
Menginap
Hari ini sepulang sekolah Kia duduk di kursi halaman belakang rumahnya tengah melihat pemandangan bunga bunga kesuaan almarhum bundanya dulu yang masih dia rawat sampai sekarang. Kata ayahnya bundanya dulu sangat suka dengan bunga jadi banyak sekali bunga yang ada di halaman belakang rumahnya terutama bunga mawar putih. Karena hal itu pula Kia sangat suka bunga.
"Non" panggilan Bibii asisten rumah tangganya membuyarkan lamunanannya.
"Eh iya Bi kenapa?".
"Itu tadi bapak telfon katanya dadakan keluar kota, tari telfon non berkali kali tapi tidak di angkat. Dia langsung berangkat sekarang." Ucap Bibinya itu.
"Oh iya bi, hp ku ada di kamar, makasih ya Bi" ucapnya.
"Sama sama, udah sore non saya mau pamit pulang sekalian ya, non gapapa kan di rumah sendirian? Anak Bibi lagi sakit non gak bisa nginep" ucap Bibinya sedikit lirih.
"Eh anak bibi sakit apa? Udah di bawa ke dokter?" Tanya Kia heboh sendiri.
"Belum Non, tadi pagi sudah minum obat".
"Yaudah Bi cepat pulang kasian sendirian".
"Tapi nanti Non.."
"Halah saya gapap kok Bi, nanti saya bisa ke rumah Kio" ucap Kia sambil tersenyum.
"Yasudah saya pulang duluan ya Non".
"Iya bi hati hati ya" ucap kia.
Lalu Bibinya beranjak meninggalkan Kia. Kini dirumah besar ini hanya ada dirinya, malas untuk beranjak dia tetap duduk diam di situ pikirannya melayang entah kemana. Sampai alhasil dia ketiduran di sana.
"Kiaa" panggil seseorang dari dalam rumah Kia.
Hari sudah gelap, lampu rumah Kia sudah di nyalakan semua oleh Bibi sebelum pulang jadi tidak ada yang gelap.
"Kia lo dimana si?" Suar orang itu masih tengah mencari pemilik rumah di kamarnya tapi tidak ada.
"Kia kemana si?" Tanyanya pada dirinya sendiri
Saat kedapur dia melihat pintu belakang masih kebuka lalu mengahampirinya dan ternyata kia tengah tertidur manis di kursi itu.
__ADS_1
"Kebiasaan suka ngebo di mana aja" protes orang itu sambil melihat Kia.
Iya orang itu adalah Kio sahabat satu satunya Kia.
Kio mengangkat tubuh Kia hati hati membawanya kedalam kamarnya, kasian kalau tidur di luar banyak nyamuk.
"Untung lo ringan Ki, coba kalau betat gue ogah ngangkatin lo" protes Kio sambil membopong Kia.
Dia merebahkan Kia perlahan agar tidak terbangun. Tapi saat tubuh kia mencapai kasur tiba tiba dia menarik tangan Kio memeluknya erat sambil menangis.
"Bundaa.." panggilnya.
Kio diam membeku tidak biasanya Kia seperti itu kalau tidak sakit.
"Tenang Kia ada aku di sini" ucap Kio menenangkan Kia sambil mengusap punggungnya.
"Bundaa.. Kia kangen" ucap Kia lagi di tengah tidurnya.
Merasa heran Kio memegang kening Kia ternyata Kia sedang demam, memang tidak terlalu panas tapi Kia sudah mulai ngigo.
"Yaelah sakit nih anak, Bibi gak ada lagi" Kio bingung sendiri.
Pelan pelan dia menempelkan kain di kening Kia agar dia tidak bangun.
Kini Kio bebas memandangi wajah Kia, wajah yang tampak imut dan memerah karena sedang demam.
"Lo gemesin banget si ki" omongnya sambil mengusap pipi Kia.
Karena Kia sudah tertidur lelap dan tidak ngigo lagi Kio memutuskan untuk ke dapur mencari makanan karena dia lapar.
Kini Kio tengah duduk sambil makan cemilan di ruang tengah Kia, tadi dia sudah menelfon mamanya mengabarkan kalau dia menginap di rumah Kia.
Kio tengah asyik menonton film kesukaanya di sana sambil tertawa sesekali melihat kelucuan dalam film tersebut, tidak meyadari sudah hampir tengah malam.
"Kioo" sebuah suara tiba tiba terdengar di telinganya, reflek fia menoleh mendapati Kia tengah berdiri di belakang kursinya memandangi dirinya.
"Hey udah bangun lo?" Tanya Kio sambil melihat Kia.
Bukanya menjawab Kia malah berlari memeluk Kio erat.
__ADS_1
"Hey kenapa?" Tanya Kio terkejut, tapi tidak ada jawaban Kia hanya memeluknya erat.
"Udah ga panas" batin Kio memegang kepala Kia mengecek suhu tubuhnya.
"Hei Ki kamu kenapa?"
"Mau kaya gini Kio bentar aja" ucap Kia lirih
Kio menaikan sebelah alisnya heran dengan tingkah Kia, tapi dia tidak menolak dia mengusap punggung Kia sambil membiarkan dia memeluknya erat.
Setelah puas kini Kia melepaskan pelukannya lalu duduk di samping Kio.
"Hei kamu kenapa?" Tanya Kio.
"Kangen bunda" jawab Kia dengan mata merah hendak menangis.
"Kan udah ada mama, ada ayah, ada Kio juga masa kangen bunda" ucap Kio lembut.
Memang Kia terkadang kangen dengan orang yang belum pernah dia temui itu.
Kia tidak menjawab kini dia diam sambil mengeluarkan air matanya deras.
"Hey hey jangan nangis, besok deh ke makam bunda ya" bujuk Kio sambil memeluk Kia lagi.
"Udah ah ayo tidur" ajak Kio.
"Yaudah gendong ke kamar ya"
"Hm iyaa" jawab Kio sebal
Dengan lembut Kio mengangkat tubuh Kia seperti Koala yang tengah minta gendong induknya.
"Manja banget si lo Ki, kalau nanti gue gak ada mau manja sama siapa lo?" Ucap Kio asal
Kia hanya diam di gendongan kio dengan nyaman mengabaikan suara suara protes pemilik tubuh itu.
Kio membaringkan tubuh kia di kasurnya lalu menarik selimut hendak pergi tidur di kamar samping.
"Kio jangan pergi, gue takut tidur sini aja ya" ucap Kia sambil memegang tangan Kio erat tidak membiarkannya pergi bahkan selangkah pun.
__ADS_1
Kio diam cukup lama memandangi wajah Kia, karena tak tega akhirnya dia mengangguk lalu tidur di sebelah Kia.