SEKUNTUM

SEKUNTUM
BAB. 22. Salah Faham


__ADS_3

Salah Faham


Kio bemain basket hingga lelah disana keringatnya sudah bercucuran tangannya juga sampai berdarah karena terkena ring basket tapi Kio mengabaikan semua itu dirinya tetap bermain sampai semua emosinya lenyap.


Kini dia duduk sambil terengah-engah memikirkan kata kata Kia yang terlalu menyakitkan untuknya.


"KIA GUE SAYANG SAMA LO KENAPA LO TEGA NGOMONG KAYA GITU" teriak Kio kesal.


Kini dia diam sambil menghembuskan nafas gusar.


Lelah dengan semua dirinya berbaring di taman samping lapangan mencoba melupakan masalahnya.


Kia sendiri lelah menangis tersendu sendu. Dirinya bersembunyi disana Hingga jam pulang sekolah.


Fikirannya terlalu kacau hatinya juga sakit dia masih tidak mengira kalau Kio bakal semarah itu. Harusnya Kia yang marah bukan Kio.


Kia berjalan perlahan menyusuri setiap lorong seorang diri, sambil teringat saat dirinya selalu sama Kio saat pulang sekolah. Kini Kia harus pulang sendiri.


Dirumah Kia hanya duduk di kursi taman belakang tempat favoritnya. Menikmati udara disana supaya bisa menjernihkan fikirannya.


Tidak berniat melakukan apa apa dirinya hanya melamun memikirkan semua tentang Kisah dia dan Kio.


Hingga sore Kia masih duduk diam di sana tanpa melakukan apapun hingga Bram pulang.


"Kiaa" panggil Bram mencari keberadaannya, bukan Kia yang menghampiri malah bibinya.


"Bapak non Kia di belakang dari tadi saya suruh makan cuma diam saja, saya tidak berani mengganggu. Saya pamit pulang dulu pak Mari"


"Ah iya bi, makasih ya" ucap Bram menggapi bibi.


"Kii" ucap Bram menghampiri Kia.


Bram melihat Kia duduk sambil melamun disana.


"Kia" ucap Bram kini ikut duduk di sampingnya.


Kia terkejut melihat ayahnya duduk tiba tiba di sampingnya.


"Eh iya yah kenapa?"

__ADS_1


"Kamu lagi ngapain?"


"Lagi ngeliat bunga, indah ya yah bunga kesukaanya bunda" ucap Kia.


Bram tersenyum getir Kia merindukan sosok ibunya.


"Bunda kan ada di surga Kia"


"Iya Kia ga kangen, Kia cuma suka ngeliat bunga bunga itu cantik kek Kia" Kia tersenyum.


Bram ikut tersenyum lalu mengelus kepala putrinya.


"Kalau kangen bunda, nanti kita ke makam ya" ucap Bram menenangkan Kia.


Kia hanya mengangguk lalu diam di pelukan Bram.


"Makan yuk ayah lapar" ucap Bram mengajak Kia ke dalam membujuknya supaya mau makan.


Kia mengangguki lalu ikut ke dalam, makan bersama Bram.


Kia berusaha makan agar Bram tidak khawatir tentang keadaannya, mengalihkan sebentar pemikirannya tentang Kio.


Kia berjalan ke balkon kamarnya Melihat langit malam yang bertaburkan bintang bintang.


Dia duduk di sana lama menikmati suasana malam hari dari balkon kamarnya.


Angin malam berhembus cukup kencang membuat Kia kedinginan akhirnya Kia memilih masuk kembali ke kasurnya dan memejamkan mata untuk tidur.


Kio sendiri memutuskan pulang setelah dia lelah disana. Tidak ada gunanya marah seorang diri diaana. Akhirnya Kio memutuskan pulang.


Kio segera menyalakan motornya lalu melaju kencang dijalanan. Menikmati angin malam yang membuatnya menggigil kedinginan.


Bela dan Aksa sendiri tidak tau menahu tentang putranya. Mereka mengira kalau Kio di rumah Kia seperti biasanya.


Kio pulang sudah pukul 10 malam, tangannya yang berdarah dan bajunya yang acak acakan tidak itu juga penampilannya yang lebih mirip oranh habis tawuran membuat Bela dan Aksa keheranan akhirnya menjadi cemas.


"Ma pa" sapa Kio saat memasuki rumahnya, lalu berjalan lurus hendak ke kamarnya.


"Kioo" panggil Bela yang terkejut melihat penampilan putranya.

__ADS_1


"Kio istirahat duluan ya" ucap Kio lalu masuk.


"Pah Kio kenapa?" Tanya Bela ke suaminya


"Ga gau, coba tanya ma"


"Yaudah mama tinggal dulu ya"


Bela berjalan ke dapur mencari kotak obat dan membawa makanan untuk Kio.


"Kio.. sayang" ucap Bela memanggilnya agar membukakan pintu.


Tidak ada jawaban dari Kio akhirnya Bela membuka sendiri.


Dia melihat Kio tengah mandi, dia diam di sana menunggu putra selesai.


Setelah lama menunggu akhirnya Kio keluar sudah menggunakan kaos dan celana pendek.


"Kio sini sayang" ucapnya langsung.


Kio berjalan menghampirinya ikut duduk di kasur samping Bela.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya bela akhirnya.


"Gapapa kok ma" ucap Kio sambil tersenyum.


"Siniin tangannya"


Kio diam mengulurkan tangannya melihat Bela mulai mengobatinya.


"Kamu ga dari rumah Kia?"


"Enggak, habis dari villa main basket" ucap Kio jujur.


"Kalau ada masalah coba cerita siapa tau mama bisa bantu, kamu itu ketua osis loh masa penampilannya pulang pulang kaya preman gini"


"Gapapa kok ma tadi Kio main basket, lupa ga bawa ganti aja"


"Yaudah makan dulu itu, trus istirahat ya" ucap bela selesai mengobati tangan Kio lalu meninggalkan putranya itu supaya istirahat.

__ADS_1


Bela tau ada sesuatu yang telah terjadi tapi melihat Kio yang seperti itu dirinya akan diam terlebih dahulu biarkan Kio memikirkan pilihan.


__ADS_2