Selina, Obsesiku Adalah Kamu

Selina, Obsesiku Adalah Kamu
BAB 21 Memasak Bersama


__ADS_3


Tak lama setelah Allisya meninggalkan unit apartemen Stefan; Selina keluar dari kamarnya, Rupanya gadis itu sudah sadarkan diri sejak tadi, namun dia memilih menahan diri dibalik pintu dan tidak berani keluar karena takut memperkeruh suasana. kurang lebih Selina mendengar semuanya, mendengar perselisihan antara Stefan dengan Allisya


Mendengar suara pintu terbuka, Stefan kontan menoleh. Stefan tertegun sesaat, dia tampak tekejut melihat Selina yang ternyata sudah sadar dari pingsannya


..."Ah kamu..."...


Selina telihat gelisah dan merasa sangat canggung, dia bahkan tidak berani menatap lurus ke arah Stefan


..."Kamu sudah sadar rupanya?"...


..."Mm."...


Stefan berjalan mendekatinya, mengetahui itu Selina melangkah mundur. Stefan mengernyit tidak suka, apakah Selina melihat dirinya seperti predator buas yang siap menerkamnya? mengapa gadis itu selalu sigap menghindar disaat dia mulai mendekatinya


..."Jangan takut padaku, aku hanya ingin membantumu."...


..."Terima kasih, Tapi tidak perlu merepotkanmu, tuan. aku sudah baik-baik saja."...


..."Baiklah, senang mendengarnya. duduklah, aku akan buatkan minuman hangat untukmu."...


..."Eh? Tidak usah, tuan."...


..."Kenapa?"...


..."Aku tidak ingin merepotkanmu lebih banyak lagi."...


..."Tidak masalah. Hanya sekedar membuatkan minuman tidak akan merepotkan ku."...


..."Terima kasih. tapi sebentar, tuan. Ng, ada yang ingin aku tanyakan!"...


..."Ya, silahkan bertanya?"...


..."Kenapa kamu membawaku ke tempatmu?"...


..."Kan Aku tidak tahu alamat rumahmu."...


..."Huft! benar juga."...


..."Hanya itu yang ingin kamu tanyakan?"...


..."Ada lagi, ini... Soal siapa yang menggantikan pakaian ku? Ja-jangan, jangan bilang itu kamu?"...


Setelah Selina sadar, dia sempat kebingungan tentang keberadaannya dimana. namun dia berusaha mengingat kembali, Selina akhirnya tahu dan setelah tahu pun dia tidak bisa menyalahkan Stefan yang membawanya pulang ke apartemennya. Yang dikatakan pria itu benar, dia sudah pasti tidak tahu alamat rumahnya. namun setelah menyadari pakaiannya yang berubah, Selina mulai berpikiran negatif tentangnya.


..."Oh kalau soal itu... Pfft!"...


..."Jadi itu beneran kamu? La-lancang sekali kamu!!!"...


..."Haha."...


..."Hmph."...


..."Hei? Haha tenang saja, bukan aku yang menggantikan pakaimu, Aku meminta bantuan dari tetanggaku yang juga seorang wanita."...


...Selina menarik nafas lega "HHuff~Benarkah?" tapi masih terlihat sedikit keraguan dalam dirinya...


..."Ya! Lagi pula, Memangnya ada pria yang akan berselera melihat tubuhmu yang kurus dengan dua gundukan kecil yang tidak berguna itu pfft."...


..."Kamu!!! Periksakan penglihatanmu ke-Optalmologis!!!"...


..."Haha sebenarnya lumayan, bentuk payud*ra-mu persis seperti buah persik."...


..."Dasar Cab*l!"...


..."Pfft! Sudah sudah... Hanya bercanda saja... Duduklah, aku akan buatkan dulu minuman untukmu."...


..."I-itu... Aku mau pulang!"...


..."Apa? coba ulangi?"...


..."Aku mau pulang!"...


..."Huff~ Selina, Beginikah sikapmu memperlakukan penolongmu?"...


..."Aku sangat berterima kasih padamu, tuan. Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, lihat? Jadi aku akan pulang."...


..."Tanpa membalas budi?"...


..."Apa katamu?"...


..."Hanya bercanda... Aku akan mengantarmu pulang besok pagi."...


..."Tidak! Aku tidak bisa menginap disini, aku ingin pulang sekarang!"...


...Stefan menghala nafas "Sekarang duduklah dulu disofa sana!" ucap Stefan, jengkel...


