Selina, Obsesiku Adalah Kamu

Selina, Obsesiku Adalah Kamu
BAB 12 Wanita Penguntit


__ADS_3


...Keesokan Harinya......


..."Selina, ini... kami ada sedikit uang, tolong diterima ya?"...


..."Ah?"...


..."Maaf karena kami tidak bisa banyak membantumu kali ini."...


..."Kalian tidak perlu sampai seperti ini! aku tidak mau menerimanya! ambil kembali saja uang kalian! Bibi ana, Kak Sofie, kalian juga pasti sangat membutuhkan uang ini kan?"...


..."Tidak Selina! tolong terimalah! karena kami ada, kami ingin sedikit membantumu... Ini sisa uang dari gaji kami bulan lalu, jadi sudah ya terima saja? kami tahu kamu sedang kesulitan."...


..."Tapi..."...


..."Selina, kami akan sangat merasa kecewa kalau kamu sampai menolak menerima sedikitpun bantuan dari kami."...


..."Aku beneran tidak tahu harus ngomong apa lagi... kenapa kalian sangat baik sekali padaku dan nenek? rasanya, kalau aku hanya sekedar mengucapkan terima kasih saja, tidak akan cukup mengambarkan rasa Terima kasihku yang sangat besar pada kalian. aku sangat terharu, kalian selalu saja membantu aku dan nenek."...


..."Selina, Ayolah... berkali-kali sudah kami bilang, kamu tidak perlu sesungkan itu pada kami, kita ini sudah seperti keluarga." Ucap Sofie...


..."Hikss hikss... aku benar-benar sangat berterima kasih pada kalian."...


..."Ng, tapi Selina..."...


..."Iya?"...


..."Kalau boleh kami tahu, total biayanya berapa? uangnya masih kurang ya?"...


...Selina mengangguk "Mn."...


..."Yah..."...


..."Tidak apa-apa... aku akan mencari solusi untuk masalah itu. dan kalian dalam masalah ini sudah sangat membantu, sekali lagi... aku sangat berterima kasih... biarlah untuk sisanya, aku saja yang pikirkan ya?"...


Setelah melakukan beberapa prosedur pengecekan fisik jantung, Dian akhirnya diperbolehkan pulang. namun sayangnya, karena kendala biaya. Dian harus tertahan di rumah sakit.


..."Ng, Selina..."...


..."Iya kak Sofie?"...

__ADS_1


..."Tadi saat kami meminta izin kesini sebentar, Nyonya sama sekali tidak menanyakan kabar ibunya." Cerita Sofie...


..."Astaga Sofie! bukankah aku sudah memperingatimu untuk tutup mulut?! memangnya masalah itu harus diceritakan pada Selina?!" Celetuk Ana, memperingatkan Sofie agar berhenti mengeritik Lydia didepan ibunya...


..."Memangnya kenapa kak Ana?"...


..."Kenapa kenapa! kamu tidak lihat ada neneknya disini?!"...


..."Bibi Dian juga tidak mungkin mendengar obrolan kita."...


..."Sudahlah bibi Ana, tidak apa-apa."...


..."Hufft."...


..."Oh ya Selina!"...


..."Ya?"...


..."Tiba-tiba aku teringat... kenapa kamu tidak coba meminta bantuan dari tuan Samuel?"...


..."Ng? dari kak Muel?"...


..."Selina... Coba kamu pikirkan saran dariku, ya?"...


..."Hmn Selina, Coba pikirkan saran dari kak Ana... entah kenapa aku sangat yakin... kalau tuan Samuel ini pasti akan mau membantumu, karena mengingat selama ini dia selalu baik padamu."...


Samuel memang sering kali menujukan kepeduliannya terhadap Selina. Namun kepedulian yang dia tujukan itu bukan terlihat seperti kepedulian sang kakak terhadap adiknya, melaikan lebih seperti kepedulian seorang pria terhadap kekasih pujaannya


..."Tapi aku baru saja memikirkan... bagaimana kalau aku coba meminta bantuan dari pacarku?" Ucap Selina...


..."Apa?!!!"...


Ana dan Sofie kontan dibuatnya membatu, mereka seolah tidak percaya; Selina pada akhirnya memutuskan akan meminta bantuan dari pacarnya itu. pria yang terkenal sangat pelit, Apa Selina yakin, dia dapat diandalkan dalam membantunya?


