Selina, Obsesiku Adalah Kamu

Selina, Obsesiku Adalah Kamu
BAB 8 Ibu Tiri Yang Kejam


__ADS_3


Dua tahun berlalu setelah perceraiannya, Jessica masih dipersulit bertemu dengan anaknya. berbagai cara pun telah ditempuhnya


Mediasi berulang-ulang kali secara bipartit maupun tripartit telah dicobanya, tentu saja dengan meminta bantuan dinas sosial setempat


Akan tetapi segala usahanya selalu berakhir dengan sia-sia, seorang Jeffrey Johnson sangatlah pandai dalam merangkum sebuah alasan-alasan semu


Jeffrey menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menghalangi Jessica bertemu dengan putra mereka


Dia mengakui dan lalu mulai menjelaskan pada semua pihak, bahwa dirinya memang hanya mengizinkan Jessica bertemu dengan anaknya pada akhir pekan saja


Namun Jeffrey kembali menegaskan jika itu dilakukannya bukan tanpa alasan, sebab Rey tengah disibukkan dengan sekolahnya. Alasan tersebut dengan mudah diterima oleh semua pihak yang terlibat.



Dalam kurun waktu dua tahun ini, Rey terpaksa tinggal dirumah Ayahnya bersama dengan ibu tirinya dan juga saudara tirinya


Selama tinggal disana, Rey tidak mendapat perlakuan baik. Dia sering kali dipukuli dan dianiaya oleh ibu tirinya dan juga saudara tirinya itu; tanpa sepengetahuan Jeffrey


Jeffrey sudah setengah tahun ini berada di Los Angeles, karena kerja sama antar perusahaan mengharuskan dia berada disana selama delapan bulan lamanya


Suatu malam terdapat kecelakaan kecil dirumah, Rey dituduh oleh saudara tirinya. Dia dituduh memecahkan Vas bunga milik Lydia yaitu sang ibu tirinya. sebenarnya yang memecahnya Vas bunga itu adalah Samuel dan Viyona, namun mereka malah menuduh Rey


Viyona adalah anak yang telah dilahirkan Lydia, dan saat ini usianya sudah memasuki dua tahun. Viyona adalah anak yang sangat aktif, dan nakal; usianya baru menginjak 18 bulan namun sudah bisa berjalan


Samuel selalu menjahilinya, mereka baru saja bermain kejar-kejaran sampai pada akhirnya tidak sengaja memecahkan Vas bunga kesayangan Lydia.


Setelah mengetahui hal tersebut, Lydia marah besar karena Vas bunga itu adalah barang berharga dan istimewa baginya. Lydia baru saja mendapatkannya dari acara lelang barang antik dan dia sudah rela mengeluarkan uang senilai 2,2 miliar hanya untuk memiliki Vas porselen itu


Karena tidak rela Vas bunga kesayangannya pecah, Lydia pun dengan kasar mendorong tubuh mungil Rey hingga dia terjatuh tepat diatas pecahan-pecahan porselen dari Vas bunga tersebut


..."Dasar anak sialan! kamu tidak tahu seberapa banyak uang yang sudah aku keluarkan demi mendapatkannya?!"...


Rey terlihat mengeluh kesakitan, tangannya dipenuhi oleh luka dan darah. masih tidak cukup puas dengan hanya mendorongnya, Lydia mengambil sebuah rotan dan hampir saja dipukulkannya ditubuh Rey


..."Lydia! berhenti! ada apa ini hah?!"...


..."Jangan ikut campur bu! aku sedang memberi pelajaran pada anak nakal ini!"...


..."Lydia ibu bilang sudah, cukup! lihat dia sudah kesakitan. Rey sayang kemari..."...



Kalau saja Dian tidak datang tepat waktu, mungkin Rey saat ini sudah mendapatkan beberapa luka lain ditubuhnya akibat pukulan rotan


Selama Rey tinggal dirumah Ayahnya, hanya Dian dan Selina lah yang memperlakukannya dengan baik.


Selina bernasib tidak jauh berbeda dari Rey, Selina juga tidak pernah diperlakukan dengan baik. karena dia adalah anak yang tidak jelas asal-usulnya. Lydia tidak pernah benar-benar menerima keberadaannya. Selama ini Dian selalu menjadi sosok pelindung bagi Rey dan Selina, walaupun yang harus dia hadapi adalah putrinya sendiri.


