
...SUPRISE!!! HAPPY BIRTHDAY!!!...
Rupanya Jessica dan Allisya telah menyiapkan pesta perayaan ulang tahunnya secara sederhana didalam unit apartementnya. Shailene juga berada didalam pesta ikut memeriahkannya. sambutan hangat penuh cinta dan semangat itu sayangnya mendapatkan balasan tak seharusnya, Stefan hanya masuk dengan wajah datarnya sampai membuat Jessica merasa canggung sendiri. tidak tinggal diam melihat sikap cuek anaknya. lantas, Jessica dengan inisiatifnya merangkul lengan Stefan dan menariknya hingga mendekat pada Allisya yang sedari tadi begitu sabar menunggunya.
Sedangkan Allisya dengan bangga menunggu Stefan mendekatinya, sambil memegangi sebuah kue ulang tahun buatannya sendiri ditangannya. kue itu berbentuk Love, terlihat sangat cantik dengan lilin-lilin kecil diatasnya.
Berkat dorongan Jessica, kini Stefan berada tepat dihadapannya. Allisya tersenyum begitu tulus padanya, tetapi sayangnya wajah datar Stefan itu tidak memiliki perubahan ekspresi. padahal, Allisya sangat berharap bisa melihat sedikit saja senyumannya, ‘mengapa rasanya begitu sulit untuknya bisa tersenyum padanya? tidak apa, Allisya mengerti keterpaksaan Stefan.
Untuk mencairkan suasana, Jessica banyak memuji Allisya, Jessica menceritakan bagaimana repotnya Allisya kala membuat kue ulang tahun Stefan sendiri dengan tangannya dan Allisya pula yang mendekorasi apartement Stefan sampai seperti ini. tujuan Jessica menceritakannya sudah sangat jelas, Jessica ingin membuat anaknya itu membuka matanya lebar-lebar, agar dia dapat melihat besarnya ketulusan hati Allisya padanya dan dia harus mulai menghargai segala usahanya. namun sayangnya respon Stefan tidak seperti yang diharapkan Jessica, anak itu sangat sulit. dia masih saja memasang wajah datar dan menutup mulutnya rapat-rapat.
...Kesal dengan sikap anaknya yang tidak peka, Jessica akhirnya to the point memaksa Stefan untuk mengatakan apa yang seharusnya dia katakan sejak tadi "Stefan, jangan tidak tahu terima kasih seperti itu. sekarang, bilang makasih pada Allisya!" Gumam Jessica...
Dengan ekspresinya yang datar dan tidak terdengar sedikit pun ketulusan dari nada bicaranya, Stefan mengatakan "Makasih." pada Allisya, dan benar-benar hanya satu kalimat itu saja yang keluar dari mulutnya
...Allisya bisa melihat keterpaksaan Stefan yang kental. jelas raut wajah kecewa sempat menghiasi wajahnya, tetapi perubahan ekspresi terjadi begitu cepat, gadis itu kembali tersenyum. Allisya benar-benar pandai dalam hal ini "Sebelum tiup lilinnya, Make a wish dulu?" pinta Allisya...
Stefan tidak melakukannya. merasa muak dengan situasi yang membuatnya tidak nyaman, pria itu langsung meniup lilin-lilinnya begitu saja, tanpa melakukan Make a wish terlebih dulu seperti yang dipinta Allisya. Jessica amat merasa tidak enak atas sikap anaknya itu. telebih, disana temannya Shailene menyaksikan bagaimana dinginnya sikap Stefan tehadap Allisya, anaknya.
...Walau merasa malu dan sangat canggung karena penolakan Stefan, Allisya masih bermulut manis "Selamat ulang tahun, sayang." Allisya merangkul pundak Stefan dengan satu tangannya, lalu mencium bibirnya tanpa permisi. Stefan tersentak. dia tidak mendorongnya, namun juga tidak lantas merespon ciumannya, mulutnya selalu tertutup rapat. setelahnya, wajah Allisya sudah seperti kepiting rebus karena tak bisa lagi menyembunyikan betapa malunya dia....
Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan malam, mereka mengobrol disofa, Stefan dipaksa untuk tetap berada disana. Stefan tidak perduli dengan obrolan mereka, dia hanya terfokus pada ponselnya karena harus berkomunikasi dengan Hans yang sedang mempersiapkan birthday party yang di maunya diDeville Club. sedangkan Jessica terus mengajak Shailene mengobrol, namun Shailene hanya merespon seadanya, karena dia terus memperhatikan Allisya yang terlihat begitu menyedihkan disamping Stefan. Allisya duduk tepat disamping Stefan, namun Stefan terus mengabaikannya.
...Tidak tinggal diam, Allisya berusaha keras memulai obrolan dengan Stefan. "Ehm, Stefan? apa kamu mau melihat desain cincin pertunangan kita?" tawaran Allisya padanya, namun Stefan mengabaikannya...
..."Tidak."...
...Allisya mengatur posisi duduknya lebih dekat lagi dengan Stefan "Aku sudah memilih, dan kamu harus melihatnya. ng, aku pikir desainnya akan sesuai dengan keinginan kita." dia memperlihatkan padanya desain cincin digaleri ponselnya. sayangnya, Stefan begitu cuek. pria itu menoleh pun tidak. tetapi, bukan Allisya kalau begitu saja sudah menyerah....
__ADS_1
...Kalau Stefan tidak mau melihatnya, tidak apa. Allisya tidak keberatan menjelaskan detail desainnya padanya "Ini modelnya Solitaire. tetapi aku membuatnya sedikit berbeda dari yang lainnya, karena dibagian ring bandnya aku meminta agar tidak dibuat polos. aku ingin, bagian lingkar cincinnya dihiasi oleh berlian-berlian kecil. dan, kamu tahu apa? ternyata desainer-nya mengappreciate ide ku. mhh, Stefan bagaimana menurutmu?" tanya Allisya...
...Stefan masih tidak menanggapi obrolannya "Desain cincin pertunangan kita tidak hanya akan terlihat klasik dan elegan, tetapi juga akan terlihat sangat unik. aku tidak sabar melihat hasilnya. bentuknya yang dikelilingin berlian, pasti akan membuat cincin pertunangan kita memancarkan cahaya yang lebih berkilau. Oh ya, aku memilih Christie sebagai desainer cincin pertunangan kita."...
..."Oh."...
..."Jika kamu punya waktu luang, bagaimana dengan menemaniku fitting gaun? aku sangat suka dengan model gaunnya. because, i think it makes me look like a princess hehe. walau begitu, aku masih ingin mendengar pendapatmu?"...
..."Tidak ada waktu."...
...Walau mendapat jawaban kurang baik, Allisya rupanya tidak lantas berhenti mengoceh "Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Ng, ngomong-ngomong Aku sudah meminta Rindu teman semasa SMA-ku, untuk membantu mengatur segala persiapan pesta pertunangan kita sesuai dengan keinginanku. Rindu sekarang berprofesi sebagai wedding organizer, aku sampai tidak menyangka. tetapi, dia memang sangat luar biasa berbakat dalam bidang itu. walau pun Rindu masih baru memulai usahanya sebagai WO, aku tidak meragukannya. justru, aku merasa beruntung memiliki dia sebagai Wedding organizer ku. dia memiliki selera yang hampir sama denganku, jujur itu membuatku jadi lebih mudah untuk menggambarkan keinginanku padanya. Stefan, aku ingin pertunangan kita dilangsungkan bersamaan dengan Party ulang tahun ku bulan depan."...
...Semua yang berada dalam satu ruangan dengannya sangat terkejut mendengar pernyataannya itu "Apa?!" tidak ada yang tahu rencana Allisya, bahkan Shailene sekali pun sebagai ibunya sendiri....
