
...◔ Taksi yang ditumpangi Selina kini sudah sampai didepan gerbang rumah keluarga Johnson ◑...
Namun Supir taksi malah dibuat keheranan, karena Selina tidak langsung membuka pintu dan turun dari mobilnya saat itu juga. melalui kaca kecil supir taksi itu bisa melihat ekspresi wajah Selina yang terlihat gelisah dan ragu.
..."Ng, nona? Ngomong-ngomong... kita sudah sampai."...
Saat ini perasaan Selina campur aduk, dia merasa segan tapi dia perlu, tentu saja perlu meminta kembali kelebihan ongkos taksinya. karena argo yang seharusnya dibayarkan tidak seberapa, tetapi uang yang diterima supir taksinya sangat berlebihan
Pada intinya, sebenarnya Selina tidak enak hati untuk meminta kembali kelebihan uangnya, apa lagi setelah melihat reaksi supir taksi itu yang terlihat senang dan mengucap rasa syukurnya setelah menerima segepok uang dari Stefan. tapi Selina bisa apa? walau mungkin Stefan tidak akan mengungkit dan menagih uangnya, akan tetapi Selina merasa terbebani karena baginya itu tetaplah hutangnya.
Karena Selina terus diam didalam mobil hampir 10 menit lamanya. akhirnya supir taksi itu memutuskan keluar dan membukakan pintu untuknya.
..."Eh?"...
..."Haha... maaf saya kurang peka, saya pikir nona orang yang terbiasa membuka pintu mobil sendiri."...
Pemilihan katanya cukup sopan, tapi dari nada bicaranya terdengar seperti menyindir. jadi supir taksi ini berpikir Selina tidak turun karena dia ingin dibukakan pintu.
..."Silahkan turun, nona~"...
..."Mn iya. Terima kasih, pak!"...
..."Iya, iya sama-sama."...
..."Ng... sebentar, pak!?!"...
..."Eh, iya ada apa nona?"...
..."Ehm, begini... sebenarnya saya gak enak juga untuk mintanya, tapi boleh ya kelebihan uangnya dikembalikan saja?"...
..."Hah?"...
Pada akhirnya supir taksi itu menolak mengembalikan kelebihan uang dari ongkos taksinya. tidak ingin terus cekcok akhrinya Selina mengalah dan mencoba mengikhlaskannya. lagi pula memang benar, itu sudah menjadi rejekinya. sebenarnya disini salah jika Selina harus merebut kembali haknya, tapi masalahnya itu bukan uang pribadinya dan itu pada akhirnya akan menjadi hutang lagi baginya.
Seberapa banyak uang yang Stefan berikan pada supir taksi itu? Selina sebenarnya tidak tahu pasti jumlahnya, tapi sepertinya lumayan banyak. Selina masih harus memikirkan banyak cara untuk mendapatkan banyak uang, tentu saja untuk membayar hutang sebelumnya. yaitu biaya rumah sakit neneknya, dan sekarang harus ditambah lagi hutang ongkos taksi? yatuhan, rasanya kepala Selina mau meledak. terlebih memikirkan dia berhutang pada orang yang sama.
..."Shhh pria ini! dia adalah masalah."...
Selina melewati pintu gerbang kecil untuk masuk kedalam rumahnya, gadis itu langsung mendapat sapaan ramah dari seorang satpam rumah yang bernama Jhon
..."Eh? ternyata non Selina, baru pulang?"...
...Selina tersenyum ramah padanya...
..."Iya, pak Jhon. selamat pagi."...
..."Pagi~"...
..."Aku masuk kedalam dulu ya, pak Jhon. semangat bertugas!!!"...
..."Eh Iya, iya. semangat!"...
...❁ Selina kembali mendapat sapaan ramah dari tukang kebun ❁...
..."Eh non Selina, baru pulang? selamat pagi~"...
..."Ng iya, selamat pagi juga pak Andre, semangat bekerja ya!!!"...
..."Semangat!"...
..."Saya masuk kedalm dulu ya."...
Selina cukup akrab dengan semua pekerja dirumah, karena mereka semua bersikap ramah padanya. entah itu satpam, tukang kebun dan ART semuanya sudah seperti keluarganya.
