
..."Pfft, lihatlah dirimu... Sudah seperti wanita gila mengejar-ngejar pria!"...
..."Kakak!"...
..."Cih! Jika aku jadi dia, aku juga pasti ingin melarikan diri sejauh mungkin."...
Allisya sampai dirumah tepat tengah malam; gadis itu baru berjalan setengah langkah memasuki ruangan rumahnya, namun lagi-lagi dia harus dulu mendengar omongan yang tidak mengenakan, Allisya mendapat sindiran menohok dari kakak laki-lakinya Haiden
Haiden tampak sangat kesal mendapati Allisya yang lagi-lagi pulang larut malam, bukan karena dia mengkhawatirkan adik perempuannya itu. melainkan karena Allisya telah membuat ibunya Shailene teramat mencemaskannya, sampai-sampai ia tidak tidur tepat waktu hingga membuat kesehatannya menurun
Alih-alih merasa bersalah Allisya justru terlihat biasa saja, dia enggan merespon sindiran dari kakaknya itu. Allisya sudah terbiasa dengan sikap dingin Haiden akhir-akhir ini. Allisya menyimpulkan Haiden adalah seorang pencemburu, dan menganggap dia sangat kekanak-kanakan. Haiden sudah pasti cemburu padanya karena mendapat lebih banyak perhatian dari Shailene
Walau begitu Allisya masih menujukan sikap hormat pada kakak laki-lakinya itu. meski hatinya terluka oleh kata-katanya yang tajam, seperti biasa Allisya masih berusaha bersikap baik padanya, dan menyikapi olokannya dengan tenang, walaupun sikap yang ia tujukan terkesan sangat palsu.
..."Huff~ kakak! Kakak kenapa belum tidur?"...
...Haiden memandang sinis Allisya "Seseorang menjadi penyebabnya."...
Allisya menggertakan gigi meredam amarah mendalam dihatinya, jawaban macam itu? Allisya yang sudah mau bertanya baik-baik mendapat jawab sinis seperti itu tentu saja dia akan tersinggung. namun Allisya masih memandang Haiden sebagai kakaknya, kalau tidak. mungkin gadis itu sudah mencabik cabik mulut kakaknya itu, mulut yang sudah sepedas cabai Carolina Reaper
...Allisya tertawa ringan "Hihi, Kakak menghawatirkan ku?"...
..."Tidak tuh!"...
..."Kenapa Kakak gengsi sekali untuk mengatakannya? Aku tahu kakak pasti mengkhawatirkan ku. Kakak apa aku sudah berbuat kesalahan padamu? Kenapa akhir-akhir ini kamu sangat jutek padaku?"...
..."Cih!"...
Tidak lama Shailene terlihat turun dari tangga; mendapati anak perempuannya itu lagi-lagi pulang larut malam, Shailene sama halnya dengan Haiden dia terlihat sangat kesal dan kecewa.
..."Allisya! Kamu tahu pulang juga!"...
..."Mama!!!"...
..."Sekarang sudah bisa tenang, kan Mah? karena anak kesayangan mama yang satu ini akhirnya ingat pulang juga dan lihatlah dia pulang dalam kondisi baik-baik saja." sindir Haiden...
..."Haiden, pergi ke kamarmu dan segera tidurlah! Ada yang perlu mama bicarakan dengan Allisya, Mama perlu bicara empat mata dengannya."...
..."Bicarakan besok saja! lebih baik Mama sekarang istirahatat. ingat pesan dokter, Mama harus mulai memperbaiki pola tidur mama yang berantakan. Dan mama juga sudah janji padaku, kalau anak ini sudah pulang Mama akan langsung beristirahat."...
..."Haiden, Tidak! jangan mengatur mama! pergilah ke kamarmu dan tidurlah."...
...Haiden mengangguk terpaksa "Ya ya! Baiklah! terserah Mama." mau tidak mau dia menuruti keinginan ibunya...
...Allisya terlihat cukup gugup "Mah, Mama kenapa belum tidur?"...
..."Huft."...
..."Mhh itu... barusan apa kata kakak benar! lebih baik kita bicarakan besok saja ya Ma?"...
