
Bicara Berdua
Setelah Kia pergi pulang kini kenan mengeluarkan ponselnya menelfon seseorang.
"Kasih tau gue siapa cewek yang tadi lo suruh gue deketin, gue bakal lakuin apapun biar dia jadi milik gue tawaran lo kali ini benar benar menarik" ucapnya
"Bagus.. ntar gue kirim data dirinya. Yang penting lo harus jauhin dia sam cowok yang namanya Rio atau Kio, gue ga mau liat dia deket Deket sama cowok gue" suara seorang wanita terdengar dari sebrang telfon.
Orang itu adalah Vea orang menyuruh Kenan melakukan semua ini.
"Oke gampang" ucap kenan lalu mematikan sambungan telfonnya.
"Kia lo menarik juga" ucapnya sambil mengingat kembali kejadian tadi, lalu merebahkan dirinya di sofa.
"Sial kaki gue sakit beneran lagi, gue tadi terlalu ceroboh" ucapnya.
Kecelakaan tadi memang hasil rekayasa Kenan karena telfon dari Vea dirinya mencari taksi yang tadi dia sebutkan dan untuk menghentikan supaya bisa kenalan kenan mempunyai cara gila dia. Kenan sengaja menabrakkan diri ke tasi tadi dan hasilnya dia benar-benar terluka yang tadi niatnya dia cuma mau bikin taksi tersebut berhenti.
Kia sampai di rumahnya sudah lumayan sore sudah terlihat mobil Bram terparkir rapi di garasi rumahnya.
"Ayah.." panggil Kia mencoba mencari Bram
"Iya Kia.." suara Bram terdengar menyahuti dari arah dapur.
Kia berjalan mendekat ke arah Bram lalu duduk di sampingnya.
"Kenapa baru pulang?" Tanya Bram akhirnya, dirinya sedikit heran karena Kia terlihat lelah sekali.
"Tadi pulang naik taksi, trus taksinya nabrak orang jadi nganterin dia ke rumah sakit dulu" ucap Kia sambil cemberut.
"Apa" suara Bram terkejut.
"Udah gapapa yah, dia ga bakal nuntut juga cuma mau dirawat aja karena tinggal sendiri. Kasian sopir taksinya tadi jadi Kia yang biayain semua"
"Kamu kenapa napa kan?" Bram terlihat khawatir.
"Aku gapapa, cuma nyerempet kok jadi Kia baik baik aja. Orang tari aja yang kena"
"Yaudah syuku, yang penting kamu baik baik aja. Masalah biaya gak penting kamu baik ayah ga bakal marah"
__ADS_1
Kia tersenyum lalu memeluk ayahnya, Bram memang orang terbaik yang Kia miliki dirinya sangat mengerti Kia.
"Makasih ayah"
Bram tersenyum bahagia juga, apapun akan dia relakan hanya untuk kebahagiaan dan keamanan Kia.
"Sama sama sayang"
Setelah lama berpelukan akhirnya Kia ke kamarnya mandi sekaligus ganti baju dirinya lelah dengan hari ini ingin cepat cepat istirahat.
Pagi hari Kia bangun pagi pagi, dirinya ingat punya janji dengan Kia jadi dia siap siap untuk pergi.
"Pagi ayah" sapa Kia ke Bram yang tengah membaca koran di meja makan.
"Hei, tumben udah rapi Minggu gini mau kemana?" Tanya Bram kepo.
"Hehe mau jalan sama Kio"
"Oh udah kembali lagi nih"
"Emang Kio habis dari jauh pakek kembali" ucap Kia menanggapi.
"Pulang jangan sore sore ya" ucap Bram mengingatkan Kia.
"Siap kapten, udah ya Kia keluar dulu liat Kio" ucap Kia lalu berjalan keluar rumah.
Kio juga sudah siap di depan rumahnya, hendak mengeluarkannya mobilnya lalu menjemput Kia.
Dirinya sudah tidak sabar dari kemarin untuk hari ini, dia akan minta maaf untuk segalanya ke Kia.
Tin tin
Suara mobil Kio mengklason di depan rumah Kia, mengira kalau Kia masih tidur. Tapi ternyata Kia sudah rapi duduk di depan rumahnya terlihat menunggu dirinya datang.
"Kia ayo masuk" ucap Kio setelah membuka kaca mobilnya memanggil Kio.
Kia melihat kalau itu Kio segera bergegas ke mobil tersebut lalu masuk.
"Mau kemana kita?" Tanya Kia langsung.
__ADS_1
"Lo udah ga marah?" Kia bertanya menggoda
"Emang kapan gue marah?" Tanya balik Kia.
"Kemarin tuh, siapa yang ga mau dekat sama Kio lagi" ucap Kio sambil tersenyum.
Kia teringat kalau dia ingin menjauh dari Kio jadi dia langsung diam tidak menjawab Kio lagi.
Kio menyadari kalau dirinya salah bicara, melihat suasana menjadi canggung dirinya juga ikut diam. Mengemudi dengan seriusan.
Perjalanan ini cukup lama, hampir 30 menitan mereka berkendara hingga sampai di sebuah villa indah yang bergaya klasik di sana.
Kio memang mengajak Kia ke villa menepati janjinya dan agar tidak ada yang mengganggunya berbicara dengan Kia.
Kia juga terlihat antusias dirinya sudah lama tidak ke sana, Kia segera keluar dari mobil lalu berlari ke samping rumah disana ada halaman hijau yang luas dan sebuah taman mini.
Tempatnya memang indah karena berada di atas bukit yang masih hijau, juga di sampingnya villa itu terdapat pohon teh yang berbaris rapi.
"Kia jangan lari awas jatoh" ucap Kio mengingatkan Kia.
Kia tidak mendengar Kio dirinya hanya fokus ke suasana disana. Tersenyum bahagia sambil melihat bunga bunga yang mekar mewangi.
Kio segera menyusul Kia dirinya duduk kursi yang ada di sana menunggu Kia selesai melihat lihat .
Kia sebenarnya enggan berbicara dengan Kio karena takut pertahanan yang berusaha dia bangun akan runtuh bergitu saja. Tapi melihat Kio sudah duduk manis di sana sambil memandanginya Kia Kia jadi tidak tega dan lagi dia juga harus menyampaikan sesuatu.
Kia berjalan mengahampirinya ikut duduk di samping Kio.
"Udah?" Tanya Kio ke Kia saat Kia terduduk.
"Udah" jawab Kia acuh.
"Gue mau ngomong serius" ucap Kio lembut.
Kia diam mendengarkan sambil mengangguk.
"Kia gue minta maaf..." Ucap Kio terpotong.
Deg
__ADS_1
Hati Kia sakit mendengar permintaan maafnya. Kia berfikir sendiri apa sekarang Kio akan mengakuinya, Kia tidak kuat mendengar itu. Air mata Kia tidak bisa bersahabat dengan Kia sendiri.