
Pertunjukkan malam itu membuat Jodi terbakar dalam api birahi. Ingin rasanya dia masuk ke kamar dan membelai mahluk Tuhan yang penuh dengan keindahan. Ingin rasanya Jodi masuk ke kamar dan menikmati salah satu mahluk Tuhan yang indah. Menikmati salah satu ciptaan Tuhan yang mampu membakar dirinya dalam gairah cinta.
Syukurlah, akal sehat Jodi masih bekerja. Walaupun dengan menahan hasrat berat yang terpendam Ia segera berjalan ke kamar mandi. Sesuatu yang meronta-ronta dalam celananya segera ia abaikan dan bergegas menuju ke kamar mandi.
Waktupun begitu cepat berlalu. Usia kandungan Sinta semakin bertambah. Perutnya mulai terlihat buncit. Sesuatu alamiah yang tidak bisa ditutupi. Itulah mengapa warga kota yang begitu sibuk dengan aktivitas mereka tetap memperhatikan kehidupan dua orang itu. Walau beda usia cukup jauh, namun tetap mengundang curiga. Dua mahluk Tuhan yang berbeda jenis kelamin yang hidup dalam satu atap. Si perempuan sedang hamil. Sedangkan lelakinya seorang duda keren.
Tok tok tok. Suara pintu diketok. Jodi yang tengah tiduran di kamar dengan langkahnya yang gontai segera membuka pintu.
"Siapa ini ? Tak biasanya ada tamu ke rumah." batin Jodi.
Di dapatinya Pak RT dan beberapa aparat lainnya serta segerombol orang dari ormas tertentu sedang berdiri di depan rumahnya. Jodi sempat terkejut.
"Aduh. Ada apa ini ? " batin Jodi. Apalagi dilihatnya aparat lengkap siap siaga.
"Selamat pagi Pak Jodi." kata Pak RT.
"Oh Pak RT. Selamat pagi Pak. Ada apa ini. Tumben. Silahkan masuk ! Silahkan !" kata Jodi sedikit gugup.
"Ada apa ini." batinya sekali lagi.
"Apa ada hubungannya dengan keberadaan Sinta di sini ?" batin Jodi menduga-duga.
Pak RT dan beberapa aparat lainnya masuk ke rumah. Sementara sekelompok orang-orang dari ormas tertentu menunggu di luar.
"Ada apa ini pak ?" tanya Jodi.
"Begini Pak Jodi. Kita sebagai aparat menerima laporan bahwa Pak Jodi tinggal berdua dengan seorang perempuan. Bahkan dilaporkan perempuan itu sekarang sedang hamil. Saya sebagai aparat menunggu laporan Pak Jodi tentang status perempuan itu. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Kami bersama aparat yang bertugas akan segera melakukan tindakan." jelas Pak RT.
Keringat dingin keluar dari tubuh Jodi. Haduh, niat menolong malah jadi harus menanggung beban.
"Perempuan yang satu rumah dengan Bapak itu siapa ?" tanya Pak RT.
"Itu keponakan Saya pak.Memang lagi hamil." jelas Jodi.
"Bisa panggil Mba Sinta ?" pinta Pak RT. Jodipun memanggil Sinta.
"Mba ini apanya Pak Jodi ?" tanya Pak RT pada Sinta.
"Saya ini cucu pembatunya Pak Jodi." jawab Sinta. Jodi tersentak dengan jawaban itu.
"Pak Jodi. Kenapa bisa beda begini jawabannya ?" tanya Pak RT.
"Anu pak RT. Sinta memang cucu pembantu Saya dan sudah Saya anggap seperti keponakan sendiri." jelas Jodi.
"Baiklah. Mbak Sinta lagi hamil ?" tanya Pak RT selanjutnya.
__ADS_1
"I i i ya pak." jawab Sinta gagap.
"Tolong hubungi suami mbak Sinta sekarang juga. Buat bukti bagi kami."
Sinta terdiam. Begitu juga dengan Jodi.
"Begini pak RT, Sinta ini sudah pisahan dengan suaminya." Jodi menjelaskan.
"Hmmm ... " itu saja kata-kata yang terucap dari Pak RT.
Cukup lama mereka terdiam.
"Saya tidak akan berbasa-basi lagi. Kalau saya terus bertanya, pasti nanti akan ada fakta baru terungkap. Belum tentu fakta itu disuka oleh Pak Jodi." kata Pak RT memecah kesunyian.
