SEKUNTUM

SEKUNTUM
BAB. 6. Tidak boleh lebih


__ADS_3

Tidak boleh lebih


Kini kio tengah berbaring di samping Kia, menatap wajah gadis itu. Dia tidak bisa tidur karena Kia memeluknya erat.


Entahlah jantung Kio sudah berdetak tidak karuan dan badanya kini mulai panas, tapi Kio mengabaikan itu semua. Pikirannya hanya terpaku pada Kia yang tengah tertidur nyaman di pelukannya, dia merasa kasian sama Kia, pasti dia sangat rindu bundanya apalagi ayahnya lagi di luar kota.


Kio diam memandangi gadis itu lama sebelum ikut memejamkan mata juga, terjun kedua mimpi bersama Kia.


Paginya Kia bangun lebih awal, hari ini hari Minggu jadi mereka tidak ke sekolah. Kia terkejut bahwasanya saat terbangun dia dihadapkan dengan wajah Kio yang tepat berada di depan matanya. Badanya pun masih memeluk badan Kio.


Deg deg


Jantung Kia berdetak kencang, mukanya pun ikut merah tapi dia malas beranjak dari tempat tidur, kini dia memandangi wajah Kio, wajah damai Kio yang masih bergelut di dunia mimpinya.


Kia menggeleng gelengkan kepalanya menyadarkan dirinya bahwa Kio sudah seperti abangnya sendiri dia tidak boleh memiliki perasaan apalagi Kio sudah menjadi sahabatnya sejak kecil. Kia tidak mau bahwa nanti dia kehilangan Kio.


Kini dia hendak bangun mau ingin pergi ke kamar mandi tapi dia dikejutkan oleh suara Kio.


"Pagi Kia cantik" ucap Kio dengan suara serak serak basah khas bangun tidur.


"Untung Kio baru bangun sekarang bukan tadi" batin Kia sambil memegang dadanya terkejut.


"Pagi Kio, kamu kenapa tidur sama aku?" Tanya Kia heran


Dia tidak jadi ke kamar mandi kini dia duduk kembali ke kasurnya memandangi Kio.


"Kamu sendiri yang minta lupa" Kio berdecak kesal


"Apaan gak ada" protes Kia.


"Kemarin yang nangis nangis nyariin bundanya siapa ya" sindir Kio


Deg


Kia terdiam mendengar ucapan Kio. Dia baru ingat bahwa semalam Kia mencari cari bundanya dalam mimpinya.

__ADS_1


"Ya maaf Kio Kia gak tau" ucapnya sambil menunduk


"Eh gapapa, kamu cepetan mandi gih ayo ikut aku" ucap Kio cepat agar Kia tidak jadi sedih.


"Kemana?" Tanya Kia heran


"Udah deh ikut aja ntar juga tau" protes Kio lalu dia keluar kamar kia, pergi ke kamar samping untuk mandi.


Kia segera ikut mandi dan bersiap siap juga.


Kini dia sudah siap dan duduk di meja makannya memakan sarapannya, sambil menungu Kio.


"Bibi mana Ki?" Tanya Kio saat tidak melihat bibinya.


"Gak masuk anaknya masih sakit, tadi baru telfon" ucap Kia cuek sambil masih memakan sarapannya.


"Eit buat gue" ucap Kio sambil merebut roti yang ada di tangan Kia.


"Ah Kio mah gitu" Kia merajuk sambil cemberut


Mereka melanjutkan sarapannya sebelum berangkat untuk pergi ke suatu tempat.


"Udah? Ayo ikut gue, ke rumah dulu ya ambil motor" tanya Kio saat Kia tenagh membereskan piring bekas sarapannya.


"Iya bentaran"


Mereka berjalan bersama ke arah rumah Kio untuk mengambil motor Kio. Mereka berjalan sambil sesekali bercanda tawa.


Sampai di sana Kio segera pamit ke mama papanya yang masih sarapan di dapur.


"Ma Pa Kio mau keluar bentar ya sama Kia" ucapnya langsung


"Mau kemana? Masih pagi lo?" Tanya Bela mamanya Kio


"Kianya mana?" Tanya papanya Kio

__ADS_1


"Di luar nungguin, udah ya ma pa Kio keluar bentar" Kio lalu berlari keluar.


"Hati hati jangan pulang sore sore" ucap mama Kio, sedangkan papanya hanya geleng kepala sudah hafal dengan kelakuan Kia dan Kio.


"Ayo" ucap Kio mengajak Kia.


Kia segera menaiki motor Kio, melaju hersama membelah kota hingga sampai di sebuah area pemakaman luas.


Kio memarkirkan motornya di parkiran samping makam tersebut lalu membeli bunga yang juga ada di sampingnya.


Sedangkan Kia heran kenapa Kio mengajaknya ke makan.


"Kio, mau ngapain?" Tanyanya


"Katanya kemarin kangen bunda, yaudah ayo kita ke bunda" ucap Kio sambil tersenyum


Kini Kia ikut tersenyum bahagia. Sahabatnya itu memang orang yang paling pengertian kalau tentang Kia.


Mereka berjalan memasuki area pemakaman mengunjungi sebuah makam cantik dan bersih dengan rumput hiaju yang terawat rapi.


"Hai bunda ini Kia katanya kangen mau ketemu bunda" ucap Kio sambil menaburkan bunga


"Assalamualaikum bunda, apa kabar di surga sana? Bunda baik baik aja kan? Sama Kia juga baik disini. Kia lagi sama Kio lo bun" ucap sambil memegang nisan bundanya erat.


"Kia nakal bun sekarang sukanya nangis mulu" ucap Kio sambil tertawa


Kia hanya tersenyum melihat Kio yang seperti itu, lalu mereka membaca Alquran membacakan sebuah surat untuk bunda Kia.


Setelah puas di area makam kini Kia dan Kio sudah ada di parkiran hendak pulang.


"Makasih Kio" ucap Kia tulus sambil tersenyum manis


"Sama sama, jangan nangis mulu kalau kangen bunda bilang, kita ke sini bareng" ucap Kio sambil mengelus kepal Kia.


Kia hanya menatap Kio enggan kehilangan dia tapi dia juga tidak mau merusak persahabatan itu tentang apa yang dia inginkan, dia tidak boleh menjadi egois hanya untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Mereka segera menaiki motor untuk pulang kerumah.


__ADS_2