Saat ini Dian dengan telaten mengobati tangan Rey yang terluka. Sesekali Dia akan meniup-niup luka Rey dengan lembut. hembusan anginnya dirasakan Rey menerpa lembut pada tangannya yang sedang terluka.


Sedangkan Selina saat ini berada tepat disamping Rey, Dia tampak begitu cemas dan khawatir saat sedang memperhatikan Dian yang tengah mengobati luka-luka ditangan Rey


Rey tiba-tiba saja menoleh ke arah Selina dan memperhatikannya beberapa saat, lalu dia mulai menyadari bahwa gadis disampingnya itu tengah mengkhawatirkannya


...Rey tersenyum "Aku gak apa-apa kok, ini cuma luka ringan, hanya sedikit sakit. setelah diobati nenek juga akan sembuh dalam beberapa hari, iya kan, nek?"...


..."Iya..."...


..."Tuh nenek bilang iya... kamu denger kan? lagi pula... aku ini anak laki-laki! aku gak boleh lemah! hanya luka segini doang mah tidak sakit, hihi. jadi Selina tidak perlu khawatir ya..." jelasnya membual...


Akan tetapi Selina tahu dengan jelas bahwa Rey sedang berbohong padanya. jelas-jelas Selina melihatnya sendiri, melihat saat Rey terus-menerus meringis menahan perihnya. sudah pasti luka-luka ditangannya itu sangat pedih dan sakit.


Selina tiba-tiba saja memeluk Rey. pada awalnya Rey tampak begitu terkejut, Namun ekspresi keterkejutan jelas diwajahnya itu kian memudar dan perlahan-lahan berganti menjadi seutas senyuman kebahagiaan.


Rey sangat menyukai Selina, karena baginya Selina adalah anak yang paling manis dan imut. dikala Rey sedang merasa sedih, Selina lah yang kerap kali menghiburnya, begitu pun sebaliknya. dan Rey juga selalu menjadi sosok pelindung bagi Selina dikala dirinya dianiaya oleh Lydia sang ibu tiri.


...Mereka menjadi saling membutuhkan satu sama lain~...



Pada malam harinya Rey demam cukup tinggi, Dia terus-menerus mengigau memanggil-manggil nama ibunya

__ADS_1


Dian saat ini berada di sampingnya, memijat-mijat tangannya dengan penuh perhatian. Sebelumnya dia telah mengompresnya menggunkan air hangat


... "Kenapa suhu badannya malah semakin panas?"...


Dian semakin cemas dan panik, ketika dia mulai merasakan suhu tubuh Rey semakin panas. Dian lalu dengan panik mengambil termometer dan benar saja suhu tubuh Rey mencapai 39 derajat Celsius dari normalnya demam hanya 36 derajat Celcius


Dian semakin terlihat panik ketika dia menyadari Rey sudah pingsan, Dian berusaha membangunkannya, dia mengguncang-guncang tubuhnya, namun Rey tidak kunjung sadarkan diri dan wajahnya semakin terlihat pucat.


Dian yang terlihat sangat panik langsung berlari ke luar kamar dan berteriak memanggil-manggil nama anaknya


...Lydia... Lydia.....


Dian Mengetuk-ngetuk pintu kamar Lydia dan terus berteriak memanggil-manggil namanya berulang-ulang kali, saat ini sudah menujukan pukul sebelas malam dan tentu saja Lydia sangat dibuatnya kesal, karena ulah Dian tersebut telah benar-benar menganggu waktu tidurnya


Lydia membuka pintu kamarnya dengan kesal;


..."Ibu!"...


..."Lydia..."...


..."Ibu ngapain sih heboh banget? ibu tahu tidak? sekarang ini sudah jam berapa? ibu semakin tua perilakunya semakin konyol saja! tidak habis pikir aku."...


...Dian menarik lengan Lydia "Lydia, ayo ikut ibu..."...


..."Kemana? jangan aneh-aneh deh..."...


..."Ayo ikut ibu sebentar, Lydia..."...


...Lydia menepis tangan ibunya "Apaan sih? ibu gak jelas banget deh! mending sana deh, ibu balik kekamar ibu, tidur sana!"...