..."Orang tua mana yang bisa tidur dengan tenang dirumah saat mengetahui anak gadisnya masih keluyuran diluar sana."...
..."I-itu... Ak-aku.. Aku minta maaf..."...
..."Allisya! Ayo, kita perlu bicara! Sekarang!"...
..."Ta-tapi Mah?"...
..."Tidak ada tapi tapian Allisya! Sekarang ikut Mamah!"...
..."Huff iya."...
Shailene mengajak Allisya berunding diruang keluarga, mereka hanya berdua disana. sepuluh menit telah berlalu, dan tidak ada satupun dari mereka yang membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan. Shailene hanya diam begitu juga dengan Allisya.
Allisya diam membeku dirundung kecemasan setelah beberapa saat ia mengamati ekpresi ibunya, Allisya hanya bisa meletakan kedua tangan yang gemetar diatas roknya dan tertunduk merasa salah. kali ini sudah pasti dia akan kena marah.
...Shailene berdeham memutus keheningan yang terbentang diantara mereka berdua "Jadi? Mau sampai kapan kamu akan terus diam seperti itu?...
..."Ng?"...
..."Apa kamu tidak mau mencoba menjelaskan apapun, Allisya?"...
..."Ng? aku..."...
..."Pakai mulutmu yang benar untuk berbicara, Allisya! Sejak tadi Mama sedang menunggu penjelasan darimu!" tanya Shailene, terdengar menohok...
Allisya hanya diam seribu bahasa, kali ini dia tidak bisa berkutik. Allisya mengakui jika dirinya telah melakukan kesalahan. untuk pertama kalinya Allisya tidak membuka suara untuk membela diri
Allisya sudah meninggalkan rumah sejak tadi pagi, dan dia tidak membiarkan satu pun orang rumah mengetahui kepergiannya. Allisya sampai mematikan ponselnya karena tidak ingin terganggu, dan bahkan menyuruh supirnya berbohong mengikuti kemauannya.
Allisya ingin hidup bebas tanpa diatur, tanpa diawasi dan tanpa didikte oleh ibunya. Shailene kerap melarang Allisya keluar rumah dan kerap membatasi aktivitasnya.
Tidak mendapat respon, Shailene akhirnya hanya bisa menghela nafas. Shailene kemudian terlihat membuka satu telapak tangannya
..."Huff~ Baiklah Allisya! tampaknya kamu tidak bisa memberikan pejelasan apapun? Kalau begitu, Mama lebih baik tidak mempersulitmu lagi." ujar Shailene...
..."Huff~"...
..."Mama akan langsung saja pada tujuan mama!"...
..."Hah!!!"...
..."Mana? Mana kartu yang Stefan pinjamkan padamu? berikan itu pada Mama." pintanya tiba-tiba...
Allisya yang sedari tadi menunduk sontak menengadah dan lantas menatap ibunya kebingungan serta sedikit perasaan curiga
..."A-apa!!!"...
..."Berikan pada mama?!"...
..."Ka-kartu?"...
..."Mn."...
..."Haha Mama, tapi yang mama Minta kartu apa?"...
..."Tentu saja kartu kredit yang Stefan pinjamkan padamu, cepat! sini berikan itu pada mama! Allisya cepat!"...
..."U-untuk apa Mama memintanya?"...
..."Allisya! mana kartunya!"...
__ADS_1
..."Jawab dulu pertanyaanku, Ma?"...
..."Berikan saja dulu kartunya pada mama! Sekarang! jangan terus membuat Mama kesal! berikan sini kartunya! Cepat Allisya!" ujar Shailene, penuh penekan disetiap katanya...
...Allisya tampak memelas dan menggeleng menolak memberikannya "Tidak! Aku sudah tahu maksud Mama! Aku tidak akan memberikannya! Mah, tolonglah jangan seperti ini... aku salah dan aku minta maaf."...
Shailene menghela nafas, kali ini dia tidak boleh merasa iba, dia harus sedikit tegas pada anak perempuannya itu.
..."Haruskah mama yang mengambilnya sendiri dari dalam tasmu, Allisya?"...
