
Perjalanan ke lokasi sudah berjalan cukup lama. Sampailah mereka di lembah. Sekilas terlihat jalan buntu. Namun jika diperhatikan lebih mendalam ternyata masih ada jalan setelah melewati semak belukar. Ternyata ada terowongan tertutup oleh rindangnya pepohonan.
Kakek Sinta yang sudah hafal daerah itu segera melewati terorongan. Terowongan itu tidak panjang, seperti sebuah gerbang. Sesampai di ujung terowongan Kakek Sinta berhenti.
"Hmm. Rupanya sudah dibangun jalan di sini." gumam Kakek Sinta.
"Gimana Kek ?" tanya Jodi.
"Rupanya sudah dibangun jalan di sini. Dahulu di sini hanya ada jalan setapak. Kita bisa lanjut pakai mobil nak Jodi." kata Kakek.
"Baik kek." jawab Jodi.
"Min, ambil mobilnya. Kita pakai mobil saja." kata Jodi.
"Baik pak." jawan Sarmin.
Rombongan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil. Mobil mereka melaju dengan kencang menembus gelapnya malam dan menembus gelapnya kabut.
Laju mereka terhenti di pinggir jurang.
"Jalan buntu kek." kata Jodi.
"Dulu, ada jembatan di sini. Sekarang sudah tidak ada." sahut Kakek.
"Tidak ada jalan memutar kek ?" tanya Jodi.
"Jalan yang saya tahu cuma lewat sini. Seharusnya ada jalan memutar." kata Kakek.
"Bagaimana sebaiknya Kek ?" tanya Jodi.
Kakek terdiam. Belum ada ide yang ada dalam benaknya. Pikirannya begitu gundah gulana.
Beberapa saat kemudian ada seorang berjalan mendekati mereka.
"Wongso ?" tanya orang itu.
"Eh, Karno. Apa kabar ?" tanya Kakek. Ternyata orang itu sahabat karibnya Kakek yang bernama Karno.
"Ada apa malam-malam begini ?" tanya Karno.
"No, perasaan dulu di sini ada jembatan ke arah sana. Sekarang kok tidak ada ?"
"Oh. Dihancurkan oleh Istri pak Lurah. Maksudnya biar mereka tidak bisa berhubungan lagi." jelas Karno.
__ADS_1
"Jadi, kita tidak bisa lagi mengunjungi tempat itu ?" tanya Kakek pada Karno.
"Pak Lurah cerdas wong. Di sisi jurang sebelah sana ada tempat yang lebih rendah dari sisi sebelah sini. Kita harus pakai sepeda motor trail atau mobil. Lalu ancang-ancang dengan kecepatan tertentu. Loncat. Nanti akan mendarat tepat di seberang sana yang posisinya lebih rendah." kata Karno menjelaskan.
Mereka mendengar penjelasan Karno pada melongo. Perjalanan ini bertaruh nyawa. Rasa keraguan mulai menghantui mereka.
"Apa tidak ada alternatif lain No ?" tanya Kakek Sinta.
"Ada. Mengitari bukit ini. Butuh waktu tiga jam untuk sampai di seberang. Repotnya jalan masuk alternatif itu dijaga oleh anak buah pak Lurah. Gerbang yang dikunci. Hanya orang tertentu atas ijin pak Lurah yang boleh melewati gerbang itu." tambah Karno.
Lagi-lagi rombongan Jodi terdiam. Mereka seperi dihadapkan pada tantangan yang maha dasyat.
"Saya dan Slamet akan naik mobil meloncati jurang. Kakek dan sisanya lewat jalan alternatif yang memutar." kata Jodi memutuskan.
"Nak Jodi, saya ikut mobil yang meloncati jurang." kata Kakek.
"Sebaiknya kita bagi dua rombongan Kek. Kalau salah satu ada yang gagal, satu rombongan lagi ada yang melanjutkan." ujar Jodi.
"Ya sudah. Terserah kamu. Yang penting kita segera sampai ke tempat tujuan." kata Kakek menanggapi.
Jodi dan Slamet segera bersiap-siap naik mobil. Suara mobil meraung-raung hendak memuntahkan energi. Setelah dirasa cukup, mobil itu segera melaju dengan kecepatan penuh. Lalu loncat melewati jurang.
Brug. Suara mobil mendarat. Tapi karena malam hari semua tidak tahu pasti itu mendarat di jurang apa di lembah seberang.
