SEKUNTUM

SEKUNTUM
BAB. 30. Bicara berdua 2


__ADS_3

Bicara berdua 2


Sebelum air matanya jatuh Kia harus menyampaikan soal Vea dulu lalu segera pergi.


"Kalau gue sudah bikin lo nagis Ki" ucap Kio melanjutkan omongannya.


"Kio gue mesti ngomong duluan" ucap Kia segera. Dirinya tidak mendengarkan perkataan Kio tadi.


Kio tidak menjawab tapi diam, Kio juga terlihat berfikir sambil melihat Kia. Melihat Kio diam saja akhirnya Kia melanjutkan apa yang ingin dia katakan.


"Kio gue rasa Vea bukan cewek baik dan gue pikir dia ga sebaik tampilannya"


Ucap Kia lalu memandang Kio. Melihat Kio sedikit terkejut dengan kata katanya Kia melanjutkannya.


"Dia ga sepeolos dan sebaik tampilannya mending lo jauh jauh deh Kio dari Vea, Vea itu hanya peduli dengan apa yang dia inginkan tidak melihat orang lain. Gue saranin lo ati ati, di depan lo aja dia terlihat baik tapi sebenarnya dia tidak sebaik tampilannya cara bicara dia juga kasar" ucap Kia.


Kio diam sejenak mencerna perkataan Kia, Kio terlihat sedikit heran.


"Kia, gue tau lo salah faham sama Vea tapi dia tidak jahat Ki, Vea itu baik dari manapun dilihat Vea itu baik tidak seperti kata lo. Lo mungkin hanya melihat dia dari sisi lain, belum dekat dengan Vea yang sebenarnya" ucap Kio membela Vea dengan nada bicara yang sudah terlihat tidak suka.


Deg


Hati Kia sakit, memang percuma ngomong sama Kio, dirinya tidak akan membiarkan pacarnya dibicarakan buruk begitu saja.


"Lo belum tau Kio. Vea itu ga sebaik keliatannya"


"Cukup Kia, gue tau perasaan lo tapi lo ga seharusnya ngomong kaya gitu tentang Vea" ucap Kio marah.


Hati Kia semakin sakit, Kia hanya bicara apa adanya. Kenapa Kio harus sampai Semarah itu.


"Tapi Kio.."


"Kia gue bilang cukup. Lo salah faham" Kio mulai membentak Kia.

__ADS_1


Kia terdiam mendengar suara itu. Air matanya sudah tidak bisa dia tahan.


Saat hendak bicara lagi, telfonnya berbunyi nyaring tandan panggilan masuk.


Kia mengacuhkan Kio dirinya melihat ponselnya, melihat panggilan dari Kenan Kia tidak mengangkatnya dirinya baru ingat kalau dia harus merawat Kenan. Melihat Kio yang tadi juga membentaknya Kia menyerah bicara dengan Kio. Kio tidak akan percaya dengan apa yang dia bilang.


"Sori Kio gue ada urusan. Gue pergi dulu" ucap Kia lalu segera berlari pergi sambil memesan taksi.


Kio terkejut melihat Kia berlari menjauh sambil matanya berkaca kaca dirinya segera mengejarnya tapi Kio terlambat Kia sudah masuk ke taksi lebih dulu lalu langsung jalan.


Kio sebenarnya tidak berniat membentak Kia, tapi dirinya juga tidak tahan Kia berbicara buruk tentang Vea, Kio hanya ingin mereka berteman bikan saling menjelekkan.


"Ahhh makin panjang urusan" ucap Kio frustasi lalu mengacak rambutnya sendiri.


Kio serba salah sekarang. Dirinya tidak bisa marah ke Kia tapi menurut Kio Kia juga salah.


Melihat taksi yang Kia tumpangi belum berjalan terlalu jauh Kio segera menyusulnya dia harus meluruskan salah faham ini.


Kia sendiri sudah tidak kuat menahan air matanya, dirinya terlalu sakit mendengar pembelaan Kio tentang Vea sampai Kio membentaknya.


"Neng ada masalah apa?" Tanya sopir taksi tersebut karena melihat Kia menangis di belakang.


Menyadari ada orang lain Kia segera mengelap air matanya, mengeraskan hatinya lagi dirinya tidak boleh menjadi lemah.


"Ah enggak papa pak" ucap Kia sambil tersenyum tidak enak.


"Neng mobil belakang ngejar deh kayanya, apa harus berhenti?"


Mendengar perkataan itu Kia segera menoleh dan benar mobil Kio mengikuti dibelakangnya.


"Gausah pak cepetan ngebut aja ke alamat ini" ucap Kia ke supir taksi tersebut sambil menunjukkan alamat Kenan.


Kia mengabikan semua panggilan Kenan sedari tadi. Dirinya masih mencoba menguatkan hatinya agar air matanya tidak jatuh lagi.

__ADS_1


Dari belakang Kio tidak menyerah, Melihat taksi tersebut berjalan semakin kencang Kio berdecak sebal sebelum ikut melaju kencang mengikuti jejak taksi tersebut dirinya tida mau kehilangan Kia.


Kio berfikiir paling Kia akan pulang kerumahnya, tapi setelah lama mengikuti Kio baru sadar kalau itu bukan jalan pulang.


Sekarang Kio mengernyit heran taksi Kia berhenti di sebuah rumah minimalis yang tentunya Kio tidak tau siapa pemiliknya.


Kia keluar dari taksinya hendak membuka gerbang rumah tersebut.


Melihat itu Kio tidak ingin menyia nyiakan kesempatan Kio segeralah keluar dari mobil dan mengajmpiri Kia.


"Kia.. gu gue minta maaf Kia gue tidak seharusnya ngebentak lo tadi" ucap Kio sambil menahan tangan Kia.


Kia yang terlihat masih emosi menarik tangannya menjauh dari Kio. Mata kia menyiratkan kekecewaan mendalamnya.


Deg


Melihat itu hati Kio juga merasa sakit, dirinya sudah sangat bersalah dengan Kia dan lagi lagi Kio membuat Kia menangis.


Saat hendak berbicara lagi seorang laki laki yang seumurannya keluar dari dalam rumah sambil memakai tongkat terlihat kakinya masih memakai perban laki laki itu menghampiri Kia dan dirinya.


Kio tidak suka melihat lelaki tersebut. Dan anehnya kenapa Kia mendatangi rumah ini, padahal Kio tidak kenal siapa laki laki tersebut.


"Kenapa ga angkat telfon gue?" Tanya laki laki tersebut ke Kia.


"Sori tadi gue masih di perjalanan" jawab Kia acuh.


Kio memandang tidak suka ke laki laki tersebut lalu mengacuhkan.


"Kia kita harus bicara" ucap Kio menggandeng tangan Kia lagi.


"Sori Kio gue ga bisa sekarang" ucap Kia lalu menggandeng masuk laki laki tersebut membantunya berjalan.


Kio tidak bisa berbuat apa apa Kia masih marah sama dirinya dia diam disana memandangi keduanya.

__ADS_1


"Sori bro gue sama Kia sibuk, lo datang lain kali aja. Oh iya tolong tutupin gerbangnya ya" ucap laki laki tersebut sambil tersenyum ke Kio lalu berjalan lagi bersama Kia.


"Sialan" umpat Kio. Dirinya tidak terima siapa laki laki tadi dan apa hubungannya dengan Kia itu mengacaukan fikiran Kio sekarang. Tapi melihat Kia yang masih enggan akhirnya Kio pegi dari sana.


__ADS_2