
Sinta memasuki kamarnya dengan raut wajah yang ceria. Segera ia membuka bungkusan yang di berikan oleh Jodi. Sepotong celana jeans, kaos modis berwarna pink dan jaket. Senyumnya mengembang. Sungguh hadiah yang sangat pas. Bisa digunakan untuk rekreasi yang akan diadakan.
Secepatnya baju pemberian Jodi dicobanya. Luar biasa karena ukurannya begitu pas melekat di tubuhnya. Sinta terlihat sangat cantik dengan baju seperti itu.
“Darimana Pak Jodi tahu ukuran bajuku ?” batin Sinta.
“Lagi pula Pak Jodi baru bertemu denganku ?” pertanyaan yang menyeruak di hati Sinta.
Tapi Sinta enggan memperpanjang polemik yang berkecamuk di benaknya. Ia lebih memilih menikmati pemberian Jodi apapun itu motifnya.
"Baju siapa Sin ?" tanya neneknya.
"Oleh-oleh dari Pak Jodi nek." jawab Sinta.
"Oh. Bisa pas banget ya. Kamu cantik banget sayang !" puji nenek yang membuat Sinta tersipu-sipu.
"Ih nenek." kata Sinta tersipu malu sembari merangkul nenek erat. Nenek Sinta membalas pelukan erat cucunya. Matanya berkaca-kaca. Bagaimanapun jarang sekali nenek memberikan hadiah buat cucunya.
Tibalah saatnya rekreasi. Rekreasi kali ini menuju ke pantai.
"Nek, pamit dulu. Kegiatan remaja akhir tahun." pamit Sinta.
"Hati-hati ya Sin." ujar nenek.
"Sangunya dong nek." pinta Sinta.
"Oh iya. Lupa. Nih." kata Nenek sambil menyerahkan uang 10 ribuan. Sinta terdiam. Uang segitu ndak akan cukup.
"Kurang nek." protes Sinta.
"Uang nenek sudah ndak ada lagi." jelas nenek.
"Gak usah beli macam-macam. Rekreasi saja." lanjut nenek.
"Iya nek." jawab Sinta dengan bibir manyun.
Sinta jalan kaki ke balai desa.
"Tumben Diah ndak kesini. Biasanya tuh anak kayak jaelangkung. Datang tak diundang pulang nggak diantar." batin Sinta.
Ketika Sinta hendak menuju ke jalan bertemu dengan Jodi.
"Eh Sinta. Hendak kemana ?" tanya Jodi. Sinta agak malu-malu karena mengenakan baju pemberian Jodi.
"Acara rekreasi Pak. Rutin tiap akhir tahun." jawab Sinta.
__ADS_1
"Ya. Ya." sahut Jodi sambil mengangguk-angguk.
"Oh ya. Terima kasih ya bajunya. Pas banget." kata Sinta.
"Sip." timpal Jodi sembari mengacungkan jempolnya.
"Mari. Saya berangkat dulu." pamit Sinta.
Tiba-tiba dari arah jalan ada yang berteriak.
"Siiiinnnnn taaaaa !" panggil seseorang. Siapa lagi kalau bukan Diah.
"Ayuk berangkat !" ajak Diah tanpa mendekat dengan teriakan yang keras.
"Ya. Saya kesitu." sahut Sinta.
"Mari Pak." kata Sinta sambil meninggalkan Jodi.
"Sin, tunggu dulu !" cegah Jodi.
Sinta menghentikan langkah. Matanya menatap Jodi tajam.
"Nih buat sangu." kata Jodi sambil mengulurkan uang seratus ribuan. Sinta bengong. Antara senang dan bingung. Apalagi uang seratus ribu baginya sangat banyak.
"Sudah ambil saja. Tapi besok bantu Aku ya." kata Jodi memberikan syarat.
"Bantuin apa Pak ?" selidik Sinta.
"Pelihara taman dan ada sedikit pekerjaan." perjelas Jodi.
Karena tidak percuma, Sinta akhirnya mau menerima uang dari Jodi.
Sinta berlari ke arah Diah. Dari seberang jalan terlihat Diah melambai-lambaikan tangannya.
"Kok gak pakai sepeda ?" tanya Sinta.
"Sepedanya dipakai oleh Ibuku. Jalan saja ya." bujuk Diah.
"Oke lah. Itung-itung olah raga. Biar kamu ndak gendut Yah." ledek Sinta.
"Sinta. Nggak lucu." kata Diah sewot.
Mereka berdua berjalan menuju balai desa. Sesampai di balai desa, peserta yang lain sudah naik ke bus. Hampir saja telat.