...Allisya hanya dengan percaya diri mengutarakan keinginannya untuk melangsungkan pertunangannya bertepatan dengan hari ulang tahunnya bulan depan, tetapi mengapa semuanya tampak seperti ingin menentangnya "Ke-kenapa?" tanya Allisya lantas kebingungan karena dia merasa tidak ada yang salah dengan keinginannya tersebut...
...Keinginan Allisya tidak disambut baik oleh Shailene. Shailene tampak kesal setelah mendengar keputusan sepihak yang dibuat oleh anak gadisnya itu "Allisya, apa maksudnya itu? bagaimana bisa kamu menentukan tanggal begitu saja tanpa berdiskusi terlebih dulu dengan pasanganmu?" protes Shailene...
..."Mah, menurut mama apa yang sedang aku lakukan sekarang? aku sedang berdiskusi dengan pasanganku?" Jelas Allisya, percaya diri...
Tiba-tiba saja, Allisya menujukan sesuatu pada Stefan yang dia ambil dari dalam tasnya, dan itu tidak kalah mengejutkannya. sebuah majalah Housing Estate.
..."Setelah aku pikir-pikir, setelah kita menikah nanti, tidak mungkin untuk tinggal di Apartement ini lagi. Apartemen ini cukup bagus. hanya saja, terlalu kecil. dan lagi pula, ketika kita sudah berkeluarga, bukankah sudah seharusnya kita tinggal disebuah rumah." Jelas Allisya, mengutarakan pendapatnya...
..."Jadi, aku dengan inisiatifku mencarikan rumah yang cocok untuk kita tinggali. Stefan, aku tahu kamu sangat sibuk akhir-akhir ini, aku tahu kamu tidak akan memikirkan sampai ke hal ini. tidak apa-apa, aku bisa mengerti. maka sebagai pasanganmu, aku dapat menghandle masalah ini untukmu. jadi, kamu tidak perlu khawatir." Jelas Allisya, penuh pengertian...
..."Aku sudah menghubungi beberapa Agen Properti, dan aku akhirnya menemukan satu yang cocok denganku. dan ini, dia membagi beberapa majalah Housing Estate untuk kita lihat. Mhh, sejujurnya aku sudah menemukan satu rumah yang mungkin cocok untuk kita. dari Arsitektur dan Interiornya bergaya American Classic. dan yang paling aku sukai dari rumah itu, adalah komplek rumahnya yang tidak terlalu jauh dari kantormu. kamu hanya perlu waktu kurang dari setengah jam untuk sampai kekantormu, bagimana menurutmu?" Jabar Allisya, lantas meminta pendapat...
..."Oh ya, satu lagi! soal apartemenmu ini... kamu tidak perlu pusingkan, karena Apartemenmu ini sudah ada beberapa orang yang menawar, kita hanya perlu menemukan pembeli yang berani mengeluarkan Budget, sesuai dengan harga yang kita pasang. Agen properti itu benar-benar hebat, dia sangat membantu. rencananya setelah transaksi aku akan memberi fee lebih besar padanya, mungkin 10% dari hasil penjualan. aku pikir dia pantas mendapatkannya sebagai ucapan terima kasih kita padanya." jabar Allisya...
...Betapa terkejutnya Stefan, bagaimana bisa Allisya bertindak seenaknya seperti itu tanpa persetujuannya. terlebih, bisa-bisanya perempuan itu menjual Apartemennya tanpa sepengetahuannya. dia sudah gila. tentu saja itu membuat Stefan sangat marah, tetapi dia berusaha sebaik mungkin mengontrol emosinya karena masih menghargai perasaan sahabat dari ibunya. Shailene mungkin akan sakit hati jika mendengarnya memaki-maki Allisya. "Kamu menjual apartemen, ku?"...
...Shailene yang sama terkejutnya dengan Stefan, lantas blak-blakan memprotes segala tindakan sepihak Allisya tersebut "Allisya, apa-apaan kamu ini?"...
Walau tahu, Allisya memilih mengacuhkan kemarahan ibunya.
__ADS_1
..."Benar! aku akan menjualnya. aku sudah meminta agen properti memasang apartemenmu ini diforumnya sejak minggu lalu, kenapa?" Jawab Allisya, percaya diri...
