Selina, Obsesiku Adalah Kamu

Selina, Obsesiku Adalah Kamu
BAB 42 Apa Aku Terlalu Egois?


__ADS_3


Setelah berdebat hebat sepanjang jalan. Stefan lah yang akhirnya menyerah. Walau tidak rela, pada akhirnya dia mengantarkan Selina kerumah pacarnya.


Setelah sampai pada tujuannya, Selina langsung bergegas keluar dari mobilnya. karena kesal, dia bahkan tidak sudi bilang terima kasih padanya.


Sebenarnya Selina pergi dengan perasaan aneh yang mengganggunya. Ia menyadari ada yang janggal dari sikapnya. Tapi, ia tidak menyadari kapan tepatnya perubahan itu terjadi. Tatapan yang biasanya hangat berubah menjadi sangat dingin, dan begitu pula yang terjadi dengan gaya bicaranya tadi. Ada apa dengan pria itu... Apa yang sebenarnya telah menyinggungnya?


Selina memutuskan datang ke kontrakan pacarnya karena ia merasa bersalah. Dia sudah berciuman dengan pria lain, melakukan adegan intim bersama yang bahkan sebelumnya tidak pernah ia lakukan dengan pacarnya.


Selina dan pacarnya berkomitmen tidak akan melewati batas tertentu sebelum resmi menikah. Tapi apa yang telah Selina lakukan sekarang, ia bahkan merasa kotor.


Sekarang jam tiga pagi, entah apa yang ia akan jelaskan padanya. Setelah termenung beberapa saat, akhirnya Selina memberanikan diri mengentuk pintu. Dan tanpa butuh waktu lama, Ivan membuka pintunya. Pertama kali melihatnya datang, dipagi buta seperti ini... tentu saja sangat mengejutkannya, terlebih melihatnya datang masih dengan gaunnya dan penampilan yang sudah sedikit berantakan.

__ADS_1


..."Selina... Ada apa?" Tanya Ivan, kebingungan...


Selina terus menunduk, ia tidak berani menatapnya. Dan Ivan menduga Selina dalam masalah, mau tidak mau dia membiarkannya masuk kedalam kontrakan.


Selina hanya memeluknya, Dia tidak banyak bicara. Dan Ivan juga tidak memaksanya untuk mengatakan masalahnya. Ivan menyuruh Selina untuk istirahat dikamarnya, dan mengatakan ia akan tidur diruang tamu. Tapi Selina enggan melepasnya, akhirnya Ivan mengantarkannya ke dalam kamar.


..."Tidurlah... Pagi nanti aku akan mengantarmu pulang." Ujar Ivan dengan suara lembut...


Selina berbaring di kasurnya. Ia terus menatapnya dengan rasa bersalah. Dia merasa seperti dia menyelingkuhinya. Tidak lama, Selina merentangkan tangannya, seperti dia memintanya nya untuk memeluknya. Ivan kaget dengan tindakan Selina tersebut, apakah dia tidak tahu jika tidakannya dapat mengaktifkan naluri buas laki-laki.


Akhirnya Selina bangun, dia menciumnya. Ivan terbuai dan membalas ciumannya, tapi kemudian dia mendorongnya.


..."Tidak Selina! Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan? Tolong jangan seperti ini... ini akan merusak semua rencana masa depan kita."...

__ADS_1


Ivan tidak berani melakukannya karena dia takut Selina hamil. Karena kehadiran bayi dalam kondisi hubungan mereka saat ini sangat tidak memungkinkan. Maka dari itu mereka sangat hati-hati dan menghindari kemungkinan-kemungkinan tersebut.


..."Ma-maaf..." Ujar Selina, dengan suara sengau...


..."Sekarang tidurlah. Kunci pintunya. Aku ada diruang tamu jika butuh sesuatu." Ujar Ivan, langsung pergi....


..."Mn."...


Sedangkan ditempat lain, rupanya Stefan tidak lantas pergi. Ia tidak jauh-jauh dari kontrakan Ivan. Stefan terus memandangi rumah pria itu dari jauh. Dia kesal, marah, kecewa. Dia terus membayangkan apa yang bisa dilakukan Selina dengan pacarnya didalam sana. Stefan ingin lari mendobrak pintunya dan menariknya keluar. Perempuan itu harusnya menjadi miliknya satu-satunya.


Saat ada masalah dia berkeinginan menjadi tempat yang Selina datangi, tapi kenyataannya, justru dialah orang yang paling Selina ingin hindari.


..."Apa aku terlalu egois? Aku ingin bersamanya setiap hari, melihatnya setiap kali aku ingin... Dan melakukan apapun yang ingin aku lakukan dengannya... Aku tidak ingin kehilangan dia... Aku ingin dia menjadi milikku seorang."...

__ADS_1



__ADS_2