
Tidak Bisa Marah
Hari ini Kia sekolah seperti biasanya, suasana hatinya sedang tidak enak tapi jauh lebih baik dia di sekolah dari pada diam di rumah malah jadi semakin kepikiran.
"Pagi ayah" ucanya ke Bram ceria.
Kia tidak ingin membuat Bram terlalu menghawatirkan dirinya seperti kemarin, apalagi Bram mengira dia kangen dengan Bundanya.
"Eh pagi, tumben pagi pagi udah rapi aja" ucao Bram sambil memandangi putrinya.
Kia hanya tertawa dengan kata kata Ayahnya, memang biasanya Kia tidak bisa bangun pagi, tapi sekarang Kia berusaha bangun pagi sendiri.
Mereka sarapan bersama dengan penuh nikmat.
"Kio kok ga kesini jemput kamu?" Tanya Bram tiba tiba di tengah makan Kia.
"Uhuk uhukk" Kia tersedak rotinya sendiri mendengar nama Kio.
"Pelan pelan ih" ucap Bram lalu mengambilkan air untuk Kia.
"Makasih yah" ucap Kia lega.
"Yah Kia berangkat duluan ya keburu kesiangan ntar dah yah" Kia mencoba menghindari pertanyaan Bram.
"Hei Ki kamu mau naik apa ke sekolah?" Tanya Bram sambil teriak karena Kia sudah pergi menjauh.
"Gampang yah dah" ucapnya lalu segera berlari keluar rumah.
Kio sendiri juga mengawali paginya seperti biasanya bangun pagi lalu siap siap ke sekolah.
"Kio udah gapapa?" Tanya Bela saat melihat Kio keluar dari kamarnya.
"Gapapa kok ma" ucap Kio lalu duduk di meja makan untuk sarapan.
"Papa mana ma?"
"Udah berangkat katanya mau ada rapat penting"
"Ohh"
Kio menikmati makanannya setelannya.
Melihat jam sudah mulai siang Kio memutuskan untuk berangkat sekolah.
"Ma Kio berangkat ya"
__ADS_1
"Kok buru buru"
"Udah siang ma, udah ya dah mama" ucao Kio mengecup kening Bela lalu berjalan pergi.
"Hati hati sayang" ucap bela lembut merasa heran dengan tingkah Kio.
Kio berjalan ke garasinya dia mengeluarkan mobilnya untuk berangkat ke sekolah.
Deg
Janting Kio berdetak dia melihat Kia juga baru keluar dari rumahnya tanpa Bram, Kia terlihat hendak berjalan keluar komplek.
Kio menghembuskan nafasnya lalu melakukan mobilnya perlahan menghampiri Kia.
Tinnn
Kio mengklaksonnya agar dia berhenti.
Kia sendiri terlihat terkejut melihat mobil Kio.
"Masuk Ki" ucap Kio akhirnya.
"Em gausah deh Kio.."
"Masuk Kia" suara Kio menjadi lebih berat.
Semarah apapun Kio ke Kia, Kia tetap bidadari kecilnya hatinya tetap tidak tega melihat Kia seperti itu.
Kio hanya diam sepanjang perjalanan begitu juga Kia. Mereka diam memiliki pemikiran masing masing.
Kio sebenarnya juga merasa bersalah karena kemarin dia membentak Kia, tapi dirinya juga bukannya salah dia kebawa emosi karena Kia juga, jadi dia akan meminta maaf kalau waktunya tepat dan Kia juga sudah mau berubah seperti dulu lagi.
Tak terasa mereka sampai disekolah tanpa sepatah katapun sepanjang perjalanan.
Kio diam di dalam mobilnya cukup lama, ingin bicara sama Kia, tapi melihat Kia yang terlihat gelisah dia mengurungkan niatnya.
"Makasih Kio" ucap Kia lalu segera keluar dari mobil Kio.
Kio hanya mengangguk lalu memandangi Kia yang berjalan menjauh.
Hati Kio sakit, dirinya tidak ingin kehilangan Kianya. Dirinya tidak bisa seperti ini.
"Ki gue akan berusaha supaya lo mau kaya dulu ke gue. Apapun bakal gue lakuin Ki karna gue sayang sama elo" ucap Kio
Kio menghembuskan nafas gusar lalu keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Dari kejauhan seseorang tengah mengamati mobil Kio sejak mula datang hingga Kio keluar orang itu hanya diam di tempat melihat apa yang sedang terjadi.
Vea tertawa getir melihat itu. Kenapa Kio masih saja peduli dengan Kia setelah kemarin mereka bertengkar hebat.
Menelan rasa kesalnya dia berjalan menghampiri Kio setelah melihat Kio keluar dari mobil setelah Kia.
"Hai Rio" ucap Vea sambil melambaikan tangan
Kio berjalan mengahampirinya sambil tersenyum.
"Hai" ucap Kio
"Kia mana?" Tanya Vea basa basi.
"Oh udah duluan tadi, katanya mau ada urusan dulu"
"Oh yaudah ayo ke kelas" ucap Vea langsung menggandeng tangan Kio.
Kio berusaha melepaskan gandengan itu dia terlihat tidak nyaman tapi Vea mempertahankan.
Akhirnya Kio diam ikut saja dengan Vea.
Karena para murid sudah mendengar gosip kalau mereka pacaran, mereka hanya diam melihat sambil merasa iri.
Kio tidak terlalu mendengar pembicaraan mereka karena masih berfikian tentang Kia.
Sampai di kelaspun masih banyak yang diam diam membicarakan Kio dan Vea, sepanjang perjalanan Vea tidak berhenti tersenyum apalagi dia bergandengan dengan Kio.
Tapi hal itu tidak berlaku untuk Kio karena hatinya hanya berisi Kianya.
Kio duduk mengeluarkan bukunya untuk mulai belajar dia sedikit mengabaikan Vea hari ini, dan itu membuat Vea kesal.
Vea diam diam melihat Kio dirinya bingung apa yang dimiki Kia dan tidak dimilikinya sampai sampai Kio enggan berpisah dengan dia.
"Rio.." panggil Vea.
"Hm kenapa Ve?" Tanya Kio langsung.
"Ntar siang gue mau dong main ke rumah lo"
"Mau ngapain?" Kio mengernyit heran karena tidak pernah membawa teman ke rumah selain Kia.
"Mau minta ajarin ngerjain soal matematika"
"Oh yaudah" Kio mengiyakan akahirnya.
__ADS_1
Vea tertawa bahagia mendengar jawaban Kio. Sedangkan Kio mengacuhkan Vea dia mulai membaca bukunya.