Selina langsung berjalan menuju paviliun tempat dia dan neneknya tinggal, Selina membuka pintu dan melihat rumah sudah kosong. tentu saja karena Sofie dan Ana pasti sudah mulai mengerjakan pekerjaan mereka yang seharusnya, dan Selina sudah pasti akan pergi membantu, tapi sebelum itu dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Setelah selesai mandi, Selina langsung menuju ke kamar neneknya. karena saat dia pulang, gadis itu langsung pergi mandi dan belum mengabari neneknya bahwa dia sudah pulang. Selina hanya takut neneknya berpikir dia masih belum pulang sampai sekarang dan dia takut neneknya akan terus bersama dengan perasaan cemasnya.
Biasanya neneknya sudah bergegas ke rumah utama untuk membantu merapihkan rumah, namun karena kondisinya yang belum stabil dan sembuh total, Selina melarangnya melakukan banyak aktivitas yang melelahkan, dan memaksanya untuk tetap berbaring diranjang.
Tetapi Selina merasa sedikit aneh, biasanya ketika mendengar suara Selina, telinga neneknya bisa menjadi sangat sensitif, dia akan langsung mendengar dan tahu itu adalah suara cucunya. tetapi sejak Selina pulang neneknya tidak bersuara sama sekali. padahal Selina menimbulkan banyak suara yang lumayan berisik diluar ruangannya.
Selina membuka pintu kamar neneknya dan mendapati ranjang yang sudah kosong, neneknya tidak ada dikamar.
..."Loh? kosong! jangan-jangan nenek!"...
Selina menjadi sangat panik, dia langsung berlari menuju rumah utama. sudah pasti neneknya saat ini sedang memasakkan diri untuk tetap beraktivitas seperti biasanya. Selina begitu kecewa terhadapnya, karena seharusnya dia mengingat kondisinya yang belum sepenuhnya pulih.
..."Sofie, apa pekerjaanmu sudah beres? pergi sana kerjakan tugasmu! bersihkan seluruh ruangan! SEKARANG! dan ini lagi, Ana!"...
..."I-iya nyonya?"...
..."Shh apa kamu ini tuli? anakku barusan bilang, dia minta dibuatkan roti maryam, jadi sekarang kamu pergi buatkan untuknya! Ayo CEPAT!"...
Selina yang baru saja memasuki ruangan sudah harus mendapati neneknya terjatuh bersama pecahan-pecahan gelas didepannya, sedangkan Lydia bukannya membantu ibunya berdiri, malah hanya terus mengomel karena gelasnya yang pecah.
Dian memaksa ingin membantu meringankan pekerjaan Ana, Dian bertugas menghantarkan makanan yang sudah Ana masak ke meja makan. dan yang terakhir adalah jus yang diinginkan Lydia. namun saat jalan menuju meja makan, tiba-tiba saja Dian merasa kepalanya begitu pusing, dan akhirnya menyebabkan Dian tak sengaja menjatuhkan gelasnya. dan dia pun ikut terjatuh bersama dengan gelas yang di genggamannya itu.
Lydia sangat marah, dia melontarkan setiap kata yang sudah pasti akan menyakiti hati ibunya itu. Lydia mengatakan apapun yang dikerjakan ibunya berakhir menjadi kekacauan. Sofie dan Ana yang melihat Dian terjatuh langsung panik berlarian ingin menolongnya, namun Lydia melarang siapapun mendekatinya dan menyuruh mereka mengabaikannya. Lydia pun malah memerintah keduanya untuk bergegas mengerjakan semua pekerjaan mereka dengan benar.
..."Ana!"...
..."I-iya nyonya, saya akan segera buatkan roti maryam untuk nona Viyona."...
..."Tch ya, ya. tapi tolong buatkan saya jus yang sama dulu! saya ingin minum jus."...
..."Ng?"...
..."Apalagi? tidak lihat? Jus saya sudah tumpah karena ibu yang tidak becus satu ini! Kerjakan apa yang saya suruh! SEKARANG JUGA! CEPAT! JANGAN LELET! MAU SAYA PECAT KAMU! tidak usah pedulikan dia, dia jatuh sendiri."...
Selina dengan panik berlari mendekati neneknya
..."NENEK!"...
..."Cih! dari mana saja kamu? kenapa baru muncul?"...
..."Mommy, dia itu dari semalam tidak dirumah." ujar Viyona, menyindir...
__ADS_1
..."Heh Selina, apa yang sebenarnya kamu dapat dari menjadi gundiknya pacarmu yang miskin itu? huh? lebih baik kamu jual diri pada pria kaya diluar sana, dan menghasilkan banyak uang. dasar perempuan bodoh."...
