Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 24


__ADS_3

Kehadiran Jason telah membuyarkan semua. Aktivitas Danu terganggu. Musnah sudah proyeknya untuk menghasilkan uang dari Sinta. Ternyata Danu adalah kontributor content situs porno. Dengan mengunggah foto atau video syur maka dirinya dapat uang.


"Dasar kutu kecil !" umpat Danu pada Jason.


Sementara itu Jason masih berusaha membangunkan Sinta.


Tok ! Tok ! Tok !


"Tante ! Tante ! Tante !" panggil Jason dengan nada mulai mengeras.


Sintapun tersadar. Lalu bangun. Dikenakannya baju yang tadi sempat ditanggalkan sebelum tidur.


"Jason ! Kenapa ?" tanya Sinta tatkala membuka pintu.


Wajah Jason menunjukkan wajah ketakutan.


"Saya ditinggal Om Danu sendirian. Takut. Tidur sama Tante ya ?" pinta Jason. Sinta mengangguk. Walaupun kamar masih dalam kondisi panas akibat ulah Danu, namun mereka tempat bisa tidur nyenyak.


Danu dari menggerutu terus dari tempat pengintaiannya. Wajahnya menunjukkan amarah dan kekecewaan. Akibat peristiwa tadi, Danu mencoba merencanakan sesuatu yang lebih lagi.


Danu menggunakan obat perangsang yang dibubuhkan pada makanan Sinta. Sedangkan pada makanan Jason, Danu memberikan obat tidur. Ternyata Danu orang jahat. Ia mencari uang dengan cara-cara merugikan orang lain.


Sinta terperangkap dalam permainan Danu. Suatu malam Sinta memakan makanan yang telah diberi obat perangsang dan minumannya diganti dengan minuman keras. Sedangkan Jason telah memakan yang dibubuhi obat tidur.


Tak menunggu waktu lama, Jasonpun tertidur di kamar Danu. Dari tempat pengintaian, Danu menyiapkan kamera untuk mengambil gambar dan video Sinta. Efek obat perangsang dan minuman keras sudah bekerja. Pikiran Sinta tidak lagi bisa berpikir normal. Karena ada obat perangsang, Sinta hanya memikirkan ingin bercinta.


"Pak Jodi." rintih Sinta memanggil suaminya. Tangannya mulai menggerayangi bagian sensitif pada tubuhnya sendiri. Danu mulai merekam semuanya. Dari awal Sinta masuk ke kamar sampai Sinta mendesah merancau tak karuan karena rasa birahi yang hemat.


Aksi Sinta terus berlalu. Setiap aksinya tak ada yang terlewat di rekam Danu. Tiba-tiba lampu padam.


Pet. Gelap.


"Haduh. Apalagi ini ?" gumam Danu.


Danu segera keluar dari tempat persembunyiannya mencari tahu apa yang terjadi. Listrik padam atau ada yang memadamkannya. Ketika Danu keluar dari ruang pengintaian, sekelebat bayangan hitam memasuki ruang itu. Bayangan hitam itu mengambil kamera yang digunakan untuk merekam dan mengambil keping penyimpan yang ada di ruang itu. Secepatnya keluar dari ruang itu dan menuju ke tempat Sinta. Menggunakan kunci cadangan bayangan itu segera menarik Sinta yang sedang terbakar birahi. Antara sadar dan tidak Sinta mengikuti saja langkah bayangan itu.


Sinta mengikuti kemana saja langkah bayangan kecil itu yang ternyata adalah Jason. Jason sudah hafal betul seluk beluk daerah situ lalu membawa Sinta ke dalam rumah kecil kumuh tak berpenghuni. Rumah itu seperti kandang sapi. Banyak tumpukan jerami.


Sinta tergeletak di tumpukan jerami. Pengaruh obat telah membuatnya hanya tergeletak dan merintih-rintih. Hingga saat ini, Sinta belum tahu apa yang sedang terjadi. Melihat hak itu Jason keluar dari rumah itu. Lalu menuju ke sungai yang tak jauh dari rumah itu. Dilemparnya ke dalam sungai barang-barang yang di ambil dari ruang Danu. Setelah memastikan tenggelam, Jason kembali ke tempat Sinta sedang tergeletak.

__ADS_1


Sampai di dalam, Jason mendapati Sinta sedang tertidur pulas. Dibiarkan saja Sinta tertidur. Jason duduk di samping Sinta sambil menangis lirih. Penderitaan yang di alami Sinta, telah dialami juga oleh Jason. Kini, Dia memilih pergi bersama Sinta daripada harus tinggal dengan Bapak dan Ibunya. Larut dalam kesedihan dan tangisnya, lama-lama Jason tergeletak tertidur di samping Sinta.


