
..."Wanita penguntit?"...
..."Siapa yang kamu tuduh sebagai wanita penguntit? aku tidak."...
..."Katakan padaku, apa tujuanmu seharian ini menguntitku?"...
..."Astaga pria ini! seharian menguntitmu, katamu? tsk. aku tidak melakukannya!"...
..."Pfft. mau berlagak polos?"...
Tubuh Selina kian bergetar, dia sangat gugup; bukan karena dia takut padanya, melainkan Selina merasa tidak nyaman karena jarak antara dirinya dengan Stefan dirasanya terlalu dekat
..."A-aku sudah bilang aku tidak melakukannya! aku tidak sedang menguntitmu! kamu sudah salah paham." Jawab Selina gelagapan...
..."Kamu wanita yang sama dengan yang aku temui didepan minimarket itu, kan?" tanyanya lagi...
..."Mn. kalau itu, i-iya."...
..."Pertama kali aku memergokimu sedang mengawasi mobilku..."...
..."Hei, sudah kubilang, itu karena uangku yang jatuh masuk ke kolong mobilmu."...
..."Dan lagi, kali ini juga kamu kepergok sedang mengawasiku."...
..."Astaga... siapa yang mengawasimu?!"...
..."Siapa kamu sebenarnya?"...
..."Tuan, biarku jelaskan! pertama aku tidak sedang menguntitmu disini dan kedua kita bisa bertemu lagi benar-benar hanya karena kebetulan saja, ingat rumah sakit ini area umum bukan area pribadimu."...
..."Tsk. kamu sudah ketangkap basah jangan mengelak lagi? katakan saja apa tujuanmu?"...
..."Kamu!!!"...
..."Oh... apakah? Pfft astaga... apakah ini trikmu untuk mendekati pria? apa kamu pikir cara seperti ini dapat berhasil menarik perhatianku?"...
..."Cih."...
Selina dibuatnya membatu, tentu saja Selina harus segera menepis segala tuduhan yang dirasanya semakin ngawur
..."Tck. pria ini sangat narsis. menjijikkan." gumam Selina...
Stefan melihat mulut Selina sedang bergumam; namun karena suarnya terlalu kecil Stefan jadi tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Stefan lantas mendekatkan telinganya pada Selina
..."Hei, Apa yang baru saja kamu gumamkan?" tanyanya...
Ingin sekalu rasanya Selina menjauh, namun sialnya tubuhnya terantuk dinding belakangnya
__ADS_1
..."Tidak ada!"...
Stefan mencondongkan wajahnya mendekat, Selina kontan dibuatnya menunduk; karena dia tidak ingin berpapasan dengan wajah Stefan.
..."Benarkah?" tanyanya mencurigai...
Tidak tahan lagi, Selina lantas meletakkan kedua tangannya didada Stefan; bermaksud untuk mendorongnya sedikit menjauh. Jarak antara mereka terlalu dekat, itu tidak baik bagi jantung Selina
...Tiba-tiba saja......
..."Astaga... Selina!!!"...
...Selina langsung menoleh "Huh???" dia sangat tekejut....
..."Rupanya kamu disini? kami mencarimu kemana-mana, tahu." ucap Sofie dengan nada bicara sedikit mengomel...
..."Gimana jadinya Selina? Apa kamu sudah menghubungi pacarmu? apa dia dapat membantumu?" tanya Ana...
..."Ng, ka-kalian... kenapa... Eh! nenek!"...
Ana dan Sofie telihat sedang memapah Dian; Dian rupanya telah mengetahui bahwa dirinya harus tertahan sementara dirumah sakit karena kendala biaya
..."Nenek?!!!"...
Stefan lantas membatu, akhirnya harapannya terwujud; dapat kembali bertemu dengan Selina dan neneknya setelah bertahun-tahun lamanya
..."Selina?"...
..."Bibi Ana, Kak Sofie?"...
..."I-iya?"...
..."Kenapa kalian membawa nenek keluar ruangan?" tanya Selina kebingungan...
..."Ah! i-itu..."...
..."Selina... ng, nenekmu... dia... dia sudah tahu." Bongkar Ana...
..."Ng, itu Selina... Maaf... aku..." Sofie sangat merasa bersalah, karena dia tidak bisa menutup mulutnya; sebelumnya Selina sempat memintanya untuk merahasiakan soal kesulitannya membayar tagihan rumah sakit, Dian yang seharusnya tidak tahu akhirnya menjadi tahu....
