
Malam ini, Sinta susah memejamkan mata. Kejadian di rapat tadi masih terekam dengan jelas di benak Sinta. Secara tidak sadar, matanya mengawasi Tono. Si ganteng pujaan hatinya. Entahlah, setiap ekor matanya melirik kearah Tono, rasa damai dan tenteram segera bersemayan di dalam hatinya. Begitu juga sebaliknya, saat Lastri berada di dekat Tono, seperti ada rasa terbakar yang membumi hanguskan seluruh hatinya. Hatinya berharap Tono ada dan untuk dirinya. Dirinya saja. Tanpa Lastri ataupun lainnya. Yah, itulah jatuh cinta. Sebuah rasa yang sedang dialami oleh Sinta. Perasaan pada lawan jenis yang selama ini belum pernah dialaminya.
Sinta membolak-balik tubuhnya, namun kantuk tak jua menghampiri. Sudah berusaha mematikan lampu. Memejamkan erat matanya, namun bayang-bayang Tono tak bisa menghilang dari benaknya.
“Aduh, kenapa aku ini ?” bantin Sinta.
Lagi asyik melamun, tiba-tiba terdengar suara dari luar.
"Sin. Sin. " teriak seseorang. Ternyata Diah.
"Hmm. Ada apa Diah ke sini malam-malam. " batin Sinta.
Bergegas Sinta keluar rumah. Didapati Diah sedang duduk di teras rumahnya dengan senyum ceria menghiasi wajahnya.
"Ada apa ?" tanya Sinta keheranan. Perasaan baru saja Diah pulang ke rumahnya, kok ini sudah balik lagi.
"Ada berita penting." bisik Diah perlahan. Takut suaranya menganggu kakek dan nenek Sinta.
"Berita apa ?" tanya Sinta balik.
"Duduk sini !" kata Diah sembari menyuruh Sinta duduk di sampingnya.
Karena hari sudah malam, Sinta punya ide lain yaitu mengajak Diah masuk ke rumah.
"Masuk ke dalam saja. Ke kamarku." ajak Sinta.
"Kakek nenekmu ?" tanya Diah.
"Sudah tidur. Ayo masuk saja." kata Sinta menjelaskan.
Mereka berdua berjalan bersama-sama menuju kamar Sinta. Langkah mereka perlahan, takut menganggu. Sesampai di kamar Sinta, barulah Diah bercerita akan maksudnya malam-malam balik ke tempat Sinta.
“Rapat yang tadi ternyata banyak yang protes. Tidak demokratis katanya.” jelas Diah berapi-api.
“Pendukung Tono dan Jaya menolak dengan tegas pemilihan seperti tadi. Mereka meminta pemilihan diulang.” lanjut Diah.
“Diulang ? kurang kerjaan saja. Mbok ya sudah wong cuma panitia rekreasi kok. Yang penting kan acaranya berjalan lancar.” sahut Sinta.
“Bukannya kamu juga ndak suka kalau Dirjo yang jadi ketua ?” selidik Diah.
“Iya sih. Tapi, masa harus diulang. Buang waktu dan energi saja.” tegas Sinta.
“Menurutku ndak apa-apa Sin. Kita dukung agar kak Tono yang jadi ketua.” kata Diah berapi-api.
“Kak ? Kak Tono ? Ha ha.” seloroh Sinta. Iya tersenyum geli memanggil Tono dengan kakak.
“Iya dong. Mas kak Dirjo. Tak usah ye.” ledek Diah sambil memoyongkan mulutnya.
“Ssst. Jangan keras-keras. Kakek dan nenek sudah tidur.” tegur Sinta.
“Iya ya.” bisik Diah.
“Terus rencana pemilihan lagi kapan ?” tanya Sinta.
“Kamu setuju kan ?” selidik Diah.
“Terserah teman-teman saja bagaimana baiknya.” jelas Sinta.
“Terus kapan mau pemilihan ulang ?” lanjut Sinta.
