
Di rumah Pak Lurah.
Pak Lurah dan Pak Santoso sedang ngobrol serius. Pak Santoso adalah orang kepercayaan Pak Lurah, Ayah Lastri.
"Kita harus menjodohkan Tono dan Lastri agar potensi Kita lebih berkembang." ujar pak Lurah.
"Saya ikut saja Pak." jawab Pak Santoso.
"Kita bisa memperluas tambak udang. Bukan begitu Pak San ?" lanjut Pak Lurah.
"Betul Pak. Produksinya bisa semakin besar."
Mereka tertawa.
"Apa Nak Lastri mau ini Pak ?" tanya pak Santoso mulai ragu.
"Kita langsung tanya saja anaknya ? Betul kan pak ?"
"Ya ya. Betul itu."
Pak Lurah segera memanggil lastri. Gadis itu sebenarnya juga cantik. Memang masih lebih cantik Sinta. Tapi, kalau di make up pasti tak kalah dengan selebritis.
"Weih, ayu tenan puteri Nak Lastri ini." puji Pak Santoso yang membuat Lastri tersipu malu.
"Ayok duduk sini."
Lastri duduk dekat bapaknya malu-malu.
"Ada apa Pak ?" tanya Lastri.
"Ini lho. Bapak bermaksud menjodohkan kamu dengan puteranya Pak Santoso." kata Pak Lurah.
Dahi lastri mengkerut. Putra Pak Santoso ada dua orang.
"Itu lho, kamu mau Bapak jodohkan sama Tono." lanjut Pak Lurah.
Mendengar kalimat itu Lastri seperti dilempar ke awang-awang. Wajahnya langsung berbinar. Pipinya menjadi kemerahan. Tak ada ada terucap dari bibirnya, tapi wajahnya memancarkan kebahagiaan. Lastri tertunduk sambil tersipu malu.
"Lha kalau begini mudah tugas Kita." kata Pak Santoso.
"Ha ha. Kita akan besanan pak." kata Pak Lurah.
Keduanya bersalaman lalu tertawa lebar. Dua orang dalam perjanjian kerja untuk melebarkan bisnisnya dengan cara menikahkan anak-anak mereka.
Di rumah Santoso ( rumah Tono ).
"Tono gak cinta Lastri pak." tolak Tono saat bapaknya mengutarakan rencananya sama Pak Lurah.
Jawaban klise pak Santoso.
"Bapak Ibumu dulu juga tidak saling mencintai. Nyatanya bisa punya dua orang anak. Kamu dan Pujo. Menurutmu kehidupan Kita bahagia tidak ?" kata Pak Santoso mendebat jawaban Tono.
Tono terdiam. Tidak ada gunanya mendebat jawaban Bapak. Tapi Ia tidak juga menyetujui rencana bapak menjodohkannya dengan Lastri. Tono ingin segera bertemu Sinta, menyampaikan apa yang rencana bapaknya. Jadi, omongan bapak panjang lebar tidak didengarnya sama sekali. Seperti mendengarkan film bisu. Ada visualnya tapi tidak ada suaranya.
Setelah Bapaknya selesai bicara, secepatnya Tono menemui Sinta.
__ADS_1
"Aku hendak dijodohkan Sin." kata Tono lirih. Sinta nampak terkejut. Tapi kemudian bisa menguasai diri. Perjodohan memang hal biasa di desanya.
"Dengan siapa Kak ?" tanya Sinta dengan nada gemetar.
"Lastri." jawab Tono singkat.
Keduanya terdiam. Larut dalam kesedihan masing-masing.
"Sin, bagaimana kalau Kita nikah saja !" kata Tono memecah kesunyian.
"Bagaimana bisa. Pasti bapakmu tidak setuju." timpal Sinta.
"Nikah siri." ujar Tono.
Sinta terdiam. Bagaimanapun Ia juga tidak ingin kehilangan Tono.
"Welah. Nanti kalau Pak Santoso tahu, bisa rumit masalahnya." kata Kakek Sinta ketika mereka berdua mengutarakan rencananya.
"Ndak gampang itu. Anak yang nanti hadir dalam kehidupan kalian, keberadaannya cacat di mata hukum. Sebaiknya kalian ikhlas saja dengan perjodohan itu. Toh cinta tak harus saling memiliki." begitu wejangan Kakek Sinta.
Namun Tono sudah bertekad bulat.
"Tolonglah kami Kek. Aku mencintai Sinta." kata Tono memelas.
Kakek Tono melirik ke Sinta. Binar harapan juga terpancar dari matanya.
"Bagaimana nih Nek ?" kakek Sinta bertanya ke nenek yang sedari tadi diam saja.