..."Tidak! Aku tidak akan membiarkannya!"...
..."Allisya, berhentilah terus membantah Mama! berikan kartunya pada mama!"...
..."Ta-tapi..."...
..."Allisya!"...
Allisya menggeleng, tapi mau tidak mau dia harus memberikannya. Allisya mengambil kartu itu dari dalam tasnya dan memberikannya dengan terpaksa pada Shailene
..."Bagus!"...
Shailene dengan cepat merebut kartu black card milik Stefan itu dari tangan anaknya, Shailene terlihat santai memainkan kartu itu ditangannya.
..."Kenapa mama tega menyita kartu yang Stefan berikan padaku? Mama dan papa sama saja."...
..."Kamu ini sebenarnya tahu tidak sih? alasan sebenarnya kenapa Stefan meminjamkan ini padamu?" tanya Shailene...
Shailene tidak mengharapkan jawaban apapun dari Allisya, gadis itu selalu memiliki perasangka baik. biarkan Shailene mencoba memberinya gambaran jelas mengapa Stefan sampai memberinya sebuah kartu
..."Dugaan Mama sepertinya benar, Kamu pasti berpikir Stefan memberimu ini karena dia menggangapmu sebagai calon istrinya, kan?"...
..."Mn. tentu saja."...
...Shailene menggeleng "Alasan yang sebenarnya, tentu saja bukan karena itu. bukan karena itu, Allisya! Apa kamu mau tahu, alasan sebenarnya?"...
..."Ng?"...
..."Kalau kamu mau tahu Stefan sampai memberimu kartu ini, Karena apa? baiklah Mama akan memberi tahumu sekarang. kamu dengarkan Mama baik-baik, Stefan memberimu kartu ini, itu semua karena ulah papamu."...
..."Tidak mungkin!"...
..."Karena papamu kerap kali menyindirnya."...
..."Hah!!! A-apa maksud Mama? Stefan jelas-jelas memberiku kartu itu karena dia sangat mengerti kebutuhanku."...
..."Papamu selalu menyindir Stefan disetiap kesempatan, dia memandangnya rendah. dia memandang Stefan sebagai sosok pria parasit yang hanya bisanya memanfaatkanmu."...
..."A-apa!!! itu tidak benar!!! itu sama sekali tidak benar, Ma!!! Stefan tidak pernah memanfaatkanku, kenapa papa melakukannya?"...
..."Allisya, jangan kamu pikir kami semua ini bodoh, sampai tidak tahu segala tindakanmu. kamu memanfaatkan nama besar papamu untuk menarik minat investor luar agar mau berinvestasi diperusahaan Stefan, kan? kenapa kamu harus melakukannya? huh? Allisya, tidakkah kamu merasa kalau kamu ini terlalu ikut campur dalam urusannya?"...
..."Aku hanya ingin membantunya."...
..."Tapi mama rasa Stefan tidak memerlukan bantuanmu. dan Sekarang kamu sudah tahu kan alasan sebenarnya? alasan mengapa dia sampai memberimu kartu ini, itu bukan berarti dia sudah menerimamu."...
..."Tidak mungkin!"...
..."Dia hanya merasa risih karena terus mendapat sindiran dari papamu dan sekarang sebaiknya kamu mulai tahu diri, Allisya. kartu ini bukan milikmu, kembalikan ini padanya."...
..."Tidak, Mah!"...
..."Tapi Stefan sudah memberikannya padaku, Ma."...
..."Tolonglah dengarkan Mama, jangan memakai kartunya lagi ya? lagi pula, sudah seharusnya kamu merasa puas sekarang! karena hampir setiap hari, mama melihat ada banyak barang baru dikamarmu. mau sampai kapan kamu seperti ini Allisya?"...
..."A-aku... "...
..."Kamu sudah memakai uang Stefan terlalu sering, tidakkah kamu merasa malu? Allisya!!! kalau boleh mama jujur, Mama sebagai ibumu merasa begitu malu padanya... saat ini kamu itu bukanlah siapa-siapa dihidupnya, kamu harus sadar itu, nak? berhentilah bertindak seperti kamu adalah istrinya, yang sudah berhak atas semua uangnya!"...
