
Jadi Asisten Kenan
Kio kesal dengan semua ini, semua salah faham ini dirinya tidak mau kehilangan Kia, tapi Kio juga tidak bisa melihat Kia menjelekkan Vea yang jelas jelas terlihat baik meski kadang sedikit cerewet.
"Kia lo salah faham" ucap Kio lirih di dalam mobilnya.
Kio masih di depan rumah Kenan, Kio fikir Kia akan segera keluar tapi setelah menunggu lama tidak terlihat tanda tanda Kia akan keluar, akhirnya Kio menyerah.
"Kia tunggu gue bakal ngelurusin semua ini" ucap Kio lalu melakukan mobilnya meninggalkan halaman Kenan.
Kia sendiri sejak masuk ke dalam rumah kenan hanya diam, dirinya terlalu kecewa dengan Kio, orang yang selalu dia andalkan, orang yang selalu dia anggap sebagai yang paling berharga sekaligus orang yang dia cintai membela bahkan membentak dirinya demi membela wanita lain. Itu membuat pukulan telak di Kia, Kia harus sadar akan posisinya sekarang bahwa memang Vea pacar Kio, dan dirinya hanya orang lain.
Kenan memandangi Kia yang sejak tadi diam, Kenan tau kalau Kia habis bertengkar dengan orang yang dia sebut sebagai Kio tadi. Orang yang Vea suruh untuk menjauhkannya dari Kia.
Melihat hubungan mereka sudah tidak bagus Kenan diam diam tertawa pekerjaannya kali ini akan begitu mudah.
"Kia lo mau ngelamun apa mau rawat gue?" Suara Kenan tiba tiba membuat Kia kaget karena Kia sedari tadi hanya diam duduk di kursi sebelah Kenan.
"Eh iya Ken kenapa?" Tanya Kia karena terkejut.
Kenan diam sebentar lalu mulai berbicara.
"Gue laper masakin" ucap Kenan cuek.
"Tapi gue.. em gue ga bisa masak" ucap Kia bingung.
Kenan menganga tak percaya, dirinya saja bisa masak kenapa wanita ini tidak bisa masak.
"Lo bisanya apa dong, masak cuma diam aja dari tadi percuma lo mau ngerawat gue kalo diam aja, mending gue ngajuin tuntutan" ucap Kenan langsung.
Kia langsung berdiri dirinya harus membantunya agar kenan segera sembuh. Mendengar kata tuntutan Tubuh Kia sedikit merinding dirinya melupakan tujuannya datang karena terlalu berlarut dengan masala Kio tadi.
"Eh jangan dong jangan yaa. Gue bakal beliin makanan buat lo gimana?" tawar Kia dengan tersenyum.
"Gak, gue maunya makan masakan lo"
"Tapi gue ga bisa masak Kenan"
"Gak mau tau, sekarang ayo kita pergi belanja terus masak gue udah laper dan belum minum obat"
"Lo serius belum minum obat sejak kemarin?"
__ADS_1
Kenan hanya mengangguk.
Kia segera beranjak dari kursinya, mecari makanan untuk Kenan, hatinya masih tidak tega melihat orang sakit tidak terurus.
"Lo diam di sini aja ga usah ngapa ngapain" Kia segera berjalan keluar mencari tukang penjual makanan apapun.
Melihat Kia cemas seperti itu Kenan tersenyum bahagia, Kia memang cewek polos batinnya.
Dirinya melihat mobil Kio sudah pergi menjadi lega, tidak harus berhadapan dengan Kio secara langsung.
Segera berjalan keluar dari jalanan komplek, beruntung Kia melihat orang jualan makanan disana. Kia segera membeli itu lalu segera dibawa pulang untuk kenan.
Kia tersenyum menatap Kenan yang masih diam di kursi tidak kemana mana.
"Orang itu mau menurut" Pikir Kia lalu mengahampirinya.
"Nih makan" ucap Kia sambil menyerahkan sebungkus gado gado.
"Apaan nih" kenan heran melihat makanan itu.
"Makan ga usah banyak protes, lo harus makan trus minum obat biar cepet sembuh" ucap Kia tidak sadar.
Mendengar ucapan Kia Kenan juga ikut tersenyum samar. Kia tulus perhatian sama dia.
