Senandung Cinta Gadis Desa

Senandung Cinta Gadis Desa
Bagian 4


__ADS_3

Malam semakin larut, namun rapat belum juga menandakan segera selesai. Sinta dan Diah masih fokus mengikuti agenda rapat. Selanjutnya akan ditentukan siapa yang menjadi ketua Panitia rekreasi. Ada tiga kandidat. Jaya, Tono dan Dirjo. Masing-masing peserta pada ngotot untuk hal ini. Lobi kesana kemari yang dilakukan oleh Tono dan rekan-rekan tidak membuahkan hasil, sehingga diputuskan untuk voting. Sebuah keputusan yang sebetulnya harus dihindari karena lebih mengutamakan musyawarah untuk mufakat.


Mekanisme pemungutan suara dengan cara menuliskan nama pada potongan kertas yang telah disiapkan. Peserta tinggal menuliskan salah satu dari tiga kandidat yang telah disepakati. Sebuah pengambilan keputusan yang sederhana.


“Potongan kertasnya mohon dibagi.” ujar Jaya.


“Semua harus dapat ya !” teriaknya lagi.


Maka sibuklah semua membagi potongan kertas kecil. Kertas yang akan digunakan untuk voting.


“Ada tiga kandidat di sini. Jaya, Tono dan Dirjo. Jumlah yang hadir disini ada 31 orang.”


“Bagaimana cara votingnya kak ?” tanya salah seorang gadis dari pojok kanan.


“Tuliskan salah satu nama dari tiga nama yang diajukan. Nanti yang mendapat suara terbanyak, itulah yang akan jadi ketua.” kata Jaya menjelaskan.


“Segera tuliskan nama kandidat ketua di kertas tersebut !”


Suasanapun menjadi hening. Masing-masing sibuk menentukan siapa akan menjadi ketua panitia.


Begitu pula dengan Sinta dan Diah. Keduanya punya lagi menimbang-nimbang siapa yang hendak dipilih pada voting kali ini.


“Pilih siapa Sin ?” tanya Diah berbisik.


“Terserah kamu Yah.” jawab Sinta.


“Tono saja ya ? “ usul Diah.


Sejenak Sinta terdiam.


“Dirjo saja. Biar bisa gendakan sama kamu.” jawab Sinta sekenanya.


“Asem.” umpat Diah diiringi sebuah cubitan ke pinggan Sinta. Namun Sinta segera mengelak karena tahu itulah yang akan dilakukan oleh Diah.


Habis dapat umpatan Diah, mereka terdiam. Asyik dengan pilihan masing-masing.


“Ayo kumpulkan ! Kumpulan !” teriak Jaya sembari mengumpulkan potongan kertas dan dimasukkan pada sebuah toples.


“Ayo-ayo yang sebelah sana !” teriak Jaya sekali lagi.


Setelah semua kertas suara terkumpul, tibalah saat untuk melakukan perhitungan hasil voting. Masing-masing berharap pilihannya yang akan menjadi ketua. Tentu saja dengan kepentingan dan harapan yang ada dalam asa mereka.


“Dirjo.” teriak petugas membacakan hasil voting. Sorak sorai pendukung mengiringi penghitungan suara.


“Jaya.” nama sekretaris karang taruna itupun disebut.


“Tono.” giliran ketua karang taruna mendapatkan suara voting hasil pemilihan.


Penghitungan suara berlangsung meriah. Suara riuh rendah terdengar selama proses pemilihan berlasung. Apalagi kalau calon ketua pilihan mereka disebutkan segera pendukungnya bersorak sorai menyambutnya. Begitulah kejadian itu berlangsung selama proses penghitungan suara.


Berdasarkan perhitungan suara, hasilnya seimbang. Baik Dirjo, Jaya dan Tono mendapatkan hasil suara yang sama masing-masing 10 orang. Tinggal satu kertas hasil voting yang belum dibaca.

__ADS_1


“Teman-teman, Dirjo, Tono dan Saya mendapatkan suara yang sama. Kita berharap pada satu suara ini. “ kata Jaya sambil menunjukkan kertas terakhir.


“Tinggal satu potong kertas suara ini yang belum dibacakan.” lanjut Jaya.


“Buka. Buka. Buka.” teriak peserta rapat hampir bersamaan. Suasana ruang rapat di balai desa semakin riuh.


“Buka euy. Jangan pakai lama !” teriak Diah kencang sekali dan penuh semangat.


“Apa sih Yah. Bising nih.” balas Sinta.


“Biar cepat. Kaya gitu saja didramatisir.” sahut Diah.


Sementara dari arah depan Jaya berteriak.


“Baik teman-teman, Kita buka suara terakhir.”


Perlahan Jaya membuka kertas suara terakhir. Namun seketika dia terdiam membisu. Seperti orang bingung. Plirak-plirik sembari menahan senyum. Matanya menatap ke arah Tono, namun Tono tak bereaksi. Begitu juga dengan Dirjo.


“Baca ! Baca ! Baca !” teriak peserta tidak tahan.


“Ayo baca Jay. Sudah ditunggu.” pinta Tono.


“Tapi. “ jawab Jaya mencoba mengelak.


“Ada apa sih ? Ayo Jay, tunggu apa lagi sih ?” protes Dirjo.


“Hei ayo. Baca. Kenapa harus ditunda-tunda begitu ?” teriak peserta.


“Saya akan baca yang ada di kertas suara ini.” kata Jaya.