..."Hufft~ sudahlah. tidak apa-apa, kak Sofie. sudah terlanjur, cepat atau lambat nenek juga pasti akan tahu, bukan? aku tidak menyalahkanmu."...
..."I-iya... maaf ya Selina? gara-gara aku..."...
..."Tidak apa-apa, sudah sudah... Nenek ayo? sebaiknya kita kembali dulu keruangan nenek, ya?" ajak Selina...
..."Selina?"...
..."Iya? kenapa?"...
__ADS_1
..."Tolong telpon Lydia, ya? biarkan dia saja yang membayar tagihan rumah sakitnya." pinta Dian...
Setelah mendengar permintaan dari Dian, Selina justru dibuatnya diam seribu bahasa. Sebenarnya saat sebelum Dian dibawa kerumah sakit. Selina sempat meminta ijin terlebih dulu pada Lydia, bahkan Selina meminta ijin padanya agar dipinjamkan salah satu dari mobilnya untuk alat transportasi membawa Dian kerumah sakit, saat itu karena Selina pikir ini untuk ibunya sendiri, Lydia mungkin saja akan meminjamkannya. namun kenyataannya sama saja, Lydia tetap tidak meminjamkan.
...Flashback...
..."Pfft. Mau membawa ibu saya kerumah sakit? heh? memangnya kamu punya uang untuk membayar biayanya?"...
Dari mengingat pertanyaannya saja, Selina sudah tahu. tidak mungkin Lydia akan mau membantu membayar biaya rumah sakit ibunya sendiri
..."Eh, Selina?"...
..."Iya, Kenapa kak?"...
..."Tunggu dulu... ngomong-ngomong, pria yang disana itu..." Sofie menujuk Stefan...
..."Oh, dia."...
..."Orang itu... bagaimana bisa?! kalian... Astaga Selina!!!" nada bicaranya jadi terlalu bersemangat "Kamu dan dia... kalian... barusan itu... kalian..."...
..."Hufft~ Bibi Ana, tolong bantu aku memapah nenek kembali keruangannya, ya?" Selina memilih menghiraukan Sofie...
..."Iya ayo, Selina."...
..."Terima kasih."...
..."Ngomong-ngomong, Selina? umh... jadinya gimana?"...
..."Ah! i-itu...."...
..."Kamu masih belum menghubungi pacarmu, ya?" tanya Ana...
..."Iya. tapi bibi Ana kamu tidak usah khawatir, Aku pasti akan meminta bantuan darinya... tapi tidak untuk sekarang, karena dia pasti masih sibuk bekerja saat ini... aku sudah mencoba menelponnya, tapi dia tidak mengangkat telponku... jadi aku akan coba menghubunginya lagi nanti, Ok?" Jawab Selina...
..."Selina, cepat berikan ponselmu!"...
..."Apa? nenek mau apa?"...
..."Biar aku saja yang menghubungi Lydia dan bicara padanya." ucap Dian...
..."Nek, sudahlah."...
..."Selina..."...
..."Baiklah nek... Aku akan pulang dan meminta padanya secara langsung saja ya? jadi nenek sekarang tolong berhentilah mencemaskan masalah biaya, ya? percayakan saja semuanya padaku, aku bisa mengatasinya. lebih baik sekarang perhatikan kesehatanmu saja, kami semua disini sedang sangat menghawatirkanmu."...
Sofie terpesona melihat Stefan, yang berdiri terus memandang kearahnya. sampai-sampai Sofie tidak sadar kalau dirinya telah ditinggal oleh Ana dan Selina
Stefan terus memperhatikan setiap gerak-gerik Selina, tatapannya hanya terus tertuju pada gadis itu. dia sangat senang akhirnya dapat kembali bertemu dengan Selina dan neneknya, mereka adalah orang-orang yang begitu berarti dalam hidup Stefan. namun dibalik rasa senangnya, dia juga merasa kecewa dan kesal setelah mendengar Selina telah memiliki seorang kekasih, hal itu sampai membuat dadanya terasa sesak. terlebih lagi tatapan ketidak sukaan dari gadis itu membuatnya begitu takut, Stefan telah mencintai Selina sejak 20 tahun yang lalu.
__ADS_1