..."Masalahnya Kamu ini terlalu boros, Allisya! kamu harus mulai mencoba menghargai uang! bisakah? atur pengeluaranmu, beli apapun yang kamu butuhkan, bukan apa yang hanya kamu inginkan."...
Shailene terlihat memijat-mijat ringan kepalanya, Shailene tampak kebingungan menghadapi anaknya sendiri, yang tidak mau mengerti. beberapa kali Shailene pun telihat menghela nafas mencoba meredam emosinya
..."Tolong, tolong pasang telingamu dan dengarkan Mama baik-baik, Allisya. Mama dan tante Jessica memang telah sepakat menjodohkan kalian. tapi jika ternyata kalian tidak bisa saling mencintai, kami juga sepakat untuk tidak memaksakan kehendak kami."...
Allisya menggeleng, air mata yang sudah tak terbendung membasahi seluruh pipinya. dia tidak mau menerima kenyataan bahwa Stefan benar-benar tidak bisa berusaha mencintainya, Allisya sudah menyukai dan mengaguminya sejak kecil walaupun sifat Stefan selalu dingin terhadapnya.
..."Allisya, tolong mengertilah. kamu tahu sendiri bahwa Stefan sangat menolak perjodohan itu. Jadi, mama mohon berilah tante Jessica waktu untuk menduskusikannya kembali tentang perjodohan kalian pada anaknya."...
..."Tante Jessica sudah sangat baik loh padamu, dia mau membantumu untuk lebih dekat dengan anaknya. tapi sayangnya kamu malah tidak sabaran, dan malah bertindak gegabah sendirian."...
..."Saat semuanya belum dibicarakan dan belum ditentukan, kamu sudah heboh sendiri mempersiapkan segalanya. gedung, cincin, gaun. ya tuhan! mama tidak habis pikir! mama benar-benar tidak habis pikir padamu! mama sama sekali tidak mengerti jalan pikiranmu. Apa sebenarnya yang ada otakmu, huh? apa Allisya? beritahu mama agar mama bisa sedikit memahamimu!"...
..."Dan lagi kamu tahu sendiri kondisimu, keluyuran kesana-kemari melelahkan dirimu sendiri, apa sih yang ada dipikiranmu?"...
..."Pernahkah sedikit saja, hanya sedikit saja? kamu memikirkan bagaimana perasaan ibumu ini, huh? yang cemas dirumah karena terus menghawatirkanmu?"...
..."Allisya, mama pasti akan berusaha mewujudkan keinginanmu. mamah sudah janji padamu. tapi semuanya tidak semudah membalikkan telapak tanganmu itu, nak. maka tolonglah, mengertilah, semuanya perlu waktu."...
..."Perlu waktu? oke, perlu waktu sampai kapan? sampai aku keburu mati? begitu?" tanya Allisya...
..."Bicara apa kamu Allisya!"...
..."Mah, mama tahu kan dari kecil aku sudah sangat menyukai Stefan? dan tanpa aku sadari perasaan itu justru terus tumbuh seiring berjalannya waktu, bersamaan dengan aku tumbuh dewasa. aku saat ini sangat mencintai Stefan. aku ingin sisa hidupku bisa aku habiskan besama dengannya, bersama pria yang aku cintai. Mama tolong wujudkan satu keingan terbesarku, hanya satu. mah, aku ini tidak tahu... apakah, apakah aku bisa bertahan hidup lebih lama lagi? dengan segala penderitaan dan rasa sakit yang aku tanggung karena penyakitku? aku sendiri bahkan sudah tidak yakin apakah aku akan bisa menanggungnya lebih lama lagi? Mama harus tahu aku sangat menderita. aku sangat menderita mah! benar-benar sangat menderita! sangat menderita!"...
..."Hei? Allisya, jangan bicara seperti itu nak, mama gak suka mendengarnya! kamu pasti akan sebuh, percaya pada mama, mama yakin kamu bisa bertarung melawan penyakitmu. kamu gadis yang kuat, kamu harus optimistis nak! mama akan pikirkan berbagai cara, apapun itu. apapun itu untuk menyembuhkanmu, jadi tolong kita berjuang sama-sama, Ok? Allisya, kamu pasti akan sembuh. kuncinya kamu harus yakin."...
