Selina, Obsesiku Adalah Kamu

Selina, Obsesiku Adalah Kamu
BAB 20 Memperingatinya


__ADS_3


Setelah mengusir paksa Dhefin keluar dari unit apartemennya, Stefan lantas bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan air hangat guna mengompres tubuh Selina


Kini Stefan berjalan menuju ke kamarnya, dengan membawa sebuah mangkuk berisikan air hangat dan satu handuk kecil


Stefan yang baru saja hendak membuka pintu kamarnya, terusik oleh suara bel dari pintu depan apartemennya yang terus berbunyi hingga berulang-ulang kali


..."Sial! siapa lagi!"...


Stefan sementara menaruh mangkuk berisikan air hangat itu ke meja panjangan yang terletak tidak jauh dari pintu kamarnya, setelahnya dia berjalan terburu-buru ke pintu depan


..."Apa dokter cab*l itu datang lagi? biar kulihat. awas saja kalau itu kau, Dhefin. habis kau!"...


Karena merasa amat jengkel; mulut Stefan tidak bisa berhenti menggerutu dan mengutuk temannya, Dhefin. Stefan menebak orang yang berada diluar pintu apartemennya sana adalah Dhefin


Siapa lagi kalau bukan Dhefin? pria itu memang tidak langsung pergi setelah diusir paksa dari unit apartemennya, dia sempat membunyikan bel berulang-ulang kali sambil berteriak meminta dibukakan pintu


Dhefin ingin mendiskusikan mengenai masalah Angel dengannya malam itu juga, namun Stefan menolaknya karena dia hanya ingin mendedikasikan waktunya untuk merawat Selina


Stefan dengan kesal membukakan pintu; niatnya hanya untuk memperingati temannya itu agar dia berhenti mengganggunya. namun rupanya tembakannya telah salah, bukan Dhefin yang berada dibalik pintu sana, melainkan Allisya


..."Dhefin sudah ku bilang kau... Ah!!!! Allisya!!!"...


..."Selamat malam... Stefan... " Allisya tersenyum riang saat bertemu dengannya...


...Sedangkan Stefan hanya mengernyit kikuk "Untuk apa kamu datang kemari?" dan bertanya jutek padanya...


Allisya tidak datang sendirian, seperti biasa dia akan selalu ditemani oleh supirnya, pak Adam. gadis itu rupanya baru saja shopping gila-gilaan, dan dia tidak mungkin bisa membawa banyak barang belanjaannya itu sendirian; jadi supirnya ditugaskan membantunya

__ADS_1


Wajah riang Allisya tiba-tiba saja berubah, dia terlihat mengerucutkan bibirnya; gadis itu kemudian memutari tubuh Stefan lalu merabanya dengan teliti


..."Ugh!!!"...


..."Apa yang sedang kamu lakukan, Allisya?"...


...Satu tangan Allisya menyentuh dahi Stefan dan satu tangannya lagi memegangi lengannya "Kamu tidak terluka sama sekali, Stefan. suhu tubuhmu normal, dan Jarimu juga berfungsi dengan baik. Tapi kenapa kamu tidak menjawab telponku atau membalas pesanku?" tanya Allisya...


..."Tsk. Sejak kapan aku wajib untuk menjawab telponmu?" tanya Stefan, cuek...


...Mendengar jawaban Stefan yang menohok, Allisya langsung terlihat sedikit menundukkan wajahnya "Sayang... Apa kamu masih marah padaku?" tebak, Allisya...


Beberapa hari yang lalu telah terjadi cekcok antara Stefan dan Allisya. Stefan tidak peduli tentang Allisya yang menggunakan kartu kreditnya untuk berbelanja ataupun membelikan hadiah. yang membuat Stefan amat kesal dan muak padanya adalah karena Allisya selalu bertindak ikut campur dalam kehidupan dan juga pekerjaannya. pertama, Allisya terus menerus mengubungi asisten pribadinya, Hans. membuatnya merasa terganggu dan menjadi tidak fokus dalam mengerjakan pekerjaannya. itu tidak mungkin diabaikan terus. lagi pula Stefan malas mendengar ocehannya, karena Allisya menghubungi Hans untuk hal yang tidak penting. kedua, tanpa sepengetahuan Stefan; Allisya mengajak relasinya untuk makan malam bersama, lalu dia mulai menjilatnya. dia menggunkan nama besar papanya, James Woodley. untuk menarik minat investor agar mau berinvestasi dalam jumlah besar diperusahaan Stefan. itu semua dilakukannya hanya dengan tujuan membantu Stefan, namun Stefan tidak membutuhkan bantuannya sama sakali. Stefan selalu bisa memenangkan tender apapun dengan usahanya sendiri. tapi Allisya membuatnya terlihat seperti dia bukan apa-apa tanpa bantuannya.


