
Ciuman?
Hari ini Kia dan Kio berangkat menggunakan mobil bukan motor karena alesan konyol Kio.
"Tumben pake mobil" tanya Kia.
"Bosen pakek motor terus" Kio menanggapi acuh.
"Sultah mah bebas" ucap Kia mencibir.
Kio hanya terkekeh lalu mulai melakukan mobilnya untuk berangkat ke sekolah.
"Sampai disekolah dia melihat Vea yang masih duduk di area parkiran.
"Bukannya Vea di anter ya, ngapain di parkiran Kio?" Tanya Kia penasaran.
"Nungguin kita mungkin"
"Oh".
Lalu Kia turun dari mobil bersama Kio.
"Vea" panggil Kia ke Vea karena dirinya terlihat tidak tau tentang mereka.
Merasa di panggil Vea menoleh menatap keduanya.
"Hai" ucapnya menghampiri.
"Hai Kio, Kia" ucapnya ramah.
"Lo nungguin siapa Vea?" Tanya Kio.
"Nungguin elo.."
"eh maksudnya elo sama Kia" ucap Vea membetulkan.
"Oh yaudah ayo masuk" ajak Kia.
Mereka masuk kedalam sekolahan bersama berjalan ke arah kelas Kia.
"Dah Kio, Vea" ucap Kia sambil memasuki kelasnya.
Sekarang Kia hanya duduk dikelas diam mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung.
__ADS_1
Bosan karena sekarang adalah pelajaran sejarah gurunya hanya menyuruhnya untuk mencatat. Merasa ngantuk Kia memilih izin ke toilet untuk cuci muka.
"Permisi pak"
"Iya Kia?" Jawab guru tersebut.
"Saya mau ke toilet".
"Silahkan".
Kia cepat cepat keluar dari kelas, pengap dan ngantuk yang melandanya berat banget. Berjalan cepat ke arah toilet yang ada di ujung lorong kelasnya.
Setelah cuci muka Kia berdiri di depan pintu toilet sebentar malas untuk kembali ke kelas.
Dari kejauhan dia melihat Kio dan Vea sedang duduk berdua.
"Kio lagi ngapain?" Batin Kia.
Karena hanya terlihat Kio dan Vea duduk berhadapan di taman samping kelas mereka dengan posisi Kio yang membelakangi Kia.
Kia berjalan mendekat untuk menegurnya tetapi saat sudah mulai dekat disana dia melihat Kio mencium Vea.
"Kioo" suara Kia lirih tertahan.
"Kio ga mungkin pacaran sama Vea kan" pikir Kia pucat di dalam toilet, dia terlalu sakit melihat adegan itu.
Kia menangis tersendu sendu membayangkan tadi, dia tidak rela Kio menjadi milik orang lain.
"Kio jahat, Katanya mau sama Kia selamanya tapi Kio ninggalin Kia" ucapnya disela tangisnya.
Lama mengis Kia sudah tidak peduli lagi dengan kelas guru sejarah tadi, pikirannya hanya berisi Kio dan Vea.
"Kio gue suka sama lo" ucapnya sambil memegani dadanya yang masih kesal.
Air mata Kia juga sudah mengering, dirinya diam disana terlalu lama.
"Gue gak bisa ngeliat lo sama orang lain Ki, gue sayang sama lo, ini terlalu nyakitin buat gue Kio" ucap Kia lagi.
Dia mulai menguatkan hatinya percaya bahwa Kio akan selalu ada untuknya, Kia tidak boleh menjadi lemah seperti ini.
Kia berjalan lagi ke Kelasnya. Tidak terasa ternyata lama Kia didalam toilet hingga waktu istirahat.
Sementara Kia yang tengah menahan emosinya, Kio sedari tadi di sibukan dengan Vea seperti tadi pagi, saat jam pelajaran kosong Vea mengajaknya untuk duduk di halaman samping kelasnya katanya bosan di kelas.
__ADS_1
"Ayo dong Rio gue bosen di kelas" ucap Vea merengek.
"Yaudah ayo" males mendengar ocehan Vea lagi akhirnya Kio menerima ajakan Vea untuk belajar di halaman samping.
Lalu disinilah mereka duduk berdua berhadapan sambil mengerjakan tugas.
Saat asyik mengerjakan tiba tiba mata Vea kemasukan debu.
"Au Rio aah" ucapnya sambil mengucek matanya.
"Kenapa Ve?"
"Ini tolong tiup kemasukan debu deh kayaknya, perih banget"
"Siniin" Kio meniup dengan hati hati karena melihat Vea yang merengek terus.
Setalah lama di tiup Kio akhirnya matanya menjadi baikan.
Vea menatap kearah seorang yang tadi hendak menghampirinya sudah tidak ada disana lagi dia tersenyum sinis.
"Rio kedalam lagi yuk?"
"Lah tadi ngeyel ngajak ke luar sekarang ngajak kedalam lagi, aneh deh lo Ve lama lama" ucap Kio mendengus.
"Udah mulai panas, ntar gue item kelamaan berjemur" ucap Vea sambil tertawa.
Kio hanya mengangguk mengiyakan memang wanita selalu mau dimengerti pikir Kio.
"Eh Rio ntar habis istirahat temenin ke perpustakaan ya, gue mau nyari buku"
"Sendiri aja ya gue lagi males ni"
"Rio mah gitu gue cuma akrab sama lo nih, ntar kalau gue ilang gimana?"
"Nih sekolahan kan punya bokap lo ga mungkin ilang lah" jawab Kio.
"Gue ga paham buku buku di sini, ayo dong Ri" Vea tetap memaksanya.
Tidak kuat mendengar lagi akhirnya dia mengiyakan.
"Iyaa" suara Kio terdengar sedikit kesal.
"Yee makasih Rio" ucap Vea senang tidak peduli reaksi Kio.
__ADS_1