“Ayo baca. Lama amat.” salah seorang peserta berteriak.


Lagi-lagi Jaya memberi kode agar tenang. Lalu jaya mulai membaca.


“Tulisan dalam kertas suara ini adalah ... SINTA I LOVE YOU” teriak Jaya.


“Huuuuuuuu huuuuuu “ teriak peserta kecewa. Ada juga yang tertawa terpingkal-pingkal. Orang gila kali yang nulis itu.


“Uedan itu. Siapa yang bertingkah edan begitu ?”


“Kamu yang usil Yah ?” tanya Sinta sambil memendam rasa malu dan curiga.


“Wei. Jangan asal tuduh Sin. Aku nggak selebay itu. Ha ha.” jawab Diah sambil tertawa.


Panitia pemungutan votingpun bingung antara tertawa geli dan dongkol. Mereka bergegas membuktikan tulisan di kertas suara. Tono dan Dirjo bersama-sama membaca tulisan di kertas suara. Sesaat setelah membacanya dahi mereka mengkerut. Tapi kemudian tertawa terbahak-bahak. Melihat Tono tertawa, bibir Sinta jadi manyun. Antara geli dan mangkel. “Awas kalau ketahuan pelakunya ! Tak ada maaf baginya.” batin Sinta.


“Teman-teman. Bagaimana ini ? Apakah kita mau melacak siapa pelakunya ?” kata Jaya setengah berteriak.


“Lacak ! Lacak ! Lacak ! “ teriak sebagaian peserta.


“Wah, ndak usah saja. Tidak penting. Biar saja berlalu.” kata sebagian peserta yang lain.

__ADS_1


“Kita akan rapat sampai malam kalau mau melacak pelakunya.”


“Sebaiknya segera Kita tentukan ketuanya.”


“Bagimana caranya ?” timpal yang lain.


“Diundi saja. Jaya, Tono dan Dirjo diundi. Siapa yang terpilih langsung jadi ketua.” usul Lastri.


“Wee. Berarti sia-sia dong voting tadi.” celetuk peserta lainnya.


“Lebih sia-sia kalau malam ini Kita tidak menghasilkan keputusan apa-apa. Sudah malam-malam menyempatkan diri tapi tidak ada hasilnya.” tegas lastri.


“Ya sudah. Ini diundi saja bagaimana teman-teman ?” tanya Jaya.


“Setuju … “ jawab peserta rapat. Walau ada sebagaian yang bersungut-sungut. “Ngapain voting tadi. Buang waktu saja.” batinnya.


“Baik. Ini ada kertas berisi nama Jaya, Tono dan Dirjo. Nanti akan di ambil satu. Nama yang keluar akan jadi ketua panitia rekreasi.” kata Jaya setengah berteriak.


“Ayo Lastri. Kamu yang ambil !” lanjut Jaya.


Bergegas Lastri mengambil sepotong kertas yang telah di masukkan ke dalam toples. Dibukanya perlahan. Lalu dibacanya dengan suara lantang.


“Dirjo.” teriak Lastri.


“Horeeeeeee “ sorak sorai pendukung Dirjo.


“Hidup Dirjo.” pekik sebagaian lainnya.


Setelah riuh rendah suara pendukung Dirjo mereda, segera Jaya mengumumkan sesuatu.


“Teman-teman, berhubung malam sudah agak larut sebaiknya rapat malam hari ini Kita akhiri. Selanjutnya Kita serahkan ke Dirjo untuk menunjuk rekan-rekan yang akan mendukung kerjanya. “ kata Jaya.


“Setujuuuuu.” jawab mereka kompak.


Sinta dan Diah bergegas hendak segera pulang. Namun upaya itu dihalangi oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Dirjo. Lelaki yang tadi pagi juga menjahili Sinta dan Diah.


“Apa sih Jo ?” sungut Diah.


“Yah. Ikut bantu-bantu jadi panitia ya !” pinta Dirjo.


“Kamu juga ya Sin !” pinta Dirjo selanjutnya.


Sinta yang sedari awal gak suka dengan Dirjo serta merta menolaknya.


“Ndak-ndak. Saya banyak yang harus diurus. Diah saja kalau mau.” tolak Sinta sembari melirik ke Diah. Rupanya Diah juga malas untuk menjadi tim panitia dengan Dirjo.


“Ndak Jo. Yang lain saja. Saya harus bantu Bapak dan Ibu. Ndak sempat.” tolak Diah juga. Berarti pada voting tadi jelas bukan Dirjo yang menjadi pilihan Diah.


Dirjo terdiam kecewa. Harapan agar bisa dekat dengan Sinta pupus seketika. Mengetahui hal itu, buru-buru Sinta mengajak pulang Diah. Berupaya untuk secepatnya menghindari Dirjo. Bagaimanapun Ia sungkan dengan Dirjo dan sungkan juga dengan Tono.


Tanpa berpamitan dengan Dirjo, kedua gadis itu bergegas meninggalkan balai desa. Mereka ingin segera menghilangkan kekakuan yang ada. Apalagi dengan Sinta, Dia tidak ingin ngobrol dengan Dirjo. Harapannya bisa ngobrol dan dekat dengan Tono. Tapi semua itu tidak terwujud. Saat bersepeda pulang mereka banyak terdiam. Membisu antara bahagia dan kecewa bercampur menjadi satu. Tenggelam dalam asa mereka yang sirna.

__ADS_1


__ADS_2