..."Stefan..."...


Allisya lantas memeluk erat Stefan, Lagi-lagi dia mencoba membela dirinya. Allisya sama sekali tidak merasa salah. Allisya selalu beralasan bahwa semua yang telah dilakukannya adalah demi masa depan mereka dan demi Stefan juga, memangnya itu salah?


Setelah dibentak Stefan; Allisya lagi-lagi berusaha menghindar dengan nyerocos tentang hadiah-hadiah yang mau dia berikan pada para rekan kerja Stefan dikantor, tapi Stefan sontak mengonfrontasinya.


..."Aku sudah berulang-ulang kali memperingatimu, Allisya! Aku sama sekali tidak suka kalau kamu terlalu ikut campur dalam mengurusi kehidupanku dan juga lingkup perkerjaanku."...


...Allisya membela diri "Karyawan dan timmu adalah orang-orang yang berjasa, mereka sudah berkerja keras dan banyak membantumu, apa lagi Hans. Stefan? memangnya salah, ya? lagian, aku ini kan cuma memberi mereka gift sederhana sebagai tanda terima kasih."...


Stefan benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, selalu saja ada jawaban dari segala hal yang di tentangnya. sedangkan Allisya terlihat percaya diri, merasa apa yang dikatakannya sudah benar. maka dari itu Stefan tidak bisa berkutik lagi dan memilih diam sebagai tanda bahwa dia menyetujui perkataannya.


..."Oh iya, pak Adam! Tolong letakan barang-barang saya disofa sana."...


..."Baik, Nona."...

__ADS_1


Allisya nyelonong masuk lebih dalam ke unit apartemen Stefan, Allisya santai saja nyerocos menceritakan kegiatannya tadi yang pergi melihat-lihat gedung yang telah dipilihnya untuk melaksanakan acara pertunangan mereka nanti. Stefan benar-benar sudah tidak tahan lagi sekarang, dia terang-terangan mengusir Allisya


..."Allisya, ini sudah hampir tengah malam. lebih baik kamu segera pulang." Stefan mengatakannya dengan penuh penekanan...


Allisya menghiraukan nya; dengan antusiasnya dia justru memberitahu Stefan bahwa dia bukan cuma sudah memilih tempat, tapi dia juga sudah mengurus gaun dan cincinnya.


Tapi Stefan sama sekali tidak suka dengan segala hal yang dilakukan Allisya tanpa sepengetahuannya itu, dia merasa seperti ditipu dan menegaskan kalau dia belum siap bertunangan dengannya, apalagi untuk menikah. Lagian dia belum pernah melamar, kan? Allisya jelas kecewa dan canggung mendengarnya.


Allisya berusaha tersenyum, dia tidak bisa menerima kenyataan pahit bahwa Stefan tidak pernah mencoba untuk mencintainya. Allisya selama ini selalu ingin menghindar dari perbincangan itu. perbincangan dimana mereka akan mengakui perasaan mereka masing-masing. Allisya selalu menujukan rasa cintanya, tapi Stefan bersikap sebaliknya.


..."Baiklah, kalau begitu aku akan pulang."...


..."Mn."...


..."Stefan, aku selalu merasa senang disaat kamu mulai menunjukkan perhatianmu padaku. kamu pasti tahu? aku sangat lelah seharian ini, karena terus disibukkan oleh segala persiapan untuk acara pertunangan kita nanti."...


..."Cih!"...


...Allisya tersenyum getir "Karena itu kamu menyuruhku segara pulang? Agar aku dapat beristirahat dengan baik, kan?"...


..."Mn."...


..."Aku akan pulang... Agar kamu juga dapat segera beristirahat. Aku tahu, kamu juga pasti dalam keadaan sangat lelah saat ini. Huff ini salahku, tidak seharusnya aku membahas persoalan ini disaat masing-masing dari kita sama-sama sedang dalam keadaan lelah."...


Stefan benar-benar tidak mengerti dengan isi pikiran perempuan itu, apanya yang bisa disebut perhatian? Stefan mengatakannya dengan nada sinis dan jelas-jelas terdengar mengusir, namun lagi-lagi Allisya mencoba lari dari kenyataan


Allisya ingin mengecup bibir Stefan sebelum dia meninggalkan apartemennya, namun pria itu menghindar dan menolaknya. pada akhirnya Allisya hanya dapat mengecup pipinya.


..."Selamat istirahat, sayang."...

__ADS_1



__ADS_2