
...◍Flashback...
Sewaktu kecil Selina selalu ikut neneknya kala pergi berbelanja ke pasar, saat itu mereka selalu menggunakan kendaraan umum untuk alat transportasi karena tidak diizinkan memakai fasilitas dirumah. Selina dan neneknya selalu di turunkan dijalan besar. untuk sampai kerumah mereka harus dulu berjalan kaki cukup jauh, menelusuri beberapa komplek perumahan.
Ada suatu hari Selina menyadari dirinya diikuti oleh seekor kucing putih yang cantik, berbulu lebat dan sangat lucu, Selina langsung jatuh hati dan terlihat sangat menyukainya.
Kucing itu tidak henti-hentinya menggosokkan kepalanya seraya mengelilingi kaki Selina. Selina telihat sangat gembira dan neneknya yang melihat langsung mengatakan bahwa dia boleh membawanya dan merawatnya, Selina senang bukan kepalang, dia terlihat sangat bersemangat untuk mengenalkan teman barunya pada Rey
Hal lucu pun terjadi, Selina menamai kucingnya Emory sedangkan Rey ngotot memanggilnya Seli karena alasan yang sangat konyol, dia menganggap kucing itu kembaran dari Selina.
Akan tetapi kebersamaan Selina dengan kucing kesayangannya itu tidak berlangsung lama. kala ibu tirinya mengetahui dia memelihara seekor kucing dirumahnya, Selina langsung habis kena marah dan dimaki-maki olehnya, namun neneknya selalu terdepan membelanya.
Tapi sayangnya Emory selalu jadi sasaran mainan adik tirinya, kucing itu ditendang, diinjak dan dibanting tanpa perasaan. Selina yang memergokinya kesal dan langsung membentak adik tirinya itu agar tidak menyakiti kucingnya, hal itu terlihat oleh ibu tirinya, dan Selina jadi habis dipukuli pakai stick glof sampai berakhir dikurung digudang semalaman. tidak ada yang bisa membantah Lydia saat itu. setelah menyelesaikan hukumannya, Selina harus mendapati kucingnya mati terkena racun tikus. Selina tentu saja sangat sedih, dia menangis tak henti-hentinya terlebih setelah tahu bahwa ibu tirinya lah yang telah meracuni kucing kesayangannya itu. Selina kini sangat sangat merindukan Emory nya
...Meowww meowww meowww...
Selina yang sedari tadi melamun ke distract oleh suara heboh kucing yang berlari kearahnya, Selina sampai terlongong-longong karena kaget.
..."Eh?"...
..."Astagaaaa!!! Dasar kucing nakal!!!!"...
..."Ng? ini ada apa, bi?"...
..."Huff~ Nona maaf atas kelalaian bibi, maaf sudah membuat nona merasa tidak nyaman dan terganggu."...
..."Eh, a-apa? tidak kok."...
..."Nona tidak memiliki alergi apapun yang berhubungan dengan kucing, kan? Astaga, kalau ada, sebaiknya nona kembali dulu ke kamar tuan. bibi akan menangkap Seli dan memasukkannya kekadang lagi."...
Kucing itu telihat sangat persis seperti Emory, dia berkeliling dan menggosokkan kepalanya dibawah kaki Selina. bagaimana bisa kebetulan seperti ini? kini dia sangat merindukan Emory nya dan malah bertemu dengan kucing yang sama persis dengannya.
..."Ai! Tidak apa-apa bi, Aku suka kucing kok."...
Kucing itu kini berada di pangkuannya, Selina mengelus bagian atas kepalanya dengan gerakan lebut. Seli terlihat sangat tenang saat bersamanya, Seli bahkan seperti ingin menujukan bahwa dia sangat menyukai Selina, kucing itu sesekali terlihat menjilat dan menggosokkan badannya ke tubuh Selina.
..."Huff` Syukurlah~ kalau sampai terjadi apa-apa pada nona, bibi pasti akan kena marah."...
..."Nah, sekarang bibi sudah boleh tenang, karena sepertinya tadi bibi panik sekali."...
..."Yah... tentu saja bibi panik, nona Allisya punya alergi bulu kucing dan waktu itu bibi habis dimarahinnya sampai sakit hati, hufft~"...
..."Mhh."...
__ADS_1
..."Eh, sepertinya Seli sangat menyukai nona."...
