SEKUNTUM

SEKUNTUM
BAB. 33. Terlalu kecewa


__ADS_3

Terlalu kecewa


Saat Kia berjalan keluar, Kenan memanggilnya menyusulnya dengan kakinya yang masih sakit sambil masih di seretnya.


"Kia"


Kia menoleh menunggu Kenan Sampai disana.


"Kenapa?"


"Senyum jangan terlalu sering nangis" ucap Kenan sambil melihat Kia.


Kia heran apa maksud Kena. Kia hanya menaikkan satu alisnya menatap heran.


"Jangan terlalu mikirin hal yang bikin lo sakit, terkadang mengabikan itu juga perlu" ucap Kenan sambil mengelus kepala Kia, lalu berbalik masuk kembali ke dalam rumahnya sambil menutup pintu.


Kia terbengong sebentar, sebelum sadar dirinya heran melihat Kenan yang seperti itu tapi tidak komentar apa apa. Kia segera pulang menaiki taksi lagi.


Di perjalanan Kia masih memikirkan perkataan Kenan. Sampai dia teringat sesuatu.


"Ah maksudnya masalah gue sama Kio" ucap Kia teringat.


Memang benar kesibukan yang Kia lakukan dirumah Kenan membuatnya melupakan tentang masalah Kio barang sebentar.


"Bisa baik juga tu orang ternyata" batin Kia sambil tersenyum.


Kia sampai dirumah sudah hampir setengah enam jadi Kia ingin segera mandi lalu istirahat. Namun melihat sosok yang tadi membuat ia menangis Kia menatap datar kearahnya.


Kio tengah berdiri di samping rumah Kia terlihat menunggu Kia pulang, beruntung tidak ada Bram di luar jadi kemungkinan dia tidak akan tau.


"Kio lo ngapain?" Tanya Kia basa basi, sebenarnya Kia tau kalau Kio bakal kaya begini.


"Nungguin Kia pulang" jawab Kio ekspresi mukanya sudah tidak terlalu enak di lihat.


"Ohh" Kia hanya beroh ria, terlalu malas untuk berharap.


"Kia gue mau ngomong" ucap Kio.


"Ngomong apalagi Ki? Mau bentak bentak gue lagi? Atau mau ngehina gue?" Jawab Kia sedikit emosi.

__ADS_1


"Maaf Ki bukan gitu maksud gue tadi, gue cuma ga suka lo bicara kaya gitu tentang Vea, dia itu baik Kia, gue tau lo mungkin salah faham tentang gue sama Vea tapi gue harap lo ga nyalahin vea"


Kia tidak bisa mendengar suara Kio dirinya sudah terlalu banyak kecewa dengan dia, jika disuruh memilih Kia bakal menghilang saja dari pada harus mengalami hal seperti ini.


"Cukup Kio, iya Kia tau Kia tadi kasar, tapi kalau Kio tau Kia ga pernah bohong sama Kio. Udah ya Kia capek pengen istirahat. Kio juga sana pulang istirahat Kia tau Kio juga lagi banyak fikiran. Kio ga usah khawatir sama Kia lagi, Kia faham kok alasan Kio bersikap kaya tadi" ucap Kia sambil tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan Kio.


"Kia gue sama Vea ga ada hubungan" ucap Kio sambil teriak.


Kia menoleh ke arah Kio, memandanginya lalu berjalan kembali tidak melihat Kio lagi.


Kia tersenyum miring bagaimana Kio bisa mengakui kalau dia tidak ada hubungan kalau Kia melihat sendiri dirinya dan Vea berciuman.


"Kia gue ga bohong" teriak Kio lagi.


Kia sudah tidak peduli lagi dirinya terlalu kecewa dengan Kio untuk saat ini, jadi Kia tidak ingin terlebih dahulu bicara dengan Kio.


Kia segera memasuki rumahnya berusaha mengatur perasaannya sendiri supaya ayahnya tidak tau tentang ini.


