
..."Dasar playboy! sudah berapa banyak perempuan yang menjadi korbanmu dan berakhir dengan trauma? Aku kasihan sama tunanganmu, Apa kamu tidak berpikir kalau dia mungkin sedang menunggu teleponmu dirumah? Apa kamu tidak memikirkan segala hal yang sudah dilakukannya untukmu? Kalau kamu tidak mencintainya, putus saja dengannya! dan kamu kejarlah wanita yang katanya sangat kamu cintai itu. Kenapa kamu malah sibuk mengotori dirimu sendiri disini? huh? kamu tidak pantas disebut sebagai pria! Hmph! Tapi terserlah. Yang jelas, aku tidak mau berpartisipasti dalam permainan gilamu itu. baiklah, tuan Stefan. berhenti bermain-main denganku. Aku mau keluar!" Mata Selina sibuk mencari kunci yang sudah Stefan lempar dengan sembarangan...
..."Pfft. Apa tidak salah? permainan gila, katamu? padahal, jika dibandingkan denganmu... aku ini masih belum ada apa-apanya, loh." cela Stefan...
..."Apa maksudmu?"...
..."Bukankah nona Selina lebih gila lagi? aku sih, belum sampai ditahap berhubungan dengan saudara sendiri." Sindir Stefan...
Selina langsung tertegun mendengarnya, sedangkan Stefan mulai berjalan mendekat kearahnya.
..."Kamu tidak punya hak untuk memberitahuku tentang bagaimana aku memperlakukan tunangan ku. sebelum berbicara, tidakkah kamu sendiri menyadari bahwa kita ada diposisi yang sama? kita ini sama-sama sedang bermain api dibelakang pasangan kita, Selina."...
..."Aku dan Samuel tidak berada dihubungan semacam itu." Bantah Selina...
..."Tsk. Lihatlah baik-baik siapa yang sedang kamu coba bodohi disini, Selina? Aku ini seorang pria dewasa."...
..."Baiklah, tuan Stefan. terserah bagaimana caramu menilai. Aku akan keluar sekarang, tolong jangan halangi jalanku lagi." Selina memungut kuncinya, dan langsung berjalan menuju pintu...
..."Sebentar, Selina... Kamu tidak berusaha menyangkal?" tanya Stefan, heran...
__ADS_1
...Selina berbalik dan mempertanyakan "Apa dengan aku menyangkalnya... kamu akan percaya padaku?"...
...Stefan terdiam....
..."Orang terbiasa percaya pada apa yang mereka mau percayai, untuk apa aku repot-repot memberi kejelasan padamu? penyangkalan ku juga hanya akan dianggap sebagai pengakuan, kan? itu adalah opinimu tentangku? Kalau tuan Stefan sudah berpikir demikian, yasudah. toh, aku juga tidak peduli pendapatmu tentangku." lirih Selina...
..."Ada yang salah dengan minumanmu, aku melihat seseorang memasukkan sesuatu kedalamannya," Ujar Stefan...
...Selina kontan tertegun, syok sudah pasti. meski begitu dia masih menujukan sikap tenangnya "Terima kasih atas informasinya, tuan Stefan. Sampai jumpa..."...
...Stefan menarik lengan Selina dengan kasar, lalu memojokkannya ke dinding. "Kubilang ada yang salah dengan minumanmu! minumanmu sudah diberi obat! dan kamu masih mau pergi menemuinya... bahkan setelah tahu si bangs*t itu berniat menjebakmu? Apa yang membuatmu harus melakukan ini? tidak bisakah kamu menggunakan otakmu? Tidakkah kamu berpikir dia akan berbuat sesuatu padamu? apa kamu tidak tahu apa yang dia inginkan darimu? jika terjadi sesuatu padamu bagaimana?"...
..."Tuan Stefan, kamu terlalu ikut campur urusan pribadiku." jawab Selina, keras kepala...
..."Iya."...
..."Barusan itu apa? hanya kedok kesetiaanmu pada pacarmu?"...
..."Bukan urusanmu!" Tegas Selina...
..."Tch. Wanita ini... kenapa aku membuang-buang waktu ku untukmu..."...
__ADS_1
..."Bisakah sekarang kamu melepaskan ku?"...
..."Seharusnya aku langsung melakukan ini saja." Stefan meraih Selina tanpa peringatan. tangannya menekan dibagian belakang kepalanya dan pria itu mulai mengisap bibir merahnya....
..."Hnngh... "...
Karena syok, Selina reflek membuka sedikit mulutnya. namun Stefan memanfaatkan momen itu untuk lebih dalam menciumnya. Pria itu menjerat lidahnya didalam mulut kecilnya, lidah mereka bergumul, sementara air liur mereka bercampur. Stefan menciumnya untuk waktu yang lama. Hanya dengan ciumannya, Selina merasa panas dan pandangannya menjadi kabur.
Stefan tahu Selina ditekan. Stefan tahu jawabannya adalah kebohongan. meski begitu, dia masih merasa kesal. Stefan ditangkap oleh campuran antara posesif dan keinginan yang kuat. Selina terus berusaha melepaskan diri darinya. sedangkan Stefan, semakin dia memeluknya semakin dia menjadi kecanduan.
Begitu Stefan melepaskannya, Selina sontak menangis dan membuat Stefan jadi merasa bersalah.
Tapi saat Selina mau kabur, Stefan tiba-tiba saja menariknya kambali dan menciumnya lagi... namun kali ini gadis itu mendapat kesempatan menolak, dia langsung mendorongnya dan kemudian menamparnya.
..."Jangan melewati batas!"...
Wajah Stefan menghitam, dia tampak sangat marah. bukan disebabkan oleh tamparan Selina, melainkan karena gadis itu bersikeras pergi darinya untuk menemui Samuel.
...Stefan mencengkram rahang Selina. "Benarkah? bagaimana kalau aku bersikeras melakukannya?"...
__ADS_1