SEKUNTUM

SEKUNTUM
BAB. 7. Rusuh


__ADS_3

Rusuh


Kini Kia dan Kio sudah pulang dari area makam dan tengah menonton film di rumah Kio. Mereka berdebat sepanjang film mulai sampai selesai karena tidak terima dengan film tersebut.


"Hei Kia Kio jangan debat terus deh pusing mama dengerinnya" protes Bela mama Kio.


"Kia tuh ma" ucap Kio membela diri.


"Apaan enggak ya ma Kio itu yang berisik" ucao Kia tidak terima.


"Udah udah, jangan debat terus, mama mau ke luar ketemu teman sama papa, kalian dirumah aja ya jangan kemana mana" ucap Bela


"Iya mama" jawab Kia ceria.


"Kalau Kio ga mungkin ke mana mana si, gak tau tuh Kia" ucapnya sambil melirik Kia.


"Kioo.." Bela menatap tajam anaknya itu yang masih menggoda Kia.


"Ehehe iya ma iya" ucap Kio sambil meringis.


"Sukurin" bisik Kia lirih sambil terkekeh.


"Udah mama pergi dulu" omongnya lalu menghampiri suaminya.


Kini Kia dan Kio diam, benar benar diam untuk menonton filmnya tanpa keributan sebentar. Sebelum Kia tiba tiba lapar dan membuat kerecokan lagi.


"Kio" panggilan lirih.


"Hm apan?" Jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari film.


"Lapar" ucap Kia.


"Ya makan lah, masak ngomong ke gue" jawab Kio asal.


"Hm yaudah" Jawab Kia lalu pergi ke dapur untuk mencari makanan.


Saat melihat tudung saji di meja Kia mengira ada makanan ternyata hanya ada sebuah surat bahwa mama tidak masak dan meminta untuk membeli sendiri diluar.


"Kio kalau lapar beli aja ya, mama pulang malam jadi tidak masak" tulis Bela dalam suratnya.


"Yah gimana, mau nyuruh Kio malas ah dia lagi nyebelin" batin Kia.


"Yaudah deh bikin aja sambil belajar" pikirnya.

__ADS_1


Kia membuaka kulkas Melih ada bahan apa ternyata juga tidak ada banyak sayur hanya ada telur dan nasi.


"Yah kosong, pasti mama juga belum belanja. Yaudah deh coba buat nasi goreng aja" batin Kia lalu menyiapkan nasi dan telur di meja.


Dia mulai menyiapkan bahan bahannya sendiri. Mulai dari bumbu dan peralatannya, tapi sebenarnya Kia tidak bisa memasak.


Dia belajar sendiri mulai menyalakan penggorengan untuk menumis bumbu, tapi saat menambahkan minyak dia menaruh terlalu banyak.


Dia Bingung sendiri harus bagaimana karena sudah terlalu lama dia menaruh minyaknya di atas pengorengan minyak itu mulai panas dan saat ingin membuang sedikit minyak panas itu tumpah ke dia.


"Auuu" teriak Kia kencang karena panas.


Gubrakk


Suara penggorengan terjatuh dari tangan Kia.


"Au au panas" ucap Kia hendak mencuci tangannya.


"Kiaa lo ngapain?" Sebuah suara panik tiba di pendengaran Kia.


Kia reflek menoleh dan ternyata Kio tengah melotot ke arahnya.


"Gapapa kok Kio" ucap Kia lalu menghidupkan kran untuk mencuci tangan.


"Ya ampun Kia, tangan lo kenapa bisa kek gini? Jangan di siram ntar makin parah, kita ke dokter sekarang" ucap Kio panik melihat tangan Kia yang merah.


"Auu Kio sakit jangan dipegang" rengek Kia.


"Kia, gak mau ke dokter" ucapnya memelas, Kia takut melihat alat suntik.


"Tapi tangan lo gimana?" Tanya Kio masih khawatir.


"Kasih obat juga sembuh kok" ucap Kia mencoba menenangkan Kio.


"Ayo" ajak Kio menarik tangan satunya.


"Gak mau Kio."


"Ke ruang tengah, kenapa gak mau? Katanya sakit?" Jawab Kio heran.


Kia hanya ber oh ria.


Tak menunggu lama Kio menariknya untuk duduk di kursi ruang tengah sambil mengoleskan salep untuk luka bakarnya.

__ADS_1


"Au aa" sakit pelan pelan rengek Kia.


"KALAU GAK BISA MASAK, GAUSAH SOK SOKAN GINIKAN JADINYA" bentak Kio kencang.


"Ya habis tadi gue bilang lo, lo suruh makan. Di dapur gak ada makanan dan gua males order gak mungkin ngajak lo keluar, gue mesti gimana Kio?" Ucap Kia marah karena bentakan Kio.


"Maaf" satu kata yang keluar dari mulut Kio.


Kia diam dirinya tengah emosi juga. Kia hanya menarik tangannya yang sudah selesai di perban oleh Kio, lalu pergi ke belakang duduk di kursi belakang rumah Kio.


"Kio gak harus bentak bentak Kia juga kan bisa" pikir Kia sambil duduk memegangi tangannya.


Dia duduk diam disana sambil menahan rasa sakit di hati dan tangannya. Kia masih dongkol kenapa juga Kio harus sampai marah seperti itu hanya karena ini.


Saat batinnya masih dongkol dengan Kio, sebuah harum masakan tercium di hidungnya. Kia menoleh dan mendapati Kio tengah membawa semangkuk nasi goreng yang terlihat baru saja matang.


"Kia maafin Kio yaa" ucap Kio sambil membawa semangkuk nasi goreng di samping Kia.


"Tadi Kio emosi, maafin yaa" ucapnya dengan ekspresi senyum semanis mungkin.


Kia menatapnya kini perutnya tengah berbunyi mencium harumnya nasi goreng buatan Kio.


"Iya" ucap Kia sambil mengambil nasi goreng itu lalu di makannya.


"Kia udah ga marah kan?" Tanya Kio lagi


Melihat Kio seperti itu Kia tidak bisa lagi marah ke Kio.


"Iya Kia gak marah" ucapnya sambil makan.


"Coba siniin tangannya Kio lihat lagi" ucapnya sambil mengambil tangan kanan Kia yang tadi dia perban, setelah memastikan itu akan baik baik saja Kio menaruhnya ke pangkuan Kia lagi lalu merebut nasi goreng yang ada di Kia.


"Eh Kia masih lapar" ucap Kia.


"Iya nih gue suapin" ucapnya lalu mulai menyuapi Kia lembut.


"Maafin gue tadi gua panik takut lo kenapa napa Ki, gue gak sengaja bentak lo" ucap Kio menjelaskan lagi.


Kini kia menatap Kio heran. Kio selalu seperti itu disaat Kia masih marah dia akan membujuknya dengan cara apapun dan disaat Kia sudah lebih baik dia akan menjelaskan sebenarnya.


"Iya gapapa, maafin Kia juga tadi ikut marah" ucap Kia sambil tersenyum memakan nasi goreng dari suapan Kio.


Kini mereka sudsh mulai asyik bercanda lagi di halaman belakang.

__ADS_1


__ADS_2