...Lalu Allisya malah dengan semangatnya memperlihatkan gambar-gambar rumah dari majalah yang dipegangnya "Stefan, bagaimana menurutmu? nah, rumah yang ini adalah rumah pilihanku... ada lapangan golfnya loh!" Ujar Allisya, berusaha keras menarik minat Stefan yang memang memiliki hobby bermain glof...
..."Ahh? atau kamu dominan menyukai rumah yang tipe minimalis dan modern? Stefan, aku terserah padamu, karena apapun pilihanmu aku pasti akan menyetujuinya." Jelas Allisya, tegas...
...Tidak tahan melihat perilaku anaknya, Shailene beranjak dari duduknya, menghampiri Allisya dan latas menarik lengannya "Sepertinya terakhir kali Mama-mu ini memberimu nasihat kamu malah menutup telingamu itu, dan meletakkan otakmu dilemari ya? kamu jangan keterlaluan Allisya! Sekarang ikut Mama pulang!"...
...Allisya menepis tangan ibunya "Mah, apa harus segala hal yang menjadi urusanku didikte? Mama kesal kan? kesal karena aku tidak memberitahu Mama segala rencanaku? masalah rumah akan menjadi masalahku dengan calon suamiku, Mama tidak perlu ikut campur dalam hal itu." tegas Allisya...
...Jessica yang bisa melihat dengan jelas kemarahan Shailene yang meluap-luap dari dirinya, mencoba menenangkannya. "Shailene, coba tenanglah dulu. menurutku, Allisya benar. mereka kan akan berkeluarga, sudah seharusnya mereka memiliki rumah sendiri." Ujar Jessica...
...Namun Shailene tidak sependapat dengan Jessica "Jessica, aku tahu kamu sangat menghargaiku. tapi tolong, jangan selalu membenarkan Allisya. rencana membeli rumah itu memang rencana yang bagus, aku tidak ada masalah dengan itu, jika Stefan menyetujuinya." jawab Shailene...
Jessica melirik Stefan dengan tatapan isyarat, Stefan langsung menyadari maksud dari ibunya itu. tentu saja, dia pasti ingin Stefan ikut turut membela Allisya.
...Stefan latas beranjak dari duduknya, lalu dengan sembarangan menunjuk satu rumah yang ada dimajalah Housing estate itu. "Yang ini." ujarnya, hanya menujuk gambar tanpa melihat...
...Jessica terkejut dengan tindakan Stefan, bukanlah tindakan seperti itu yang diharapkannya. "Stefan, bagaimana bisa kamu memilih rumah dengan sembarangan seperti itu?" protesnya, kesal...
..."Tidak apa-apa tante, Stefan sudah memilih, dan aku akan menyukai apapun pilihannya." sahut Allisya, penuh pengertian...
...Stefan berdecak muak. "Cih!"...
..."Stefan, tolong dengarkan aku. tidak perlu menyetujui hal-hal yang tidak kamu sukai. tidak apa-apa untuk berbicara secara jelas pada Allisya." Ujar Shailene, saat menyadari keterpaksaan Stefan...
Stefan memilih tidak menanggapi Shailene, dia tahu maksud baik Shailene. tetapi ibunya Jessica tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
..."Aku ada urusan diluar, aku pamit." Sahut Stefan tiba-tiba...
..."Tunggu!"...
..."Apa lagi, mah?"...
..."Kamu tidak boleh pergi! tidak boleh! kamu dengar itu Stefan? Mama tidak mengijinkanmu pergi! Lagi pula kamu mau pergi kemana, huh? Allisya masih disini, bagaimana bisa kamu meninggalkannya begitu saja? Stefan, kami disini sedang merayakan hari ulang tahunmu, tidak bisakah kamu menghargainya?" protes Jessica...
__ADS_1
...Allisya dengan penuh pengertiannya "Tidak apa-apa, tante. biarkan saja Stefan pergi menyelesaikan urusannya."...