..."Lydia ikut ibu sebentar ke kamar Rey, ya?"...


..."Gak! ada apa emangnya dengan anak sialan itu?"...


..."Lydia... Rey... dia..."...


..."Sudahlah, aku tidak ingin mendengarnya! aku tidak perduli! ibu pergi sana, jangan ganggu aku tidur!"...


..."Tidak Lydia, tapi bagaimana dengan Rey... dia sepertinya harus..."...


..."Cih. benar-benar ya! aku bilang aku tidak ingin mendengarnya! sana pergi, ayo pergi bu! balik sana ke kemar ibu!"...


..."Lydia, Rey sakit."...


..."Tsk. Oh."...


Dian dengan tangan gemeteran memperlihatkan hasil pemeriksaan suhu tubuh Rey yang telah dilakukannya menggunakan termometer


..."Apa ini?"...


..."Kamu lihat dulu, nak!"...


..."Mn, jadi anak sialan itu sakit... demam doang?"...


..."Tapi demamnya kali ini cukup tinggi Lydia, ibu khawatir..."...


..."Khwatir dia mati? pfft malah bagus! dan ibu itu kenapa sih? semakin tua semakin tidak berguna saja untukku? kalau anak itu sakit ya tinggal kompres saja pakai hangat, terus beri dia obat penurun panas. selesai. kenapa malah heboh memberitahuku? ibu ingin aku yang melakukannya? mimpi! aku gak sudi mengurusi anak sialan itu."...


..."Lydia, ibu sudah melakukannya... tapi, suhu badannya sudah tidak wajar, ini mencapai 39 derajat Celcius dan dia sekarang pingsan, Lydia ibu sangat khawatir. Ayo- ayo kita sama-sama membawanya kerumah sakit?"...


..."Pfft. gak! Ayolah bu, sekarang ini sudah jam berapa? coba lihat tuh dijam dinding sana... dan diluar juga sedang hujan deras, jadi besok sajalah ya? tenang saja bu, anak itu juga tidak mungkin mati cuma karena demam kan? ibu ini berlebihan."...


..."Lydia, kok omongan kamu sama sekali tidak enak didengar ya?"...


..."Kalau begitu tidak usah dengar! pergi sana!"...


..."Sadar nak! Rey juga sekarang adalah anakmu, jadi tujukanlah sedikit saja rasa kepedulianmu padanya."...


..."Cih."...


..."Kalau suamimu tahu anaknya diperlakukan seperti ini..."...


..."Tsk. jadi ibu ini sedang mengancamku? hah?!"...

__ADS_1


..."Bukan begitu maksud ibu, nak..."...


..."Ibu mau mengadukan ku pada suamiku?"...


..."Tidak..."...


..."Silahkan saja! lakukan saja! Haha. Asalkan ibu tahu, Jeffrey juga tidak pernah perduli pada anak sialan itu... dia mau mati sekali pun apa peduli Jeffrey padanya."...


..."Ibu tidak akan membuang-buang waktu untuk berdebat denganmu disini. Rey saat ini sedang membutuhkan pertolongan! Ibu akan membawanya kerumah sakit malam ini juga Lydia!...


..."Yasudah sana... bawa saja dia kerumah sakit. tapi, aku tidak mengizinkan ibu membawa dia kerumah sakit pakai mobil disini."...


..."Apa? Lydia, kamu ini... kamu jangan keterlaluan! mobil suamimu digarasi jumlahnya lebih dari sepuluh dan Rey memiliki hak memakainya juga."...


..."Hahaha. Oh ya jelas! suamiku orang kaya! tapi, sayangnya mobil-mobil mewah itu bukan diperuntukkan untuk mengangkut mayat."...


..."Lydia jaga ucapanmu! Rey bukan mayat! dia masih hidup. astaga."...


..."Sekarang dia masih hidup, gimana kalau dia tidak bisa bertahan? dan mati dalam perjalanan menuju rumah sakit?"...


..."Lydia!"...


..."Bu, aku gak akan sudi ya... mobil mewah suamiku ternodai oleh bau bau mayat anak sialan itu... lebih baik ibu bawa saja dia kerumah sakit pakai kaki ibu sendiri... kaki ibu itu masih ada gunanya kan? jadi pergi jalan kaki sana! lagi pula setahuku rumah sakit dari sini tidak terlalu jauh... kenapa diam? sudah sana."...


