio.


Deg deg


"Kenapa hati ini harus begini? Kia takut kalau rasa ini merusak segalanya" batin Kia.


Lama berdiri di depan kelas akhirnya Kia memutuskan untuk masuk kedalam menunggu guru datang.


Setelah lama dikelas akhirnya istirahat Kia bosan menatap papan tulis yang sudah penuh dengan coretan coretan karya guru yang tadi mengajar.


"Lapar" omong Kia sambil memegang perutnya.


"Kio kesini dong temenin ke kantin" omong Kia asal sambil menyenderkan kepalanya di mejanya.


Merasa terlalu lemas untuk bangun.


"Hoi" suara yang sangat Kia kenali mengejutkannya.


Kia langsung bangun mencari sumber suara tersebut.


"Ngapain nyuruh gue ke sini?" Omong Kio sambil menatap Kia.


"Ki..Kio.. kok bisa ada di sini?" Tanya Kia heran, karena biasanya dia akan berada di ruanh osis.


"Kan tadi kata kamu suru ke sini" ucap Kio sambil memeninkan alisnya.


"Kio kamu punya kekuatan untuk telepati?" Tanya Kia polos.


"Hahaha mana ada kaya gituan si lo kaya bocah aja" ucap Kio sambil tertawa.


"Ya habis, aku ngomong datang lo muncul beneran" ucap Kia sambil cemberut.

__ADS_1


"Hahaha gue rindu lo si jadi maunya ngeliatin lo mulu" ucap Kio asal.


"Apaan si gombalan lo gak mutu" Kia menanggapi.


"Gak mutu tapi merah pipinya, dasar ayo kekantin katanya lapar" ucap Kia sambil menarik tangan Kia agar bangun.


"Ih mana ada, emang cuacanya lagi panas aja makanya merah" ucap Kia tidak terima.


"Iye iya suka lo Ki" ucap Kio lalu menggandeng Kia mengajaknya berjalan ke kantin.


Kia hanya mendengus menanggapi Kio.


Mereka selalu menjadi bahan gunjingan antara teman teman Kia maupun Kio tapi Kia yang sudah mulai biasa dan Kio yang cuek abis membuat mereka kesal sendiri karena tidak bisa memisahkan Kia dan Kio.


"Mau makan apa?" Tanya Kio saat tiba di kantin.


"Apa aja deh ikut Kio" jawab Kia lalu pergi ke tempat duduk.


Kantin lumayan sepi hari ini, karena itu banyak tempat kosong jadi Kia bisa leluasa memilih tempat manapun yang dia inginkan.


"Nih makan" ucap Kio sambil membawa semangkuk baso.


"Kio slalu ngasih Kia makan baso, ntar kalo Kia gendut gimana?" Protes Kia.


"Mending gendut dari pada tepos" jawab Kio asal.


"Mending tepos dari pada lo tinggi kek tiang" Kia tidak terima.


"Huh" dengusan Kia saat melihat Kio mulai makan.


"Ki, ntar malam jalan yuk" ucap Kio tiba tiba saat selesai makan


"Kemana?"


"Ada deh ntar gue kasih tau" ucap Kio sambil mengedipkan matanya.


"Heleh kalau diajakin makan baso lagi ga mau, ntar gue gendut beneran" ucap Kia mencibir.


"Halah orang tiap hari gue juga yang beli makanan buat lo sok sokan gak mau"


"Gak mau ngalah banget si Kio, iye ntar malam gue bakal dandan yang cantik biar Kio terpesona sama Kia" ucap Kia sambil tersenyum bangga.


"Gausa dandan lo juga cantik"


Uhuk uhukk


Kia tersedak baso yang sedang dia makan.


"Eh ati ati, nih minum minum" ucap Kio khawatir sambil menepuk nepuk pundak Kia.


"Habisin dulu jangan banyak bacot" ucap Kio.

__ADS_1


"Hmm" Kia tidak menanggapi lagi lalu fokus ke makan.


Setelah menyelesaikan makan Kia dan Kio kembali ke kelas masing masing untuk belajar lagi.


Sampai bel pulang berbunyi, menandakan telah berakhirnya pelajaran hari ini.


Kia menunggu Kio di parkiran, karena Kio tidak ada rapat jadi dia menunggu langsung di parkiran.


"Kenapa ga nungguin di kelas aja?" Tanya Kio.


"Males ah lama cepetan nungguin di sini"


"Yaudah ayo pulang".


Kini mereka melaju untuk pulang, Kia tidak mempir ke runah Kio dia langsung pulang ke rumahnya untuk siap siap jalan ntar malam.


Sampai di rumah dia melihat mobil ayahnya sudah terparkir rapi di garasi menandakan kalau dia sudah pulang.


"Ayahh" teriak Kia memacari keberadaan Bram.


"Kenapa cantik" jawab Bram dari dalam kamar.


"Huu Kiaa kangen" ucapnya lalu berlari ke pelukanya.


"Ih tumben biasanya juga cuek cuek aja" tanya Bram penasaran.


"Hehe masa kangen ayah sendiri ga boleh" jawab Kia mencibir.


"Hahaha boleh sayang, Kio mana?" Bram tersenyum lembut sambil memeluk putri tercintanya.


"Di rumahnya"


"Oh yaudah sana, cepet mandi terus makan" ucap Bram ke Kia.


"Ayah masak?" Tanya Kia dengan mata berbinar.


"Ayah ga bisa masak Kia, ada Bibi yang masakin"


"Bibi udah balik? Katanya pulang kampung?"


"Bibi baru maksudnya."


"Ohh"


"Sana mandi kamu bau" ucap Bram memandang Kia.


"Siap kapten" ucao Kia lalu berbalik hendak ke kamarnya.


"Tapi Kia ga bau" Kia berbalik lagi sambil teriak ke ayahnya tidak terima.


Melihat kelakuan lucu putrinya dia hanya bisa tersenyum Kia memang tidak berubah tetap menjadi putri kecilnya yang manis.

__ADS_1


__ADS_2