"Aku berhasil Kek. Aku mau lanjut. Sampai ketemu di sana." teriak Jodi. Tak seberapa lama suara raungan mobil terdengar, berarti Jodi sudah melanjutkan perjalanan.
Suara mobil Jodi segera menghilang.
"Ayo kita bersiap-siap. Kita berangkat !" kata Kakek.
Parman segera menempatkan diri di posisi kemudi. Mobil segera melaju ke arah jalan alternatif yang diberi tahu Mbah Karno. Namun, saat mobil berjalan beberapa meter, Kakek Sinta berkata, " Putar balik. Susul Jodi dan Slamet."
"Lewat jalan tadi Kek ?" tanya Parman mempertegas.
"Iya. Kamu takut Man ?" tanya Kakek Sinta.
"Takut ? Sarmin mungkin yang takut." kata Parman.
"Haduh. Kebanyakan bicara. Cepat susul Pak Jodi. Keburu jauh mereka." tegas Sarmin.
"Siap. Ayo kita berangkat !" kata Parman sambil menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil meraung, seketika melaju kencang dan loncat menembus awan. Gelap, tak terlihat apapun. Semua dalam mobik pasrah dengan apapunyang akan terjadi.
Mobil betul-betul mengudara di atas jurang. Seperti pesawat yang menembus awan. Mobil itu juga menerjang kabut. Betul-betul gelap tak terlihat apapun. Hanya sorot lampu mobil dengan jarak pandang beberapa meter.
__ADS_1
Merek menahan nafas penuh kekuatiran. Matanya melotot ketakutan. Sampai akhirnya terdengar suara benturan roda dan jalan.
Brug.
"Apa kita selamat dan sampai ke seberang ?" tanya Kakek Sinta.
"Alhamdulillah Kek, kita sampai di seberang." jawab Parman.
"Alhamdulillah. " sahut yang lainnya.
"Tunggu apalagi Man, kejar Jodi !" kata Kakek.
Mobil yang dikemudikan oleh Parman segera melaju mengejar Jodi. Mobil itu bergerak dengan sangat cepat. Parman menginjak pedal gas dengan sekuat injakan kakinya. Sesekali mobil itu tidak menapakan rodanya di jalan. Lajunya seperti melayang di atas jalan.
Nafas lega sudah terhirup oleh rombongan Kakek Sinta. Mereka akhirnya bisa melewati jurang dalam dan menembus kabut untuk bisa melanjutkan perjalanan. Sungguh, sebuah pengalaman yang menegangkan dan mengerikan. Semua itu demi menyelamatkan Sinta, si kembang desa yang tetap jadi idola meskipun sudah memiliki suami.
Laju rombongan Kakek berusaha agar bisa mendahului rombongan Jodi. Namun, setelah sekian lama tak juga tersusul. Walaupun laju mobil mereka seperti hembusan angin. Tetap saja tak tersusul.
"Tidak bisa lebih cepat lagi Man ?" tanya Kakek.
"Aku coba Kek." jawab Parman.
Laju mobilpun menjadi lebih cepat. Menyusuri jalan yang berliku-liku. Untung saja, kondisi jalan sudah menjadi lebih baik.
Hati Kakek menjadi lega saat usahanya tidak sia-sia. Sebuah mobil melaju kencang mulai terlihat di depan mereka. Jodi menyadari ada mobil yang berusaha mengikutinya dari belakang. Ia memilih untuk menepi dan menghentikan mobilnya.
"Kakek !" teriak Jodi saat melihat rombongan itu adalah Kakek Sinta.
"Alahamdulillah. Bisa bertemu di sini." jawab Kakek Jodi.
"Kakek tidak jadi lewat jalan memutar ?" tanya Jodi.
"Setelah melihat nak Jodi berhasil menyeberangi jurang dengan mobil, rasanya saya tak perlu ragu untuk mengikutinya." jawab Kakek.
"Selanjutnya ke arah mana Kek ?" tanya Jodi.
Kakek Sinta menunjuk ke satu arah.
"Kita jalan saja nak Jodi. Kalau pakai mobil malah kehadiran kita diketahui mereka." ujar Kakek.
"Baiklah Kek." jawab Jodi sembari menyiapkan semuanya dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.
Peluh sudah mengalir pada wajah dan tubuh mereka. Namun, tidak menyurutkan langkah untuj segera menemukan Sinta.
__ADS_1