..."Dimana... dimana sebenarnya hati nuranimu itu, Lydia?"...


..."Ibu harus tahu diri dong bu, yang membiayai hidup ibu sampai detik ini itu adalah aku! aku! ibu seharusnya berada dipihak ku, bukan?"...


..."Kenapa... kenapa aku bisa membesarkan anak sepertimu? yang tidak memiliki hati nurani sedikit pun. sepertinya aku telah salah cara mendidikmu, Lydia! aku merasa sangat gagal menjadi orang tua setelah melihat perilakumu yang seperti ini."...


..."Cih. ibu akhirnya mengakui kalau ibu telah gagal menjadi orang tua yang baik."...


..."Lydia..."...


..."Kenapa aku harus lahir dari rahim wanita miskin yang hanya bisanya merepotkan anak seperti ibu, ini? ibu yang tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung! sudahlah, sana! sana bawa anak sialan kerumah sakit. jangan ganggu tidurku lagi! dan, tidak perlu repot-repot mengabariku mengenai kondisinya... lebih bagus lagi kalau ibu biarkan saja dia mati."...



Dian terpaksa meminta bantuan pada tetangga sekitar, untung saja mereka mau menolongnya membawa Rey kerumah sakit terdekat. Rey saat ini sudah mendapat infus dan dia harus dirawat dirumah sakit dalam beberapa hari kedepan, tentunya sampai kondisi tubuhnya dinyatakan pulih


Dian sepanjang malam berada disampingnya, Namun saat pagi tiba Dian terpaksa harus meninggalkannya untuk kembali kerumah. Karena jika tidak, Lydia sudah pasti akan mengomelinya.


Lydia memperlakukan Dian persis seperti seorang pembantu, dia ditugaskan membuat sarapan dan mengurus anaknya, Viyona.


Pada malam harinya, sudah pukul sembilan malam dan Viyona masih sangat aktif, seharusnya dia sudah tidur setengah jam yang lalu; Dian menjadi gelisah, seharusnya dia sudah berada dirumah sakit sekarang.


..."Lydia, Ibu harus segera pergi kerumah sakit. kasihan Rey disana sendirian."...


..."Mn, pergi saja... nanti setelah Viyona tidur."...


..."Kamu sesekali belajar tidurkan anakmu sendiri Lydia."...


..."Viyona adalah cucumu sendiri, sedangkan Rey si anak sialan itu... cih, siapa dia!"...


Lydia tengah asik menonton televisi sambil merawat kuku-kuku jari tangannya, dia bahkan sama sekali tidak pernah memperdulikan anaknya sendiri. Mengapa Dian membesarkan anak seperti Lydia? Dian sekarang merasa benar-benar malu karena kegagalannya dalam mendidik seorang anak


Namun tiba-tiba saja, Ada berita kebakaran rumah sakit di televisi. Dian benar-benar terkejut karena rumah sakit yang disebutkan oleh reporter berita itu adalah rumah sakit dimana Rey dirawat.


..."Loh... itu... i-itu..."...


..."Mhh, RS cita kasih ini... tsk. bukankah rumah sakit yang tidak jauh dari rumah itu ya?"...


..."I-iya."...


..."Pfft. berarti... yang kebakaran itu adalah rumah sakit dimana si anak sialan itu dirawat dong?"...


..."Astaga Rey! tidak mungkin! tidak tidak tmungkin! Rey pasti baik-baik saja... iya... Rey pasta baik-baik saja. A-aku harus segera kesana!"...


..."Heh, tunggu dulu!"...


..."Apa Lydia! ibu harus segera kesana!"...


..."Apa aku mengijinkan ibu pergi ke sana? lihat dulu dong, Viyona saja masih belum tidur."...

__ADS_1


..."Lydia... kamu tidak lihat beritanya? Rey dalam bahaya disana dan dia sendirian dirumah sakit itu, tolonglah nak..."...


..."Kalau dia mati ya mati saja, apa peduliku? pokoknya, ibu hanya boleh pergi setelah menidurkan anakku, ibu mengerti?"...


__ADS_2