
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan dikantornya, kini Stefan menuju pulang ke apartemennya.
Dalam perjalanannya Stefan terus mendapat telpon dari ibunya, Jessica.
Via telpon :
^^^[ “Rey, dimana kamu sekarang nak?” ]^^^
[ “Ya ma, kenapa? Aku sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen.” ]
^^^[ “Allisya terus mencarimu, dia sangat Mengkhawatirkanmu, kenapa kamu tidak menjawab telponnya?” ]^^^
[ “Ma... sekarang aku sedang menyetir, aku akan menghubungimu lagi nanti, Ok?” ]
^^^[ “Tidak usah! segeralah hubungi Allisya!” ]^^^
Stefan mematikan sambungan telponnya; Stefan merasa muak harus bersikap baik pada Allisya walau sebenarnya dia tidak ingin
..."Sialan! cewek itu lagi!"...
Karena perjodohan yang telah disepakati Ibunya lah yang menuntut Stefan harus bersikap baik terhadap Allisya.
Hanya keluarga James lah yang tahu fakta bahwa Rey stefano Johnson masih hidup, dan kebaran rumah sakit itu hanyalah sebuah skenario yang dibuat oleh kakeknya sendiri
Allisya sangat menyukai Stefan, namun Stefan sebaliknya. Allisya menggantungkan hidupnya pada Stefan semenjak dia didiagnosis Leukemia dua tahun lalu, Allisya menjadikan sakitnya itu untuk menekan Stefan agar mau bertunangan dengannya. Allisya menolak memiliki serangkaian pengobatan jika Stefan tidak mau menemaninya. Allisya terlalu banyak menuntut wantu dari Stefan, terlebih lagi gadis itu kerap kali mencampuri urusan peribadinya, sampai mencampuri lingkungan pekerjaan dan pertemanannya, tindakannya tersebut sangat membuat Stefan risih.
Namun karena Jessica merasa begitu banyak berhutang budi pada sahabatnya Shailene, yang tidak lain adalah ibu dari Allisya.
Jessica memberi pengertian pada Stefan, bahwa dimasa terburuknya Shailene lah yang selalu berada disampingnya dan membantunya. Sekarang Shailene sedang berada dimasa terburuknya setelah mengetahui anak perempuannya mengidap Leukemia, karena Jessica tahu dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatnya; namun setelah Jessica mengetahui Allisya yang begitu menyukai Stefan, Jessica memohon pada anaknya itu untuk memperlakukan Allisya lebih baik lagi.
Angin terasa semakin kencang, cahaya kilat dan suara guntur bergemuruh, hujan lebat semestinya akan turun sebentar lagi; namun seorang gadis yang malang masih terlihat berdiri sendirian ditepi jalan sedang menunggu angkutan umum yang lewat dengan perutnya yang mulai keroncongan.
Selina memeluk dirinya sendiri, merasa amat kedinginan. dia sesekali akan menoleh kebelakang, mengharapkan hal yang tidak perlu. Ivan benar-benar tidak akan menghawatirkannya, dia tidak mencoba menahan Selina sebelumnya.
Stefan kini dijalan yang sama dengan Selina; dia mengemudi dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba Stefan merasa melihat Selina dijalan yang baru saja dia lewati. namun Stefan merasa tidak yakin, dia kontan saja menghentikan mobilnya yang saat itu sedang melaju dengan kecepatan tinggi sampai-sampai menimbulkan bunyi decitan yang nyaring.
Stefan melihat kaca spion mobilnya, dan benar saja dia mendapati ada seorang gadis yang sedang berdiri sendirian ditepi jalan. Stefan ingin ingin memastikannya; dia mengemudikan mobilnya mundur
..."Itu dia?!! lebih baik aku pastikan lagi."...
Benar saja, gadis yang dilihatnya tadi adalah Selina. Stefan lantas keluar dari mobilnya; namun sepertinya Selina panik karena melihat mobil aneh yang melaju mundur kearahnya sangat mencurigakan, Selina terlihat ingin melarikan diri namun keburu tertahan oleh Stefan.
..."Hei?"...
__ADS_1
Stefan tiba-tiba menarik lengan gadis itu, sampai membuatnya kontan berbalik hingga posisi mereka lagi lagi menjadi terlalu dekat.
..."Ah!"...
..."Mau pergi kemana?" tanyanya...
..."Kamu!" Selina yang terlihat cemas celingak celinguk memperhatikan sekelilingnya yang rupanya sangat sepi...
..."Apa?!"...
Cahaya kilat yang diiringi suara guntur yang menggelegar, membuat Stefan memprediksi hujan akan turun setelahnya. Stefan lantas membuka jas yang sedang dipakainya; bermaksud menjadikannya sebagai payung sementara, Stefan lalu menarik Selina lebih dekat dengannya, dia memeluk pinggang Selina intim. Selina yang nampaknya kebingungan terlihat diam saja tidak bisa berkata-kata. dan benar saja sesuai dugaannya hujan pun akhirnya turun sangat deras.
..."Eh?"...