Kia mendelik ke arah Kenan. Salah jika Kia berbuat baik ke orang itu karena Kenan memang orang paling menyebalkan.
"Gue racun pakek racun tikus biar lo cepet mati dan lo ga bisa nuntut apapun" ucap Kia lalu meninggalkan Kenan.
Kenan tersenyum melihat ekspresi kesal Kia menurutnya itu terlihat sangat lucu.
Kia berjalan kebelakang tidak menghiraukan Kenan lagi. Dirinya melihat cucian baju kenan cukup banyak jadi dia berinisiatif untuk mencucinya.
Kia memasukan semua baju itu ke mesin cuci lalu meninggalkannya, membawa sapu dan pel. Setidaknya Kia juga harus membantu Kenan.
Kia menyapu mulai rumah Kenan dan mengepelnya. Selesai menyapu Kia segera menjemur pakaian yang tadi dia cuci di belakang.
Kia tersenyum melihat cucian tutu setidaknya Kenan masih punya malu untuk tidak membiarkan Kia mencuci pakaian dalamnya.
Setelah selesai Kia berjalan kedalam, menata rumah Kenan yang masih berantakan dirinya tidak tahan melihat semua itu karena masih tidak karuan setelah Kenan baru saja tempati.
Keringat bercucuran membasahi dahi Kia, tapi Kia tidak mau beristirahat, dirinya harus menyelesaikan itu semua. Tidak peduli dengan capek yang dia rasakan.
Selesai semua Kia Kenan melihatnya sudah selesai makan sedari tadi, tapi bungkus makanan yang di pakainya masih tergeletak di atas meja Kia menghela nafas lalu menghampirinya mengambil bungkus tersebut.
"Kalo habis makan itu di bersihkan napa si" ucap Kia berdecak kesal.
__ADS_1
"Kenapa kan lo asisten gue jadi itu tugas lo kan?" Ucap Kenan.
"Heh tuan Kenan gue disini karena kemanusiaan ya bukan jadi asisten anda jadi tolong, jangan salah faham" ucap Kia mendelik.
"Iya terserah lo, gue haus ambilin gue air dingin"
"Ambil aja sendiri" ucap Kia lalu hendak pergi.
"Lo bisa liat ga, kaki gue sakit kalo gue ga sakit, gue juga ga butuh bantuan lo dan lagi kaki gue kaya gini juga karena taksi sialan lo itu" ucap Kenan lagi.
Kia hanya meliriknya, Kenan menang menyebalkan.
Dirinya berdecak kesal lalu kedapur mengambilkannya minuman.
"Nih" ucap Kia ketus.
Kenan hanya melirik Kia dirinya segera mengambil air itu lalu meminumnya.
"Ambilin obat gue di kamar" ucap Kenan selesai minum.
"Lo ga takut obat lo gue racun?" Tanya Kia sambil mengejek Kenan.
"Gak masalah kalau gue mati, gue tinggal gentayangin lo minta pertanggung jawaban" ucap Kenan cuek.
"Dasar nyebelin" ucap Kia bergegas ke kamar kenan mengambil obatnya.
Saat Kia membuka kamar Kenan dirinya ternganga. Kamar Kenan berbeda dengan keadaannya rumahnya. Tempat itu sangat bersih dan sangat tertata rapi.
"Bisa bersih bersih juga tu orang" ucap Kia lalu mengambil obat Kenan.
"Nih, udah ga gue mau pulang" ucap Kia sambil menyerahkan obat Kenan.
"Lo mau lari dari tanggung jawab ya?"
"Apa lo bilang? gue udah capek ya, bersih bersih seluruh rumah lo, sekarang lo bilang gue mau lari dari tanggung jawab?" Kia terheran heran dengan fikiran Kenan.
Kia yang mau repot-repot membantu dia walau semua bukan salahnya masih di salahkan oleh Kenan.
Kenan melihat Kia sebentar, terkejut melihat reaksi Kia.
"Bukan gitu, maksud gue semua jemuran masih di luar dan gak ada makanan lagi setidaknya lo tunggu sampe itu kering lalu masakin gue"
Kia berfikir sejenak benar yang di bilang Kenan.
Akhirnya Kia memhela nafas lalu duduk di samping Kenan.
__ADS_1