"Intinya gini Pak Jodi. Pak Jodi harus mau Kami nikahkan dengan mbak Sinta atau kita bawa Pak Jodi dan Mba Sinta ke kantor polisi. Tentu saja bisa dipenjara." kata Pak RT menjelaskan.
Jodi dan Sinta semakin terdiam. Diam tak mampu mengucapkan kata-kata apapun.
"Boleh saya berbicara dulu dengan Sinta secara pribadi." pinta Jodi.
"Oh, tentu. Silahkan !" jawab Pak RT.
Sinta dan Jodi terdiam di kamar. Sinta duduk dengan gelisah. Jodi berjalan mondar-mandir menutupi kegalauan hatinya.
"Saya tidak tahu pak. Saya ikut Pak Jodi saja." jawab Sinta lemas.
Lagi-lagi mereka terdiam. Cukup lama.
"Pak jodi." teriak pak RT dari ruang tamu.
"Sebentar Pak !" sahut Jodi teriak juga.
"Kita nikah saja sin. Kayaknya itu yang terbaik. Lagi pula, anak ini tidak ada bapaknya kan ? Kalau kita menikah, anak ini bisa memanggil bapak ke aku. " kata Jodi memutuskan.
"Tapi Pak." kata Sinta ragu.
"Sudah. Masalah lain difikir nanti." tambah Jodi.
Jodi menarik tangan Sinta keluar. Sinta memandang wajah Jodi ragu. Tapi, Ia mengikuti langkah Jodi.
"Kami memutuskan untuk dinikahkan saja." kata Jodi.
"Nah ... " kata para aparat hampir bersamaan.
Rupanya mereka datang dengan pejabat lengkap, termasuk penghulu. Akhirnya Jodi dan Sinta dinikahkan saat itu juga dengan wali hakim. Setelah proses selesai para aparat itupun bubar. Begitu juga dengan orang-orang yang berada di luar. Rumah Jodi kembali sepi. Kini mereka duduk berdua di ruang tamu dengan status yang berbeda yaitu sebagai suami istri.
__ADS_1
Sinta hanya mampu terdiam. Tertunduk. Tidak tahu apa yang dirasakannya. Malu, sedih atau bahagia. Semua rasa itu bercampur jadi satu.
"Kamu menyesal ya Sin ?" tanya Jodi.
"Bapak kali yang menyesal. Dapat perempuan buangan." kata Sinta.
"Hus. Jangan ngomong begitu ah. Kamu bukan buangan Sin. Yaang bodoh itu Tono, tidak tahu ada berlian. Malah disia-siakan." jawab Jodi.
"Kenapa saya harus menyesal ?" tanya Sinta.
"Dipaksa nikah sama orang yang jauh lebih tua." kata Jodi.
"Yang penting tanggung jawab." kata Sinta.
"Berarti gak nyesel ya ?" ledek Jodi.
"Tau ah." kata Sinta sambil berlari ke kamar.
Jodi mengejar Sinta, tapi pintu kamar itu keburu ditutup.
Jodi mengetuknya pelan.
"Sin ! Sin !" panggil Jodi.
Terdengar jawaban dari dalam, tapi samar. Hampir tidak terdengar.
"Sin ! Sin !" panggil Jodi sekali lagi.
"Tidak dikunci." jawaban Sinta dengan suara bergetar dari dalam.
Biarpun telah menjadi duda sekian lama, tangan Jodi tetap bergetar saat membuka pintu kamar Sinta.
Di dapatinya Sinta tengah tertunduk malu di balik pintu. Mukanya memerah. Mereka saling berpandangan malu-malu. Sinta tertunduk. Ah, rupanya ada benih-benih cinta dalam hati mereka selama ini.
Tiba-tiba kamar itu jadi gelap. Hanya suara bisikan mereka yang terdengar dalam bercakap-cakap.
"Saya lagi hamil lho pak. Hati-hati." terdengar bisikan Sinta nyaris tak terdengar.
"Iya, saya tahu. Jangan kuatir." terdengar lagi suara jawaban yang berbisik.
"Malam ini, Aku boleh tidur sini dong. Aku takut tidur sendirian."
"Terserah Pak Jodi saja. Pelan-pelan pak. Kasihan adek di sini."
Begitulah. Malam itu menjadi malam yang indah bagi mereka berdua. Sinta sudah muak dengan Tono, sehingga kehadiran Jodi walaupun sudah tua, menjadikannya seperti oase di padang pasir.
__ADS_1