Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 1


__ADS_3

Pagi yang cerah. Matahari pagi bersinar dengan terang. Burung-burung berkicau saling bersahut-sahutan menambah ceria suasana pagi. Embun bergelayut di dedaunan mulai menetes sedari subuh, sehingga menumbuhkan suasana sejuk. Pepohonan melenggak-lenggok lunglai seperti seorang penari menari dengan lemah gemulai. Diiringi dengan musik gemerisik dedaunan dan bunyi percikan air yang memecah bebatuan.


Begitulah suasana pagi di desa Indragiri. Sebuah desa yang terletak di lereng gunung yang masih diselimuti dengan rimbunnya pepohonan dan indahnya hijau alam. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Jauh dari kehidupan modern. Alami dan Asri.


Di sebuah sungai ada seorang gadis belasan tahun sedang bermain air. Kakinya lincah bermain dan berlarian kecil diantara bebatuan sungai yang berselimut air mengalir. Air sungai yang masih bening kehijauan. Rambutnya terkepang terbelah dua, berayun-ayun seirama dengan langkah kakinya menjejak bebatuan. Sungguh, sebuah pemandangan yang indah dan asri. Laksana lukisan pelukis ulung yang menggabungkan indahnya panorama pedesaan dengan cantiknya pesona gadis desa. Sebuah lukisan yang sempurna untuk menggambarkan harmonisasi alam dengan manusia.


Nama gadis itu Sinta. Dalam pewayangan Sinta adalah tokoh wanita sempurna, cantik, setia yang merupakan istri Rama Wijaya. Elok paras dan indah budi bahasanya. Langsing dan gemulai langkahnya. Tak jauh berbeda dengan Sinta, walau berasal dari desa, parasnya yang alami terlihat mempesona. Cantik, tanpa polesan bedak dan tata kecantikan lainnya. Kulitnyapun putih bersih, bersinar alami seperti pancaran cahaya mentari pagi. Cerah dan terang tapi tidak menyilaukan. Kulit itu tampak semakin bercahaya tatkala cipratan air membungkusnya.


Sinta gadis yatim piatu. Kedua orang tuanya sudah meninggal ketika usianya masih balita. Oleh karena itu, gadis ini tidak bisa membayangkan paras kedua orang tuanya. Walau telah yatim piatu semenjak kecil, hal itu tidak membuatnya kehilangan keceriaan. Saat ini, gadis berkepang dua tinggal bersama Kakek dan Neneknya.


Namun, nasib hidupnya tidak serupawan wajahnya. Perjalanan hidupnya tidak seindah ikal mayang rambutnya. Selain yatim piatu, rumah merekapun hanya menumpang. Kakek dan Nenek hanya pembantu di rumah Pak Johan, seorang juragan dan petani kaya di desa Indragiri. Berpetak-petak luas sawahnya, berpetak-petak luas kebunnya dan rumah besar yang hanya dihuni sendirian oleh Pak Johan. Rumah besar itu Kakek dan Nenek Sinta yang mengurus. Karena kemiskinan Kakek Neneknya dan kemurahan hati pak Johan, mereka boleh membangun rumah sederhana di belakang rumah. Walau demikian kondisinya tidak berpengaruh pada keceriaan hidupnya. Layaknya gadis-gadis di desa, hidupnya penuh dengan kesenangan dan keceriaan.


Seperti saat ini, Sinta tengah mencuci baju di sungai bersama Diah temannya. Diah, sahabatnya sedari kecil. Keduanya hampir melewati masa kecil bersama-sama, hingga saat ini kehidupan remaja menyambangi. Mereka mencuci baju sembari bercerita sana-sini. Ngerumpi ini itu. Canda dan tawa ceria mengiringi pekerjaan rutinnya.


“Sin, kemarin datang ndak ke acaranya Parto ?” tanya sahabatnya yaitu Diah.


“Nggak, yang diundang kan Kakek. Saya ndak ikut. Nanti dikira mau numpang makan enak” jawab Sinta.


“Teman-teman pada datang lo. “ saur diah.


“Mereka diundang kali.” saut Sinta.


“Ah, ndak. Hanya orang tuanya yang diundang.”


“Aku kalau ndak diundang ya malu. Lagi pula, ndak punya duit buat beli kado.” elak Sinta. Mereka tengah membicarakan pesta pernikahan Parto, teman sebayanya.

__ADS_1


“Tono datang lo. Ganteng. Wis jan, kayak artis.”


Sinta terdiam. Jika nama Tono disebut, membuat dadanya sedikit bergetar. Ada perasaan lain saat nama laki-laki ganteng itu disebut. Apalagi jika mereka berdua bertemu, jantung Sinta berdetak lebih kencang. Untuk menutupi perasaannya, tangannya asyik main air sembari melanjutkan mencuci baju.


“Tono nanyain Kamu.”


Deg, serasa berhenti jantung Sinta. Mukanya perlahan berubah memerah. Lidahnya terasa kelu, sehingga Sinta hanya terdiam saja tanpa menanggapi omongan Diah. Rupanya perubahan mimik Sinta diketahui oleh Diah.


“Cie cie cie yang lagi kasmaran.” goda Diah sambil ketawa.


Secepatnya Diah mengelak tatkala sambitan batu kerikil datang dari tangan Sinta.


“Eits, ndak kena.” goda Diah.