..."Lydia, sudah cukup! jangan menuduh anak sembarangan! Selina tidak pulang karena tertahan hujan dan dia menginap dirumah teman wanitanya."...
...Pfft. ibu, anggap saja aku ini sedang memberikan nasihat baik pada anak perempuanku yang satu ini, apa masalahnya?" dengan santainya Lydia mengatakannya....
...Selina membantu neneknya berdiri...
..."Sudahlah nek, aku tidak apa-apa. ini, nenek tidak terkena pecahan dari gelasnya kan? tidak ada yang terluka kan? nenek coba bilang padaku, dimana yang sakit?"...
..."Ahh Tidak apa-apa Selina, nenek baik-baik saja. tidak terkena pecahan dari gelasnya kok. sudah sudah jangan khawatir."...
..."Gimana aku gak khawatir, terus ini kenapa nenek bisa jatuh? nenek merasa pusing? tidak enak badan? atau apa? kenapa sih nenek susah sekali dibilangin? harusnya nenek istirahat saja dengan baik, pulihkan dulu kondisi nenek. jangan melakukan aktivitas apapun sebelum kondisi nenek benar-benar pulih."...
Untung saja pecahan-pecahan gelas itu tidak melukai neneknya. Selina sama sekali tidak mengerti pada ibu tirinya itu. dia sangat tidak berperasaan. Lydia tidak mencintainya sebagai anak itu mungkin masih masuk diakal, karena Selina sadar dirinya hanya anak yang tidak jelas asal-usulnya. tapi, ini ibunya sendiri dan Lydia masih memperlakukannya begitu kejam.
..."Cih! lihat sorot matamu yang melihatku dengan penuh kebencian itu. heh, Selina! kamu pikir kamu ini siapa? beraninya kamu melihatku dengan tetapan mata kebencian seperti itu." pekik Lydia, penuh amarah...
...Selina berusaha tidak menangis, "Aku sadar siapa diriku, aku tidak pernah lupa dari mana aku berasal dan kenapa aku masih bisa hidup sampai sekarang. aku tidak pernah melupakan hutang budiku padamu." jelas Selina, tegas...
..."Hng."...
..."Aku tahu ibu tidak menyukaiku, ibu boleh membenciku. terserah ibu saja. tapi nenek, kenapa ibu begitu kejam padanya? bagaimana pun dia adalah ibu kandungmu! perlakukanlah dia dengan baik!" ujar Selina, mengatakannya dengan nada suaranya yang semakin meninggi diakhir...
..."Diam kamu Selina!"...
Lydia yang kesal sontak mendorong Selina hingga tersungkur. Dian yang saat itu berada disampingnya ingin menahan cucunya itu, tapi sayangnya tubuhnya yang sudah rapuh tidak mampu melakukannya. sialnya Selina terjatuh tepat diatas pecahan gelas, hingga menyebabkan telapak tangannya tertancap pecahan gelas yang sangat runcing.
...Arghhhhhhhhh...
..."Haha MAMP*S!" ejek Viyona...
Lydia mencengkram dagu Selina dengan kasar
..."Berani-beraninya kamu bicara padaku pakai nada tinggi seperti itu! dasar anak tidak tahu diri! tidak tahu diuntung! tidak tahu terima kasih! dasar anak SAMPAH!"...
..."Lydia! sudah CUKUP! ng Selina... tanganmu..."...
..."Tidak apa-apa, nek."...
Lebih kejinya lagi, si Ibu tiri malah semakin mendorong-dorong Selina hingga darahnya semakin mengucur deras dari tangannya, dan tidak cukup puas dengan itu. Lydia bahkan sampai menginjak tangan Selina yang sudah tertancap pecahan gelas, bisa dibayangkan bagaimana rasanya. sampai membuat Selina meringis kesakitan.
..."Rasakan! itu adalah akibatnya dari berani menentang ku! jangan mencobanya lagi!"...
...🌙 Malam harinya...
Selina menolak dibawa kerumah sakit, gadis itu hanya mengobati lukanya sendiri dengan dibalut perban seadanya. walau sebenarnya Selina merasa kesakitan amat kesakitan dia tetap tidak ingin.
Selina hanya tidak mau menyusahkan banyak orang, karena Selina tahu dirinya berada dititik sedang tidak memiliki apa-apa. akan merepotkan kalau dia harus mendapat penanganan rumah sakit, karena itu akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. walaupun Sofie dan Ana dengan baik hatinya mau menanggung biayanya, tetapi Selina tidak enak hati dan akan merasa bersalah jika mereka harus menguras setengah uang gajinya untuknya.