..."Mah, jangan memberiku harapan terlalu besar. tidak lama lagi aku pasti akan menjalani yang namanya kemoterapi. yang mana akan membuatku terlihat jelek, karena pasti rambutku perlahan-lahan akan rontok. aku hanya ingin bertunangan dan menikah dengannya pada saat aku masih terlihat cantik, itu sebabnya aku sedikit terburu-buru."...
..."Allisya kenapa kamu tidak bisa mencoba mengerti, nak? mengenai perasaan itu tidak bisa dipaksakan"...
..."Asal mama tahu, Aku sudah tidak perduli lagi akan hal itu. aku bahkan sama sekali sudah tidak perduli! aku tidak perduli bagaimana perasaannya padaku! aku mencintainya! aku sangat mencintainya! maka dari itu, kita harus bersama!"...
..."Allisya, mama bisa mengerti keinginanmu. tapi bagaimana bisa seperti itu, nak? kamu gak bisa dong memaksa kehendakmu sendiri, itu namanya kamu egois."...
..."Kalau aku harus menunggu sampai dia mencintaiku, aku harus menunggu berapa lama? mau sampai kapan? apa mama tahu? aku sudah melakukan banyak hal untuknya, banyak hal. tapi Stefan tidak pernah tertarik padaku. apa yang harus aku lakukan lagi? aku sudah lelah mengejarnya. kalau dia tidak bisa mencintaiku, tidak apa-apa, tidak masalah bagiku.. dengan aku yang begitu besar mencintainya itu sudah cukup."...
..."Mah, mama terus-menerus menyuruhku untuk mengerti. tapi, apakah mama sendiri pernah sekali saja? sekali saja mencoba mengerti posisiku?"...
..."Aku merasa harapan hidupku kecil. dan aku yakin mama tahu itu. bahkan papa satu-satunya harapanku, gak mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukku? apa sekarang aku masih punya harapan hidup? yang ada hanya kemungkin terburuk, bukan? mah aku takut, aku sangat takut. aku seperti diburu waktu, aku gak punya pilihan. aku hanya ingin hidupku bahagia sebelum ajal menjemputku. apakah aku salah?"...
Selina kini sendirian berdiri dibalkon apartement; namun dia berdiri tak jauh dari pintu, telihat menyilangkan tangannya sedang menikmati iringan derai deras air hujan
__ADS_1
Tanpa suara, tiba-tiba saja Stefan menghampirinya. memakainya selimut tebal, Selina yang terkejut lantas menoleh kebelakang.
..."Eh?"...
..."Sangat dingin diluar sini, apa yang sedang kamu lakukan? masuklah kedalam, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk segera istirahat?"...
..."Ya ya, aku akan masuk sebentar lagi."...
..."Hmph! Ngomong-ngomong, Kamu sudah selesai menghubungi nenekmu? bagaimana?"...
..."Umh, i-itu... "...
..."Apa?"...
..."Terima kasih, ya?"...
..."Hah?"...
..."Terima kasih sudah membawakan selimut untukku, dan Terima kasih juga sudah meminjamkan telponnya."...
...Stefan tersenyum "Sama-sama."...
..."Aku sudah menghubunginya, dan dia terdengar sangat lega setelah mengetahui aku baik-baik disini."...
..."Syukurlah~"...
..."Kenapa belum tidur, tuan?"...
..."Shhh, Apa aku bisa tidur pulas sebelum aku memastikan kamu juga tidur?"...
..."Kamu bisa tidur duluan."...
..."Aku menghawatirkan kondisimu."...
..."Kamu menghawatirkan ku? kenapa? berkatmu aku sudah baik-baik saja sekarang, terima kasih."...
..."Tidak tahu."...
..."Hah?"...
Stefan lantas memeluknya dari belakang, Selina yang terkejut langsung membalikan badan untuk mendorongnya menjauh
..."Hei!!! A-apa yang kamu lakukan?"...
...Stefan tersenyum "Memelukmu." jawabnya dengan santai...