..."Dimana pakaianku?"...


..."Pakaianmu basah."...


..."Aku tahu! Tapi kamu disini pasti punya mesin cuci kan? aku bisa mencuci dan langsung mengeringkannya, tolong biarkan aku meminjamkan sebentar."...


..."Kamu baru saja sadar dari pingsanmu, wajahmu saja masih terlihat pucat. orangku besok pagi akan datang, biarkan dia saja yang mengerjakannya. Sekarang, duduklah dulu disofa sana... dan tunggu aku sebentar, aku akan membawakan minuman hangat untukmu."...


..."Aku ingin pulang sekarang!"...


..."Kenapa kamu ini keras kepala sekali? kamu sakit begini, memangnya apa yang bisa kulakukan padamu?"...


..."Ng, Aku tidak berpikir kesana... Aku hanya ingin pulang!"...


..."Hufft!"...


..."Eh? aAhhh!!!"...


Tidak sabaran, tanpa permisi Stefan kontan menggendong Selina untuk dibawanya duduk disofa


..."Tu-tuan Stefan! Apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku!!! Kubilang turunkan aku!!!"...


..."Mn. iya iya."...


Stefan menurunkannya diatas sofa dengan perlahan; sedangkan Selina terlihat mengerucutkan bibirnya, jelas merasa tidak suka dengan tindakan Stefan tadi


..."Hmph!"...

__ADS_1


..."Duduklah yang tenang disini dan tunggu aku sebentar."...



..."Hei tuan, Aku mau pulang! aku sudah baik-baik saja sekarang, jangan menahanku. lagipula aku tidak akan merepotkanmu lagi, aku bisa pulang sendiri."...


Selina masih saja ngotot ingin pulang, gadis itu menyakinkan Stefan bahwa dirinya kini sudah baik-baik saja. Stefan tidak perlu khawatir, dia tidak akan merepotkannya lagi. gadis itu mengatakan jika dia sudah punya banyak tenaga, dan yakin kuat untuk pulang sendirian.


..."Berhentilah berakting sok kuat! ini, minumlah coklat panasmu dulu, lalu istirahat. aku pasti akan mengantarmu pulang besok pagi."...


..."Ng, Ini..."...


..."Apa? Kamu tidak suka?"...


Stefan membuatkan Selina coklat panas yang diberikan topping whipped cream, Stefan tahu betul dari kecil Selina tidak suka minum susu. perutnya tidak ramah akan susu. dia merasa perutnya menjadi kembung dan akan mual setelah meminumnya, sebagai gantinya dia selalu suka meminum coklat panas yang diberi aneka topping diatasnya


Selina mengambil gelas berisikan coklat panas itu dari tangan Stefan; Selina sempat berpikir Stefan akan memberinya segelas susu hangat atau segelas teh manis, dan mungkin bisa jadi segelas kopi? tapi semua dugaannya ternyata salah. Stefan justru memberinya segelas coklat panas yang selalu jadi minuman favoritnya, bagaimana ini bisa kebetulan? kenapa dia seperti tahu selera Selina


..."Suka. Terima kasih."...


..."Mn. Minumlah dan habiskan."...


..."Ya!"...


..."Apa kamu lapar?"...


...Selina menggelengkan kepalanya....


Sialnya perut Selina tidak mau berkerja sama dengannya untuk berbohong, Selina memang belum makan sejak tadi siang dan kini perutnya sangat keroncongan


..."Ah sial!!! Dia pasti mendengar suara perutku!!!" Gumam Selina, malu setengah mati....


...Stefan tertawa mengejek "Pfft."...


...Pipi Selina sampai merona karena amat malu, "Ugh! sudah kuduga!" Selina segara menyembunyikan wajahnya dengan menunduk; dia tidak berani menatap Stefan yang tertawa mengejeknya...


...Stefan mengelus lembut rambut kepala Selina "Pfft. sudah sudah... minumlah sampai habis coklat panasmu, Aku akan pergi membuatkan nasi goreng untukmu?"...


..."A-apa?!! kamu... ka-kamu akan memasak untukku?"...


..."Ya, kenapa?"...