Sekarang Selina sedang diluar teras, termenung menatap langit sendirian.
Dan tiba-tiba saja neneknya keluar, langsung duduk dikursi sampingnya. Selina kontan menoleh, dan tanpa basa-basi gadis itu mengomeli neneknya itu.
..."Nenek?"...
..."Iya ini aku."...
..."Ayolah nek, apa yang nenek lakukan? kenapa keluar? ini sudah hampir tengah malam, nenek sebaiknya didalam saja. tidak baik terkena angin malam, apa lagi, kondisi nenek saat ini belum sepenuhnya pulih. ayo, aku akan memapah nenek kembali kedalam."...
..."Huff~"...
..."Coba sini, kasih lihat mana tanganmu yang terluka? biarkan nenek melihatnya? eh ini darahnya masih tidak berhenti keluar ya?"...
..."Ah?! ini... lukaku ini bukan apa-apa, haha. tanganku ini pasti akan membaik secepatnya. sekarang saja aku sudah merasa jauh lebih baikan dari tadi siang."...
Selina berbohong, jelas dia berbohong. dia merasa kesakitan bahkan sangat kesakitan. karena darah terus mengalir dari tangannya, Selina sudah beberapa kali mengganti perbannya agar tidak terlihat menghawatirkan tetapi darah itu terus mengucur tanpa henti.
..."Jangan coba-coba berbohong padaku, kamu pikir aku ini mudah dibodohi?! pokoknya, besok harus pergi kerumah sakit untuk diperiksa lukanya ya? jangan dibiarkan seperti ini, bagaimana kalau terjadi infeksi? biarkan Ana atau Sofie mengantarmu besok."...
Selina dengan cepat menggelengkan kepalanya
..."Ahhh! tidak, tidak, tidak usah! Nek, aku bisa mengobatinya sendiri kok, tanganku ini pasti akan membaik dengan sendirinya."...
..."Kamu ini keras kepala sekali, hmph."...
..."Nenek juga, hmph."...
..."Haha anak ini. jangan mencontoh perilaku yang buruk dariku."...
..."Hehe."...
..."Ng, Selina?"...
..."Mn, iya? kenapa nek?"...
..."Huff~ maafkan sikap ibumu tadi ya?"...
...Selina terpegun cukup lama, dia tidak menjawab, gadis itu hanya tersenyum getir...
..."Jangan sampai kamu menaruh dendam padanya dihatimu, Nenek mohon jangan membenci ibumu."...
..."Mm, aku tidak."...
..."Gadis baik, cucuku tersayang... tetaplah berbesar hati seperti ini."...
..."Mn. iya."...
Dian merangkul Selina, dan Selina menyenderkan kepalanya pada pundak Dian yang nyaman.
..."Oh ya, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Ivan? kenapa kamu tidak pernah menceritakannya lagi pada nenek?"...
..."Ahhh?!"...
..."Selama kalian berpacaran, nenek hanya pernah bertemu dengannya sekali saja. bagaimana sejauh ini dengannya, Selina? bagaimana cara dia memperlakukanmu?" tanya Dian, tiba-tiba...
..."A-apa sih, Nek!" Selina terlihat senyuman malu-malu...
..."Aih, masa iya nenek sendiri tidak boleh tahu?"...
..."Pfft Nenek, jangan salah paham, bukan begitu maksudku, nenek tentu saja boleh tahu. ng, hubungan kami sejauh ini baik-baik saja, Ivan pria yang sangat baik nek, nenek tidak perlu khawatir."...
..."Kalian berencana menikah, kan?"...
..."Eh? soal itu..."...
__ADS_1
..."Sudah sejauh mana persiapannya? pasti terhambat karena ibumu mempersulit kalian ya?"...
...Selina tersenyum "Untunglah Ivan sangat memperjuangkan hubungan kita, Nek. dia sangat mencintaiku, aku merasa beruntung memilikinya." ujar Selina...
..."Syukurlah syukurlah, sepertinya kamu bertemu pria yang baik. semoga dia menjadi pria yang tepat untukmu. nenek bisa jauh lebih tenang nantinya. jadi Selina, segeralah menikah."...
..."Ahhh?! aku me, menikah?"...