__ADS_1
“Kata teman-teman sih besok pagi.” jawab Diah.
“Oh, gitu ya. Aku ikut saja kalau begitu.” tegas Sinta.
“Kalau begitu sekarang kita tidur saja. Besok baru kita perjuangkan kak Tono.” goda Diah.
“Yeeeeee. Awas lo ya.” kata Sinta sembari mencubit pinggang Diah.
“Ow.” pekik Diah.
“Udah, sekarang kita tidur saja. Biar besok segar.” usul Sinta.
“Baiklah, aku tak pulang dulu.” ujar Diah.
“Nggak tidur sini saja Yah.” ujar Sinta menawarkan.
“Ndak, tidur di rumah saja. Wong deket ini rumahnya.” tolak Diah.
Diahpun bergegas pulang. Keduanya masih merasakan harapan agar bisa bertemu lagi dan dekat dengan Tono.
Sinta mematikan lampu kamar tidur. Setelah kedatangan Diah, perasaan Sinta menjadi lega. Perlahan dia mulai tertidur.
—
Keesokan harinya mereka berangkat lagi ke balai desa. Suasana pagi ini menjadi sangat tegang lantaran banyak pihak yang protes hasil pemilihan ketua semalam. Berbeda dengan suasana semalam, suasana pagi ini diliputi dengan wajah-wajah muram. Wajah-wajah kekecewaan sekaligus harapan.
“Baiklah. Tanpa basa-basi kita akan lakukan pemilihan ulang. Caranya sama dengan semalam.” kata Jaya.
“Ingat jangan ada yang jahil ! Kalau suka sama seseorang langsung saja nyatakan. Jangan jadi pengecut.” ujar Jaya semangat.
“Iya, sapa tuh yang mengidolakan Sinta. Langsung tembak orangnya. Tuh ada disitu.” teriak salah seorang peserta.
Pemilihan ulang segera dimulai. Setelah melalui proses yang panjang akhirnya terpilih Tono sebagai ketua. Pemilihan yang demokratis. Hasilnya bisa diterima oleh semua pihak.
“Hore ….. ! “ tepuk tangan menggemuruh di ruang balai desa dengan terpilihnya Tono.
“Teman-teman tidak ada yang berkeberatan dengan terpilihnya Tono jadi ketua panitia ?” pertegas Jaya.
“Tidak. Setujuuuuuuu.” teriak peserta bersamaan. Seperti paduan suara yang menyuarakan kekompakan.
“Sin. Akhirnya Tono yang jadi.” kata Diah.
Sinta cuma terdiam, lalu mengacungkan jempolnya ke arah Diah.
“Mantap.” bisik Sinta.
“Lega ndak sekarang ?” tanya Diah berbisik
Sinta hanya mengangguk penuh arti. Wajahnya ceria, seperti bunga yang baru sahaja mekar. Mereka berdua tersenyum bahagia karena misinya berhasil.
Di tengah keriuhan kemenangan Tono, tiba-tiba ada seseorang memanggil Sinta.
“Sinta.” panggil seseorang.
Sinta menoleh ke arah panggilan suara tadi. Setelah tahu siapa yang memanggil, bibirnya terasa kelu. Ternyata Tono yang memanggil dirinya. Seseorang yang memang diharapkan kehadirannya. Tapi, justru hal itulah yang membuat salah tingkah.
“Iya Ton.” jawabnya grogi. Sinta melirih ke arah Diah. Diah membalas dengan mengedipkan salah satu bola matanya.
Diam-diam Sinta mencubit pinggang Diah. Diah menjerit tertahan. Malu mau berteriak keras.
__ADS_1
“Terima kasih dukungannnya ya ! Jangan lupa nanti di bantu. Sinta jadi sekretarisnya ya !” pinta Tono.
“Iya Ton.” jawab Diah menyela.
“Apa sih. Yang ditanya kan aku.” protes Sinta.
“Iya-iya. Ngerti. Duh, ada yang tidak terima.” sahut Diah.