"Terserah Kakek saja." kata Nenek.
"Kek !" protes Sinta menahan kekecewaan.
Lama mereka semua terdiam. Tak menemukan jalan damai buat mereka semua.
"Kakek tidak ingin Kami berzina kan ?" celetuk Tono memecah kesunyian.
Kakek kaget dengan kata-kata Tono. Begitu juga dengan Nenek. Bagaimanapun mereka tak ingin cucunya terjebak dalam kondisi seperti itu.
Akhirnya Sinta dan Tono dinikahkan siri. Pak Jodi ikut jadi saksi, walau sebetulnya pernikahan itu masih menyisakan masalah.
Kehidupan berjalan seperti biasa, mengalir begitu saja. Siang hari Tono menyambangi Sinta di rumahnya, sedangkan malam hari Tono pulang ke rumah orang tuanya. Cara hidup seperti itu bisa menyamarkan bahwa sebetulnya mereka sudah menikah. Namun berbeda dengan Sinta. Secara perlahan perut Sinta mulai membesar. Ketika diperiksakan ke dokter semakin jelas bahwa Sinta sedang hamil.
"Aku hamil Kak." kata Sinta pada Tono.
"Syukurlah, Aku akan jadi Bapak." jawab Tono.
"Syukur gimana. Orang taunya Aku belum menikah." protes Sinta.
"Sabar Sin, nanti Kita cari jalan keluarnya." kata Tono.
"Sabar bagaimana Kak, perut membesar dan tam mengenal sabar."
Mereka terdiam. Hati mereka yang berbicara. Tanpa mereka sadari keberadaan dan pembicaraan mereka ada yang memperhatikan. Seseorang yang terlihat sengaja memperhatikan mereka. Setelah pembicaraan Sinta dan Tono selesai, orang yang nguping pembicaraan mereka segera menghilang.
Itu menjadi pembicaraan terakhir Sinta dan Tono. Semenjak itu, Tono menghilang tak tentu rimbanya. Tono tak pernah lagi mengunjungi Sinta. Itulah yang membuat Sinta gundah gulana.
"Kalau sudah begini, mau bagaimana Sin ?" kata Kakek.
__ADS_1
"Kamu jadinya kaya pemuas nafsu saja. Habis manis sepah dibuang." lanjut kakek.
Sinta menangis dalam pelukan Neneknya. Hatinya sudah hancur dan bingung.
"Coba besok Saya ke rumah Tono. Cari tahu keberadaannya." kata Kakek selanjutnya.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara pintu di ketuk.
"Kek, ada tamu di luar." ujar Nenek.
Kakek beranjak menemui tamu di luar.
"Kakek Wongso, ini ada undangan dari pak Lurah." kata pengantar surat.
"Oh iya. Terima kasih ya Jo. Masuk dulu." jawab Kakek.
"Tidak usah kek. Masih banyak surat yang harus saya antar."
"Baiklah. Terima kasih ya."
Segera Kakek membaca surat undangan dari pak Lurah. Seketika mukanya memerah, seakan menahan amarah yang amat sangat.
"Hmmm.." kata Kakek menggeram. Layaknya singa mengaum.
"Ada apa Kek ?" tanya Nenek. Kakek memberikan surat undangan itu.
"Lha dalah." kata nenek.
"Kenapa nek ?" tanya Sinta.
"Baca sendiri tuh."
"Kak Tono." jerit Sinta lirih. Lalu pingsan.
"Sin ! Sin ! Aduh. Ini Sinta kenapa Kek ?" teriak Nenek.
Mengetahui cucunya pingsan, Kakek juga ikut panik.
"Coba tidurkan di ranjang. Longgarkan bajunya. Biar nafasnya lega." perintah Kakek bertubi-tubi.
"Aku dulu sudah mengingatkan. Kok Sinta tidak mendengarkan. Hanya menuruti kehendak hatinya. Kalau sudah seperti ini, mau bilang apa." oceh Kakek.
"Sudah dulu, ini diurus dulu Sinta. Biar siuman." kata Nenek.
"Coba panggil Nak Jodi, siapa tahu bisa memberikan solusi." lanjut Nenek.
Tak lama kemudian pak Jodi datang. Pak Jodi sudah tahu apa yang terjadi. Kakek sudah dulu bercerita sebelum pak Jodi sampai di rumah.
"Coba di kasih parfum hidungnya nek !" kata pak Jodi.
"Tidak ada parfum pak."
"Kalau begitu pakai minyak angin ini saja. Biasanya merangsang syaraf-syaraf hidung." lanjut Pak Jodi.
Segera Nenek meneteskan minyak angin ke hidung Sinta.
__ADS_1