..."Tidak! Lepaskan aku! Kenapa kamu tiba-tiba memelukku?"...
..."Biarkan aku memelukmu... sebentar saja."...
..."Kamu ini sedang kenapa?"...
..."Tidak apa-apa, aku hanya ingin memelukmu."...
..."Tidak bisa!"...
Selina mundur menjauh untuk memberi jarak diantara mereka berdua, sampai-sampai gadis itu sudah mau menyentuh batas balkon.
...Stefan mengulurkan tangannya "Hei, Selina? memangnya pria seperti apa aku ini dimatamu? kenapa kamu begitu waspada dan takut padaku? aku tidak akan memakanmu. Kemarilah... jangan disana, atau kamu akan terkena air hujan."...
..."Hmph! tidak mau!"...
Selina enggan menggapai uluran tangannya, dan malah memalingkan wajah. lagi pula siapa suruh Stefan berada disitu dan tiba-tiba memeluknya, membuatnya takut saja.
...Saat Selina lengah Stefan menarik tangannya sekaligus "Ah!"...
Selina sangat terkejut dengan tindakan impulsif Stefan. lagi-lagi dia sembarangan bertindak. posisi mereka kini teramat dekat, untuk beberapa waktu mereka saling memandang.
..."Kamu!!!"...
Terlihat kerinduan yang teramat mendalam terpancar dari sorot mata Stefan, sedangkan Selina yang memandang matanya tampak kebingungan.
..."Hei?"...
Entah kenapa Selina merasa suasana ini membuat hatinya damai, Stefan seperti sosok pria yang selalu dia rindukan. genggaman tangannya yang kuat seperti memberikan kekuatan dan perlindungan untuknya. Selina merasa tidak asing dengan pria ini.
Semakin dalam mereka merasakan suasa hati masing-masing, membuat naluri Stefan bergerak sendiri ingin menciumnya. Selina yang terbawa suasana telihat diam saja, namun ketika bibir mereka akan bersentuhan Selina yang kemudian tersadar tiba-tiba menutup mulut Stefan dengan tangannya.
..."Hei!!! mau apa kamu!!!"...
..."Silly Girl!"...
..."Kamu mau melakukan apa padamu?"...
..."Huff~"...
Merasa canggung karena sikap impulsifnya, Selina lantas ingin masuk kembali ke dalam apartemen. namun sayangnya dengan cepat Stefan menghalangi pintu masuk itu dengan tubuhnya
..."Nope! Tetap disini sebentar lagi, Temani aku."...
...Selina mengernyit "Hah?"...
..."Kamu juga masih ingin disini kan?"...
..."Tidak! Minggir! Kenapa kamu menghalangi pintunya? aku mau masuk, aku mau istirahat."...
...Stefan tersenyum jahil "Baiklah baiklah. Nona Selina... Silahkan masuk?"...
...Selina tersenyum ramah "Huff Maaf, tapi kamu kan sedang menghalangi pintu masuknya, tuan. Stefan!!! Jadi bagaimana caranya aku bisa masuk?"...
..."Aku akan menyingkir, tapi dengan syarat."...
..."Apa!!! syarat? Shh pakai syarat segala?"...
..."Mn."...
..."Baiklah baiklah Apa itu syaratnya tuan Stefan?"...
...Stefan menyentuh bibirnya "Cium aku!"...
Selina tersenyum, dan mulai mendekatinya. bukan untuk memenuhi keinginannya tersebut, melaikan untuk mendendang anu nya Stefan. Selina sudah menduga pria ini sangat mesum dan dia harus bisa melindungi dirinya sendiri.
..."Kemarilah dan cium aku."...
..."DASAR OTAK MESUM!!!! PRIA MESUM GILA!!!"...
__ADS_1
..."ARGHHHH!!! SHIIIIT!!! ini sakit sekali rasanya!!! bagaimana akhirnya aku bisa menyukai perempuan yang berperilaku kasar sepertimu."...
...Selina yang awalnya tidak menoleh sedikitpun setelah melakukannya, sontak menoleh setelah mendengar pernyataan Stefan tersebut "Apa!!! kamu bilang apa barusan?"...