Dan benar saja ayahnya sedang duduk di ruang tamu sambil melihat ponselnya.


Bram terlihat tidak menyadari kehadiran Kia karena terlalu serius menatap benda yang dia oegang itu.


"Eh.. Kia kok pulangnya sore banget?" Tanya Bram lembut.


"Ehehe maaf yah tadi ga sempet ngabarin, soalnya Kia sibuk ngerawat Kenan tadi" ucap Kia jujur.


"Kenan?" Tanya Bram tampak kebingungan.


"Itu yang kemarin ketabrak"


"Ohh, bukanya tadi pergi sama Kio?"


"Iya tapi cuma sebentar terus langsung ke rumah Kenan, kasian yah dia sendirian disana tidak ada yang ngerawat"


"Em gitu, yaudah gapapa besok besok ngabarin ya biar ayah tau"


"Siap, ayah. Em Kia ke kamar dulu ya mau langsung istirahat capek"


"Ga makan dulu?"

__ADS_1


"Enggak tadi udah makan, ayah aja yang makan Kia ke kamar duluan" ucap Kia tersenyum.


Bram hanya mengaggguk membiarkan Kia istirahat lalu kembali mengecek ponselnya.


"Ah untung gue ngendaliin perasaan gue kalau enggak ayah bakal tau semuanya" ucap Kia sambil menghela nafas.


Karena benar benar capek akhirnya Kia segera mandi dan langsung tidur.


Kio sendiri setelah percakapan dengan Kia tadi dirinya sempat berdiri lama disana melihat kepergian Kia. Kio pikir Kia butuh waktu untuk nenangin perasaannya jadi Kio tidak bisa terlalu menekan Kia juga.


Kio sekarang duduk diatas pagar rumahnya, melihat langit yang terang benderang karena banyaknya bintang dan bulatnya sang rembulan.


Kio duduk termenung disana. Semua yang dia lakukan seakan salah dimata Kia. Niat Kio baik dirinya tidak ingin Kia dan Vea marahan. Kio ingin Kia punya teman selain Kio saat Kia sendirian tidak ada Kio.


Kio merasa sangat bersalah, dirinya terlalu keras tadi. Kio benar benar emosi karena perkataan Kia tadi, dan sekarang Kio menyesalinya. Kio tidak biasanya seperti ini. Entahlah Kio hanya berharap semua kembali seperti semula. Saat dirinya dan Kia masih bisa bercengkrama dan tertawa bersama.


Pagi hari Kia segera bangun pagi pagi, dirinya harus cepat berangkat agar tidak ketemu Kio lagi. Kia masih enggan bertatap muka dengan Kio, apalagi Vea.


"Pagi ayah" sapa Kia saat melihat Bram sudah duduk dimeja makan, memang kebiasaan Bram selalu bangun pagi lalu duduk di meja makan untuk menunggu Kia sarapan.


"Hai tumben jam segini udah rapi?"


"Hehe Kia mau berangkat pagi, Ayah berangkat jam berapa? Emm mobil ayah yang satunya Kia bawa ya?" Tanya Kia lirih.


Bram melihat Kia sejenak.


"Emang ga bareng Kio lagi?"


"Kio lagi sibuk yah suka lama kalau nungguin Kio, ongkos taksi juga mahal yah uang saku Kia bisa jebol" ucap Kia sambil tersenyum lucu.


"Yaudah kamu pakek gapapa, tapi janji jangan ngebut terus hati hati"


"Aa makasih ayah" ucap Kia langsung berlari memeluk Bram.


Bram ikut tersenyum melihat tingkah Kia yang amat lucu itu.


"Kia berangkat dulu, dah ayah" ucap Kia melepaskan pelukannya dan mengecup pipi Bram sekilas sebelum berlari keluar untuk berangkat menggunakan mobilnya sendiri.


Bram hanya geleng-geleng kepala, membahagiakan Kia itu mudah pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2