..."Nenek ingin melihatmu berkeluarga, karena semisalnya nenek dipanggil tuhan lebih dulu, nenek akan merasa jauh lebih tenang, karena nenek sudah tahu, kamu tidak akan sendirian disaat-saat nenek meningggalkanmu nanti. Selina, nenek ingin memastikan kamu tidak sendirian."...
Entah kenapa, tiba-tiba saja tersirat bayangan Stefan di pikirannya, dia sama sekali tidak memikirkan kekasihnya sendiri, yaitu Ivan.
..."Sel? Selina? Hei? kenapa kamu malah melamun?"...
..."Akh! Apa?! Eh nenek...aku mohon jangan berbicara seperti itu, Ok? percayalah, bahwa kamu akan mampu hidup sampai 50 tahun lagi, atau bahkan 100 tahun lagi."...
..."Pfft, Kamu ini bercanda apa? nenekmu ini bukan vampir."...
..."Tidak tidak! aku tidak bercanda! pokoknya nenek harus selalu menemaniku!"...
...Dian tersenyum "Selina, tidak perlu membayar uang 2 miliar itu pada Lydia. kalau kamu sudah yakin dengan Ivan, maka cepat menikahlah. tinggalkan rumah ini. sejak kecil kamu selalu hidup menderita disini. sekarang, sudah waktunya kamu mencari kebahagiaanmu."...
..."Oke! tapi aku ingin membawa nenek ikut bersamaku."...
..."Apa?! tentu saja tidak bisa. nenek akan tetap tinggal disini. tapi percayalah, nenek akan selalu mendoakanmu, dan nenek akan meminta Sofie atau Ana mengatar nenek mengunjungimu sesekali. berikan nenek cucu laki-laki dan perempuan."...
..."Tidak mau! Aku ingin selalu bersamamu."...
..."Selina... aku ini hanya ingin melihatmu bahagia."...
Sekarang sudah tengah malam, hari pun telah berganti. sekarang adalah hari ulang tahun Rey; Selina dan neneknya masih duduk diluar, memandangi langit bersama, mengucapkan selamat ulang tahun untuknya dari jauh. dan lalu termenung bersama dalam diam, memanjatkan banyak do'a untuknya. mereka selalu melakukan hal seperti itu selama bertahun-tahun dihari ulang tahun Rey.
Rey sudah meninggalkan mereka 15 tahun yang lalu, tetapi Rey adalah orang yang begitu sepesial dalam hidup mereka. mereka menganggap Rey tidak pernah hilang walau raganya tidak lagi bersama mereka. terlebih bagi Selina. Selina tidak pernah berhenti mengingatkannya, tidak pernah berhenti mencintainya dalam hatinya. Rey akan tetap hidup dihati Selina dan neneknya, sampai kapanpun Rey akan selalu menjadi yang tersepesial.
..."Aku tahu kamu pasti diatas sana. menjelma menjadi rembualan yang menghias angkasa. Aku tahu kamu pasti sekarang sedang memperhatikan kami dari sana. tersenyum secerah rembulan pada kami. Rey, Salamat ulang tahun. kami disini sangat merindukanmu." Gumam Selina...
..."Aku akan terus menganggap bahwa rembulan itu adalah kamu, aku selalu berharap, kamu juga akan berbicara padaku, menyahuti obrolanku. Rey, akan sangat bagus kalau kamu masih hidup." batin Selina...
Ditempat lain, sema halnya dengan yang dilakukan Selina dan neneknya. Stefan kini berada dibalkon apartemennya, termangu sendirian sambil memandangi langit yang sama dengan mereka.
Ting
Sebuah pesan teks masuk ke ponsel Stefan, ternyata itu dari Allisya.
Stefan membacanya dengan tanpa ekspresi, ya. pria itu hanya membacanya tanpa membalas pesannya. alhasil membuat Allisya terus menelponnya. seperti meneror nya. karena merasa risih, Stefan pada akhirnya menonaktifkan ponselnya.
...☀ Keesokannya, Selina dan neneknya berkunjung ke makam Rey...
..."Selamat ulang tahun, nak Rey."...
..."Selamat ulang tahun Rey, aku dan nenek datang mengunjungimu lagi, kami sangat merindukanmu."...
Mereka berdoa yang terbaik untuk Rey, Selina sampai menangis karena saking merindukannya. tetapi Dian mencoba menenangkannya dengan meyakinkan bahwa Rey disana sudah jauh lebih bahagia dari pada kita.
