Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 18


__ADS_3

Diah akhirnya menerima lamaran Dirjo. Pesta pernikahan digelar cukup meriah. Sinta dan Jodipun bersiap menghadiri pesta pernikahan Diah.


"Sudah siap belum pak ?" tanya Sinta.


"Belum Sin. Aku belum mandi. Tadi habis makan aku ngadem dulu di depan." kata Jodi.


"Aku berangkat dulu saja ya." pinta Sinta.


"Oh. Naik apa ?" tanya Jodi.


"Jalan kaki saja. Aku terbiasa jalan kaki kalau ke rumah Diah." jawab Sinta.


"Baiklah. Hati-hati di jalan." kata Jodi.


Sinta berjalan kaki ke rumah Diah. Dia berjalan menyusuri jalan yang dulu pernah dilalui dengan Diah. Masih segar dalam ingatannya waktu itu Dirjo menggodanya dengan sepeda hingga tercebur ke selokan. Kini, semua ith menjadi kenangan manis yang tak terlupakan.


Tanpa disadari oleh Sinta, ada dua orang membuntutinya semenjak keluar dari rumah. Lelaki itu jelas berniat jahat. Saat lihat melewatj jalan sepi, dua orang itu segera menyergap Sinta.


"Eppp ... Siapa kamu ?" jerit Sinta.


"Diam !" kata orang itu sambil membekap mulut Sinta.


Sinta berteriak meronta-ronta, namun suaranya tak terdengar. Tenggelam dalam bekapan. Sinta di bopong dan dimasukkan dalam sebuah mobil.


Mobil segera meraung-raung melaju meninggal tempat itu. Sinta masih meronta-ronta di dalam mobil. Kakinya menendang-nendang mencoba melepaskan tali yang mengikat. Begitu juga dengan tangannya. Dia mencoba berteriak sekuat tenaga, tapi suaranya terhalang kain yang menyumpal di mulutnya. Sadar, usahanya akan sia-sia, Sinta menangis. Air matanya menetes di saat mobil melaju kencang menuju ke suatu tempat.


Mobil berhenti di sebuah rumah dalam hutan. Rumah tidak terlalu megah yang berdiri di tengah hutan. Dari luar terlihat biasa saja, tapi ketika masuk terlihat rumah itu sangat tertata-rapi.


Sinta di masukkan dalam sebuah kamar. Ada ranjang besar di situ. Ranjang ukiran kayu jati. Sinta diikat di atas ranjang dalam keadaan terlentang. Air matanya masih menetes. Sinta mengenakan baju adat jawa waktu itu. Biasanya di desa Sinta kalau ada pesta pernikahan pasti mengenakan baju adat. Hanya saja rambut Sinta tidak disanggul.


Kain batik yang membalut tubuh membentuk relief hidup yang sangat seksi.


"Seksi sekali orang ini. Kita coba saja yuk !"


"Hush. Nanti kita dihajar bos." cegah orang satunya.


"Kita tinggal saja." usul yang lain.


Mereka meninggalkan Sinta di kamar dalam keadaan terikat. Mulut Sinta masih tersumpal kain. Sia-sia juga kalau hendak berteriak. Yang sedang diusahakan kini adalah melepas tali pengikat tangan dan kakinya. Ada harapan juga, setelah sekian lama berusaha, ikatan itu mulai longgar.


Namun tiba-tiba Sinta mendengar suara orang bercakap di luaf kamar.

__ADS_1


"Dimana Sinta ?"


"Kamar itu bos."


"Kalian boleh tunggu di luar."


Terdengar langkah kaki mendekati kamar Sinta. Sesosok bayang laki-laki masuk ke kamar dan menutup pintu kamar rapat-rapat.


"Apa kabar Sinta ?" sapa laki-laki itu. Deg. Itu kan.


"Kak Tono !!" pekik Sinta. Walaupun Sinta menjerit namun suaranya tak terdengar jelas.


"Aduh kasihan. Sini Kakak buka." kata Tono sembari membuka sumpel di mulutnya.


"Apa yang kamu lakukan ?" pekik Sinta.


"Aku kangen denganmu Sin." jawab Tono.


"Lepaskan aku ! Aku harus ke tempat Diah." teriak Sinta lagi.


"Tunggu dulu Sin. Ada urusan yang harus kita selesaikan di sini."


"Tolonglah Kak, aku harus segera ke tempat Diah. Acara segera di mulai." pinta Sinta.