Pipi Selina terlihat semakin merah merona; Stefan. pria itu, akan membuatkan nasi goreng untuknya? dengan tangannya yang biasa memegang uang jutaan dolar? dia akan melewati proses membuat nasi goreng dari awal sampai akhir hanya untuk Selina? pasti ini adalah mimpi para gadis yang menjadi penggemarnya. dan Selina kini menjadi gadis yang paling beruntung karena memiliki kesempatan langka ini. Stefan, pria yang terkenal dengan ketampanan dan kejeniusannya itu. benar-benar mau melakukan hal yang merepotkan seperti ini untuknya? Selina merasa tersanjung



..."Apa ada yang bisa kubantu?"...


..."Kenapa kamu malah kesini? kembali saja, sana! Tidak ada yang perlu bantuanmu, aku bisa melakukannya sendiri."...


..."Tapi, Aku ingin membantumu."...


..."Nanti kamu bantu aku menghabiskan hasil masakannya saja."...


Selina menyusul Stefan pergi ke dapur, dia berniat membantunya. namun Stefan sangat menolak dan malah menyuruhnya kembali duduk disofa dan tinggal menunggu nasi gorengnya jadi. tapi bukan Selina jika tidak keras kepala.


..."Huft~ tidak mau! Aku sangat ingin membantu..."...


Stefan menghala nafas; gadis yang telah dicintainya selama lebih 20 tahun ini ternyata tidak pernah berubah, dia sama seperti Selina yang dikenalnya. sangat keras kepala.


..."Hah? Ya? Jadi apa yang bisa kubantu?"...


..."Kamu mau membantuku mencuci sayuran atau mengiris bahan-bahan yang sudah aku siapakan disana?"...


..."Ah? Aku saja yang mengirisnya."...


..."Baiklah."...


Selina memilih membantu mengiris bahan-bahan yang telah disiapkan oleh Stefan dimeja masak, ada beberapa siung bawang putih dan bawang merah dan juga dua cabai disana; Sedangkan Stefan mulai membersihkan beberapa wortel di wastafel dapurnya


...Tiba-tiba saja Selina bertanya "Kenapa kamu menambahkan lebih banyak bawang putih dari pada bawang merah?" memang bukan hal yang penting untuk dipertanyakan, namun Selina tidak tahu, dia hanya ingin bertanya saja...


..."Karena menurut seseorang, Nasi goreng akan terasa jauh lebih enak jika kita menambahkan bawang putih sedikit lebih banyak dari bawang merah. Haha. orang yang kukenal itu memang sedikit aneh, dia sangat menyukai bawang putih."...


..."Umh."...


..."Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya?"...


..."Eh? aku suka kok."...


..."Hei! iris bahan-bahannya."...


..."Ah iya."...


..."Hati-hati, jangan sampai tanganmu ikut ke iris?"...


..."Tch, Aku tahu! Oh ya, nasi goreng apa yang akan kamu buat?"...


..."Nasi goreng putih."...


..."Oh... Ok!"...


..."Kamu tidak suka? Mau ditambahkan kecap?"...


..."Tidak perlu, Aku suka kok."...


..."Syukurlah, ternyata seleramu tidak tidak ya!" gumam Stefan...



Setelah Selesai makan, Stefan menyuruh Selina segera istirahat. namun Selina menolak, gadis itu mengatakan bahwa tidur setelah makan tidak baik untuk kesehatan lambung


..."Baiklah, kalau begitu Apa aku boleh bertanya beberapa hal padamu?"...


..."Ah, tentu saja! Namaku Selina. eh tunggu! sepertinya kamu sudah tahu, dan astaga! aku baru menyadarinya."...


..."Haha, benar! Aku sudah tahu namamu."...


..."Ka-kapan kita pernah berkenalan?"...


..."Aku tahu karena saat diirumah sakit keluargamu memanggil namamu."...


..."Ah begitu rupanya~"...


..."Selina?"...

__ADS_1


...Selina kontan tertegun, mengapa dia merasa begitu familiar ketika mendengar Stefan menyebut namanya "A-apa?"...


..."Kenapa ekspresimu seperti itu?"...


..."Ti-tidak apa-apa."...


..."Kenapa kamu sendirian dijalan?"...


..."Ah membahas itu ya~"...


..."Kenapa kamu tidak menghubungi pacarmu? Dia kan bisa menjemputmu?"...


..."Daya ingatmu sangat baik, tuan. Tapi, kalau dia mengantarku pulang dengan motornya, dia juga akan kehujanan, mending aku kehujanan sendirian saja."...


..."A-apa!!! 'Mengantarmu pulang' jangan bilang, tadi itu sebenarnya kamu habis menemui pacarmu?"...