..."Masuk ke mobil, ikut denganku?!"...
Stefan merangkul Selina, dia menyuruh Selina ikut bersamanya. Namun gadis itu telihat enggan, dan benar saja akhirnya Selina membuka mulutnya untuk menolak ajakan Stefan.
..."Hah? a-apa?!"...
..."Masuk ke mobil, ikut denganku. Aku antar pulang?"...
..."Ah tidak perlu! sama sekali tidak ingin merepotkanmu, tuan. terima kasih atas tawarannya." ucapnya gemetaran karena kedinginan...
..."Cih! Hei, apa kamu mau terus disini?"...
..."I-iya, aku akan tetap disini menunggu angkutan umum lewat."...
..."Tidak, Terima kasih."...
..."Hufft! ayolah! masuk ke dalam mobil!"...
Stefan memaksa Selina masuk ke dalam mobilnya, namun gadis itu malah meronta menolaknya.
..."A-apa!! Hei tuan, tunggu sebentar, apa yang kamu lakukan? jangan memaksaku! aku menolak ikut denganmu, apa masih belum jelas?"...
..."Masuk!!!" ucap Stefan dengan nada bicara memerintah...
..."Tidak mau! Terima kasih! sekarang kamu sudah boleh melanjutkan perjalananmu. silahkan tinggalkan aku sendiri."...
..."Selina, masuk!"...
..."Kamu?!! aku sudah bilang aku tidak mau!"...
..."Masuk!"...
..."Tidak akan."...
__ADS_1
..."Baiklah!"...
..."Mn. Hati-hati dijalan."...
..."Kamu masuk sendiri, atau aku akan memakai caraku untuk memaksamu masuk kedalam mobilku?"...
..."A-apa!!!"...
..."Dalam hitungan ketiga kalau kamu tidak mau masuk sendiri, aku benar-benar akan memakai caraku sendiri untuk memaksamu masuk kedalam mobilku. 1, 2-"...
..."Apa sih? Kamu tidak bisa memaksaku seperti ini! tuan, sudahlah... tolong jangan pedulikan aku? Terima kasih atas niat baikmu, tapi aku memilih tetap disini menunggu angkutan umum." Jelasnya keras dengan kepala...
..."Selina, kamu yang memintanya! aku akan membuatmu masuk kedalam mobilku dengan caraku sendiri."...
..."Hei, Kamu pikir kamu ini siapa?! aku membuat keputusanku sendiri!"...
..."Sudah jelas aku ini, Stefan Abern!"...
..."Terus apa? Karena kamu adalah Stefan Abern kamu bisa melakukan apapun semaumu, begitu?"...
..."Hei nona! tolonglah lihat dulu kondisimu sekarang sedang seperti apa? berhentilah menjadi keras kepala, Ok? aku ini pria yang sama sekali tidak memiliki motif jahat apapun selain hanya ingin membantumu. itu saja. jadi percayalah padaku, sekarang ikut denganku? kamu akan aku antar pulang."...
..."Ng?"...
..."Kalau aku meninggalkanmu sendirian disini, aku tanya padamu? siapa yang bisa menjamin setelah itu kamu akan baik-baik saja?"...
..."Soal itu... aku yakin aku akan baik-baik saja, aku bisa melindungi diriku sendiri. aku tidak selemah yang kamu pikirkan. aku sudah biasa seperti ini, kamu tidak perlu mencemaskan ku."...
..."Tch, keras kepala sekali... dari kecil tidak pernah berubah." gumam Stefan...
..."Hah?"...
..."Sekarang masuklah ke dalam mobilku! hujannya semakin deras, kamu bisa sakit."...
..."Tidak apa-apa, Aku kan sudah bilang jangan pedulikan aku!!! Terima kasih atas perhatian tuan Stefan." Jawab Selina...
..."Tsk. Bagaimana bisa kamu menyuruhku dengan segampang itu untuk bersikap seolah-olah aku tidak memperdulikanmu? Aku bisa-bisa gila sampai mati karena akan terus menghawatirkanmu." bentak Stefan...
..."Apa?!!!"...
Setelah mendengar ungkapan Stefan, Selina kontan dibuatnya tertegun. Selina sangat terkejut, Selina tentu saja tidak menduga akan keluar kata-kata semacam itu dari mulut seorang Stefan Abern untuk seseorang seperti Selina. tetapi mengapa pria ini sangat memperdulikannya? padahal Selina menganggapnya sebagai pria tidak waras setelah dia menduga Stefan menghamili kekasihnya dan tidak mau bertanggung jawab.
..."Hufft! Yasudahlah, terserah!"...
..."Hah??? Yasudah."...
..."Kalau kamu terus bersikeras tetap disini, pilihan lain adalah biarkan aku bersamamu? aku akan menemanimu." ucap Stefan tiba-tiba...
__ADS_1
...Perkataannya lagi-lagi membuat Selina terbelalak "Hah?!!! A-apa kamu bilang?!!!"...
..."Aku bilang, aku akan menemanimu! sudah dengar dengan jelas?" Jawab Stefan...