Tono mulai kalap. Dia mulai pegang-pegang tubuh Sinta.


"Kak, apa yang kamu lakukan. Jangan !" tolak Sinta.


"Kenapa Sin. Kamu lupa, kalau aku belum pernah menceraikan kamu. Kamu masih istri sahku." jelas Tono.


Sinta terdiam. Apa yang dikatakan oleh Toni benar jua adanya. Tono belum menceraikan aku, dan aku sudah menikah lagi dengan Jodi.


Mengingat hal itu Sinta hanya menangis.


"Aduh. Jangan menangis begitu Sin. Aku membawamu kesini karena ingin membahagiakan kamu." lanjut Tono.


"Jangan Kak. Tolong, lepaskan aku." pinta Sinta memelas. Namun, nafsu telah menguasai diri Tono. Sinta berusaha menghindar semampunya. Sekuat tenaga Sinta menghindar tak akan mampu mengimbangi tenaga laki-laki Tono. Sintapun pasrah dengan air mata semakin deras mengalir. Jelas Ia merasa akan diperkosa oleh suaminya sendiri.


Duar. Trak. Trak.


Terdengar suara ledakan dari luar, kemudian bunyi gemeretak. Tono terkejut.

__ADS_1


"Apa itu ?" teriak Tono disusul dengan langkahnya berlari ke luar.


Diluar terdengar percakapan antara anak buah Tono dengan Tono. Situasi itu tidak disia-siakan oleh Sinta. Ikatan tali ditangannya yang sudah longgar, bisa dengan mudah dilepas. Secepat dia mencoba melarikan diri dari rumah itu. Awalnya Sinta mencoba lewat pintu kama, tapi nanti akan bertemu dengan Tono dan anak buahnya di depan. Sinta mencoba kabur lewat jendela. Untungnya jendela yang terpasang jendela biasa yang terkunci dari dalam.


Segera Sinta kabur melalui jendela. Berusalah dia lari sekencang-kencangnya, namun kain yang dikenakannya menghalangi langkahnya. Tanpa ragu-ragu, dirobeknya kain batik bawahannya, sehabis itu Ia lari sekencang-kencangnya dan tanpa menoleh melihat ke belakang.


Sinta berlari tanpa mempedulikan tajamnya kerikil menusuk kakinya. Duri-duri tajam dari tanaman liar tak menyurutkan niatnya untuj berlari kencang. Sinta bukan pelari hebat, namun kali ini Ia adalah pelari yang berlari sangat kencang. Berlari dan terus berlari.


Sementara itu Tono dan anak buahnya memeriksa tempat terjadi ledakan.


"Ada apa ?" tanya Tono.


"Itu pak, kandang di sebelah ambruk. Tertimbun tanah longsor. Emang tanah sebelah utara sedikit gembur dan mudah sekali longsor pak." jelas anak buah Tono.


"Hmm. Ada korban tidak ?" tanya Tono.


"Kambing-kambing piaraan saya tertimbun. Mati. Rugi besar saya pak." lapor anak buah Tono selanjutnya.


"Gampang itu, nanti saya ganti. Tunggu, tapi itu bukan ulah orang kan ?" kata Tono mulai curiga.


"Kayaknya tidak pak. Murni bencana alam."


"Waspada, siapa tahu ada orang mengawasi kita."


"Aman pak, tempat ini jauh di tengah hutan." jelas anak buah Tono.


"Baguslah kalau begitu." kata Tono sambil kembali ke kamar.


Tiba-tiba terdengar suara dari dalam.


"Kurang ajar. Sinta lari." teriak Tono. Serta merta anak buah Tono berlari ke kamar.


"Kabur lewat jendela pak."


"Iya sudah tahu. Ayo cari. Kejar." perintah Tono.


Merekapun segera berlari keluar. Mencari Sinta. Ditemukan jejak-jejak kaki Sinta. Mereka berlari memburu. Jejak-jejak masih baru. Mudah sekali bagi mereka tinggal mengikuti kemana arah Sinta berlari.


Merekapun berpacu dengan kecepatan lari Sinta. Namun, sejauh ini mereka berlari belum juga ditemukan Sinta.


"Jangan-jangan ini bukan jejaj Sinta ?" hardik Tono.

__ADS_1


"Jejak ini masih baru pak. Tidak ada orang lain di sini." kaya anak buah Tono.


__ADS_2