Tono tersenyum penuh kharisma.
“Bersedia kan membantu saya ?” ujar Tono sekali lagi.
“Iya Ton. Eh, mas. Aduh kang.” jawab Sinta kelihatan banget groginya. Diah tersenyum melihat semua itu. Nyaris tertawa lebar, namun ditahan.
“Kak Tono Sin. Kak Tono.” kata Diah sambil tersenyum puas.
“Apa sih. “ semprot Sinta sambil mendelik.
“Iya Sin. Panggil saja kak Tono. Lebih enak di telinga.” usul Tono menengahi. Tentu saja diiringi dengan senyum mempesona.
Sinta terdiam. Bibirku kelu, sedikit bergetar. Pipinya mulai memerah. Merah merona. Kepalanya menunduk memendam gejolak yang beriak-riak di hatinya. Kadang luapan kegembiraan muncul yang membuat wajahnya berbinar dan ingin tersenyum. Kadang rasa malunya muncul yang membuat ingin segera berlari meninggalkan tempat itu. Pertemuan dengan Tono betul-betul membuat hati Sinta luluh lantak.
“Diah, bisa juga ikut membantu saya kan ?” tanya Tono ke Diah.
“Siap ndan. “ jawab tegas Diah. Sembari memberikan hormat dengan tangannya.
“Nanti Diah membantu saya di bagian keuangan.” lanjut Tono.
“Baik kak Tono. Siap laksanakan.” jawab Diah dengan ganjen.
Ketiganya pun tertawa lepas. Tawa kemenangan. Tawa kebahagiaan. Tawa harapan. Setitik berkas cahaya mulai menyeruak diantara asa yang sempat terkubur.
“Baiklah Yah. Sin. Berhubung sudah selesai dan hari juga mulai beranjak siang, kita sudahi dulu. Nanti kita atur pertemuan selanjutnya.” ujar Tono.
“Ya kak.” sahut Sinta.
“Oke kak Tono.” timpal Diah juga.
Tonopun bersalaman dengan Diah. Lalu menjabat tangan Sinta. Sinta menghela nafas dalam-dalam tatkala tangan Tono memegang erat tangannya. Rasa sejuk, rasa damai seperti mengalir dari tangan Tono dan menjalar ke tubuh Sinta. Ingin rasanya tangan Tono menempel terus di telapak tangannya. Bersatu selamanya. Agar kedamaian, ketenangan batin dan kebahagian selalu terasa dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Pertemuan pagi itupun bubar. Sinta dan Diah pulang. Seperti biasa mereka menggunakan sepeda milik Diah untuk kembali ke rumah. Diah mengayuhnya perlahan, sembari menikmati suasana pagi di desa Indragiri. Mereka berbincang sembari diselingi dengan tawa bahagia. Canda riang mereka betul-betul menambah lengkap kebahagian dua gadis remaja.
“Ayok Yah, agak kencang sedikit gowes sepedanya ! Aku mau bantu nenek. Jangan lelet kayak keong.“ kata Sinta.
Tak terima dikatai begitu, Diah mengayuh sepedanya kencang. Saking kencangnya sampai tidak menyadari ada sebongkah batu di jalan. Segera Diah banting stang ke kanan. Sial, ternyata masuk selokan.
Brug. Brak.
“Aduh.” jerit Sinta.
“Sinta. Ada apa ?” tanya seorang perempuan. Ternyata neneknya.
“Lho.” batin Sinta. Kenapa tiba-tiba ada nenek. Kenapa tiba-tiba sudah di rumah. Mana Diah.
“Haduh. Cuma mimpi.” batin Sinta. Sinta meringis sambil mengucek matanya.
“Mimpi yang indah. Jian.” batin Sinta.
“Sudah. Cuci muka dulu sana. Hari sudah mau siang.” kata nenek.
__ADS_1
“Ya nek.” jawab Sinta mencoba berdiri menahan sakit. Rupanya tadi dia melompat dari atas ranjang ke lantai.