“Gak lucu ah.” timpal Sinta dengan muka memerah.


Sejurus dahi Sinta mengerut. Pengin nanya siapa orangnya, tapi malu. Sehingga wajah cuma terdiam menunggu cerita selanjutnya.


“Lastri, nempel terus tuh.” terang Diah. Lastri anak pemilik kebun kelapa yang luas. Tanah sawahnya juga luas. Makanya Lastri menjadi gadis terpandang karena orang tuanya kaya raya. Bapaknya juga seorang lurah di desa ini. Kondisinya bagaikan bumi dan langit dengan Sinta.


“Tono sih cuek saja, ndak terlalu nanggapi Lastri.” Lanjut Diah. Sinta menghela nafas lega. Ada secercah harapan di hatinya. Harapan tentang kasih sayang yang bisa diraih ataukah tidak. Cinta itu buta, begitu para sesepuh berkata.


Matahari semakin naik ke penggalan. Sinarnya mulai menyengat di kulit. Embun pagipun enggan bergelayut di dedaunan. Perlahan mulai sirna seiring dengan pagi yang mulai menghilang. Kedua gadis itupun segera menyelesaikan cuciannya. Mereka segera pulang, di rumah menanti aktivitas lain yang harus dilakukan. Canda tawa mereka terdengar mengiringi langkah-langkah sepanjang perjalan mereka pulang.


Sampailah mereka di jalan utama. Jalan besar menuju tempat tinggal Sinta. Ketika mereka sedang asyik berjalan, tiba-tiba dari arah depan meluncur sepeda yang dikendarai oleh seorang dua orang lelaki berboncengan. Kedua gadis itu pun minggir memberi jalan untuk pengendara sepeda tersebut.

__ADS_1


Rupanya saat mereka berpapasan lelaki pengedara sepeda itu iseng.


“Hai cantik.” godanya sembari tersenyum dan tertawa lebar. Matanya mengedip sebelah dengan genitnya.


Sinta dan Diah cuman diam. Jaga gengsi. Sepeda itupun melewati mereka dengan dua senyum goda dua lelaki pengandaranya. Namun sial, karena perhatian mereka pada bunga desa di hadapannya, tanpa sadar roda depan sepeda menabrak batu agak besar. Kontan saja kehilangan kendali dan sepeda tanpa bisa dikontrol meluncur ke selokan. Dua jejaka itu terjun keselokan sekaligus dengan sepeda yang mereka kendarai. Baju basah berlumuran lumpur.


“Asem.” umpat salah satu diantara mereka sambil menepunk teman satu.


Melihat kejadian itu, Diah dan Sinta saling pandang, lalu senyum sambil menahan tawa.


“Ayo, pura-pura ndak tau saja. “ bisik Diah pada Sinta. Kedua gadis itu meninggalkan lokasi itu, setelah bersikap pura-pura tidak tahu akan nasib buruk dua lelaki penggodanya.


Akan halnya kedua lelaki penggoda itu berusaha naik ke jalan dari selokan sembari pringas pringis menahan sakit. Kejadian itu akan menjadi pengalaman paling mengesankan sekaligus menyakitkan bagi mereka.


Lokasi jalan tempat kejadian sepi, setelah makhluk-makhluk manis terpisah dengan tujuan mereka masing-masing.


Sesampai di rumah Sinta tidak mendapati siapapun. Sepi. Rumahnya yang berada di belakang rumah pak Johan, menempel, maklumlah karena kakek dan neneknya pembantu. Masih untung mereka dibuatkan rumah terpisah. Meski sederhana, sudah cukup untuk menampung kakek, nenek dan Sinta.


“Kek, nek !” teriak Sinta. Namun tak ada jawaban.


“Mungkin lagi bersih-bersih di tempat pak Johan.” batin Sinta.


Rumah pak Johan dibersihkan tiap hari, walaupun tidak ditempati. Semenjak pak Johan meninggal, rumah itu jadi kosong. Anak pak Johan, Jodi, punya bisnis di kota. Sehingga rumah itu kosong. Walaupun kadang-kadang Jodi pulang untuk mengurusi peninggalan ayahnya di desa, tapi seringnya Jodi tinggal di kota. Padahal peninggalan pak Johan tidak sedikit. Ada rumah dan kebun. Kebunnya ada sawah dan tegalan. Pak Johan terkenal sebagai petani sukses di desa. Sayang, anak-anaknya tidak ada yang mewarisi sebagai petani.


Keadaan itu menguntungkan Sinta, karena bisa menikmati semua yang dimiliki pak Johan walaupun tidak memiliki. Lebih baik ndak punya rumah tapi tinggal di rumah daripada punya rumah tidak pernah di tempati. Mungkin begitu prinsipnya.

__ADS_1


Setelah berkali-kali panggilan Sinta pada neneknya tidak dijawab, Sinta segera pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan. Namun sial, tak ada sepotong makanan yang bisa dimakan. Nasi, singkong ataupun lainnya tidak ditemukan. Sinta menghela nafas dalam-dalam. Perutnya lapar, tapi Dia tidak mungkin marah. Kasihan Kakek dan Nenek. Mereka sudah berupaya keras memberi nafkah pada Sinta, masa iya hanya gara-gara lapar menyebabkan Sinta bertengkar dengan Kakek dan Nenek.


__ADS_2