..."Seli ini mirip sekali dengan kucingku."...
..."Mhh, nona juga ternyata memelihara seekor kucing dirumah ya?"...
...Selina menangguk "Iya. tapi itu dulu sih... sewaktu aku masih kecil, hehe..."...
..."Kenapa Nona tidak coba mengadopsi kucing lagi?"...
..."Ng... tidak mungkin... karena Ibukku sebenarnya tidak menyukai kucing, dia tidak akan setuju."...
..."Ah sayang sekali` ng, Seli ini kucing yang nakal loh non, malah sangat nakal. kalau belum dinasehati oleh tuannya, kucing ini bisa-bisa membuat kekacauan diseluruh ruangan, suka menjatuhkan semua pajangan sampai pecah, huff~"...
..."Ugh! Apa sampai senakal itu?"...
..."Kucing ini hanya akan menurut pada tuannya, kucing ini seperti mengerti saat tuan Stefan menegurnya karena nakal."...
..."Pfft."...
..."Waktu itu saja Nona Allisya hampir diterkamnya. bibi rasa sewaktu-waktu kucing ini dapat berubah menjadi harimau."...
..."Hah Astagaaaa... pfft... bibi ini ada-ada saja, kucing seimut dan semais ini aku sampai tidak percaya bisa berperilaku senakal itu"...
..."Nona?"...
..."Eh iya, ada apa bi?"...
..."Ini pakaiannya, sudah selesai disetrika."...
..."Ah terima kasih, bi."...
..."Iya iya sama-sama, ng... tapi..."...
..."Eh? Kenapa bi?"...
..."Sepatunya belum kering."...
..."Huff` aku sudah menduganya, sih. tidak apa-apa bi."...
..."Nona mau langsung ganti pakaian?"...
..."Eh, iya."...
__ADS_1
..."Yakin tidak mau mandi dulu? mandi saja dulu didalam."...
...Selina menggelengkan kepalanya....
..."Huff~ yasudah yasudah."...
..."Aku ijin ganti pakaian dikamar tamu, apa boleh?"...
..."Ng... setelah ini nona beneran mau langsung pulang?"...
..."Iya."...
..."Begini... Aih! gimana bibi bilangnya ya."...
..."Ada apa bi? apa aku sebenarnya tidak boleh menganti pakaianku disana?"...
..."Eh? tentu saja boleh. masalahnya bukan itu kok."...
..."Ng? Yasudah kalau begitu aku ganti pakainku dulu ya, bi?"...
..."Tunggu sebentar, Nona!"...
..."Eh, iya?"...
..."Bagaimana kalau nona pulangnya nanti saja?"...
..."Hah? memangnya kenapa?"...
..."Nona boleh pulang tapi nanti setelah tuan Stefan bangun, minta ijin dulu sama beliau, soalnya kalau tidak, nanti bibi bilangnya gimana?"...
..."Ah? soal itu ya... "...
..."Bibi bingung sendiri nantinya... Huff~ bibi takut melakukan kesalahan. jangan-jangan, harusnya bibi ini menahan nona untuk tidak pulang?"...
..."Ng... gimana ya... tapi aku tidak bisa menunggu sampai dia bangun, aku harus segera pulang. ah! begini saja, aku akan menulis surat dan menitipkannya pada bibi?"...
..."Eh? A-apa? surat?"...
..."Iya menulis surat, dengan cara itu bibi tidak perlu repot-repot menyampaikan alasan kepulanganku, beliau akan tahu sendiri setelah membaca isi surat dariku. nah, bibi hanya tinggal memberikan suratnya saja? ng, lagian... aku rasa beliau tidak mungkin menahan aku pulang, karena untuk apa? dan kita juga pasti akan bertemu lagi, karena aku masih berhutang padanya."...
..."Mhh."...
..."Beliau tidak mungkin marah pada bibi karena masalah sepele ini. aku benar-benar harus segera pulang, maaf. orang rumah pasti sangat mencemaskan ku sekarang, ponselku juga sudah rusak karena terkena air hujan semalam dan dirumah nenekku juga sedang sakit, aku khawatir padanya."...
..."Ya mau bagaimana lagi~ yasudah yasudah. nona boleh pulang. sebentar, bibi carikan dulu kertas sama pulpennya."...
__ADS_1