Saat menuju meninggalkan makam, Selina dan neneknya berpapasan dengan Stefan. pria itu ternyata berada disini dan telah melihat semuanya.
..."Eh?! tuan Stefan?" sapa neneknya, sangat tidak menyangka akan bertemu disana....
...Stefan tersenyum ramah "Ah ya?"...
Selina hanya diam saja, matanya terlihat memerah dan bawah matanya terlihat sembab. Stefan terlihat menurunkan alisnya, sendu melihat Selina yang menangisinya sampai seperti itu. andai saja, andai saja dia dapat memberitahunya, bahwa Rey masih hidup. dan dia berada tepat didepannya, andai Selina tahu itu. Stefan sangat ingin memeluknya, menenangkannya, dan mengatakan bertapa rindunya dia padanya.
..."Sangat kebetulan sekali kita bisa bertemu disini."...
..."Benar."...
..."Waktu itu saya belum mengucapkan rasa terima kasih saya secara pribadi, malah hanya diwakilkan cucu saya ini."...
..."Tidak apa-apa."...
..."Tuan Stefan sudah sangat membantu kami, maaf karena hutangnya terlambat dibayarkan. cucu saya Selina, sedang berusaha melunasinya, mohon beri kami sedikit waktu lagi."...
Saat Selina membawa pulang neneknya dari rumah sakit, waktu itu Lydia bertanya siapa yang melunasi biaya rumah sakitnya. dan setelah mengetahui Selina berhutang budi pada Stefan, Lydia marah besar karena merasa malu. dan menyuruh Selina untuk segera melunasi hutangnya. Lydia sekarang adalah wanita kaya raya dan memiliki suami yang terhormat tentu saya memiliki hutang adalah aib baginya. namun Lydia tidak ingin membantu melunasi hutangnya, karena buatnya itu adalah kesalahan Selina yang sosoan mau membawa ibunya kerumah sakit padahal tidak punya uang.
..."Tidak masalah! tidak perlu terlalu dipusingkan."...
..."Sekarang saya secara pribadi ingin mengucapkan rasa terimakasih saya pada tuan Stefan, yang tempo hari sudah membantu melunasi biaya rumah sakit saya. pokonya terima kasih banyak atas bantuannya."...
..."Ah iya iya."...
..."Pemuda yang sangat baik hati. oh ya, apakah tuan Stefan datang kesini untuk mengunjungi makam keluarga?"...
..."Ya, berziarah ke makam kakek saya, ng ibu dan..." Stefan melirik Selina...
..."Ah kalau kami, memang sering datang kesini, untuk mengunjungi makam saudara Selina. kebetulan, hari ini adalah hari ulang tahunnya, jadi kami datang berkunjung."...
..."Begitu rupanya."...
🏢 Kantor Stefan
Seperti biasa, Stefan hanya membacanya dan lantas mengabaikan pesan dari Allisya. Stefan tertawa getir, jelas mengejek. kejutan? apa yang bisa perempuan itu lakukan untuknya? tahun lalu mengatakan memiliki kejutan untuknya, tetapi itu adalah dirinya sendiri, membuat Stefan amat muak. perempuan itu memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. ada seorang perempuan yang seperti itu, yang menghadiahkan tubuhnya sebagai kado ulang tahun pria yang dicintainya. jelas Stefan menolak dan langsung mengusirnya dari apartemen kala itu juga.
Terus apa lagi yang biasa dia lakukan untuknya? membeli barang branded yang berharga fantastis? miliaran rupiah, dan memakai uang pribadinya. Stefan tidak menginginkannya, dia tidak tertarik.
▥ Seseorang mengetuk pintu dari luar
..."Tuan Stefan, ini saya." sahut Asisten pribadi Stefan dari luar, Hans...
..."Masuk."...
Hans sedikit menunduk untuk memberikan rasa hormat pada bossnya, sepertinya Hans datang membawa suatu kabar.
..."Ada apa?" tanya Stefan, terlihat penasaran...
..."Anda meminta saya menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki Samuel Johnson, dan kini sudah ada hasilnya."...
...Stefan menyeringai "Hah! Bagus! katakan!"...
__ADS_1
..."Samuel Johnson ternyata melakukan bisnis ilegall. dia juga terlibat narkotik, pembunuhan, dan pencucian uang." jelas Hans...
Stefan tersenyum keji, wajahnya menghitam penuh dengan kebencian. dalam hatinya, Stefan bersumpah dia akan menghancurkan keluarga itu tanpa tersisa.