Selina sudah memiliki Seorang kekasih bernama, Ivan. Selina sudah bersama dengannya sejak SMA



Selina keluar ruangan neneknya, dia berniat menelpon kekasihnya. Walaupun sebenarnya Selina sendiri tidak yakin sih, Ivan dapat membantunya. akan tetapi, setidaknya Selina kan sudah mencoba meminta bantuannya


Tiba-tiba saja seorang pria menarik perhatiannya, dia tidak lain adalah Stefan. tubuh Selina seperti bergerak dengan sendirinya ingin mengikuti setiap langkah kaki pria itu

__ADS_1


..."Eh... pria itu... dia kan?"...


Selina sendiri tidak mengerti, mengapa dia seolah-olah tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri; Namun Selina merasa dia pernah melakukan hal yang serupa berkali-kali, rasanya tidak asing. rasanya seperti, seperti saat dia mengikuti Rey kemanapun pria itu pergi


...“Apa yang terjadi dengan tubuhku? kenapa rasanya aku ingin sekali mengikutinya? kenapa aku merasa saat ini aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri? aku seperti boneka yang dikendalikan oleh remot. aku ingin berhenti, tolong. aku sudah mencobanya, tapi kakiku ini entah kenapa tidak bisa diam dan ingin terus berjalan mengikutinya... ini sangat aneh.”...


Stefan terlihat masuk kedalam sebuah ruangan VVIP, Selina lantas mendekat. Namun gadis itu telihat linglung, dia mencoba berpikir keras dan mempertanyakan pada dirinya sendiri; untuk apa sebenarnya dia mengikuti pria itu.


...“Selina, keharusan kah kamu mengikutinya sampai kesini? aku sepertinya sudah gila! apa yang kulakukan Arghhh!!!”...


Stefan tidak menutup pintunya dengan rapat, Jadi Selina dapat sedikit melihat orang yang berada didalam ruangan tersebut.


Angel terus-menerus menangis histeris setelah tahu calon bayinya tidak dapat tertolong


..."Why? why didn't you save my baby?"...


Stefan telah melakukan berbagai cara untuk menenangkannya, namun rupanya tidak berhasil. Angel masih saja terus menangis histeris tidak menerima kenyataan bahwa dirinya telah kehilangan calon bayinya itu


..."I suggest you stop crying and get on with your life!"...


Stefan lalu dengan sabar menjelaskan kembali padanya, bahwa dia telah kehilangan banyak darah. nyawanya saja terancam. sedangkan bayi dalam kandungannya itu masih berbentuk zygot, karena usianya baru saja memasuki tiga minggu, masih sangat lemah. kecil kemungkinan untuk tertolong.


Namun rupanya Angel tidak mau mengerti. Angel masih tidak termina kehilangan calon bayinya, dia menyalahkan semua pihak.


Merasa sangat jengkel; Stefan yang tersulut emosi, akhirnya mengeluarkan perkataan yang sudah pasti akan melukai hati Angal dari mulutnya


Stefan mengakatan bahwa sudah sepatutnya anak yang tidak diinginkan kelahirannya itu tidak dilahirkan; dia bisa mengatakannya karena pengalaman pribadi.


Selina yang menguping pembicaraan mereka, menjadi Salah paham. Selina pikir Angel adalah kekasih dari Stefan.


Selina tidak menyangka ternyata Stefan adalah pria yang seperti itu, dia bahkan tidak merasa sedih sama sekali setelah kehilangan calon anaknya. dan lebih parahnya lagi, dia bisa-bisanya mengatakan hal semacam itu pada kekasihnya yang saat ini sedang dalam keadaan terpukul setelah kehilangan calon buah hatinya. Selina menjulukinya pria tidak waras.


Sibuk mengomel dalam hati, Selina sampai tidak menyadari Stefan sudah berada tepat dibelakangnya; sedang memergoki dirinya yang sedari tadi berdiri didepan pintu ruangannya


Stefan berdeham untuk menyadarkan Selina dari lamunannya, Selina yang tekejut sontak berbalik badan; Selina hampir saja terjatuh kalau kalau Stefan tidak menopang tubuhnya dan kini jarak antara mereka terlalu dekat, entah kenapa rasanya jantung Selina jadi berdegup kencang


Selina sangat malu, dia ingin segera melarikan diri. namun Stefan sigap menahannya. dia mendorong Selina hingga gadis itu tersentak ke dinding; Stefan lantas meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Selina; bermaksud untuk menghalanginya melarikan diri


..."Dasar wanita penguntit!" tuduhannya...


..."Maaf? apa katamu?!"...

__ADS_1


__ADS_2