..."Mn."...


Selina hanya terdiam. dia tidak ingin membenarkan kenyataannya, namun juga tidak ingin berbohong.


..."Pacarmu itu bukan seorang pria penyandang tunanetra, kan? dia tahu cuaca mendung dan sudah jelas akan turun hujan, tapi dia malah membiarkanmu pulang sendirian? terlebih dimalam hari? Pria macam apa yang kamu pacarin itu? kenapa pacarmu itu tidak punya inisiatif untuk mengantarmu pulang?"...


..."Dia sudah menawariku, aku saja yang menolaknya. dan kenapa juga kamu sangat peduli?!"...


..."Cih! Karena jika itu aku, aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian basah kuyup."...


...Selina kembali terdiam....


..."Huff~ lalu Siapa Rey? Apakah itu nama pacarmu?"...


..."Tu-tunggu! Apa! Rey?"...


..."Sesaat sebelum kamu pingsan, kamu sempat memanggil namanya, Jadi siapa dia? itu jelas nama pria, kan? dia pacarmu?"...


...Selina menggeleng "Bu-bukan! bukan!"...


..."Jadi siapa, Rey? Ah apakah dia selingkuhanmu huh? pfft."...


..."Apa!!! tentu saja bukan!!! Selina sedikit menunduk "Dia... Dia itu kakakku."...


..."Tsk. hanya kakakmu?"...


Stefan terlihat kecewa setelah mendengarnya, Selina menyebut bahwa Rey adalah kakaknya. Stefan ingin memiliki tempat lebih spesial dihati Selina. mendengar Selina mengangap dirinya hanya sebatas kakak Stefan merasa terluka dan sakit hati.


..."Iya. Rey adalah kakakku yang sudah lama meninggal."...


..."Apakah dia sangat berarti dalam hidupmu?"...


..."Kenapa kamu menanyakannya? Tentu saja, tentu saja dia sangat sangalah berarti dalam hidupku, Karena dia kakakku."...


...Stefan terdiam sesaat. "Kembali ke kamar, dan istirahatlah."...


...Selina menggelengkan kepalanya "Tidak! Aku ingin disini."...


..."Apa kamu akan terjaga sepanjang malam? menghawatirkan hal yang tidak perlu? kamu bisa mengunci pintunya kalau kamu takut aku akan melakukan suatu hal buruk padamu."...


..."Sudah kubilang aku tidak berpikir kesana, aku hanya ingin disini."...


..."Terserah! maka segera berbaringlah."...


..."Mn."...


Stefan lantas pergi setelah mengatakannya, Selina pikir Stefan sudah malas mengurusinya yang keras kepala. tidak tahunya Stefan kembali dengan membawa selimut tebal.


..."Hah? kenapa kamu kembali?"...


..."Berbaringlah!"...


..."I-iya."...


Stefan mendorong Selina hingga berbaring di sofa


..."Kya~"...


..."Istirahatlah yang benar."...


Stefan kini berada tempat diatas tubuh Selina, Selina marasa canggung dengan kedekatan mereka.


..."Ba-baik, tapi... tapi kamu segera turunlah dari atas tubuhku! posisi ini sangat tidak nyaman."...


..."Pejamkan matamu sekarang!"...


..."Iya. Ah tidak! Tunggu sebentar!"...


..."Apa lagi?"...


..."Apa aku boleh meminjam telponmu, hanya sebentar? apa boleh?"...


..."Untuk apa? menghubungi pacarmu itu? tidak! lebih baik segera tidurlah." Tanya Stefan, kesal...


...Selina menggeleng cepat "Ah Bukan, bukan!!!"...


..."Lalu?"...


..."Aku ingin memberi kabar pada nenekku, aku takut saat ini dia tidak tidur karena mencemaskanku."...


..."Jadi untuk Menghubungi nenekmu dan bukan pacarmu?"...


..."Iya iya. Apa boleh aku meminjamnya?"...


..."Hanya menelpon nenekmu? hanya nenekmu!"...


..."I-iya. nenekku."...


..."Huff~ baiklah, pakai telpon itu sesukamu."...


..."Benarkah? Terima kasih, tuan."...


..."Setelah itu istirahatlah."...


..."Baik!"...


..."Silahkan telpon nenekmu, aku akan ada diruang kerjaku."...


..."Iya."...

__ADS_1



__ADS_2