"Ayo naik-naik." teriak Dirjo sembari tersenyum penuh arti melihat kedatangan Sinta dan Diah.
__ADS_1
Saat Diah naik, bangku di bus sudah hampir penuh. Tinggal satu bangku kosong di belakang dan dua bangku kosong di depan. Sinta dan Diah memilih bangku di depan. Namun dirjo mendekat.
"Kalian berdua, hanya salah satu yang bisa disini. Satunya lagi dibelakang. Salah satu bangku disini buat pak lurah." bisik Dirjo.
"Aku saja di belakang Yah. Kamu duduk di sini bareng pak lurah." usul Sinta.
"Eh. Ndak Sin. Aku saja yang di belakang. Aku sungkan bareng pak Lurah." ujar Sinta. Tanpa meminta persetujuan dari Sinta, Diah segera menuju ke belakang.
Melihat hal itu Dirjo tersenyum penuh kemenangan. Taktiknya agar bisa duduk bareng Sinta terkabulkan. Sinta kini duduk di belakang sopir dan masih ada satu bangku kosong yang diperuntukkan buat pak Lurah.
"Pak Lurah yang mana dulu." batin Dirjo.
"Apa lurah jadi-jadian." kata Dirjo membatin.
"Semua sudah siap ?" teriak Dirjo.
"Pak sopir. Berangkat." lanjutnya.
Bis berangkat tanpa seseorang yang disebut pak Lurah. Sinta protes merasa dikadali.
"Kang. Pak Lurah belum naik." teriak Sinta.
"Pak Lurah nanti naik di tengah jalan. Saat ini lagi ada perlu." bisik Dirjo.
"Kalau begitu, biar Diah duduk disini." usul Sinta.
"Sudah, biar Diah di belakang saja. Nanti repot kalau pak Lurah naik. Aku saja duduk disini." ujar Dirjo sembari menghempaskan pantatnya di bangku sebelah Sinta. Sinta menatap Dirjo dengan wajah sewot. Ia merasa dikadali Dirjo. Tapi mau bagaimana lagi. Bis sudah mulai berjalan. Awalnya pelan, tapi semakin lama semakin kencang.
Bis sudah mulai meninggalkan desa Indragiri, tapi pak Lurah yang diomongkan Dirjo tak juga tampak batang hidungnya. Sinta merasa diakali oleh Dirjo. Hatinya benar-benar dongkol. Akhirnya Sinta hanya pasrah. Duduk di samping Dirjo dengan hati gondok. Apalagi melihat Dirjo bersenandung lirih sambil mengunyah permen karet, Sinta betul-betul ingin ******* wajah Dirjo.
Sesekali Dirjo melirik ke arah Sinta. Sinta membalas lirikan Dirjo dengan tatapan tajam, seperti tatapan bintang film suzana di film horor. Dirjo segera memalingkan mukannya. Tapi, Dirjo sudah bertekat bulat memberanikan diri menghadapi Sinta. Sehingga ia begitu lancar berkata.
"Ayolah Sintà. Berikanlah senyum manismu barang sedikit. Itu tidak akan merugikanmu, justru membuat dunia semakin ceria." kata Dirjo merayu Sinta.
Sinta menatap Dirjo dan berkata.
"Bodo." semprot Sinta sewot sembari memonyongkan mulutnya.
"Aduh, mimpi apa Aku semalam sehingga hari mendapatkan anugerah yang begitu indah. Ada bidadari sedang menyamar jadi manusia." ledek Dirjo.
Sinta diam saja. Ia tak mengira Dirjo bisa segombal itu padanya. Biasanya Dirjo cuma grogi di depan Sinta. Namun, saat ini Dirjo begitu lancar membuat kata rayuan.
Bis melaju semakin kencang. Lajunya meliuk ke kanan dan ke kiri. Saat bis meliuk ke kanan, Sinta merasakan kesengajaan Dirjo yang menyorongkan tubuhnya ke arah Sinta. Sinta merinding. Segera duduknya merapat kepinggir bis. Namun dasar Dirjo sudah kalap, tatkala bis meliuk ke kanan, Dirjo segera merapat ke arah Sinta. Sintapun terjepit oleh dirjo. Namun, sinta tak berdaya. Tak mungkin pindah karena bangku sudah penuh.
Sepanjang perjalanan wajah Sinta ditekuk. Sesekali bibirnya moyong ketika bus meliuk ke kanan kembali. Ingin rasanya perjalan itu segera berakhir. Rekreasi yang didambakannya menjadi ajang refreshing dan keceriaan, telah menjadi mimpi buruk baginya.
__ADS_1