Pagi mulai datang. Matahari pagi mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Semburat merah tembaga menandai pergantian dua waktu. Sinta membuka mata perlahan. Saat melihat sekeliling Dia sangat terkejut melihat dirinya dalam tumpukan jerami. Lebih terkejut lagi Sinta mendapati dirinya hanya mengenakan BH dan ****** *****. Keterkejutan Sinta belum pupus manakala melihat Jason tertidur di sampingnya. Takut kalau Jason melihat dalam kondisi dirinya Sinta bergegas keluar mencari sesuati untuk menutupi tubuhnya.


Di sebelah rumah itu ternyata ada orang-orangan sawah yang digunakan petani mengusir burung. Sinta mengambil bajunya. Baju lelaki.


"Muat juga." batin Sinta.


Mengenakan baju itu Sinta teringat akan peristiwa masa lalu saat menghadiri pesat pernikahan Tono. Ada sedikit senyuman dan kemarahan.


"Biarlah yang lalu segera berlalu." bisik Sinta.


Sinta mendapati Jason sudah terbangun tatkala masuk ke rumah. Jason tak mengenali Sinta karena baju yang dikenakan baju orang-orangan sawah sekaligus capingnya. Oleh karena itu, saat Sinta masuk Jason segera mundur beberapa langkah.


"Jangan-jangan orang suruhan Om Danu." batin Jason.


"Bapak Siapa ?" tanya Jason.


Sinta kaget ditanya seperti itu.


"Jason. Ini Tante. " kata Sinta seraya membuka capingnya.


"Apa yang terjadi ?" tanya Sinta pada Jason.


Dengan menahan air mata Jason menceritakan apa yang sudah terjadi.


"Ya ampun. Jadi kamu yang bawa Tante ke sini ?" tanya Sinta.


Jason mengangguk pelan.


"Kamu melihat Tante telanjang ?" tanya Sinta lagi.


"Iya Nte. Tapi kan gelap jadi tidak jelas." jawab Jason.


"Hmm. Tante tidak mengira Danu begitu. Sebenarnya Tante tidak mabuk sepenuhnya. Tante masih sedikit sadar. Jadi waktu kamu menarik Tante keluar, Tante ikuti saja."


"Tante harus waspada kalau Om Danu mencari kita !" tegas Jason.


"Iya. Kita masih beruntung hingga saat ini Danu belum menemukan kita." kata Sinta.

__ADS_1


"Tante. Ijinkan saya ikut kemana Tante pergi. Saya tidak mau balik lagi ke rumah itu." kata Jason.


"Lho. Kenapa ? Bapak dan Ibu gimana nanti ?" tanya Sinta sedikit terkejut.


"Itu bukan Bapak Ibu Jason. Saya hanya anak angkat." ungkap Jason sedih.


Untuk kesekian kalinya Sinta terkejut. Dipeluknya bocah itu erat-erat.


"Ayo kalau begitu. Secepatnya kita pergi dari sini. Kamu hapal sekitar sini kan ?" tanya Sinta.


"Terima kasih Tante. Tentu saya sangat hapal." pekik Jason senang.


Mereka segera pergi meninggalkan rumah itu. Langkah mereka begitu pasti. Pasti melangkah yang terselimuti oleh suasana kebahagiaan.


"Tapi baju kamu juga harus ganti. Biar nanti orang tidak kenal. Kita cari orang-orangan sawah saja lagi. Siapa tahu bisa untuk penyamaran kamu." usul Sinta.


"Ke pasar saja tante." usul balik Jason.


"Pasar ? Aduh Son, Tante sama sekali tidak punya uang." kata Sinta.


"Ini !" kata Jason memberikan bungkusan pada Sinta.


"Apa ini ?" tanya Sinta.


"Uang." jawab Jason singkat.


"Kamu mencuri ?" selidik Sinta.


"Itu uang tabungan Jason. Selama ini saya kumpulin kalau dikasih sama Bapak dan Ibu Rejo." kata Jason menjelaskan.


Sinta membuka bungkusan itu.


"Ya ampun, banyak sekali."


"Cukup kan buat beli baju." tanya Jason.


"Lebih dari cukup. Ayo kita ke pasar !" ajak Sinta penuh semangat.


Jason tertawa melihat sikap Sinta. Sinta menjadi tertegun, baru kalau ini melihat Jason begitu tertawa lepas dan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2